Assalamualaikum Wr. Wb.
Duhai kekasih hatiku, Bulan, bagaimana kabarmu? Semoga Allah SWT senantiasa melindungimu dan menjagamu. Amin.
Bulan, sungguh waktu telah berlalu begitu cepat. Aku samasekali tidak menyadari bahwa 3 tahun lalu, aku menulis surat cintaku yang terakhir. Apakah engkau membaca surat-suratku itu? Lalu, engkau tahu keadaanku 3 tahun lalu. Ya, 3 tahun lalu, aku menuliskan surat cinta yang awalnya menceritakan kebahagiaan, namun, pada akhirnya, takdir berkehendak lain. Takdir membukakan jalan kehidupan baru untuk hidupku dan juga untuk hidupnya. Kami berdua berpisah secara baik-baik. Semoga tidak ada kebencian diantara kami.
Bulan, aku tidak tahu, bagaimana caranya memulai lagi menuliskan surat cinta ini? Sungguh aku merasa kegagalanku di masa lalu, sedikit membuatku merasa tidak percaya diri untuk kembali menuliskan surat-surat cinta. Apalagi surat cinta yang aku tulis selama ini, hanya untukmu seorang, kecuali surat cinta yang aku tulis ketika aku telah mempersunting seseorang, adalah suatu hal yang lain.
Aku menuliskan surat cinta dan menyerahkan hidupku sepenuhnya untuk dia. Sebab, aku tidak pernah mendapatkan surat-surat cintaku dibalas olehmu. Bertahun-tahun lamanya, aku menunggu engkau agar membalas surat cintaku. Tapi, tak ada satu pun suratku, yang mendapatkan balasan darimu. Sampai pada akhirnya, aku bertemu dengan seseorang. Lalu, kami memutuskan menikah. Meskipun, pernikahan kami juga tidak berakhir indah.
Bulan, aku telah bercerita singkat kepadamu tentang kisah hidupku dalam 3 tahun terakhir ini. Saat ini, apakah engkau juga berkenan untuk menceritakan kisah hidupmu dalam 3 tahun terakhir? Apakah selama ini, engkau masih sendiri? Atau apakah engkau telah menjalani bahtera kehidupan dengan pilihan hatimu? Aku berharap, semoga engkau sudi menceritakannya kepadaku melalui balasan surat darimu.
Bulan, seandainya engkau telah di persunting oleh orang lain, aku berjanji kepadamu, aku akan berhenti menulis surat cinta untukmu. Seperti pada waktu, aku telah mempersunting orang lain, aku berhenti menuliskan surat cinta kepadamu. Namun, seandainya engkau masih hidup sendiri tanpa adanya seorang laki-laki yang mempersuntingmu atau engkau saat ini juga sendiri karena suatu sebab perpisahan? Aku masih ingin menulis surat cinta untukmu. Aku juga masih penuh harap, semoga engkau membalas surat cintaku.
Bulan, sungguh aku tidak tahu bagaimana takdir akan membawa surat-suratku menemui nasibnya? Apakah surat-suratku akan bernasib baik? Surat-surat itu akan mendapatkan balasan darimu. Pun dengan rasa cintaku, apakah akan mendapatkan balasan dari cintamu?. Aku akan menyerahkan semuanya kepada takdir. Ya, seperti halnya yang telah berlalu. Selama kurang lebih 10 tahun aku menulis surat-surat untukmu. Dan selama itu pula, aku mengemban cinta seorang diri. Sebab, aku samasekali tidak pernah tahu perasaanmu kepadaku.
Bulan, mungkinkah aku yang telah salah memahami keadaan ini?. Aku mencoba membalas semua pesan-pesanmu yang masuk ke handphoneku. Engkau hampir mengerti semua tentang aku dan keluargaku? Apakah mungkin aku terlalu percaya diri? Sehingga, aku menganggap semua pesan-pesan yang kau kirim serta perhatian kecilmu tentang aku dan keluarga kecilku sebagai bukti engkau benar-benar mencintaiku.
Bulan, tolong maafkan perasaanku yang telah bersalah mencintaimu. Aku juga memohon kepadamu, agar engkau sudi dan berkenan membalas surat cintaku. Aku tidak sabar mendengar kabar bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya kepadaku. Apakah engkau masih mengingatku? Apakah engkau juga memiliki perasaan yang sama denganku?. Aku sangat takut menerima kenyataan bahwa engkau tidak memiliki perasaan yang sama denganku dan engkau tidak pernah mencintaiku. Sehingga, apabila hal itu benar-benar terjadi, apakah kisah cintaku ini tidak akan pernah sampai kepada tujuannya?.
Bulan, sebagai penutup suratku ini. Aku akan menyematkan sepenggal lirik lagu yang berjudul “Sorai” yang ditulis oleh penyanyi perempuan muda yang bernama Nadin Amizah.
“Ketika dunia saling membantu, Lihat cinta mana yang tak jadi satu,
Kau memang manusia tak kasat rasa, Biar aku yang mengemban cinta”









Didalam hitungan beberapa hari ke depan, seantero benua asia – bahkan juga hampir seluruh dunia – akan menjadi saksi pesta akbar olahraga “ Asian Games ke XVIII ” yang akan di adakan di indonesia, tepatnya di jakarta dan palembang sebagai Tuan Rumah, serta didukung oleh kedua provinsi, seperti : provinsi banten dan provinsi jawa barat yang ditunjuk sebagai daerah pendukung penyelenggaraan “ Asian Games ke XVIII ”.