Surat Ke-Empat : Tuhan menjawab, “Wanitamu adalah Mutiara”

Bahagia!!! Akhirnya, hari berlalu dengan cepat dan mengantarku pada kesempatan untuk menyapamu kembali. Seperti sebelumnya, do’aku selalu mengiringi setiap kali aku menyapamu melalui surat ini. semoga engkau baik-baik saja da selalu dalam lindunganNya. amin.

Bulan, maafkanlah, pada surat yang lalu, apa yang aku tulis, seolah penuh dengan luapan emosi. Menjadi seorang laki-laki yang tangguh, sebagaimana yang menjadi harapanmu, nyatanya aku bukanlah jawaban atas harapanmu. aku tetaplah laki-laki yang begitu rapuh. Aku seolah tidak percaya atas kekuatanku sendiri, untuk menjalani hidup ini tanpa dirimu. Aku seolah telah menghentikan harapanku sendiri untuk dapat menjalani hidup denganmu di kemudian hari. Bahwa semua telah berakhir, kita tidak akan pernah bertemu. Semua seolah memuncaki keyakinanku, saat semua surat-suratku belum satu pun engkau berikan balasan.

Namun, aku kembali kepada keyakinanku. Betapa Tuhan telah mengambil perannya untuk menguatkan hati hamba-hambanya yang tengah rapuh. Aku sadar, mungkin sebuah hal yang sangat mustahil bagi dirimu membuat surat balasan dan mengirimnya sampai kepadaku, atau engkau pun tidak pernah membaca surat-suratku. Akan tetapi, engkau selalu memiliki cara untuk memberikan kebahagiaan yang tidak pernah aku duga. Kebahagiaan itu engkau kirimkan dengan cara yang sangat luar biasa. engkau membalas semua surat-suratku hanya dengan menghadirkan Tuhan didalam permasalahan ini. betapa hal ini sangat di luar dugaanku. Engkau menunjukkan kepada diriku, bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak akan sanggup untuk saling menjaga satu sama lain. Lalu, kemudian engkau menghadirkan Tuhan ditengah-tengah keputus-asaan yang aku rasakan. Pun Tuhan memberikan jawaban sesuai do’amu kepadaNya.

Sesuatu yang sedang menjadi kegelisahan diriku, telah Tuhan jawab dengan cara yang sederhana. Ia mengantarku untuk membaca sebuah tulisan dari seseorang, yang senyatanya, jauh dari persoalan tentang hubungan yang kita jalani dengan misteri ini. namun, Tuhan tidak hanya sebatas mengantarku untuk membaca tulisannya saja. Ia dengan setia hadir memenuhi jiwaku untuk berpikir keras memahami pesan dari sebuah tulisan itu. akhirnya, seiring perjalanan waktu, aku pun menemukan pesan tersirat dari tulisan itu. bahwa untuk memperjuangkanmu adalah sama halnya dengan memperjuangkan sebuah ilmu. Antara dirimu dengan ilmu adalah satu. Keduanya menjadi satu kesatuan dan tidak terpisahkan. Ketika aku harus menjalani kewajiban sebagai manusia, terutama menjadi anak, kewajiban yang paling utama adalah menuntut ilmu. Sebuah perjuangan yang amat sulit dan membutuhkan pengorbanan yang sangat besar, yaitu aku harus merelakan kehilangan waktu untuk bertemu dengan keluarga dan juga dengan dirimu. Hal ini, juga sama halnya dengan aku memperjuangkan untuk hidup denganmu. Jika untuk hidup bersamamu aku putuskan dengan terburu-buru, tentu, akan sangat berbahaya dan kita akan memetik buah pahit di kemudian hari. Berbekal pengetahuan yang sangat rendah, karena telah meninggalkan kewajiban menuntut ilmu, kelak akan mengalami kesulitan saat menjalani kehidupan berkeluarga. Badai yang amat besar akan datang mengamuk-amuk menghancurkan kehidupan keluarga. Aku tidak berharap itu terjadi. Untuk itu, bulan, akhirnya aku yakin, bahwa cinta yang sejati harus dihidupi pula oleh kesabaran yang luar biasa.

Bulan, ternyata, Tuhan masih memberikan jawaban yang lain. Apakah engkau tahu itu?. aku berikan jawabannya ya. Betapa Tuhan sangat mencintai kaum wanita. Ia menjelaskan semuanya didalam kitab-kitabNya. Satu hal yang aku tahu, bahwa bagiNya, wanita yang terbaik daripada wanita yang lain adalah mutiara. Dan engkau tahu bulan, bahwa mutiara hanya memiliki satu tempat saja, yaitu didasar laut dari sebuah samudera. Dan aku sangat memimpikan itu. menjalani sisa-sisa hidup dengan mutiaraku. Namun, aku harus juga sadar, untuk memperoleh sebuah mutiara, kita haru berjuang sekuat tenaga dan membutuhkan sebuah pengorbanan sangat luar biasa. bahkan nyawa dapat menjadi taruhannya. Tapi, percayalah bulan, seperti apapun perjuangan yang harus aku lewati. Sebanyak apapun pengorbanan yang di butuhkan, percayakan kepadaku, bahwa demi kamu mutiaraku, aku akan perjuangkan itu.

Akhirnya, aku harus akhiri tulisanku, bulan. Terimakasih telah menghadirkan Tuhan atas nama cintamu kepadaku. Wassalamualaikum.

 

*Rizkie Muxafier

Surat ketiga : Cinta Dalam Hati, Teruntuk Yang Masih Misteri?

Assalamualaikum, bulan?.

Bagaimana kabarmu selama 2 minggu ini? Aku berharap, semoga kabarmu baik-baik saja, selalu sehat, dan selalu dalam lindunganNya. Amin.

Sebagaimana janjiku terdahulu, setiap 2 minggu sekali, aku akan mengirimimu surat-surat yang berisikan beberapa kegiatan sehari-hariku selama 2 minggu penuh, beserta benih-benih rindu yang aku tanam di ladang asmara yang gersang.

Entah, mengapa perasaanku yang pertama kali muncul saat menuliskan ini adalah ketidaksanggupanku untuk menuliskan surat-surat kepadamu setiap 2 minggu sekali. Rasanya, waktu yang demikian itu, sangatlah lama. Padahal, saat ini, waktu begitu cepat berlalu tergilas oleh nafsu. Setiap kali kita ingin mengirimkan sesuatu, dengan cepat, sesuatu yang hendak kita antar, dengan lekas sampai pada tujuan. Namun, hal ini, sangat tidak berlaku di dalam prinsip hidupmu. Aku memahami itu. Menurutmu, segala sesuatu yang di kerjakan dengan tergesa-gesa, hasilnya juga terkesan jauh dari sempurna. Atas prinsip dasar itulah, aku akan berjalan beriringan disampingmu, bukan berada tepat di depanmu.

Bulan, maafkanlah, jika di dalam tulisan yang aku karang ini, aku sedikit mengeluhkan janjiku. Sebagai manusia biasa yang memiliki hati begitu kecil, amat sulit bagiku untuk menanggung rindu yang kian membesar itu. Berikanlah maaf untuk kekhilafanku itu.

Bulan, engkaulah seseorang yang sering aku sebut dalam setiap aku menunaikan ibadahku.

Meskipun nama itu hanya sekedar nama panggilan biasa saja. senyatanya, di dalam jiwaku, aku tidak pernah bisa menghentikan setiap langkahku untuk terus mencari keberadaanmu. Menghentikan otakku yang seringkali sibuk dengan kekhawatiran akan nasib yang engkau jalani di seberang sana. Apakah nasib yang kau jalani lebih menyakitkan daripada nasib yang aku jalani disini?. Aku mencemaskan itu. namun, aku selalu berdoa kepada tuhan, semoga nasib hidupmu baik-baik saja. amin.

Bulan, pernahkah engkau merasakan betapa hatiku hancur dengan sangat dahsyatnya? Pernahkah engkau tahu akan keberadaan jiwaku yang semakin hari semakin gila?. Pernahkah engkau melihat betapa tersiksanya diriku, tatkala harus menimbun rindu yang semakin memberat itu?. semua pertanyaan-pertanyaan konyol itu lahir, hanya karena cinta ini tumbuh di dalam hati yang gersang. Seseorang yang dapat merawat bunga hati itu, belum jelas terlihat wajahnya. Belum terdengar suara merdunya. Belum terdengar tingkah manjanya. Aku merindukannya. Pun aku menanya, Mengapa nasib berjalan sendiri, tanpa ada campur tangan dari diri sendiri?. Sudahlah, itu menjadi tanggung jawab tuhan, sebagai sang maha penulis kisah hidup masing-masing hambanya. Kita pasrahkan saja.

Bulan, dengarlah sejenak kerinduan yang aku antar kepadamu ini. Diamlah sejenak di hadapanku. Duduklah!!!. Aku akan menceritakan semuanya. Kisah tentang cinta dalam hatiku, kepada seseorang yang masih menjadi misteri, yaitu dirimu Bulan. Sampai saat ini, aku sering bertanya-tanya, mengapa aku mengalami nasib yang seperti ini. Menyimpan perasaan cinta di dalam hati dengan begitu besarnya, namun, mengapa dengan bodohnya, aku masih saja mampu menyimpan perasaan cinta itu, sedangkan, teruntuk siapa cinta itu aku pertahankan, aku belum pernah tahu, siapa perempuan itu?. sudahkah engkau mengerti apa yang aku maksudkan itu bulan?. Cinta dalam hati, teruntuk seseorang yang menjadi misteri, sesungguhnya memberikan rasa sakit yang berkepanjangan. Namun, atas nama cinta, aku mampu bertahan, sampai waktu menjemput aku pulang, dari penantian panjang yang telah menjadi medan perjuangan.

Sebelum aku akhiri tulisanku bulan, aku meminta maaf, jika suratku ini berisikan luapan emosi yang luar biasa. aku menuliskan ini, hanya semata-mata aku ingin lebih dekat denganmu. Lelakimu ini, setangguh apapun, ia juga akan mati, bila cintanya tidak pernah engkau balas.

Dan terakhir bulan, apakah engkau tahu, bahwa aku dan beberapa temanku menjalani pergantian malam kasih sayang, hanya dengan di temani dua gelas kopi yang sangat pahit. Kami bercerita, dan bercanda. Padahal, tanpa sadar, kami semua adalah sosok perkumpulan lelaki yang miskin kasih sayang perempuan alias jomblo. hehehe.

Akhirnya, aku akhiri tulisanku, seiring pula dengan aku antar kerinduanku kepadamu. Bolehlah tulisan berakhir sejenak, tapi, cinta haruslah selalu hidup dalam benak.

Wassalam

(dari calon lelakimu yang selalu menantikan balasan suratmu)

 

*Oleh : Rizkie Muxafier

Surat Rindu : Salam Bagi Sahabat

Halo teman-teman semua?. Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu dalam penjagaan kasih sayang Tuhan dan juga selalu sehat. Amin.

Aku gak tahu, mengapa tiba-tiba aku ingin menuliskan surat-surat ini. mungkin karena kerinduanku yang sudah teramat dalam, menuntun jari jemari tanganku untuk merangkai setiap kata untuk menjadi sebuah sapaan kerinduan kepada kalian semua. Tentu, kerinduan ini tumbuh, lantaran kita tidak pernah bertemu. Sedangkan, masih sangat melekat di pikiranku, setiap libur kuliah tiba, beberapa diantara kita saling berkunjung ke rumah masing-masing. Menghabiskan waktu siang dan malam, tenggelam dalam canda tawa bersama. Betapa hal-hal yang lalu, yang untuk kesekian kalinya, masa-masa putih abu-abu selalu saja menjadi topic yang paling membuat hati kita tertawa terbahak-bahak. Jikalau aku mengingat itu, betapa aku merasa terharu. Seolah aku ingin menyalahkan takdir, mengapa jarak dan waktu begitu kejam memisahkan kita.

Aku pikir tidak ada beruntungnya aku menyalahi takdir itu, teman. Aku pun yakin, betapa kalian sangat marah bila aku begitu lemah, dan kalah oleh takdir yang memisahkan kita. Aku kuat. Kamu harus yakin itu.

Teman, betapa waktu sangat terasa cepat, kita sudah memasuki usia, yang rasanya, semua harus kita lalui dengan keseriusan. Menimbang-nimbang sesuatu, sebelum, akhirnya dengan sikap tegas kita tentukan pilihan itu. Sudah waktunya, semua harus di kerjakan dengan sebuah perencanaan yang matang. Untuk itu, kepada kalian, yang lebih dulu daripada aku memasuki fase tersebut, hidup di dalam masyarakat seutuhnya, nasehatilah diriku yang begitu bodoh dan belum tahu tentang kehidupan nyata yang sebenarnya itu. Sebab, dengan bekal pengalaman yang kalian miliki adalah bekal yang belum kami miliki. Bukankah pula, ilmu yang paling tertinggi daripada ilmu yang lainnya adalah pengalaman. Aku yakin dengan perkataan itu.

Kepada teman-teman yang di masa sekarang nasibnya sama dengan diriku, satu hal yang cukup kita lakukan, saling menguatkan saat menjalani masa-masa terakhir dengan gelar sebagai mahasiswa. Menghabiskan waktu di kampus, bertemu dosen, hanya sekedar menyelesaikan tugas akhir. Skripsi. Mungkin kita berada di dalam ruang yang berbeda, namun, aku yakin, dimanapun berada, dorongan kekuatan yang luar biasa, senantiasa akan kalian kirim kepadaku, terimakasih teman.

Untuk yang terakhir, akhirnya aku ingat. Mengapa aku menulis surat ini. selain karena kerinduanku kepada kalian, puncaknya, aku buktikan semalam, saat aku memimpikan kita berkumpul bersama didalam sebuah reuni kecil-kecilan. Namun, aku meminta maaf, karena tidak adanya kejelasan, pada masa apa kita berkumpul. Apakah itu hanya nostalgia saja?. Atau sebuah gambaran kita dalam beberapa tahun ke depan. Tapi, yang jelas, di manapun kalian berada, pada ruang yang mana, sebarkanlah kekuatan satu sama lain. Aku menantikan itu, teman. Sekedar berbagi agar saling merindu satu sama lain, aku ingin kalian mendengarkan lagu ini. “salam bagi sahabat” dan “sahabat kecil”. Sebuah energy positif dari karya glenn fredly, dan juga lagu nostalgia masa kecil oleh ipang. Jikalau teman-teman merasa tidak suka dengan lagu-lagu itu, berpura-puralah suka. Agar hati tidak lara. Aku tunggu balasan surat kalian, teman.

 

Surat Kedua : awal perjanjian sederhanaku.

Assalamualaikum, bulan?. Kabarmu gimana?. Semoga masih sehat dan dalam lindunganNya. Amin.

Saat ini, aku kembali datang menyapamu dengan surat keduaku. Aku harap kamu masih senang untuk membacanya sampai akhir. Aku berharap agar kau tetap sudi menerima surat-suratku ini, dan selalu membacanya sampai akhir tulisanku ini.

Tanpa terasa, hari telah berganti, bulan pun telah berlalu. Kini, kita memasuki bulan februari. Kata orang-orang, bulan februari adalah bulan kasih sayang. Apakah kamu tahu itu?. Aku yakin, kamu juga tahu. Tapi, lebih daripada itu, aku yakin kalau kamu hanya sekedar tahu saja, tanpa pernah melakukannya. Kamu tahu dan mungkin juga selalu ingat mengenai kebiasaan orang-orang didunia, yang biasa mereka lakukan di bulan februari, saling bertukar coklat. Ya, mereka melakukan itu. Biasanya, mereka melakukan ritual ini tepat pada tanggal 14 bulan februari. Kata mereka, coklat menjadi symbol dari sebuah kasih sayang yang dimiliki seseorang kepada pasangannya. Tapi, aku tidak setuju dengan itu. Soalnya sedikit aneh juga, kenapa mereka merayakan hari kasih sayang, sebuah ritual yang istimewa itu dengan menjadikan coklat sebagai symbol kasih sayang? Padahal, aku pikir mereka masih bisa berpikir dengan lebih jernih, bahwa coklat adalah sejenis makanan dan tidak berumur panjang. Tapi, mengapa orang-orang masih melakukan itu? Apakah ini sebagian bukti daripada cinta gila yang begitu ramai orang-orang alami?. Sehingga, mereka lupa adanya rasionalitas untuk sebuah cinta?. Apakah kamu setuju dengan pendapatku bulan?. Maaf, aku khilaf. Pertanyaanku terlalu memaksa. Seharusnya, aku tidak melakukan itu. Aku memberimu kebebasan untuk menyatakan pendapat, dan setelah itu, kita berjalan beriringan dengan pendapat kita masing-masing. Maaf, bulan.

Tapi, sebaiknya kita lupakan saja masalah hari kasih sayang itu. Aku ingin lebih dekat denganmu. Tanpa ada satu pun yang mengganggu. Pertama-tama, apakah surat pertamaku sudah kamu terima?. Apakah kamu sudah membacanya?. Semua aku tulis di dalam surat. Tentang kehidupanku saat ini. tentang keyakinanku, bahwa kelak di kemudian hari, mimpi akan segera terwujud. Mimpi kita untuk menjadi satu.

Jadi, apakah kamu sudah menerima suratku dan membacanya?. Jikalau pun belum, aku tidak akan kecewa. Sebab, memang kita tidak akan pernah tahu, kapan takdir akan mengantar surat itu kepada penerima yang sebenarnya. Dan pada akhirnya, surat itu, pun akan sampai pada penerimanya, meskipun tanpa kita ketahui, pada surat ke berapa, dan butuh berapa lama, agar surat itu sampai ke tangan penerimanya. Apapun itu, tidak akan menyurutkan langkahku untuk terus mengirimimu surat-surat. Meskipun, aku tahu, bahwa kenyataan pahit juga harus aku terima. Mengirimu surat-surat, tanpa mendapat balasan. Tapi, tak usah kau mengkhawatirkanku. Didalam hati kita, hiduplah keyakinan yang kukuh. Sekalipun badai menghantam, rupanya bukan menjadi hambatan. Karena hati telah teguh.

Melalui surat kedua ini, aku ingin menyampaikan padamu tentang perjanjian sederhanaku. Kepadamu, Aku berjanji akan selalu mengirimimu surat-surat setiap dua minggu sekali. Aku akan melakukan itu tanpa hentinya. Aku tak peduli berapa surat yang akan aku tulis dan aku kirim kepadamu. Berapa lama waktu yang aku butuhkan, agar pada akhirnya, kau menerima surat-suratku. Dan kau membacanya. Lalu, kau memberi jawaban yang menguatkan hati satu sama lain. Bahwa kita adalah satu. Semoga. Amin.

Oleh : #RRI #RizkieMuxafier