Hadiah untuk Ibu (Pertiwi)

saya tidak dapat menulis dengan sempurna tentang kisah antara saya (sebagai anak) dengan ibu (pertiwi) kami tercinta yang penuh dengan romantika. Tepat, pada hari ini (22 desember 2015), saya memperingati hari ibu yang ke 21 tahun, sesuai dengan usia saya sendiri. Tidak ada sesuatu yang sangat istimewa yang saya alami selama 21 tahun tersebut, kecuali sebuah jalan panjang yang harus saya lewati seorang diri demi menuju surga yang berada di bawah telapak kaki ibu kami. Di usia anak-anak, saya menjelma bagai seorang kekasih, yang sangat haus akan cinta dan kasih. Maka, suatu hal yang wajar, bilamana kadangkala saya kerapkali meminta perlakuan manja kepada ibu agar segala sesuatu yang saya tuntut untuk segera di penuhi. Beranjak pada usia remaja, tanpa sadar, saya mulai menunjukkan kepada ibu, bahwa saya adalah seseorang yang mampu menjalani kehidupan saya sendiri tanpa merujuk pada aturan dan nasihatnya. Dan pada penghujung usia remaja, pada masa-masa saya harus mengakhiri sebuah perjalanan panjang di dalam mengarungi luasnya samudera keilmuan (masa-masa kritis meraih gelar sarjana), saya kembali ke pangkuan hangat dari seorang ibu, saya kembali menjatuhkan diri dalam dekap pelukannya yang hangat itu, saya kembali memasuki rumah pikirannya (ibu) untuk kembali menemukan mutiara-mutiara yang selama ini saya acuhkan. Kemudian, dengan mesra, ibu membukakan pintu dengan selebar-lebarnya kepada saya agar menetap di rumah dalam beberapa waktu saja, sampai pada waktu yang tepat, saat saya menemukan mutiara-mutiara itu, saya harus kembali pergi meninggalkan rumah, sebab, sebuah goresan takdir yang sudah tertulis itu, saya harus menjalani sebuah kehidupan baru, yang sedikit tanpa adanya campurtangan dari ibu dan ayahku. Kehidupan baru inilah yang kemudian akan menjadi penguji bagi setiap orang (khususnya para remaja yang akan memasuki usia dewasa), apakah orang tersebut, dapat mampu bertahan menghadapi gempuran-gempuran yang terjadi di masyarakat? Apakah seseorang tersebut, mampu menjadi seseorang yang berguna di masyarakat dengan modal keilmuannya yang dimiliki selama ini?. Untuk menjawab itu, semua bergantung pada proses yang di alami oleh masing-masing individu, namun, apa yang di alami oleh penulis sendiri ialah tatkala menemukan mutiara, sebuah pitutur yang sedari kecil telah tertanam di dalam diri penulis. “semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa, agama, dan Negara,” begitulah pituturnya.

Menurut hemat penulis, pitutur emas tersebut, sejatinya tidak memaksa anak-anaknya agar bermanfaat kepada ibunya. Dengan demikian, Ibu kembali menunjukkan sebuah tauladan, bahwa menjalani hidup tidak hanya untuk mementingkan diri sendiri, melainkan juga untuk mementingkan orang lain (bermanfaat). Selain itu, ibu pun lebih tahu dan mengerti tentang surga yang di janjikan kepadanya, kelak akan ia dapatkan (surga) bilamana dapat mendidik seorang anak agar bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Sehingga, kecemasan tingkat tinggi seorang ibu ialah pada saat ia gagal mendidik anaknnya agar bermanfaat bagi orang lain.

Sebagaimana pitutur yang di sebutkan di atas, menurut hemat penulis, hal tersebut adalah sebuah pedoman hidup yang masuk akal. Jika kita maknai dengan seksama dan singkat, ada 2 (dua) pesan yang secara tersirat ingin di sampaikan oleh para moyang kita, pertama bahwa bagi setiap orang yang akan kembali ke masyarakat (setelah proses mencari ilmu selesai), baginya berlaku sebuah keharusan untuk memperdalam sebuah keilmuan tentang dinamika masyarakat dan merangsang kepekaannya sendiri, agar lekas insyaf dan sadar dimana ia hidup dan menjalani kehidupan. Sebab, dengan cara demikian, ia akan sadar, bahwa dirinya sedang hidup di dalam sebuah Negara yang di penuhi oleh berbagai macam masyarakat dari suku bangsa yang berbeda-beda. Kedua bahwa dengan modal keilmuan yang dimilikinya, sepatutnya agar di gunakan demi kemanfaatan bersama. Seorang teknologiwan yang dapat menciptakan teknologi-teknologi baru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Seorang ekonom, yang dapat membuat kebijakan ekonomi yang bermanfaat bagi rakyat. Seorang ahli hukum yang dapat menciptakan aturan yang menjaga hak-hak rakyat. Dan seorang ahli politik, yang dapat menunjukkan sikap politiknya dengan tidak menggusur rakyat dari posisi kekuasaan yang paling tertinggi. Di samping itu, juga terdapat bermacam-macam keilmuan yang tidak dapat penulis uraikan satu persatu, namun, tetap dengan tegas, penulis menghimbau semua keilmuan agar bermuara pada kemanfaatan bersama.

Ketika saya mulai mempelajari dan akhirnya mengerti tentang sebuah pesan mutiara yang di titipkan oleh ibu, di dalam hati saya masih menyala-nyala sebuah kecemasan, dapatkah saya mewujudkan pesan itu? Sedang di dalam diri saya sendiri, selama mengarungi waktu menuntut ilmu, saya masih merasa belum cukup waktu untuk mempelajari semua pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan erat dengan dinamika kemasyarakatan, yang dapat merangsang hati nurani agar mampu menggerakkan diri menjadi pejuang sejati. Tapi, bukankah ini juga menjadi suatu hal yang buruk, bila kita berlama-lama hidup dengan status yang tidak jelas ini, menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa prestasi yang membuat bangga (gelar sarjana). Saya pun teringat sebuah kisah cinta antara inggit dan soekarno. Inggit yang merupakan istri soekarno, dan sekaligus juga sebagai ibu (begitulah sosok soekarno menganggap inggit. Pada waktu itu, soekarno sedang berkobar-kobar untuk terjun ke dalam politik sebagai upaya untuk mengusir penjajah (belanda) dari bumi nusantara. Semangat yang berkobar tersebut, tidak terlepas dari pengalamannya berguru kepada H.O.S Cokroaminoto sebagai ketua serikat islam yang menjadi pemimpin politik pada waktu itu untuk mengusir penjajah. Semangat ini pun terus berkobar di dalam dadanya, bahkan tatkala soekarno pindah ke bandung untuk melanjutkan masa belajarnya (kuliah), di dalam dada soekarno masih terus berkobar semangat mengusir penjajah, akibatnya, ia pun sedikit lengah di dalam menunaikan kewajibannya yang lain. Yaitu, menyelesaikan masa studinya (meraih gelar sarjana), namun, berkat bujukan inggit, akhirnya, soekarno pun dapat menyelesaikan masa studinya. Dan dengan segera soekarno kembali ke panggung politik, berbekal kecerdasan dan kemampuannya menjadi orator ulung, soekarno tampil sebagai bima yang gagah perkasa di hadapan lawan politiknya itu (belanda).

Selain itu, adapun satu riwayat baik yang dapat kita tauladani dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Kisah dari seorang panglima besar, jenderal soedirman. Kala itu, saat agresi belanda kembali memporak porandakan bumi nusantara, soedirman yang saat itu menderita sakit dengan hanya sebelah paru-paru, melakukan gerilya sampai jarak yang cukup jauh melewati batas provinsi (sampai jawa timur). Dengan tegas soedirman menolak tawaran soekarno agar tetap tinggal di istana Negara dan ia pun berkata kepada soekarno, “seorang panglima besar tidak pernah sakit, yang sakit itu hanyalah soedirman saja”. Pun proses gerilya berhasil di jalani oleh Soedirman dan pasukannya. Selain itu, dengan bangga soedirman memberikan hadiah kepada ibu pertiwi berupa kegagalan belanda dalam upaya merebut kembali bangsa Indonesia. Sehingga, kemerdekaan bangsa ini utuh untuk selama-lamanya.

Berdasarkan 2 (dua) riwayat tersebut, kita dapat membuat suatu kesimpulan yang berkaitan juga dengan pitutur emas sang ibu, “ bahwa sebagai manusia, hal yang paling utama untuk di lakukan adalah bermanfaat bagi orang lain. Dengan modal kecerdasan (keilmuan masing-masing) dan kemampuan bekerja keras, setiap orang akan mampu memberikan hadiah terbaik bagi orang-orang yang di cintainya, utamanya anak kepada ibunya. Sekalipun seseorang itu sakit, bilamana di dalam diri seseorang telah di penuhi oleh rasa cinta, dengan sekuat tenaga, orang itu akan berjuang memberikan hadiah terbaik untuk orang yang di cintainya.”

Dari kedua kisah tersebut, kita mendapatkan sebuah pelajaran penting, bahwa sebagai manusia (anak-anak) sepatutnya kita memberikan hadiah terbaik kepada seseorang yang kita cintai, yaitu ibu (pertiwi). Soekarno yang berhasil menjadi insyiur mempersembahkan hadiahnya kepada ibu tercinta, sedangkan keberhasilannya menjadi pemimpin negeri untuk mengusir penjajah membuktikan bahwa ia mampu memberikan hadiah yang lebih besar kepada ibunya dan ibu pertiwi. Begitu juga dengan sosok panglima besar, jenderal Soedirman, rasa cintanya yang begitu besar kepada ibu pertiwi, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap bergerilya, demi mempertahankan ibu pertiwi agar tidak kembali jatuh ke pangkuan belanda. Dengan menahan rasa sakitnya (hidup dengan sisa satu paru-paru), sang jenderal membuktikan kepada dunia, bahwa untuk ibu pertiwi yang di cintainya, ia telah memberikan hadiah berupa kemerdekaan bagi bangsa Indonesia selama-lamanya.

(Selamat memperingati Hari ibu dan Hari Bela Negara yang ke 67 tahun).

 

*Oleh : RRI

 

Hak Asasi Manusia; Hidup Yang Beresiko Tinggi

Rasanya, ada kesenangan tersendiri, kembali berkesempatan untuk dapat menulis dan mencurahkan segenap perasaan tentang persoalan-persoalan yang berkecamuk di dalam ruang-ruang pikiran. Dalam tulisan kali ini, untuk memperingati hak asasi manusia internasional, penulis akan sedikit menyinggung tentang persoalan-persoalan yang begitu banyak orang sangat menjunjung tinggi keberadaannya. Hak asasi manusia atau biasa di sebut HAM.

Dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan beberapa persoalan, yang menurut hemat penulis, setiap manusia harap berhati-hati dan waspada di dalam memahami tentang hakikat Hak Asasi Manusia yang sebenar-benarnya. Sehingga, setiap manusia dapat lebih bijak dalam menyelesaikan sebuah masalah tanpa melahirkan permasalahan-permasalahan baru.

Pertama, menurut hemat penulis, persoalan yang paling penting untuk segera di cari jalan keluarnya adalah pembatasan bagi seorang guru di dalam mengajar yang mendapat larangan keras menggunakan kekerasan. Persoalan ini sangat cukup menarik untuk menjadi pembahasan kita di dalam memperingati Hak Asasi Manusia. Apakah pembatasan tersebut sangat kuat untuk merubah anak didik kita menjadi pribadi yang lebih baik?. Mengingat, semua persoalan yang melanda sistem pendidikan kita adalah suatu permasalahan yang saling bertalian satu sama lain. Di dalam proses melahirkan tunas-tunas baru, dapatkah pula menjadi suatu jaminan, bilamana hanya cukup dengan membatasi ruang bagi seorang tenaga pendidik untuk tidak menggunakan kekerasan di dalam mendidik anak didiknya. Menurut hemat penulis, hal itu belum cukup untuk melahirkan anak didik sebagaimana banyak orang cita-citakan, cerdas dan bertata krama.

Untuk mengerti apa yang menjadi maksud yang ingin di sampaikan oleh penulis, penulis akan menganalogikan persoalan tersebut seperti sebuah tanaman bunga yang tumbuh di taman bunga. Sebab, awal mula sistem pendidikan bangsa kita di awali dengan berdirinya Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Berlanjut pada permasalahan tadi, seorang anak didik, ibaratnya seperti tanaman bunga dan seorang pendidik adalah perawat bunga itu. Tugas utama seorang perawat tanaman bunga adalah merawat dan menjaga tanaman bunga itu dalam tiap proses perkembangannya, baik dari proses awal menanam hingga sang bunga tampak indah saat mekar. Namun, untuk mengharapkan sebuah bunga dapat tumbuh dengan baik dan tampak terlihat indah, tidak hanya cukup dengan memberinya pupuk dan menyiramnya setiap hari. Seorang perawat bunga yang memiliki tanggung jawab besar tersebut, harus mampu sigap dan teliti untuk memperhatikan setiap perkembangan tanaman bunga yang tengah dirawatnya. Apa yang harus dilakukannya agar tanaman bunga yang dirawatnya tumbuh baik dan tampak cantik?. Menurut hemat penulis, seorang perawat tanaman bunga tentu akan melakukan sebuah tindakan kekerasan untuk tetap menjaga tanaman bunga yang di rawatnya itu dapat tumbuh baik dan tampak indah. Seorang perawat bunga itu akan memotong setiap cabang-cabang tanaman  yang membuat tanaman bunganya terkesan tidak tampak cantik. Pun benalu-benalu yang mengganggu pertumbuhan tanaman bunga akan di potong tanpa adanya belas kasihan. Hal ini bertujuan agar tanaman bunga dapat tumbuh dengan baik dan tampak cantik. Sebagaimana hal ini juga berlaku bagi seorang pendidik di dalam mendidik, yang semestinya mendapat kesempatan itu (untuk mendidik anak didiknya dengan cara sedikit keras), agar tanaman bunga (anak didik) yang dirawatnya dapat tumbuh dengan baik dan tampak cantik. Bukankah kita semua harus sadar, bahwa pendidik (guru) adalah orang tua kedua kita di sekolah?. jadi, sudah cukup jelas bagi kita, untuk tidak mempersoalkan naluri seorang pendidik yang terilhami cara mendidik sebagaimana orang tua kita mendidik dengan penuh kasih sayangnya.

Kedua,persoalan menyangkut hak asasi manusia tentang hak untuk hidup. Ada sebuah pernyataan menarik yang di sampaikan oleh soekarno (zaman penjajahan silam). Soekarno pernah berkata, “bangsa barat yang sedang gencar menjajah di sebabkan oleh ketiadaan lahan rezeki mereka. Sehingga, dengan kekuatan militer dan kecerdasannya, mereka menjajah Negara yang lahan rezekinya begitu luas.” Apa yang oleh presiden pertama republik Indonesia ini sampaikan sangat menarik untuk menjadi pembahasan kita yang masih sangat relevan di dalam kehidupan kita saat ini. Mengapa demikian? Persoalan hak untuk hidup (baca : hidup sejahtera), nampaknya, hingga usia kemerdekaan yang ke 70 tahun, belum secara penuh di nikmati oleh bangsa kita sendiri. Tanpa sadar, meski suatu penjajahan sudah tidak lagi terlihat secara fisik, bangsa ini di dalam mencapai cita-citanya sebagai bangsa yang berdaulat, adil dan makmur terpaksa harus sering jungkir balik. Kerap kali harus bertikai sesama saudara, dan di atas langit ibu pertiwi, aroma permusuhan kerap menggema. Namun, apalah daya, hanya sakit yang menetap, sedang manis, pun enggan untuk sekedar menatap. Dan Bangsa Indonesia dengan sangat jelas masih hidup sebagai bangsa yang terjajah. Bagaimana caranya agar kita memahami bahwa bangsa Indonesia masih di sebut sebagai bangsa yang terjajah?. Agar pembahasannya menarik, marilah kita benturkan pemikiran ini dengan permasalahan yang sedang aktual, Freeport.

Menurut hemat penulis, bangsa ini masih sangat terang sebagai bangsa yang terjajah. Bangsa ini masih di selimuti oleh awan gelap di dalam perjalanannya menuju kesejahteraan sosial. Dan Freeport adalah salah satu bagian dari suatu bukti nyata adanya awan gelap yang menghalangi kita menuju kesejahteraan sosial. Sebagai bangsa yang sangat penuh belas kasih, agar bangsa lain (bangsa asing) dapat terus hidup atau mendapatkan haknya untuk hidup, kita menyerahkan sepenuhnya pengelolaan sumber daya alam yang di miliki oleh bangsa ini kepada mereka. Agar tetap menjaga keberlangsungan hidup sang bangsa asing, kita pun rela di dalam berpuluh-puluh tahun hanya mendapat 1% keuntungan yang di peroleh bangsa Indonesia. Bila harus berpikir positif, mungkin 99% keuntungan Freeport, di peruntukkan kepada seluruh rakyat mereka dengan total berpuluh-puluh juta itu. Tapi, total rakyat mereka masih kalah jauh dengan total rakyat kita yang beratus-ratus juta jumlahnya. Lagi-lagi, karena kami terlahir sebagai bangsa yang baik budi. Kami merasa belum sanggup untuk hidup sebagai bangsa yang gagah seorang diri. Dan begitu tega, melihat bangsa-bangsa lain hidup sengsara, sekalipun bangsa yang kita tolong, sama sekali tidak terketuk hati, meskipun hanya sedikit saja untuk berbalas budi.

Bukan hanya itu saja, apa yang di lakukan oleh penjajah asing, penjajahan juga di lakukan oleh bangsa kita sendiri. Sebut saja, para pejabat Negara yang korup, masih menjadi catatan hitam di atas langit ibu pertiwi yang benderang. Apa yang telah di lakukan oleh Pejabat-pejabat Negara, semakin menambahkan awan gelap yang bertebaran di atas langit ibu pertiwi, sehingga jalan menuju kesejahteraan sosial tampak gelap dan pekat. Ah, mungkin saja para pejabat Negara ingin memenuhi haknya untuk hidup atau mungkin juga telah kehabisan lahan rezekinya, sehingga mereka dengan bangga dan juga dengan senang hati melakukan penjajahan terhadap bangsanya sendiri dengan cara tak ubahnya seperti para prostitusi. Menjual keindahan (baca : kekayaan) bangsa dengan cara melacurkan diri. Kesemua itu, semata hanya untuk hak asasi pribadi.

 

*Oleh : RRI