Bahagia!!! Akhirnya, hari berlalu dengan cepat dan mengantarku pada kesempatan untuk menyapamu kembali. Seperti sebelumnya, do’aku selalu mengiringi setiap kali aku menyapamu melalui surat ini. semoga engkau baik-baik saja da selalu dalam lindunganNya. amin.
Bulan, maafkanlah, pada surat yang lalu, apa yang aku tulis, seolah penuh dengan luapan emosi. Menjadi seorang laki-laki yang tangguh, sebagaimana yang menjadi harapanmu, nyatanya aku bukanlah jawaban atas harapanmu. aku tetaplah laki-laki yang begitu rapuh. Aku seolah tidak percaya atas kekuatanku sendiri, untuk menjalani hidup ini tanpa dirimu. Aku seolah telah menghentikan harapanku sendiri untuk dapat menjalani hidup denganmu di kemudian hari. Bahwa semua telah berakhir, kita tidak akan pernah bertemu. Semua seolah memuncaki keyakinanku, saat semua surat-suratku belum satu pun engkau berikan balasan.
Namun, aku kembali kepada keyakinanku. Betapa Tuhan telah mengambil perannya untuk menguatkan hati hamba-hambanya yang tengah rapuh. Aku sadar, mungkin sebuah hal yang sangat mustahil bagi dirimu membuat surat balasan dan mengirimnya sampai kepadaku, atau engkau pun tidak pernah membaca surat-suratku. Akan tetapi, engkau selalu memiliki cara untuk memberikan kebahagiaan yang tidak pernah aku duga. Kebahagiaan itu engkau kirimkan dengan cara yang sangat luar biasa. engkau membalas semua surat-suratku hanya dengan menghadirkan Tuhan didalam permasalahan ini. betapa hal ini sangat di luar dugaanku. Engkau menunjukkan kepada diriku, bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak akan sanggup untuk saling menjaga satu sama lain. Lalu, kemudian engkau menghadirkan Tuhan ditengah-tengah keputus-asaan yang aku rasakan. Pun Tuhan memberikan jawaban sesuai do’amu kepadaNya.
Sesuatu yang sedang menjadi kegelisahan diriku, telah Tuhan jawab dengan cara yang sederhana. Ia mengantarku untuk membaca sebuah tulisan dari seseorang, yang senyatanya, jauh dari persoalan tentang hubungan yang kita jalani dengan misteri ini. namun, Tuhan tidak hanya sebatas mengantarku untuk membaca tulisannya saja. Ia dengan setia hadir memenuhi jiwaku untuk berpikir keras memahami pesan dari sebuah tulisan itu. akhirnya, seiring perjalanan waktu, aku pun menemukan pesan tersirat dari tulisan itu. bahwa untuk memperjuangkanmu adalah sama halnya dengan memperjuangkan sebuah ilmu. Antara dirimu dengan ilmu adalah satu. Keduanya menjadi satu kesatuan dan tidak terpisahkan. Ketika aku harus menjalani kewajiban sebagai manusia, terutama menjadi anak, kewajiban yang paling utama adalah menuntut ilmu. Sebuah perjuangan yang amat sulit dan membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, yaitu aku harus merelakan kehilangan waktu untuk bertemu dengan keluarga dan juga dengan dirimu. Hal ini, juga sama halnya dengan aku memperjuangkan untuk hidup denganmu. Jika untuk hidup bersamamu aku putuskan dengan terburu-buru, tentu, akan sangat berbahaya dan kita akan memetik buah pahit di kemudian hari. Berbekal pengetahuan yang sangat rendah, karena telah meninggalkan kewajiban menuntut ilmu, kelak akan mengalami kesulitan saat menjalani kehidupan berkeluarga. Badai yang amat besar akan datang mengamuk-amuk menghancurkan kehidupan keluarga. Aku tidak berharap itu terjadi. Untuk itu, bulan, akhirnya aku yakin, bahwa cinta yang sejati harus dihidupi pula oleh kesabaran yang luar biasa.
Bulan, ternyata, Tuhan masih memberikan jawaban yang lain. Apakah engkau tahu itu?. aku berikan jawabannya ya. Betapa Tuhan sangat mencintai kaum wanita. Ia menjelaskan semuanya didalam kitab-kitabNya. Satu hal yang aku tahu, bahwa bagiNya, wanita yang terbaik daripada wanita yang lain adalah mutiara. Dan engkau tahu bulan, bahwa mutiara hanya memiliki satu tempat saja, yaitu didasar laut dari sebuah samudera. Dan aku sangat memimpikan itu. menjalani sisa-sisa hidup dengan mutiaraku. Namun, aku harus juga sadar, untuk memperoleh sebuah mutiara, kita haru berjuang sekuat tenaga dan membutuhkan sebuah pengorbanan sangat luar biasa. bahkan nyawa dapat menjadi taruhannya. Tapi, percayalah bulan, seperti apapun perjuangan yang harus aku lewati. Sebanyak apapun pengorbanan yang di butuhkan, percayakan kepadaku, bahwa demi kamu mutiaraku, aku akan perjuangkan itu.
Akhirnya, aku harus akhiri tulisanku, bulan. Terimakasih telah menghadirkan Tuhan atas nama cintamu kepadaku. Wassalamualaikum.
*Rizkie Muxafier