Dalam beberapa hari ke depan, bangsa Indonesia akan menjumpai satu moment yang akan menggugah kesadaran untuk menjalani hidup senasib dan seperjuangan. Tepatnya, lebih dari 100 tahun yang lalu, ketika para kaum intelektual tersadarkan hatinya, terpanggil jiwanya, untuk membuat suatu organisasi (yang di kenal dengan nama Boedi Oetomo) sebagai pintu awal untuk membuka kesempatan bagi kaum-kaum tertindas (kaum-kaum marhaen, begitu soekarno menyebut kaum-kaum tertindas) agar pula dapat menikmati kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan sebagai politik etis yang di berikan oleh pihak pemerintah belanda. Boedi Oetomo pun dapat mencapai visi misinya dalam mewujudkan cita-cita bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, Boedi Oetomo merubah arah pergerakannya, yang semula turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, telah merubah arah pergerakannya menjadi sebuah organisasi yang dapat memudahkan bagi sebuah bangsa untuk mencapai kemerdekaannya.
Setelah suatu kemerdekaan telah di raih, seiring juga berjalannya sebuah waktu, Boedi Oetomo dan organisasi-organisasi yang juga focus pada pergerakan pencapaian kemerdekaan bangsa telah berakhir, tampaknya, kemerdekaan yang di idamkan belum juga terwujud. Hingga saat ini, masih banyak kaum marhaen yang tinggal di dalam sebuah gubuk kemiskinan dapat kita lihat dengan mata telanjang harus menempuh jalan yang sangat berliku untuk mensejahterakan kehidupan mereka sendiri. Soekarno pernah berkata, merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua : satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!. Hal itu juga senada dengan kalimat yang tertuang di dalam pembukaan undang-undang dasar Negara republic Indonesia tahun 1945 “ ….. mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur”. Dengan demikian, maka tercerahkanlah hati kita, bahwa sesungguhnya, telah menanti sebuah tugas dan tanggung jawab yang amat besar bagi setiap rakyat Indonesia untuk memasuki gerbang kemerdekaan yang telah di berikan oleh para pendiri bangsa ini, dan kemudian menerukan langkah, membawa bangsa Indonesia pada kemerdekaan hakiki yang tidak terlepas juga dengan terwujudnya trisakti yang sebagaimana telah di kemukakan oleh soekarno ; 1. Berdikari dalam ekonomi 2. Berdaulat dalam politik 3. Berkepribadian dalam budaya. Sehingga, bangsa ini dapat menyongsong masa depan yang cerah dengan mampu mewujudkan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Sederet peristiwa sejarah telah kita saksikan, bahwa setiap pencapaian yang di raih, melibatkan setiap kaum pemuda, khususnya kaum-kaum intelektual, diantaranya, mereka-mereka adalah keturunan dari bangsa priyayi atau bangsawan. Para kaum pemuda tersebut, secara insyaf, di dalam akal dan jiwanya, terpikul sebuah amanat besar untuk dapat mempersatukan para golongan priyayi dan pribumi demi mencapai kemerdekaan bangsa ini. Kali ini, menuju perayaan peringatan hari kebangkitan nasional yang berumur lebih dari 100 tahun lamanya, Bangsa Indonesia telah menunggu setiap tindakan nyata yang dapat di lakukan oleh setiap rakyatnya, untuk mewujudkan kemerdekaan yang hakiki, khususnya dari golongan-golongan intelektual (golongan-golongan orang bernasib kaya) yang semakin tertidur pulas oleh berbagai macam kegiatan-kegiatan yang semakin menjauhkan akal dan pikirannya untuk dapat meluangkan waktu sejenak, guna memikirkan setiap masalah yang tengah di hadapi oleh bangsa ini ; salah satunya ialah kesejahteraan social. Bahwa saat ini, dapat kita saksikan, siapa yang kaya , maka beruntunglah ia, dan siapa yang miskin, maka menderitalah ia. Sebab, seolah-olah itu akan menjadi suatu kenyataan pahit yang harus di hadapi, saat kehidupan amat kejam membuat jurang pemisah antara si miskin dan si kaya.
*Oleh : RRI