Surat Ke-Dua Puluh Tujuh: Cinta yang tak mencapai tujuan?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Duhai kekasih hatiku, Bulan, bagaimana kabarmu? Semoga Allah SWT senantiasa melindungimu dan menjagamu. Amin.

Bulan, sungguh waktu telah berlalu begitu cepat. Aku samasekali tidak menyadari bahwa 3 tahun lalu, aku menulis surat cintaku yang terakhir. Apakah engkau membaca surat-suratku itu? Lalu, engkau tahu keadaanku 3 tahun lalu. Ya, 3 tahun lalu, aku menuliskan surat cinta yang awalnya menceritakan kebahagiaan, namun, pada akhirnya, takdir berkehendak lain. Takdir membukakan jalan kehidupan baru untuk hidupku dan juga untuk hidupnya. Kami berdua berpisah secara baik-baik. Semoga tidak ada kebencian diantara kami.

Bulan, aku tidak tahu, bagaimana caranya memulai lagi menuliskan surat cinta ini? Sungguh aku merasa kegagalanku di masa lalu, sedikit membuatku merasa tidak percaya diri untuk kembali menuliskan surat-surat cinta. Apalagi surat cinta yang aku tulis selama ini, hanya untukmu seorang, kecuali surat cinta yang aku tulis ketika aku telah mempersunting seseorang, adalah suatu hal yang lain.

Aku menuliskan surat cinta dan menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk dia. Sebab, aku tidak pernah mendapatkan surat-surat cintaku dibalas olehmu. Bertahun-tahun lamanya, aku menunggu engkau agar membalas surat cintaku. Tapi, tak ada satu pun suratku, yang mendapatkan balasan darimu. Sampai pada akhirnya, aku bertemu dengan seseorang. Lalu, kami memutuskan menikah. Meskipun, pernikahan kami juga tidak berakhir indah.

Bulan, aku telah bercerita singkat kepadamu tentang kisah hidupku dalam 3 tahun terakhir ini. Saat ini, apakah engkau juga berkenan untuk menceritakan kisah hidupmu dalam 3 tahun terakhir? Apakah selama ini, engkau masih sendiri? Atau apakah engkau telah menjalani bahtera kehidupan dengan pilihan hatimu? Aku berharap, semoga engkau sudi menceritakannya kepadaku melalui balasan surat darimu.

Bulan, seandainya engkau telah di persunting oleh orang lain, aku berjanji kepadamu, aku akan berhenti menulis surat cinta untukmu. Seperti pada waktu, aku telah mempersunting orang lain, aku berhenti menuliskan surat cinta kepadamu. Namun, seandainya engkau masih hidup sendiri tanpa adanya seorang laki-laki yang mempersuntingmu atau engkau saat ini juga sendiri karena suatu sebab perpisahan? Aku masih ingin menulis surat cinta untukmu. Aku juga masih penuh harap, semoga engkau membalas surat cintaku.

Bulan, sungguh aku tidak tahu bagaimana takdir akan membawa surat-suratku menemui nasibnya? Apakah surat-suratku akan bernasib baik? Surat-surat itu akan mendapatkan balasan darimu. Pun dengan rasa cintaku, apakah akan mendapatkan balasan dari cintamu?. Aku akan menyerahkan semuanya kepada takdir. Ya, seperti halnya yang telah berlalu. Selama kurang lebih 10 tahun aku menulis surat-surat untukmu. Dan selama itu pula, aku mengemban cinta seorang diri. Sebab, aku samasekali tidak pernah tahu perasaanmu kepadaku.

Bulan, mungkinkah aku yang telah salah memahami keadaan ini?. Aku mencoba membalas semua pesan-pesanmu yang masuk ke handphoneku. Engkau hampir mengerti semua tentang aku dan keluargaku? Apakah mungkin aku terlalu percaya diri? Sehingga, aku menganggap semua pesan-pesan yang kau kirim serta perhatian kecilmu tentang aku dan keluarga kecilku sebagai bukti engkau benar-benar mencintaiku.

Bulan, tolong maafkan perasaanku yang telah bersalah mencintaimu. Aku juga memohon kepadamu, agar engkau sudi dan berkenan membalas surat cintaku. Aku tidak sabar mendengar kabar bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya kepadaku. Apakah engkau masih mengingatku? Apakah engkau juga memiliki perasaan yang sama denganku?. Aku sangat takut menerima kenyataan bahwa engkau tidak memiliki perasaan yang sama denganku dan engkau tidak pernah mencintaiku. Sehingga, apabila hal itu benar-benar terjadi, apakah kisah cintaku ini tidak akan pernah sampai kepada tujuannya?.

Bulan, sebagai penutup suratku ini. Aku akan menyematkan sepenggal lirik lagu yang berjudul “Sorai” yang ditulis oleh penyanyi perempuan muda yang bernama Nadin Amizah.

“Ketika dunia saling membantu, Lihat cinta mana yang tak jadi satu,

Kau memang manusia tak kasat rasa, Biar aku yang mengemban cinta”

Menjelajahi Rumah Pikiran Kartini


Tepat 136 tahun yang lalu, telah lahir seorang gadis yang memiliki sebagian keturunan ningrat dan juga sebagian keturunan dari darah rakyat jelata, bangsa indonesia mengenalnya dengan sebutan atau dengan nama panggilan Raden Adjeng Kartini (Wikipedia). tumbuh dan besar di dalam keluarga keturunan ningrat (sebab ayahanda diangkat menjadi bupati jepara), kartini kecil memiliki kesempatan emas untuk dapat menikmati pengalaman luar biasa untuk menyelami samudera pengetahuan yang tiada batas tepinya. Kesempatan semacam ini hanya di miliki oleh kaum-kaum bangsawan, sedangkan bagi kaum rakyat jelata, mereka hanya bisa menggigit sepuluh jari mereka secara bergantian. Oleh sebab itu, meski kartini terlalu cepat menyelami samudera pengetahuan, nyatanya, di dalam jiwanya, masih terus hidup sebuah cita-cita besar nan mulia, kehendak untuk mengantar para kaum wanita (kononnya) yang masih di anggap memiliki status social lebih rendah dari kaum lelaki, menuju puncak pada persamaan status yang harus benar-benar di miliki oleh kedua makhluk tuhan yang bernama lelaki dan wanita tersebut.

Nasib yang harus di tanggung oleh kartini sebagai wanita beradat jawa (Indonesia) yang masih berpikiran kolot, tradisional, dan sama sekali tidak memiliki pemikiran maju, harus menjalani tradisi yang di kehendaki oleh adat, tempat ia lahir dan tumbuh besar menjadi wanita seutuhnya. Memasuki usia ke 12 tahun, atau menginjak masa remaja, tradisi adat ia harus jalani. Dipingit. Dengan bekal pengetahuan yang begitu dangkal, dan kepandaiannya dalam berbahasa belanda, kartini mulai menyuarakan isi hatinya dengan cara menulis surat kepada sahabat-sahabat dari kaum eropa (teman sekolahnya). Di dalam tulisannya, kartini mencurahkan segala keluh kesahnya, mulai dari awal mula ia harus menjalani tradisi adat (dipingit) hingga tentang angan-angan atau cita-cita mulia yang terpatri di dalam jiwa perjuangannya yang suci. Cita-cita yang ingin di wujudkan kartini, bukan hanya persoalan tentang kesamaan derajat antar kaum lelaki dan wanita saja, akan tetapi, kartini juga meneropong jauh masa depan bangsa Indonesia yang harus di capai dengan mengikutsertakan wanita sebagai pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya sendiri.

Berbeda dengan pejuang kemerdekaan wanita yang lainnya, kartini memiliki cara tersendiri untuk mencapai kemerdekaan. Ia mengirimkan semangat berjuang yang berkobar kepada seluruh wanita di seluruh nusantara dengan menyentuh kejiwaan masing-masing orang. Kartini melakukan pengsadaran terhadapa kaum wanita, agar juga memiliki kesamaan kehendak untuk juga dapat memperjuangkan hak-hak yang di milikinya untuk dapat menyelami samudera pengetahuan yang begitu dalam dan tiada batas tepinya. Bagi seorang kartini, ia menginsyafi bahwa dengan kesempatan yang di miliki wanita untuk menimba ilmu, mereka akan membuka jendela pengetahuan sendiri. Kartini sangat menyesali tentang aturan adat yang sangat membatasi ruang bagi wanita untuk mengembangkan dirinya. Sebab hal tersebut yang harus di alami kartini, ketika menjalani adat, dipingit, Ia hanya bisa menjalani sisa hidup di dalam rumah, bertembok tebal dan tinggi yang menghalanginya untuk menjelajahi dunia yang menyimpan berjuta-juta pengetahuan. Pada akhirnya, kartini hanya dapat membangun rumah baru (pikiran-pikiran) di dalam rumah yang telah mengurungnya. Rumah-rumah tersebut, dapat di kunjungi oleh semua orang untuk menambah pengetahuan mereka. Salah satunya, di dalam rumah tersebut, berisikan tentang cita-citanya memerdekakan bangsa Indonesia. Kartini berpendapat, bahwa dengan kebebasan yang di miliki oleh wanita dalam hal mengenyam pendidikan, adalah cara termudah dan dapat menjamin rasa nasionalis yang di miliki seseorang dapat tetap bergelora di dalam jiwa masing-masing orang. Hal itu dapat memudahkan suatu bangsa untuk memerdekakan bangsanya. Dengan melibatkan peran wanita, baik pemikiran dan tindakannya, akan sedikit mengurangi beban para pejuang laki-laki di dalam memerdekakan bangsa ini.

Memasuki abad ke 20, timbul suatu pertanyaan, bagaimana peran wanita dalam memajukan bangsa sebagaimana cita-cita yang di miliki oleh kartini pada masa itu?. Apakah pada zaman sekarang, wanita dapat memerankan dirinya sebagai sosok manusia yang dapat memajukan kehidupan bangsa yang di tinggalinya?.

Bagi seseorang yang mengemban amanah untuk turut serta mensejahterakan dan memajukan bangsanya, dan juga sebagai manusia yang mewarisi peradaban, langkah yang tepat yang harus di lakukan pertama kali ialah, memulai kembali untuk mengingat segala pemikiran-pemikiran yang telah di wariskan oleh para pendahulu bangsa ini. Pemikiran-pemikiran yang melahirkan cita-cita besar sebagaimana yang pernah di tuliskan oleh soekarno, sjahrir, dan khususnya kartini harus segera kita insyafi secara benar, bahwa pemikiran-pemikiran mereka adalah jalan termudah bagi bangsa ini untuk menuju kesejahteraannya. Salah satu cita-cita kartini yang hidup di dalam rumah pikirannya telah tercapai, yaitu mensederajatkan kedudukan social antar kaum lelaki dan wanita. Namun, kartini juga masih meninggalkan beberapa cita-cita yang harus segera di wujudkan oleh generasi penerusnya. Mengikutsertakan peran wanita dalam memajukan dan mensejahterakan kehidupan bangsanya, Indonesia. jika hal demikian tercapai, maka ini merupakan hadiah yang amat menyenangkan bagi arwah almarhum. Sebab tanpa pemikiran dan usaha keras yang di lakukan kartini dalam memerdekakan hak kaum wanita agar juga memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan, maka terhadap kaum wanita yang hidup pada zaman sekarang, silahkan kalian kembali ke rumah, mengurung diri (dipingit), dan menikmati kodrat sebagai wanita yang hanya berkesempatan untuk mengurusi urusan rumah tangga.

Untuk ibu kartini, berikanlah kami kepercayaan, bahwa kami benar-benar generasi penerus terbaik bangsa ini. Dan kami berterimakasih, dengan usaha yang engkau lakukan, maka kami berkesempatan menikmati sepenggal kebahagian hidup, yakni menyelami samudera pengetahuan yang amat dalam dan tiada batas tepinya.

“… Semoga melalui banyak sekali penderitaan dan kesedihan, kami berhasil menciptakan sesuatu. Bagi rakyat kami. Terutama yang bermanfaat bagi kaum wanita kami – bagaimanapun kecilnya. Andaikata ini pun tidak terlaksana, semoga penderitaan dan perjuangan kami berhasil menarik perhatian khalayak ramai terhadap keadaan-keadaan yang perlu diperbaiki. Dan andaikata itu pun tidak dapat kami capai, wahai, setidaknya kami telah berusaha berbuat baik, dan kami yakin benar bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu, akan ikut menumbuhkan benih yang kelak akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.” – Raden Ajeng Kartini

*Oleh : RRI

Surat Ke Dua Puluh Delapan : “Do’a Paling Tulus & Amin Paling Serius”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bulan, Duhai kekasih hatiku. Bagaimana kabarmu, kekasih? Seperti biasa, aku selalu berdo’a untuk kesehatan dan keselamatanmu. Dimanapun engkau berada, semoga do’a yang selalu aku panjatkan, dapat mengetuk pintu langit dan memberikan kebaikan untuk hidupmu.

Bulan, apakah engkau sudah membaca semua surat-suratku, yang sudah aku tulis untukmu? Atau sampai saat ini, engkau belum juga menerima surat-surat cinta dariku?. Semoga saja, engkau telah menerima surat-suratku, namun, hanya saja, engkau tidak sempat untuk membacanya. Aku mencoba memahami dan mengerti kesibukanmu yang sangat luar biasa. Tapi, aku masih tetap berharap, nanti, setelah engkau selesai dengan urusan dan kesibukanmu, engkau berkenan membaca suratku. Pun aku berharap, engkau juga bersemangat membaca surat-suratku, sama halnya dengan diriku yang begitu semangat, ketika menulis surat-surat untukmu.

Bulan, sungguh aku tidak menyangka, aku menulis surat ini, ditengah malam yang sunyi. Apakah engkau tahu Bulan, surat ini aku tulis pada salah satu malam yang mulia, malam nisfu sya’ban. Ketika semua do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT, niscaya semua do’a-do’a itu akan dikabulkan oleh-Nya. Malam ini, begitu ramai dan banyak sekali, aku menemukan di status media sosial maupun konten orang-orang yang menyambut dengan gembira datangnya malam yang mulia ini. Ya, seperti halnya diriku, pada malam yang mulia ini, setiap orang sibuk dengan do’a yang mereka panjatkan masing-masing. Tetapi, Aku tidak ingin mencampuri urusan mereka. Biarkan mereka bermesra dengan Allah SWT melalui do’a yang mereka panjatkan.

Lalu, bagaimana dengan nasibku sendiri?. Ketika malam ini, semua orang sedang sibuk berdo’a, apakah do’aku juga akan di istijabah oleh-Nya?. Setelah semua yang telah aku jalani, semua do’a-do’a yang aku panjatkan kepada-Nya, alhamdulillah semua di istijabah oleh-Nya. Kalau ada do’aku yang tidak dikabulkan oleh-Nya, berarti sesuatu yang menjadi rencana di dalam do’aku adalah sesuatu yang tidak baik untuk diriku. Sebab, jika do’a kita tidak dikabulkan oleh-Nya, sesungguhnya, IA sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk hidup kita.

Bulan, aku menjalani hidup ini, hanya dengan Iman dan prasangka baik kepada-Nya. Aku juga masih berprasangka baik pada takdir-Nya. Kelak, suatu hari nanti, entah pada surat yang ke berapa, kita pasti akan bertemu. Kita berdua, akan hidup bersama. aku sangat meyakini itu. Sebab, ketika aku menulis surat ini, aku tidak hanya sekedar membayangkan, aku sedang berdo’a kepada-Nya. Berharap, kelak, agar kita berdua dapat hidup bersama. Tapi, ketika aku menulis surat ini, aku sangat yakin, Allah SWT sedang bersamaku di malam yang mulia ini. IA menemani dan menuntun hati kecilku, merangkai kata demi kata indah untuk aku sampaikan kepadamu melalui surat ini.  

Maka suatu saat nanti, ketika kita benar-benar ditakdirkan hidup bersama, aku berharap, semoga kita berdua senantiasa memanjatkan Do’a Paling Tulus dan Amin Paling Serius. Sebab, keadaan yang demikian itu, akan menunjukkan posisi kita sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya. Betapa kita tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengendalikan takdir kita. Oleh sebab itu, kita hanya bisa bergantung kepada-Nya. Semua urusan dan semua permasalahan, biarkan kekuasaan dan pertolongan-Nya yang akan menyelesaikan.

Namun, ternyata, jika kita tidak di takdir hidup bersama, aku akan tetap menjalani hari-hariku dengan memanjatkan Do’a Paling Tulus dan Amin Paling Serius. Aku berharap, engkau juga akan menjalani hal ini bersama dengan seseorang yang akan menghabiskan sisa umur bersamamu. Engkau bisa menganggap ini sebagai sebuah kenangan dariku, tapi, sesungguhnya, ini adalah cara IA memanggil agar kita senantiasa mendekat dan bergantung kepada-Nya. Wassalam.

#RizkieMuxafier #BungLangit #RRI #Surat #Cinta

Pileg 2024: “Kerja-kerja Gagasan Dan Pemikiran Kita Akan Melahirkan Suara Nurani Mereka”

Siapa yang bisa menyangka, tahun 2024, saya kembali mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten Probolinggo Daerah Pemilihan (Dapil) 1 yang meliputi : Kecamatan Kraksaan, Kecamatan Besuk, dan Kecamatan Gading. Hampir sama dengan Pemilihan Legislatif (Pileg) di tahun 2019, di tahun 2024 ini, saya tetap mencalonkan diri sebagai Caleg yang berangkat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau lebih akrab dikenal PDI Perjuangan. Namun, berbeda halnya dengan tahun 2024, di tahun 2019 yang lalu, saya mencalonkan diri sebagai Caleg di Dapil 2, meliputi : Kecamatan Paiton, Kecamatan Kotaanyar, dan Kecamatan Pakuniran.

Ada satu perbedaan dan juga nilai yang berharga dari proses Pileg 2024 yang telah saya lalui. Pileg 2024 kali ini, saya tidak mengeluarkan ongkos politik sama sekali. Sebab, sudah bukan rahasia umum lagi, jika seseorang mencalonkan diri dalam suatu pertarungan politik, maka ia harus membayar ongkos yang di perlukannya. Lalu, mengapa saya bisa untuk tidak mengeluarkan ongkos politik sama sekali? Atau biar tidak lebih naif, pertanyaannya di ganti menjadi, bagaimana caranya agar ongkos politik yang kita keluarkan dapat efisien atau terkendali?

Saya tidak mungkin dapat menjawab kedua pertanyaan itu. Sebab, kondisi setiap Caleg yang bertarung berbeda satu sama lain. Namun, saya sangat berharap, semoga tulisan ini dapat menginspirasi siapapun yang telah membacanya. terutama bagi mereka yang mencalonkan diri dalam pertarungan politik apapun. Bahkan, kepada pihak-pihak yang masih berharap dan mempunyai rasa optimis, suatu saat nanti, setiap proses pemilihan pemimpin yang kita lalui akan melahirkan sosok pemimpin yang dihasilkan oleh rasionalitas dan ketulusan hati para pemilihnya. Bukan lagi atas dorongan materi (dalam bentuk uang atau bantuan) yang diterima oleh pemilihnya.

Lalu, inspirasi apa yang ingin saya bagikan melalui tulisan ini?. Tentu, saya akan membagikan kisah-kisah heroik dari orang-orang yang memilih saya dengan ketulusan hati mereka tanpa adanya embel-embel apapun. Terlebih lagi, diantara kisah ini, ada sosok teman yang saya kenal di suatu acara, namun, kami berdua tidak pernah berkomunikasi secara intens. Tetapi, dia menjatuhkan pilihan politik dan menitipkan amanah itu kepada saya.

Sesungguhnya, Pileg 2024 ini, saya sama sekali tidak memiliki keinginan maupun hasrat kuat untuk bertarung dalam pertempuran politik tersebut. Keputusan saya untuk tidak ikut bertarung secara sungguh-sungguh di medan pertempuran 2024, disebabkan oleh banyak faktor. Sehingga, publik sama sekali tidak mengetahui bahwa saya mencalonkan diri sebagai Caleg PDI Perjuangan tahun 2024.

Semuanya berubah secara tiba-tiba. Menjelang 30 hari sebelum pemilihan akan di langsungkan, saya memperkenalkan diri ke publik melalui kampanye digital. Saya hanya bikin poster dan video kampanye di HP yang dibantu oleh teman baik saya. Saya sama sekali tidak mencetak banner maupun alat peraga kampanye lainnya. Sebab, penggunaan banner dan alat peraga kampanye (APK) lainnya di jaman yang sudah maju dan serba digital, semua sudah tidak efektif. Selain itu, ketika masa kampanye, lingkungan kita di penuhi oleh banner-banner Caleg yang di pampang di pinggir jalan dan merusak keindahan lingkungan yang ada di sekitar.

Oleh sebab keadaan demikian yang membuat resah hati saya. Kemudian, hal itu yang mendorong saya untuk memperkenalkan diri ke publik melalui kampanye digital yang lebih efisien dan efektif. Tujuannya, agar ke depan, para Caleg atau calon pemimpin ketika berkampanye akan lebih mengutamakan kampanye secara digital dibandingkan dengan berkampanye secara konvensional. Sebab, APK konvensional hanya berupa Gambar dan Nomor Urut Caleg, Gambar dan Nomor Urut Partai, Nomor Dapil, serta ditambahi slogan biar lebih menarik.

Apabila Caleg menggunakan kampanye digital, ia tidak hanya memampang Gambar dirinya dan lain-lainnya, seperti halnya yang ada di APK Konvensional, tetapi, dengan adanya teknologi, setiap Caleg dapat menyampaikan gagasan-gagasan dan isi kepalanya setiap saat, kapanpun dan dimanapun. Dengan cara yang demikian itu, kemudian, ada yang ingin menjatuhkan pilihan politiknya kepada saya.

Mereka memilih saya, bukan karena mengetahui saya sedang mencalonkan diri, tetapi, mereka memilih saya setelah membaca isi kepala dan gagasan politik yang saya tuangkan ke dalam poster. Kampanye yang saya lakukan hanyalah berupa kerja-kerja gagasan yang akan mengajak pemilih untuk mencoblos saya. Sebab, saya sama sekali tidak pernah mengajak mereka untuk memilih saya. Saya hanya ingin terlibat dalam proses memberikan pendidikan politik bagi siapa saja. sehingga, orang-orang yang akan memilih saya, disebabkan oleh gagasan dan pemikiran saya. Jadi, jika suatu hari nanti saya tidak mencalonkan lagi, saya telah meninggalkan suatu pemikiran maupun gagasan yang dapat menjadi pertimbangan bagi para pemilih, kepada siapa mereka akan menitipkan amanah itu.

Mereka juga tanpa canggung memberikan kritik dan masukan, seperti: perlindungan terhadap kaum perempuan dan anak-anak yang masih sangat rentan menjadi korban. Tentunya, mereka tidak lupa memberikan kritikan agar saya juga memperhatikan kepentingan anak muda. Saya menyampaikan rasa senang, setelah mendapat kritikan dan masukan dari mereka. Karena saya sangat terbantu dengan kritikan dan masukan dari mereka, yang mungkin saja, saya lalai untuk memperhatikannya.

Sosok yang saya ceritakan dalam tulisan ini, adalah dua orang perempuan muda, yang telah mengajak orang terdekatnya maupun yang tinggal serumah dengan mereka. Betapa saya sangat terharu, di tanggal 14 februari pagi, sekitar jam 8 pagi, sebuah pesan whatsapp masuk.

“Mas, saya sudah mencoblos samean dan saya juga mengajak keluarga kecil saya untuk mencoblos samean juga. Ya, meskipun, hanya keluarga kecil saya saja, semoga membantu ya mas,” katanya.

“Terimakasih banyak mbak. Samean sudah mencoblos saya dan mengajak keluarga kecil samean untuk mencoblos saya juga. Saya merasa terharu. Saya juga merasa bahwa kita masih punya harapan baik, untuk merawat demokrasi kita agar bergerak ke arah yang lebih baik,” jawabku melalui pesan suara.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak bagi pihak-pihak: keluarga, teman dekat, teman main, dan pihak-pihak lainnya yang telah mencoblos saya dengan hati yang tulus tanpa digerakkan oleh suatu iming-iming apapun. Saya tidak bisa membalas ketulusan dan kebaikan hati kalian semua satu per satu. Saya mohon maaf, jika perjuangan ini, masih gagal. Tetapi, kita tidak boleh menyerah. Semoga di lain waktu, kita bisa menyiapkan segala sesuatunya lebih baik lagi, dan kita akan memenangkan pertarungan ini untuk nasib rakyat banyak yang lebih baik pula.

#BungLangit #RizkieMuxafier #RRI

Inovasi PSSI Saat Pandemi?

*Oleh: Rizqy Ridho Ilahi, S.H., M.H.

sumber : bola.com

Banyak sekali hal, tentang harapan-harapan baru yang dilangitkan melalui doa di penghujung tahun lalu. Salah satu diantaranya, harapan besar itu juga menjadi harapan dari banyak orang yang sangat gandrung, jatuh hati dengan sejatuh-jatuhnya terhadap dunia olahraga sepakbola, agar kompetisi sepakbola profesional ditanah air dapat bergulir kembali.

Seiring dengan banyaknya kompetisi sepakbola kelas dunia yang terhenti sejenak, yang disebabkan oleh semakin merebaknya wabah penyakit Covid-19 ke seantero dunia pada tahun lalu, akhirnya, memaksa negara indonesia melakukan hal yang sama, menghentikan kegiatan kompetisi sepakbola indonesia sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. Namun, bagi klub-klub sepakbola profesional dunia, keadaan kompetisi yang dihentikan tersebut hanya berlaku sementara saja. Banyak liga-liga profesional papan atas dunia bergulir kembali, setelah beberapa bulan sebelumnya sempat terhenti, untuk mencegah penyebaran virus terhadap manusia.

Asosiasi-asosiasi sepakbola dibenua biru langsung tancap gas menggulirkan liga-liga sepakbola profesional negara mereka masing-masing. Sejumlah aturan-aturan dibedah, disesuaikan dengan keadaan darurat sekarang ini. Semula pergantian pemain masing-masing klub yang sedang bertanding hanya dibatasi 3 orang. Namun, demi kepentingan kesehatan dan keselamatan pemain, sementara waktu, pergantian pemain dapat dilakukan maksimal 5 kali. Para pemain juga tidak boleh bersalaman maupun berpelukan saat merayakan golnya.

Peraturan paling penting dalam dunia sepakbola yang bergulir selama terjadi wabah penyakit (pandemi), adalah pertandingan yang wajib diselenggarakan tanpa penonton. Setelah, seluruh peraturan pertandingan dibedah dan disesuaikan dengan kebutuhan (keadaan) saat ini, kemudian, liga digulirkan kembali. Akhirnya, para penggemar sepakbola diseluruh dunia dapat menyaksikan klub-klub kebanggaan mereka bertanding kembali, serta mereka dapat menyaksikan para pemain bintang kebanggaannya menampilkan kemampuan terbaiknya diatas lapangan.

sumber: bolakompas

Pada awal tahun 2021, seluruh liga-liga profesional didunia – khususnya liga-liga top eropa – telah bergulir selama separuh musim. Pun jendela transfer pemain mulai dibuka. Awal tahun ini, untuk sementara waktu, para penggemar sepakbola dapat menyaksikan para klub-klub yang memuncaki klasemen sementara. Banyak sekali kejutan yang terjadi. Misalnya, klub bersejarah seperti AC Milan yang beberapa tahun terakhir sulit menembus 5 besar, kini, klub tersebut memuncaki klasemen sementara Serie-A.

Keadaan yang demikian itu, liga-liga profesional dunia yang telah berhasil bergulir kembali, justru berbanding terbalik dengan yang terjadi di negara kita tercinta. Sedari tahun yang lalu, hingga akhirnya berganti tahun, liga belum kunjung berjalan. Pihak Asosiasi – dalam hal ini PSSI – selalu menyampaikan alasan yang sama ketika berhadapan dengan kamera. Mereka berdalih bahwa pihak kepolisian belum menerbitkan ijin.

Terhitung, hampir memasuki 1 tahun, semenjak wabah penyakit ini merajalela, pihak PSSI hanya sibuk menunggu izin yang akan diterbitkan oleh pihak kepolisian. Padahal nahkoda PSSI merupakan orang yang pernah duduk dan menjabat di instansi kepolisian. Sungguh hal yang wajar, apabila pengurusan terkait izin dari pihak kepolisian untuk penyelenggaraan kompetisi dapat ditangani dengan cepat. Sebab, Nahkoda PSSI merupakan orang yang sangat memahami setiap medan maupun keadaan-keadaan yang memungkinkan diterbitkannya ijin kegiatan dari pihak kepolisian.

Seandainya hal tersebut telah dicapai oleh pihak PSSI, diterbitkannya ijin kegiatan kompetisi sepakbola indonesia, membuat PSSI mempunyai lebih banyak waktu untuk memikirkan secara serius nasib dan masa depan sepakbola indonesia. Utamanya, nasib para pemain dan para calon pemain profesional yang akan merumput dilapangan hijau. Namun, rupanya mental PSSI hanya mampu untuk menunggu saja. Mereka tidak mempunyai tekad besar dan berani menanggung resiko, agar kompetisi tetap dapat berjalan sebagaimanamestinya. Karena hanya orang-orang yang jiwanya menyatu dan mencintai sepakbola yang akan melakukan apapun demia sepakbola itu sendiri.

Sikap yang ditunjukkan PSSI dengan hanya menunggu saja tanpa berbuat apa-apa, telah membuat 2 klub liga1 – madura united dan persipura jayapura – membubarkan diri. Penyebabnya adalah belum adanya kejelasan tentang kapan kompetisi akan bergulir kembali. Selain itu, banyak juga klub yang terhimpit secara finansial. Keadaan tersebut, pada akhirnya, akan disusul oleh banyak klub –klub sepakbola yang lain juga akan membubarkan diri, menyusul langkah yang dipilih madura united dan persipura.

Peristiwa tersebut seharusnya disikapi dengan serius oleh PSSI. Mengingat, jika banyak klub yang membubarkan diri, hal tersebut dapat menjadi sebuah kerugian besar bagi perkembangan sepakbola negara kita. Kelak, banyak dari kalangan orang tua yang semakin pesimis untuk menerjunkan anak-anak berbakatnya di dunia sepakbola. Karena para orang tua semakin mengerti tentang betapa suramnya masa depan pemain sepakbola di indonesia.

PSSI masih memiliki banyak waktu untuk melakukan upaya-upaya yang dapat meyakinkan pihak kepolisian agar menerbitkan izin kegiatan kompetisi. PSSI dapat menginventarisir bermacam-macam inovasi maupun langkah-langkah yang harus diputuskan di saat pandemi sekarang ini. Saat ini, inovasi atau terobosan tersebut sangat diperlukan agar kompetisi sepakbola di tanah air tetap dapat berjalan.

sumber : MLDSPOT

Bidang industri yang lainnya, seperti halnya industri musik, telah banyak melakukan inovasi di saat pandemi. Pelaku industri musik tetap menyelenggarakan konser dengan sistem baru. Konser musik drive-in. Sebuah konsep konser musik yang diselenggarakan dengan cara: para penonton yang hadir dapat menikmati konser dari dalam mobil mereka sendiri yang sedang parkir di halaman depan panggung konser. Inovasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk tetap menjaga ekosistem industri musik agar tetap berjalan.

Inovasi di industri musik tersebut, seharusnya dapat menjadi pembakar semangat bagi para pemangku kepentingan didunia sepakbola, agar tetap memikirkan secara serius keberlangsungan kompetisi di saat pandemi seperti saat ini. Ini merupakan tantangan besar yang hanya membutuhkan dana kecil bagi PSSI untuk tetap menyelenggarakan kompetisi di saat pandemi. PSSI hanya memerlukan inovasi peraturan-peraturan darurat yang digunakan saat pertandingan selama pandemi berlangsung.

sumber: antartica2000.net

Untuk saat ini, para pecinta sepakbola tanah air hanya menuntut hal sederhana. Para pecinta sepakbola hanya menginginkan rasa rindu mereka terhadap aksi-aksi menawan klub sepakbola kebanggaannya dapat terbayar lunas. Sekalipun hal tersebut hanya dapat disaksikan dari layar kaca televisi. Bagi kami, jika kompetisi tetap dapat berjalan di saat pandemi, itu prestasi luar biasa bagi PSSI. Apalagi PSSI dapat berbuat lebih daripada itu, misalnya mengadakan teknologi garis gawang, teknologi VAR, dan lain sebagainya. Meskipun, didalam keyakinan kami, hal tersebut sungguh tidak akan mungkin terwujud. Mengingat, kami masih meragukan rasa cinta dan jiwa sepakbola para pihak yang duduk di kursi empuk PSSI. #AyoMainLagi

Surat ke-Dua Puluh Enam : Kesulitan dan Kemudahan Yang Berjodoh

Assalamualaikum Wr. Wb.

kekasih, sungguh tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu. Sudah seminggu ini, aku telah halal menjadi suamimu. Seluruh tanggung jawab dari bapak-ibumu, telah beralih menjadi tanggungjawabku sebagai suamimu seutuhnya.

Aku teringat sebuah kenangan, saat dadaku di penuhi rasa gugup. Betapa aku merasakan bibirku gemetar. Di hadapan segenap keluarga besar yang menjadi saksi pernikahan sakral kita berdua, bibirku mengucapkan lafadz akad dengan lantangnya. Meskipun, aku sendiri telah berusaha sekuat tenaga, agar menyimpan dengan baik, rasa gugupku itu. Entahlah, sesuatu apa yang telah membuatku merasakan gugup yang sangat luar biasa. Tetapi, beruntung, aku bisa melalui itu dengan baik.

Pernikahan ini, mengantarku untuk mengingat kembali kenangan yang terjadi beberapa tahun silam. Ya, beberapa tahun lalu itu, ketika kaum milenial dijangkiti penyakit ambyar dan galau, aku adalah salah satu anak muda yang juga merasakan penyakit kekinian ala anak muda saat itu. Menikah muda. Meskipun, aku mengakui, tekadku menikah muda bukan karena mengikuti arus pergaulan anak muda saat itu.

Menurutku, menikah diusia muda, merupakan usaha terbaik agar kelak usiaku tidak terlampau jauh dengan usia anak-anakku.Puji syukur, karena Allah SWT telah mengabulkan do’aku dan menikahkan diriku pada usia yang sangat aku harapkan.Segala yang telah terjadi, masih menyisakan ingatan kuat dikepalaku. Bagaimana Allah SWT merencanakan ini semua. Sebelum pernikahan ini dilaksanakan, Allah SWT menyuruhku untuk menjalani peran sebagai seorang anak muda yang harus menikmati pahitnya kehidupan.

Ekonomi keluarga kami jatuh. Kami harus kembali kepada suatu keadaan – atas permintaan Allah SWT yang menguasai kerajaan langit dan bumi – untuk menjalani hidup penuh dengan ikhtiar dan juga tirakat. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, setelah badai kehidupan memporak-porandakan ekonomi keluarga dengan begitu dahsyatnya. Satu hal yang begitu nyata aku rasakan, Allah SWT ada di setiap peristiwa hidup yang aku lalui.

Semenjak saat itu, aku benar-benar menyaksikan “Tiada Tuhan Selain Allah.” Aku merasakan, betapa aku sangat dekat denganNya. Kemudian, Rahman dan RahimNya, memelukku dengan hangat, sembari menenangkan badai yang mengamuk didalam jiwaku. Hidupku tertolong olehNya.

Atas kehendak Allah SWT yang telah menyuruhku berperan menjadi anak muda yang kehidupannya telah jatuh. Menjalani hidup penuh dengan kesulitan. Lalu, Allah SWT memintaku kembali untuk menjalankan peran berikutnya. Menjadi seorang anak muda yang penuh tekad untuk mempersunting calon istrinya.
Seorang anak muda yang kehidupan ekonominya jatuh. Anak muda yang belum menemukan jalan rezekinya. Hidupnya penuh dengan kesulitan.

Tetapi, anak muda itu tetap penuh dengan tekad, untuk mempersunting calon istrinya tersebut. Tidak ada yang mampu menjawab misteri hidup anak muda tersebut. Karena anak muda itu, tetap melangsungkan pernikahan. Meskipun hidupnya saat ini masih penuh dengan kesulitan. Karena jawabannya hanya milik Allah SWT. Nasib seluruh manusia ada pada kehendakNya.

Puji syukur, karena aku berkesempatan telah melewati serentetan peristiwa hidup yang penuh makna. Bahkan, dihari yang berbahagia ini, aku dapat mensyukuri nikmat dan memaknai hidup dengan setinggi-tingginya iman.

Atas segenap pertolongan Allah SWT, akhirnya, aku bisa mempersuntingmu untuk menjadi istriku. Kesulitan hidup yang aku hadapi, dan pertolongan Allah SWT untuk mempersuntingmu, adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT didalam kalamNya. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Demikianlah pada hakikatnya, kita dapat memaknai tentang jodoh. Bahwa Allah SWT merahasiakan dengan sebaik-baiknya hakikat tentang jodoh itu sendiri. Kesulitan dan kemudahan, adalah fitrahnya hakikat jodoh itu sendiri. Karena selamanya hidup tidak akan selalu sulit. Dan selamanya, hidup tidak akan selalu mudah. Wallahua’lam bisshowab.
RRI #RizkieMuxafier #bunglangit

Surat Ke Dua Puluh Lima : Mahar Ilmu dan Amal

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kekasih hatiku. Seseorang yang akhirnya dapat aku temui. Perempuan yang sangat cantik paras wajahnya. Teduh; sungging senyumannya. Lemah lembut perangainya.

Ia adalah sosok perempuan yang hadir membawa cinta untuk keselamatan hidupku, seorang laki-laki yang lemah tidak berdaya. Laki-laki yang sedang hidup diambang keputus-asaan. Kehidupannya terombang-ambing oleh badai yang mengamuk-amuk, memporak-porandakkan, seluruh bangunan megah keyakinan yang telah aku bangun berpuluh-puluh tahun. Bangunan keyakinan itu, runtuh dalam sekejap. Bersyukur, nasib hidupku masih tertolong.

Ya, nasib hidupku masih tertolong. Karena Tuhan yang maha esa – Allah SWT – masih mengasihi dan menyayangiku. Ia mengirimkan hambanya – perempuan yang hatinya sangat suci dan cintanya yang sangat tulus itu – menjadi dewi penolong yang telah menolongku, memunguti serpihan puing-puing bangunan keyakinan yang masih tersisa.

ia membantuku membangun kembali bangunan megah keyakinan didalam lubuk hatiku. Karena kewibawaan seseorang, ditentukan oleh seberapa kokoh ia membangun keyakinan didalam hati dan jiwanya.

Kekasih, hatimu sungguh sangat mulia. Mengapa engkau hadir dengan penuh cinta dan penuh ketulusan, bahkan menyelamatkan nasib hidupku?. Mengapa pula dengan penuh keyakinan, engkau menerima pinangan dari seorang laki-laki yang nasib hidupnya belum menemukan jalan rezekinya?. Apakah engkau tidak khawatir dengan masa depan dan nasib hidupmu?. Menjalani hidup sehari-hari, bersama seorang lelaki, yang perlu kamu bangun kembali jiwanya, dan bangun kembali badannya.

kekasih, sesungguhnya apa yang engkau harapkan dari laki-laki sepertiku?. Karena aku belum menemukan jalan rezekiku. Bagaimana kita akan hidup berdua, membangun keluarga nantinya?. Apakah engkau tidak takut, dunia modern akan menghujatmu?. Karena engkau telah menerima pinangan dari seorang laki-laki sepertiku.

Namun, engkau dengan hati yang murni dan sangat mulia, serta cinta yang tulus, telah membuat dunia kembali terhenyak. Dengan sangat penuh keyakinan, engkau menerima untuk aku persunting. Kita merencanakan akadnya dalam waktu dekat.

Kekasih, aku meminta maaf, jika bentuk Mahar yang pada umumnya akan aku serahkan padamu, adalah pemberian kedua orang tuaku. Aku belum mampu untuk membelinya sendiri. Maharnya juga mungkin tidak seberapa. Tetapi, percayalah, mahar itu memiliki cinta sepanjang hayat dari ibu-bapakku, teruntukmu kekasih.

Lalu, bagaimana dengan diriku?. Apakah aku tidak menyediakan mahar pula untukmu?.

ketahuilah, aku juga telah menyediakan mahar untukmu. Aku akan memberimu mahar ilmu dan amal. Ya, hanya sebuah mahar ilmu dan amal. Tetapi, aku berjanji kepadamu; dengan bermodalkan ilmu yang aku miliki, aku akan berjuang sekuat tenaga, untuk memberi kebahagiaan didalam hidupmu. Aku juga akan menjadi sosok lelaki – calon suami – yang akan mengamalkan ilmu untuk menjunjung tinggi kodratmu dan menyediakan tempat tertinggi untuk memuliakan peranan dan kodratmu sebagai seorang perempuan dan istriku.

kekasih, diakhir tulisan, aku akan mengutip nasehat dari saudaraku yang telah lebih dulu mempersunting perempuan, dambaan hatinya. Ia pernah memberiku nasehat, “jadilah suami yang mampu memberikan seluruh kebahagiaan untuk istrinya, dan berjanjilah untuk selamanya hidup bersama istrimu. Demikianlah suami yang bertanggungjawab untuk istrinya.”

Semoga, Tuhan merestui dan menuntun setiap langkah kita. Amin.

Wassalam.

 #RRI # RizkieMuxafier #BungLangit

Anak Kecil Yang Tabah Itu, Berpulang! ‘:(

Malam itu, langit sangat gelap, hitam dan sangat pekat. Seharian hujan dimana-mana. Di kota yang ramai, dekat dengan pantai, hingga, di atas gunung, tempat kehidupan bersemai. Suasana di kota, yang ramai dengan lalu lalang warga, malam itu, seketika berubah menjadi sepi. Hening, karena hujan masih menyelimuti seluruh langit daerah kami tinggal.

Berselang beberapa jam, kemudian suasana kembali berubah menjadi ramai. Kabar yang beredar, hujan di hulu, mengalirkan air yang sangat besar. Air meluap-luap, mengalir ke setiap sudut kota. Jalanan yang basah oleh air hujan, kini, juga basah karena luapan air sungai. Nahas, air yang mengalir deras, menyeret korban salah satu santri pondok pesantren yang pernah menerima kami (Rumah Sastra Gandes) untuk menyelenggarakan pagelaran di pondok pesantren tersebut.

Malam itu, pencarian korban dilakukan. Namun, belum membuahkan hasil. Proses pencarian kembali dilanjutkan kembali dipagi hari. Mayat korban ditemukan dihilir sungai, didekat pantai. Identifikasi terhadap korban dilakukan. Betapa kami sangat terkejut, dan sangat terpukul. Sosok korban yang meninggal terseret arus banjir malam itu, adalah sosok anak remaja laki-laki yang sangat kami cintai.

Kami semua sangat mencintainya. Karena anak laki-laki itu, pernah mengukir kenangan manis bersama kami. Terhitung, hampir setahun, sejak awal pertama kali kami bertemu dengannya.

Anak laki-laki itu, kami mengenalnya sebagai sosok anak yang hidup dengan semangat juang tinggi. Sejak didalam kandungan ibunya, ia hidup dipesantren. Lalu, ia terlahir ke dunia, dan diasuh oleh keluarga pesantren. Karena Ibunya meninggalkannya dipesantren sejak kecil. Ayahnya tidak ada kabar. Pun hingga usianya belasan tahun, anak kecil itu hidup dan tumbuh, bersama dengan cinta kasih dari keluarga pesantren.

Ia hidup dengan jiwa kesenian didalam tubuhnya. Suaranya yang sangat merdu, menunjukkan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi. Ia menunjukkan kepada dunia, suaranya yang merdu adalah hartanya yang sangat berharga.

Kami teringat sebuah kenangan manis yang telah kami ukir bersamanya. Dalam sebuah kesempatan, berdasarkan cerita teman-teman, beberapa hari sebelum pagelaran seni dan sastra pesantren dilaksanakan, Anak kecil yang sangat tabah itu, menghampiri rekan-rekan kami yang sedang latihan musik, yang akan ditampilkan pada saat pagelaran berlangsung. Ia sengaja dipanggil oleh Putra dari pengasuh pesantren yang menjadi tuan rumah pagelaran kami.

Anak kecil tersebut, juga berkat rekomendasi beliau – kami memanggilnya gus sajad – untuk ikutan menampilkan bakat menyanyinya pada acara pagelaran yang akan dilaksanakan tersebut. Anak kecil itu menerima tawarannya dengan senang hati. Ia ikut latihan bersama kami. Lagu Ayah, yang pernah dipopulerkan oleh peterpan, menjadi sebuah lagu yang dipilihnya. Lagu yang menceritakan kerinduan kepada sosok ayah, seolah juga menjadi pesan baginya, anak kecil yang sangat tabah itu, juga sangat merindukan kehadiran ayahnya.

Tiba di hari pagelaran, saatnya, anak kecil yang sangat tabah itu, menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Seluruh pemain musik bersiap dengan alat musiknya masing-masing. Pengunjung yang hadir masih tetep setia menonton pagelaran yang berlangsung. Karena di lokasi pagelaran, juga diadakan kegiatan melukis yang dihadiri teman-teman pelukis muda probolinggo.

Pemandu acara memanggil nama anak kecil itu ketengah-tengah panggung. Semua mata tertuju kepada anak kecil itu. Lalu, pemandu acara mempersilahkan anak kecil itu untuk menunjukkan suara merdunya. Saat ia mulai menyanyikan laguunya, kali ini, tidak hanya seluruh mata penonton yang tertuju kepadanya, tetapi, seluruh telinga kami tertuju kepada suara merdunya.

Hati kami seolah-olah tercabik-cabik. Karena ia menyanyikan lagunya dengan sangat merdu. Ia menyanyikan lagu ayah dengan penuh rindu. Semua yang menontonnya, seolah dijemput oleh perasaan pilu. Suasana seketika mengharu-biru. Anak kecil yang tabah itu, menyulap seluruh perasaan penonton yang hadir saat itu. Terbawa suasana, seolah-olah ingin menangis sejadi-jadinya.

Anak kecil yang tabah itu, kini, ia hanya akan membuat kami merindu. Sebab, kami dan dia, tidak akan mungkin dapat bertemu. Saat ini, Dia telah bersama Tuhannya, Allah SWT. Pun disisi Tuhannya, ia menyanyikan lagu dengan suara merdunya. Lagu yang dipersembahkan hanya kepada Tuhannya semata. Tuhan yang telah menganugerahkan suara merdu untuknya. Berbahagialah bersama Tuhanmu. Pintalah kepada Tuhanmu dari jarak yang dekat, agar engkau dapat menemukan ayah-ibumu.

 

Berikut video anak kecil yang tabah itu :

https://www.instagram.com/p/BxryDLjBye6/?igshid=1u03yp80fe0k0

 

#RRI #BungLangit #Rizkie Muxafier

Menemukan Muhammad SAW Di Rumah Orang-orang miskin

IMG-20181119-WA0081

Setiap memasuki bulan kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW, seluruh umat islam menyambut dengan ragam perayaan. Ada kelompok yang merayakan dengan pengajian khusus ; meneladani laku agung dari nabi akhir zaman, nabi Muhammad SAW. Ada kelompok lainnya; yang juga merayakan hari kelahiran Nabi muhammad SAW dengan mengadakan pengajian yang diiringi dengan pembacaan sholawat untuk baginda rosul Muhammad SAW. Untuk menambah kekhusyukan ketika membaca sholawat, para jamaah seringkali mengundang sekelompok seniman hadrah untuk mengiri lantunan sholawat yang dikumandangkan menembus puncak langit.

Pada umumnya, diseluruh belahan dunia, pembacaan sholawat seringkali dengan mudah kita temukan. Di indonesia, secara umum pembacaan sholawat disematkan kepada kaum nahdiyyin atau lebih dikenal sebagai jamaah dari Nahdhotul ‘ulama (NU) – salah satu organisasi kemasyarakatan (islam) yang lahir di masa penjajahan, yang memiliki peranan penting didalam memerdekakan Republik Indonesia.

Sebagaimana yang telah penulis kemukakan diawal karangan ini, perihal hari kelahiran nabi Muhammad SAW, kaum nahdiyyin merayakannya dengan melantunkan sholawat-sholawat yang dilaksanakan di masing-masing langgar atau musholla atau masjid milik para guru ngaji.

Para jamaah yang ikut serta dalam perayaan hari lahir nabi, hadir dengan membawa nasi berkat untuk didoakan, dan nasi berkat akan dikembalikan kepada para jamaah secara acak, sehingga, ketika para jamaah pulang ke rumah masing-masing, ia tidak pulang dengan nasi berkat yang telah dibawa sebelumnya, melainkan ia telah membawa pulang nasi berkat yang dibawa (kepunyaan) orang lain. Setelah selesai melaksanakan pembacaan sholawat dan do’a yang ditujukan kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW, terkadang para jamaah langsung memakan nasi berkat tersebut di lokasi perayaan hari lahir nabi.

IMG-20181119-WA0076

Seiring berjalannya waktu, perayaan hari lahir nabi kini semakin semarak. Beberapa tahun belakangan ini, perayaan hari lahir nabi semakin semarak dengan adanya barang-barang yang di gantung dengan tali memanjang di atas kepala masing-masing jamaah. Barang-barang tersebut pada waktu tertentu, akan diperebutkan oleh jamaah yang hadir. Dengan adanya ide tersebut, perayaan hari lahir nabi, kini, tidak hanya semakin indah nan cantik, melainkan semakin mengundang daya tarik jamaah untuk hadir pada perayaan atau peringatan hari lahir nabi Muhammad SAW.

* * * * *

Pada kesempatan ini, penulis menulis karangan ini berdasarkan perjalanan religius yang telah dialami oleh penulis sendiri. Segala hal yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini, semata-mata merupakan proses interaksi, dan pengamatan secara langsung. Bahwa proses interaksi yang dimaksud adalah penulis mendapat informasi atau pengetahuan secara langsung dari seseorang yang diajak dialog, maupun dengan cara mendengar ceramah dari penceramah yang diundang hadir pada perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW. Sehingga, pembahasan tulisan ini hanya berdasarkan kepada proses interaksi dan pengamatan secara langsung tersebut.

Betapa penulis sangat kagum sekali terhadap perayaan hari lahir nabi yang telah diselenggarakan di salah satu dusun yang bernama Bago kidul, di desa kami. Dusun tersebut, beberapa tahun belakangan ini, seringkali merayakan hari lahir nabi secara bergantian dari 1 (satu) kelompok ke kelompok lain berikutnya. Perayaan tersebut dimulai sejak berakhirnya maulud agung atau bertepatan dengan tanggal kelahiran baginda agung nabi Muhammad SAW sampai dengan akhir bulan kelahiran nabi Muhammad SAW.

Kelompok-kelompok yang dimaksud adalah kumpulan dari beberapa keluarga (berpendapatan rendah) yang secara sadar, memilih cara bergotong-royong untuk memikul beban secara bersama-sama, demi mewujudkan sebuah perayaan hari lahir nabi yang berkesan nan meriah, dan dengan harapan agar dapat mengundang secara batin kehadiran baginda agung nabi Muhammad SAW ditengah-tengah jamaah yang hadir bersholawat kepadanya.

IMG_20181127_191854

Kenyataan tersebut, sungguh menggetarkan hati. Betapa rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW yang terdalam, meskipun penuh rintang nan curam, seringkali dengan penuh misteri, bantuan datang dari arah dan waktu yang tidak terduga-duga. Selain itu, peristiwa ini telah menjadi potret yang terekam abadi didalam relung hati dan sanubari. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat mengagumkan, sebab, masyarakat kita masih hidup dengan budaya gotong-royong; budaya memikul beban secara bersama-sama.

Selanjutnya, penulis mendapatkan satu nasehat (ceramah) dari habib yang diundang sebagai penceramah. Betapa taman hati penulis yang sebelumnya kering dan tandus, saat ini, telah basah dan subur. Sebab, ceramah yang disampaikan oleh habib bagaikan air yang menyiram seluruhnya; taman hati yang kering dan tandus yang dimiliki oleh penulis.

Di dalam ceramahnya, Habib tersebut, menyampaikan sebuah kalimat yang saat ini telah menjadi penghuni baru didalam pikiran, hati dan jiwa penulis. Habib tersebut berpesan, berikut juga dengan menyertakan dasar hukumnya. Bahwa semasa hidupnya; nabi Muhammad SAW seringkali menghadiri undangan yang datang dari orang-orang miskin dibandingkan dengan undangan yang datang dari orang-orang kaya. Sebab, menurut nabi, orang-orang miskin lebih mudah untuk merasa rendah diri. Sehingga, mereka dengan mudahnya merasa kufur nikmat.

Berdasarkan hal tersebut, sesungguhnya kita telah mendapatkan sebuah cakrawala pengetahuan. Pengetahuan tersebut yang telah mengantar kita pada sebuah kesadaran; bahwa untuk mencapai puncak keimanan yang tertinggi, selain menjalankan ibadah sebagaimana yang termaktub didalam Al-qu’ran, seorang hamba harus mampu meneladani segala laku agung yang ditunjukkan oleh baginda agung nabi Muhammad SAW. Utamanya, seluruh perilaku yang telah diajarkan oleh baginda nabi Muhammad SAW, yang sangat mencintai dan mengutamakan orang-orang miskin sepanjang hidupnya.

Sebagaimana perilaku yang telah diwariskan oleh baginda nabi didalam riwayat yang ada, tentang kecintaan baginda nabi Muhammad SAW kepada orang-orang miskin, penulis meyakini bahwa sesungguhnya baginda nabi Muhammad SAW, menetap dan hidup di dalam hati orang-orang miskin. Sehingga, bagi umat muslim – untuk menyempurnakan keislamannya – mereka senantiasa harus mencintai dan mengutamakan orang-orang miskin.

Hal tersebut juga telah selaras dengan riwayat yang telah ditulis dalam karangan ini, bahwa baginda nabi telah mewariskan teladan untuk mengutamakan menghadiri undangan dari orang-orang miskin. Sebab, di rumah orang-orang miskin, menjadi tempat tinggal baginda agung nabi Muhammad SAW.

RIZQY RIDHO ILAHI

Bung Langit #RRI

Surat ke Dua Puluh Empat : “ Kesejiwaan Cita-cita Hidup ”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarmu, bulan?. Duhai kekasih pujaan hatiku?. Bulan, waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, 4 bulan telah berlalu. Namun, engkau tidak perlu khawatir, didalam kesunyian-kesunyian waktu, pengharapan yang sangat tinggi untuk dapat menjadi pendamping hidupmu, telah melebur menjadi satu, senafas dengan pengharapan-pengharapan itu, teriring do’a-do’a yang aku tembakkan ke langit-langit, mengharapkan perlindungan dariNya untuk menemani perjalananmu mengarungi waktu; tanpa diriku.

Bulan, aku meminta maaf, jika surat ini, baru aku tulis kembali setelah 4 bulan waktu berlalu. Sungguh aku tidak merencanakan ini semua. Aku hanya mengikuti sesuatu yang berbicara didalam hatiku. Ia memberikan sebuah petunjuk; sebuah firasat yang sangat kuat, bahwa engkau berada pada jarak yang sangat jauh untuk aku dekap. Menyadari kenyataan itu – seketika – aku menjadi sangat lemah, karena separuh jiwa telah hilang didalam diriku.

Bulan, sungguh aku tidak menyangka, bahwa surat yang aku tulis ini, adalah surat yang sama dengan usiaku. Didalam Usia ke-24 tahun, aku menulis surat yang ke-24 pula. Meskipun, untuk menyambut usiaku yang baru, tanpa perayaan apapun dan juga tanpa hadirnya dirimu, aku tetap harus membahagiakan diriku. Semoga dengan menulis surat ini, sebagai bentuk rasa cintaku yang terdalam untukmu; aku akan menemukan puncak kebahagiaan yang tertinggi, sekalipun surat-surat cinta yang aku tulis, ia tidak pernah mendapat balasan dari seseorang yang ditujunya.

Bulan, dengan bertambahnya usiaku, mungkin sudah tiba waktunya; engkau mulai harus mengenal siapa diriku. Bagaimana sosok diriku yang kelak akan engkau pilih menjadi pendamping hidupmu?. Bagaimana dengan cita-cita hidup yang telah aku tanam didalam diriku?. Apakah cita-cita tersebut juga sejiwa dengan cita-citamu?. Aku sangat berharap sekali, pada suatu saat nanti, kita berdua akan dipertemukan oleh takdir, karena kesejiwaan cita-cita hidup. Semoga!.

Tiba saatnya, aku akan menerangkan tentang siapa diriku.

Kekasihku, Bulan!!!. Sesungguhnya cinta yang aku persembahkan kepadamu adalah segenap pengharapan-pengharapan hidup. Pada pengharapan tersebut, cinta yang engkau persembahkan untukku, ia akan menjadi pendamping perjalanan pengabdian hidupku.

Bulan, kelak engkau akan menjadi kedua mataku; yang semakin tajam melihat kenyataan bahwa banyak orang-orang yang hidup banting tulang, menjadi tulang punggung dengan penghasilan upah yang nominalnya sangat rendah. Engkau akan menjadi kedua telingaku; yang semakin hikmat mendengarkan ungkapan-ungkapan hati dari mereka, yang memikul beban hidup yang sangat berat.

Engkau akan menjadi kedua tanganku; yang akan semakin kuat merangkul orang-orang, yang sedang menghadapi keputus-asaan hidup. Kita berdua juga akan menjadi sepasang yang memberikan pelukan kepada orang-orang, yang merasa terancam hidupnya, dan memberikan dekapan yang sangat hangat, kepada orang-orang yang mendapatkan sikap dingin dari dunia.

Engkau akan menjadi sepasang kakiku; yang akan bergerak, melangkah dan berlari lebih cepat lagi, untuk datang berkunjung, menemui segenap orang-orang – secara satu per satu – yang hidupnya dirundung permasalahan. Dan engkau akan menjadi hati kecilku; nurani yang tetap suci, menjaga fitrah pengabdian hidup yang akan kita jalani sepanjang hayat.”

Bulan, akhirnya surat ini, untuk sementara, aku harus mengakhirinya. Semoga selekas-lekasnya kita dapat bertemu. Aku sangat berharap; sebagaimana yang telah aku ungkapkan sebelumnya, semoga kita merupakan sepasang yang akan dipersatukan karena kesejiwaan cita-cita hidup yang sama. Sehingga, kelak, banyak hal yang dapat kita kerjakan berdua, dan kita berdua akan memperjuangkannya hingga titik akhir; segala hal yang kita cintai, yang telah tertanam didalam hati, untuk sebuah kebahagiaan pengabdian yang abadi. Semoga!!!.

Wassalam.

Rizqy Ridho Ilahi #RRI

RizkieMuxafier #Bahagia24th

 

Dukungan Daerahku Mengepung Langit Indonesia

logo asean gamesDidalam hitungan beberapa hari ke depan, seantero benua asia – bahkan juga hampir seluruh dunia – akan menjadi saksi pesta akbar olahraga “ Asian Games ke XVIII ” yang akan di adakan di indonesia, tepatnya di jakarta dan palembang sebagai Tuan Rumah, serta didukung oleh kedua provinsi, seperti : provinsi banten dan provinsi jawa barat yang ditunjuk sebagai daerah pendukung penyelenggaraan “ Asian Games ke XVIII ”.

Pada penyelenggaraan “ Asian Games ke XVIII ” tahun ini, pihak penyelenggara memilih tema “ Energi Asia ”. Sungguh pemilihan tema yang sangat luar biasa yang ditunjukkan oleh pihak penyelenggara. Sebab, didalam tema tersebut, mengandung sebuah makna yang menyiratkan betapa tingginya kesadaran yang dimiliki pihak penyelenggara dalam menyikapi situasi persaudaraan antar negara di benua asia, dalam beberapa tahun belakangan, sepertinya semaking renggang.

Sehingga, didalam pemahaman penulis, untuk mengatasi persoalan tersebut, dunia olahraga menjadi media yang berperan penting untuk merekatkan kembali persaudaraan antar negara di benua asia yang telah menegang dan renggang. Melalui olahraga, negara-negara yang ikut serta didalam pesta akbar “ Asian Games ke XVIII ”, akan saling bertemu, lalu, bersatu atas nama persaudaraan Asia, dan kemudian melebur menjadi energi yang mahadahsyat untuk menghalau-rintangi setiap musuh yang hendak meluluhlantakkan benua asia.

* * * * *

Bahwa sebagaimana yang telah penulis kemukakan diawal tulisan ini, negara Indonesia yang telah mendapat kepercayaan dari pihak penyelenggara dengan ditunjuk sebagai Tuan Rumah “ Asian Games ke XVIII ”, merupakan sebuah kebanggaan yang tiada terhingga. Kami – seluruh rakyat indonesia, dari tanah sumatera hingga tanah papua – menyatakan dengan penuh insyaf dan sadar, akan memberikan dukungan setinggi-tingginya kepada pihak penyelenggara didalam mensukseskan pesta akbar ini.

Pembukaan acara “ Asian Games ke XVIII ” yang jatuh tepat pada tanggal 18 agustus 2018 atau tepat sehari setelah upacara peringatan hari lahir negara indonesia, menjadi sebuah pertanda yang sangat baik bagi dunia olahraga tanah air. Pasalnya, penulis memiliki keyakinan yang sangat teguh, bahwa pada tanggal 17 agustus 2018 (tepat sehari sebelum “ Asian Games ke XVIII ” di buka), didalam pidatonya, presiden akan membahas tentang “ Asian Games ke XVIII ” yang akan diselenggarakan di jakarta dan palembang, serta di 2 (dua) provinsi lainnya, yaitu meliputi : provinsi banten dan provinsi jawa barat.

Didalam sepenggal pidatonya atau mungkin hampir seluruh isi pidatonya, bapak presiden akan menyinggung tentang “ Asian Games ke XVIII ”. Segala hal yang menyangkut tentang “ Asian Games ke XVIII ”, oleh bapak presiden akan disinggung dalam pidatonya. Bapak presiden akan memberikan ulasan tentang bagaimana persiapan yang dilakukan sejauh ini, sarana dan prasarana yang telah dibangun, hingga dukungan secara langsung kepada para atlit yang tengah berjuang akan disampaikan oleh bapak presiden di hadapan awak media.

Pada bagian akhir pidatonya, penulis meyakini bahwa bapak presiden akan mengajak seluruh rakyat indonesia, agar terlibat – baik secara langsung maupun tidak langsung – didalam mensukseskan pesta akbar “ Asian Games ke XVIII ” tersebut. Selain itu, sebagai kepala pemerintahan republik indonesia, bapak presiden akan memerintahkan secara langung kepada pemimpin-pemimpin daerah yang tersebar di pelosok nusantara, agar turut serta terlibat secara aktif mengajak seluruh rakyatnya memberikan dukungan kepada para pejuang olahraga indonesia.

Oleh sebab keadaan-keadaan tersebut, pidato yang disampaikan oleh bapak presiden hingga pidato-pidato pemimpin daerah yang menyatakan dukungannya secara langsung kepada para atlit dari indonesia, dapat menjadi pemantik yang sangat dahsyat untuk membakar semangat seluruh rakyat indonesia untuk turut serta mendukung para atlit indonesia yang sedang berjuang di “ Asian Games ke XVIII ”. Rakyat indonesia yang memiliki ragam corak yang berbeda satu sama lain, dapat memberikan warna dukungan yang beraneka ragam pula.

Sebagaimana yang telah terekam didalam ingatan masing-masing orang, setiap pertandingan olahraga yang mempertemukan antar negara, seringkali hanya diwarnai dengan penampilan penonton yang mengenakan kostum atau kaos yang menjadi pertanda bahwa tim dari negara mereka sedang bertanding.

Penulis berpendapat, bahwa bentuk dukungan tersebut terkesan sangat kuno. Oleh sebab itu, “ Asian Games ke XVIII ” merupakan sebuah kesempatan emas yang dimiliki oleh bangsa indonesia, juga seluruh rakyat indonesia untuk memperkenalkan segala kekayaan warisan nenek moyang kita terhadap dunia, utamanya, di wilayah benua asia.

Kelak, selama “ Asian Games ke XVIII ” berlangsung, rakyat indonesia yang hadir menonton secara langsung pertandingan-pertandingan yang tersedia, mereka dapat mengenakan pakaian adat sebagai perlambang bahwa indonesia memiliki warisan adat dengan jumlahnya yang mencapai ratusan itu. Hal tersebut dapat pula memberikan pesan kepada para atlit bahwa negara indonesia dapat berdiri sejajar dengan negara-negara lain tanpa harus menghilangkan keindonesiaan mereka.

Dengan demikian, harapannya, bentuk dukungan yang kami berikan, dari seluruh rakyat indonesia yang berada didaerah-daerah, kepada para atlit yang sedang berjuang di “ Asian Games ke XVIII ”, dapat menjadi energi tambahan para atlit agar tetap berjuang hingga akhir pertandingan. Kami akan melakukan apapun, untuk mendukung para atlit indonesia. Bagi yang berada dalam jarak dekat akan merapat memberikan dukungan langsung. Sedangkan, bagi pendukung yang berada pada jarak yang sangat jauh, biarkan do’a-do’a dari seluruh rakyat indonesia mengepung langit indonesia. Sehingga, para atlit pantang menyerah, sebelum kemenangan diraih di akhir laga.

Sebagai penutup, bilamana daerah kami dipilih sebagai tempat penyelenggaraan acara, kami akan menunjukkan kepada dunia – utamanya kepada bangsa asia – bahwa rakyat indonesia merupakan tuan rumah yang sangat ramah. Seorang tuan rumah yang dapat menjamu tamu, hingga hilang rasa jemu. Sikap yang demikian itu, merupakan bentuk dukungan dari kami ( https://dukungbersama.id/ ) kepada negara ini yang telah menjadi tuan rumah “ Asian Games ke XVIII ”. Agar seluruh penduduk jagad raya, mencatat ini didalam buku riwayat sejarah mereka, bahwa perilaku-perilaku yang ditunjukkan oleh rakyat indonesia mencerminkan bahwa https://indonesiabaik.id/. JAYALAH NEGERIKU, INDONESIA JUARA!!!.

BungLangit#RRI (Rizqy Ridho Ilahi)