Romantika Pemuda

Sekitar 350 tahun lamanya, Indonesia di jajah oleh belanda. Rakyat yang memiliki tanah sendiri, di rampas secara paksa oleh pihak belanda dengan bentuk penindasan yang sangat kejam. Selain itu, setelah belanda pergi, jepang masuk ke Indonesia dan menjajah Indonesia kurang lebih 50 tahun lamanya. Rakyat Indonesia tetap mengalami kesakitan. Jepang yang datang dengan menganggap dirinya sebagai saudara tua asia, nyatanya hanya sebagai rayuan belaka, sebagai jalan mulus pemerintah jepang untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia. kemudian banyak para pemuda saat itu, yang telah memiliki ilmu, secara perlahan melakukan pemberontakan. Salah satunya, soekarno pada usia ke 20 tahun, telah berhasil menuangkan pemikirannya tentang marhaenisme yang merupakan hasil dari berbagai macam literature/pustaka dunia dan melalui proses murni yang di lalui soekerno tatkala bertemu dengan petani yang hidup dalam penindasan. Dengan pemahamannya yang telah tertulis tersebut, soekarno melakukan penyadaran terhadap rakyat, bahwa membangun Negara ini harus dengan cara dan tenaga, dari bangsa kita sendiri. Hasil yang di peroleh dari bumi kita sendiri, sudah pasti menjadi hak milik kita.

Seiring semakin tua umur soekarno dan para pejuang yang sepadan dengannya, Indonesia tetap tidak kehilangan sosok pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Hal itu terbukti dengan beragam organisasi pemuda yang di bentuk dengan tujuan untuk mempermudah mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. adapun salah satu wujud konkrit semangat para pemuda yang ingin mencapai kemerdekaannya tertuang di dalam “sumpah pemuda”. Tujuannya adalah menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”(Wikipedia). Sehingga, dengan adanya perkumpulan pemuda, bangsa Indonesia semakin dekat dengan kemerdekaannya. Beberapa hari sebelum bangsa Indonesia merdeka, pemuda kembali menunjukkan perannya dalam memerdekakan bangsa Indonesia, tatkala para pejuang senior seperti soekarno, hatta, dll. Tidak segera memerdekakan bangsa Indonesia. akhirnya, para pemuda melakukan penculikan terhadap soekarno-hatta, mendesak kedua tokoh tersebut agar menyegerakan kemerdekaan bangsa Indonesia tanpa melakukan kompromi-kompromi politik dengan pemerintah jepang.

Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, terjadi pergantian presiden, dan ketika zaman orde baru yang membangun politik dictator berkuasa, rakyat bangsa Indonesia mendapatkan kembali kesusahan. Sistem politik dictator yang di bangun oleh presiden kala itu, membuat rakyat terkekang di dalam keterlibatan membangun bangsa. Perilaku korup para pejabat saat itu, telah berhasil mengantar Indonesia pada puncak kesakitannya. Akhirnya, para pemuda kembali terbakar menyuarakan kesakitan yang rakyat alami. Pemuda-pemuda tersebut di antaranya : soe hok gie, WS rendra, Wiji thukul dll, mempunyai visi yang sama, yaitu melakukan pemberontakan terhadap rezim orde baru. Para aktifis tersebut, harus merelakan dirinya, mengikhlaskan dirinya, ketika menjadi tahanan politik kala itu, berpindah dari penjara yang satu ke penjara yang lainnya. Dan berujung tidak terlacak keberadaan salah satu atau salah dua di antara mereka. Usaha-usaha yang dilakukan aktifis WS Rendra, Wiji thukul, soe hok gie, menemukan hasil yang positif. Para pemuda yang lain yang juga menjadi aktifis tersulut semangatnya untuk menyuarakan kesakitan yang dialami rakyat kala itu. Sehingga, massa pemberontak berjumlah semakin besar. Puncaknya, pada tahun 1998, ketika para mahasiswa turun ke jalan, berhasil menumbangkan rezim orde baru.

Memasuki rezim reformasi, yang memberikan kebebasan untuk rakyatnya, dapatkah menjadi jalan yang mudah bagi bangsa Indonesia untuk mencapai cita-citanya yang telah tertuang di dalam konstitusi bangsa Indonesia? khususnya peran pemuda yang sedang di tunggu oleh rakyat Indonesia untuk kembali memberikan sumbangsih mereka terhadap kemakmuran bangsa Indonesia?.

“ Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan aku guncangkan dunia”

– Ir. Soekarno (Presiden Republik Indonesia pertama)

*Oleh : RRI

Menjelajahi Rumah Pikiran Kartini


Tepat 136 tahun yang lalu, telah lahir seorang gadis yang memiliki sebagian keturunan ningrat dan juga sebagian keturunan dari darah rakyat jelata, bangsa indonesia mengenalnya dengan sebutan atau dengan nama panggilan Raden Adjeng Kartini (Wikipedia). tumbuh dan besar di dalam keluarga keturunan ningrat (sebab ayahanda diangkat menjadi bupati jepara), kartini kecil memiliki kesempatan emas untuk dapat menikmati pengalaman luar biasa untuk menyelami samudera pengetahuan yang tiada batas tepinya. Kesempatan semacam ini hanya di miliki oleh kaum-kaum bangsawan, sedangkan bagi kaum rakyat jelata, mereka hanya bisa menggigit sepuluh jari mereka secara bergantian. Oleh sebab itu, meski kartini terlalu cepat menyelami samudera pengetahuan, nyatanya, di dalam jiwanya, masih terus hidup sebuah cita-cita besar nan mulia, kehendak untuk mengantar para kaum wanita (kononnya) yang masih di anggap memiliki status social lebih rendah dari kaum lelaki, menuju puncak pada persamaan status yang harus benar-benar di miliki oleh kedua makhluk tuhan yang bernama lelaki dan wanita tersebut.

Nasib yang harus di tanggung oleh kartini sebagai wanita beradat jawa (Indonesia) yang masih berpikiran kolot, tradisional, dan sama sekali tidak memiliki pemikiran maju, harus menjalani tradisi yang di kehendaki oleh adat, tempat ia lahir dan tumbuh besar menjadi wanita seutuhnya. Memasuki usia ke 12 tahun, atau menginjak masa remaja, tradisi adat ia harus jalani. Dipingit. Dengan bekal pengetahuan yang begitu dangkal, dan kepandaiannya dalam berbahasa belanda, kartini mulai menyuarakan isi hatinya dengan cara menulis surat kepada sahabat-sahabat dari kaum eropa (teman sekolahnya). Di dalam tulisannya, kartini mencurahkan segala keluh kesahnya, mulai dari awal mula ia harus menjalani tradisi adat (dipingit) hingga tentang angan-angan atau cita-cita mulia yang terpatri di dalam jiwa perjuangannya yang suci. Cita-cita yang ingin di wujudkan kartini, bukan hanya persoalan tentang kesamaan derajat antar kaum lelaki dan wanita saja, akan tetapi, kartini juga meneropong jauh masa depan bangsa Indonesia yang harus di capai dengan mengikutsertakan wanita sebagai pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya sendiri.

Berbeda dengan pejuang kemerdekaan wanita yang lainnya, kartini memiliki cara tersendiri untuk mencapai kemerdekaan. Ia mengirimkan semangat berjuang yang berkobar kepada seluruh wanita di seluruh nusantara dengan menyentuh kejiwaan masing-masing orang. Kartini melakukan pengsadaran terhadapa kaum wanita, agar juga memiliki kesamaan kehendak untuk juga dapat memperjuangkan hak-hak yang di milikinya untuk dapat menyelami samudera pengetahuan yang begitu dalam dan tiada batas tepinya. Bagi seorang kartini, ia menginsyafi bahwa dengan kesempatan yang di miliki wanita untuk menimba ilmu, mereka akan membuka jendela pengetahuan sendiri. Kartini sangat menyesali tentang aturan adat yang sangat membatasi ruang bagi wanita untuk mengembangkan dirinya. Sebab hal tersebut yang harus di alami kartini, ketika menjalani adat, dipingit, Ia hanya bisa menjalani sisa hidup di dalam rumah, bertembok tebal dan tinggi yang menghalanginya untuk menjelajahi dunia yang menyimpan berjuta-juta pengetahuan. Pada akhirnya, kartini hanya dapat membangun rumah baru (pikiran-pikiran) di dalam rumah yang telah mengurungnya. Rumah-rumah tersebut, dapat di kunjungi oleh semua orang untuk menambah pengetahuan mereka. Salah satunya, di dalam rumah tersebut, berisikan tentang cita-citanya memerdekakan bangsa Indonesia. Kartini berpendapat, bahwa dengan kebebasan yang di miliki oleh wanita dalam hal mengenyam pendidikan, adalah cara termudah dan dapat menjamin rasa nasionalis yang di miliki seseorang dapat tetap bergelora di dalam jiwa masing-masing orang. Hal itu dapat memudahkan suatu bangsa untuk memerdekakan bangsanya. Dengan melibatkan peran wanita, baik pemikiran dan tindakannya, akan sedikit mengurangi beban para pejuang laki-laki di dalam memerdekakan bangsa ini.

Memasuki abad ke 20, timbul suatu pertanyaan, bagaimana peran wanita dalam memajukan bangsa sebagaimana cita-cita yang di miliki oleh kartini pada masa itu?. Apakah pada zaman sekarang, wanita dapat memerankan dirinya sebagai sosok manusia yang dapat memajukan kehidupan bangsa yang di tinggalinya?.

Bagi seseorang yang mengemban amanah untuk turut serta mensejahterakan dan memajukan bangsanya, dan juga sebagai manusia yang mewarisi peradaban, langkah yang tepat yang harus di lakukan pertama kali ialah, memulai kembali untuk mengingat segala pemikiran-pemikiran yang telah di wariskan oleh para pendahulu bangsa ini. Pemikiran-pemikiran yang melahirkan cita-cita besar sebagaimana yang pernah di tuliskan oleh soekarno, sjahrir, dan khususnya kartini harus segera kita insyafi secara benar, bahwa pemikiran-pemikiran mereka adalah jalan termudah bagi bangsa ini untuk menuju kesejahteraannya. Salah satu cita-cita kartini yang hidup di dalam rumah pikirannya telah tercapai, yaitu mensederajatkan kedudukan social antar kaum lelaki dan wanita. Namun, kartini juga masih meninggalkan beberapa cita-cita yang harus segera di wujudkan oleh generasi penerusnya. Mengikutsertakan peran wanita dalam memajukan dan mensejahterakan kehidupan bangsanya, Indonesia. jika hal demikian tercapai, maka ini merupakan hadiah yang amat menyenangkan bagi arwah almarhum. Sebab tanpa pemikiran dan usaha keras yang di lakukan kartini dalam memerdekakan hak kaum wanita agar juga memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan, maka terhadap kaum wanita yang hidup pada zaman sekarang, silahkan kalian kembali ke rumah, mengurung diri (dipingit), dan menikmati kodrat sebagai wanita yang hanya berkesempatan untuk mengurusi urusan rumah tangga.

Untuk ibu kartini, berikanlah kami kepercayaan, bahwa kami benar-benar generasi penerus terbaik bangsa ini. Dan kami berterimakasih, dengan usaha yang engkau lakukan, maka kami berkesempatan menikmati sepenggal kebahagian hidup, yakni menyelami samudera pengetahuan yang amat dalam dan tiada batas tepinya.

“… Semoga melalui banyak sekali penderitaan dan kesedihan, kami berhasil menciptakan sesuatu. Bagi rakyat kami. Terutama yang bermanfaat bagi kaum wanita kami – bagaimanapun kecilnya. Andaikata ini pun tidak terlaksana, semoga penderitaan dan perjuangan kami berhasil menarik perhatian khalayak ramai terhadap keadaan-keadaan yang perlu diperbaiki. Dan andaikata itu pun tidak dapat kami capai, wahai, setidaknya kami telah berusaha berbuat baik, dan kami yakin benar bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu, akan ikut menumbuhkan benih yang kelak akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.” – Raden Ajeng Kartini

*Oleh : RRI