Surat Ke-enam : Cinta adalah Mematrikan Tuhan di Dalam Hati

Assalamualaikum bulan. 🙂

Bagaimana kabarmu?. Semoga hingga surat terbaruku ini lahir, segala kebahagiaan tetap mewarnai perjalanan hidupmu. Semoga kebahagiaan dapat menjadi obat penawar terbaik dari racun-racun yang kerap datang, racun-racun yang senantiasa menunda pertemuan kita berdua. Dalam keadaan ini, aku selalu memanjatkan do’a kepada tuhan, agar menghapus segala duka dalam hidupmu. Aku mengharapkan belas kasih Tuhan untuk mengantar kebahagiaan yang tiada tara didalam hidupmu. Agar kau tetap yakin akan kesetiaan yang aku pegang teguh ini. Agar pula memberimu keyakinan bahwa kebahagiaan yang kerapkali datang didalam hidupmu, adalah wujud kehadiranku disisimu yang tak bisa kau lihat dengan kedua mata indahmu, namun, kehadiran itu bisa kau rasakan dengan hati kecilmu.

Bulan, mengapa engkau belum juga datang? meskipun hanya sekedar untuk menegur kesalahan kecil yang aku lakukan. Kesalahan yang senyata-nyatanya telah aku lakukan, mengingkari janjiku kepadamu untuk mengirimimu surat-surat dalam 2 minggu sekali. Dan surat ini, aku kirimkan melebihi batas waktu, sebagaimana janjiku kepadamu. Apa maksud dari semua ini bulan?. Apa yang harus aku pahami dari pesanmu yang tak tersampaikan itu?. jikalau engkau tak sanggup menceritakan maksudmu itu, berikanlah waktu kepadaku untuk kembali memahami pesan-pesanmu. Karena aku juga mencintai perilakumu yang seperti ini. Perilakumu yang di luar kebiasaan orang, telah memberikan kesempatan kepadaku yang luar biasa untuk menjadi manusia yang tumbuh dewasa.

Tapi, bulan, maafkanlah perbuatanku ini yang telah mengingkari perjanjian yang aku buat sendiri.

Bulan, jikalau boleh jujur, aku kehilangan inspirasi untuk menuliskan suratku ini. mungkinkah karena jarak kita yang semakin jauh?. Ataukah karena Tuhan sedang menaikkan level ujian bagi kisah asmara kita?. Aku tidak ingin terlalu mengkhawatirkan masalah itu. sebab yang menjadi kekhawatiranku saat ini adalah, jikalau kecemasan dan kekhawatiran telah memenuhi perasaanku, maka yang akan terjadi, aku akan berani menuduh Tuhan yang menjadi penyebab utama semua ini. sedangkan kita berdua sudah sangat paham dan yakin, bahwa segala kekuatan yang ada dalam diri manusia adalah bersumber pada Tuhan. Dan yang menjadi inspirasiku untuk menulis surat ini adalah bersumber pula dari Tuhan. Semoga.

Bulan, aku ingin menceritakan sesuatu tentang sebuah film. Aku sangat suka dengan film ini. Sebuah film yang merupakan karya asli dari india. Namun, aku tidak ingin menceritakan film tersebut dari awal sampai akhir, aku hanya ingin menceritakan satu kalimat saja yang mengandung pesan dan nasihat luar biasa untuk masa depan kisah asamara kita. Lagipula, aku hanya lebih tertarik untuk menontonnya langsung berdua denganmu di saat kita bertemu nanti. Semoga.

“Aku melihat Tuhan dalam dirimu,” begitulah kiranya pesan yang tersurat didalam film tersebut. Maaf bulan, aku tidak bisa memahami dengan seutuhnya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis film ini. Namun, aku ingin menciptakan pemahamanku sendiri atas pesan tersebut. Semoga menjadi pemahaman yang suci terhadap cinta yang akan kita jalani. Bahwa pesan yang terkandung didalam film tersebut adalah wujud usaha dari manusia untuk menempatkan Tuhan pada keadaan tertinggi dalam hal apapun. Salah satunya adalah menempatkan Tuhan didalam persoalan tentang cinta. Dalam hal ini, aku baru mengerti, ujian yang paling berat didalam diri manusia adalah meninggalkan Tuhan mereka sendiri. Kita sebagai manusia yang lemah, setiap waktu, seolah semakin kuat saja untuk meninggalkan Tuhan. Mendahulukan soal cinta dan perasaan, lalu, tanpa sadar, Tuhan semakin jauh didalam kehidupan kita.

Bagaimana dengan nasib yang kita jalani saat ini?. Bukankah kita seringkali membahas soal cinta?. Dalam keyakinanku, sejatinya, kehidupan manusia selalu di warnai oleh cinta. Namun, soal cinta itu, aku belajar dari kisah ini, pertemuan yang tertunda telah mengajarkan kita banyak hal. Salah satu pelajaran berharga ialah saat kita memilih untuk menghentikan permainan yang mengatasnamakan cinta. Pun pertemuan yang tertunda ini adalah waktu yang terbaik untuk aku gunakan dengan sebaik-baiknya sebelum pada akhirnya kita akan bertemu. Untuk kesempatan yang baik ini, aku akan menggunakannya untuk menemukan Tuhan dan selalu hidup bersama Tuhan. Sebagaimana yang aku yakini, untuk melihat dan mengenalmu, maka hal yang paling mungkin untuk aku lakukan adalah dekat dan hidup bersama Tuhan. Sebab, dalam persoalan cinta, menempatkan Tuhan pada keadaan yang paling tinggi adalah jalan yang paling suci membina hati. Aku ingin kelak kita benar-benar menjadi pasangan hidup yang diciptakan oleh Tuhan. Semoga.

Bulan, semoga surat-suratku mampu menguatkan hati yang saban waktu selalu rapuh menjaga amanah suci dari Tuhan.

*Oleh : #RizkieMuxafier #RRI

Terbanglah Mengangkasa Garudaku

Jebreettttttt!!!!!. Goallllllll!!!!

Pertama kali kata-kata ini berkumandang mengiringi sebuah perhelatan akbar kejuaraan sepakbola di level asia tenggara. Dalam kejuaraan tersebut, mempertandingkan Tim Nasional dari masing-masing negara dengan regulasi umur dibawah 19 tahun. Indonesia, di tunjuk sebagai tuan rumah untuk menggelar hajatan kejuaraan sepak bola sekelas asia tenggara. Pun indra sjafri, sebagai pelatih Tim Nasional (baca : Timnas ) U19 menurunkan skuad terbaiknya dalam kejuaraan ini. Hebatnya, skuad terbaik yang dipilih adalah dengan cara yang unik dan diluar kebiasaan pelatih Timnas pada umumnya. Sebelum perhelatan kejuaraan ini dimulai, kabarnya, indra sjafri terjun langsung mencari talenta-talenta muda indonesia hingga ke pelosok daerah. Timnas telah terbentuk, dan para pemain telah bergabung. Pertandingan demi pertandingan telah selesai dilewati. Dalam setiap pertandingannya, Timnas indonesia selalu mendapatkan hasil yang baik. Dengan bekal penampilan pemain-pemain muda yang konsisten, telah mengantar Timnas Indonesia mencapai final. Dan dengan sedikit kerja keras, akhirnya, kejuaraan sepakbola level asia tenggara pada tahun 2013 itu dimenangkan oleh Timnas indonesia. Lagu kebangsaan “INDONESIA RAYA” pun berkumandang, sangat bergemuruh memenuhi stadion sidoarjo. Sejak saat itu, setelah kurang lebih 20 tahun lamanya, piala kembali di rebut oleh pasukan-pasukan muda bertalenta dari sabang sampai merauke. Dengan sambil mengumandangkan lagu kebangsaan, para pemain dan penonton pun tampak terharu atas pencapaian ini. Keberhasilan yang kita capai saat itu, menjadi pembuktian dan menyuntikkan kepercayaan diri, bahwa kita masih memiliki kekuatan untuk bangkit dari ketertinggalan prestasi ini.

* * *

Lalu, bagaimana kabar persepakbolaan kita saat ini?. Saat Menteri Pemuda dan Olahraga –imam nahrawi- membekukan satu-satunya federasi sepakbola tanah air (baca : PSSI). Keputusan yang telah di lakukan oleh menteri pemuda dan olahraga (baca : Menpora) telah berakibat fatal, yakni dilarangnya Timnas Indonesia mengikuti sejumlah pertandingan internasional. Dan pada akhirnya, banyak yang menganggap keputusan tersebut sangat bernuansa politis. Namun, sebaiknya, kita tinggalkan saja persoalan itu. Apakah keputusan itu benar bernuansa politis?. Sebab, semua keputusan politis tidak dapat dipertanggungjawabkan di muka hukum.

Sebaiknya, kita lanjutkan saja pembahasan mengenai wajah persepakbolaan kita saat ini.

Pertama kita mulai, dengan hadirnya negara sebagai fasilitator utama dalam pengembangan bakat yang dimiliki oleh talenta-talenta muda kita. Sejak PSSI dibekukan, pemerintah melalui Menpora langsung mengadakan sejumlah tournament untuk memberikan ruang kembali bagi para pemain untuk meregangkan otot-ototnya kembali, sebab, para pemain telah lama beristirahat dari sebuah pertandingan yang biasanya mereka ikuti. Selain itu, juga bertujuan untuk membuka kembali pundi-pundi pendapatan mereka. Berbagai macam tournament pun di gelar, mulai dari piala presiden, piala jenderal soedirman, hingga piala bhayangkara. Hal ini bertujuan untuk mengisi kekosongan pertandingan sampai batas waktu pembekuan terhadap PSSI dicabut.

Dengan kondisi pembekuan yang berlangsung lama, pemerintah mendapat kritik pedas. Bahwa tournament bukanlah sebuah pertandingan yang menjamin berkembangnya bakat para pemain. Hal itu dapat kita benarkan, sebuah pandangan yang jauh kedepan, namun, tidak memperhatikan investasi jangka panjang. Singkatnya, regulasi yang dibuat dalam penyelanggaraan pertandingan dalam bentuk liga, hanya memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada kelompok tua saja, sedangkan untuk kelompok muda, acapkali hanya sebagai pengisi bangku cadangan.

Sebaiknya, saat ini, kita memperhatikan cara pandang pemerintah mengenai sepakbola yang lebih jauh kedepan daripada pandangan lama dari sekelompok orang yang tergabung dalam federasi itu.

Selain negara melibatkan perannya dalam kemajuan persepakbolaan kita dalam bentuk penyelenggaraan tournament, negara juga semakin menegaskan peran sertanya dalam memajukan persepakbolaan kita dalam bentuk yang lain. Pertama,negara melalui penyelenggara tournament telah memberlakukan regulasi yang memaksa masing-masing klub untuk memberikan ruang kepada usia muda (U21) untuk bermain penuh dalam pertandingan. Keputusan ini merupakan sebuah ide yang cemerlang, sebab, selama ini, talenta muda kurang mendapat kesempatan di klub untuk mengembangkan diri mereka. Akhirnya, mereka hanya menjadi penghias bangku cadangan semata. Namun, semua berubah, tatkala tournament yang di gelar pemerintah, semua pemain muda mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka masing-masing. Dapat kita lihat beberapa grafik tentang perkembangan pemain muda kita, sebut saja, dua punggawa mantan pemain Timnas U19, Dimas Drajat dan Yanto basna yang selama bermain di Timnas kurang mendapat kesempatan yang disebabkan persaingan yang ketat untuk menjadi pemain utama di Timnas. Namun, saat kedua pemain muda ini mendapat kesempatan di berbagai tournament, terjadi perubahan yang luar biasa terhadap mereka. Dimas Drajat yang menjadi seorang striker predator, dan juga bisa merangkap menjadi gelandang serang bersama PS TNI. Yanto Basna menjadi benteng kokoh di barisan belakang mitra kukar (saat piala jenderal soedirman) dan mengantar Timnya menjuarai piala jenderal soedirman. Kedua contoh pemain ini adalah menjadi favorit saya saat ini.

Selanjutnya, peran pemerintah yang kedua, adalah melalui kedua instansi mereka (PS TNI dan PS POLRI), yang telah menjadi wadah bagi talenta-talenta muda berbakat (yang sebelumnya belum mendapatkan kesempatan), akhirnya, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengasah diri mereka di dalam ajang kompetisi sepak bola, sebagaimana yang telah diselenggarakan oleh pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah telah menjawab setiap tuduhan yang di lemparkan kepada mereka, bahwa didalam pengembangan potensi-potensi yang dimiliki oleh bangsa indonesia, pemerintah sangat dianggap tidak bertanggungjawab, dan seolah melakukan pembiaraan terhadap potensi-potensi yang dimiliki bangsa ini. kemudian, berdasarkan pertimbangan tersebut, rakyat dengan keras menuduh bahwa terjadinya penurunan prestasi di bidang olahraga (baca :sepakbola), adalah di sebabkan tidak adanya kesungguhan yang ditunjukkan oleh pemerintah dalam mengupayakan prestasi tersebut.

Terakhir, dalam perannya, pemerintah berusaha membangun kepercayaan diri para atlit dan masing-masing klub sepakbola tanah air. Hal ini dapat kita lihat dari sebuah aturan yang semakin membatasi klub-klub sepakbola tanah air untuk menggunakan jasa pemain asing. Ketergantungan terhadap jasa pemain asing yang semakin luar biasa, oleh pemerintah dapat terjawab dengan baik melalui aturan tersebut. Pemerintah telah menunjukkan kepekaannya terhadap gejala yang melanda mentalitas buruk yang di tunjukkan oleh semua klub sepakbola tanah air yang masih menggantungkan masa depan klub kepada jasa pemain asing, oleh karena itu, dengan menekankan sebuah aturan tersebut, pemerintah telah berupaya membangun kembali kepercayan pada kekuatan diri sendiri. Bahwa bangsa yang besar, tetap mengobarkan kepercayaan akan kekuatan bangsa sendiri.

Dengan memperhatikan peran-peran negara yang dilakukan dengan sangat baik tersebut, dan bilamana peran-peran tersebut dapat di pertahankan dalam beberapa tahun terakhir – memberlakukan sebuah aturan bahwa didalam tim sepakbola mewajibkan pemain U21 harus bermain penuh dalam setiap pertandingan, didalam semua kompetisi sepakbola tanah air, khususnya, dalam penyelenggaraan liga yang menjadi hak penuh PSSI- maka, mulai saat ini, kita dapat menghitung waktu, kurang lebih dalam kurun waktu 3 tahun lamanya, Timnas Indonesia akan merebut kedigdayaan negara-negara yang menjadi raksasa sepakbola dunia. Dan terbanglah mengangkasa garudaku!!!.

*Oleh : #BungLangit #RRI

Catatan Romantis 62: Menyalakan Api Yang Redup

Apakah yang paling kita senangi didalam perjalanan kehidupan kita?. Dan kemudian membuat kita berani berkorban untuk menunggu dalam beberapa waktu?. Jawabannya, tentu sangat beragam. Sebab, setiap orang memiliki pendapat dan pandangannya masing-masing. Namun, perkenankanlah penulis untuk menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pun penulis tidak memaksakan kepada pembaca untuk menyetujui jawaban yang penulis sediakan. Menurut hemat penulis, jawabannya adalah soal terulangnya moment hari kelahiran. Sesuatu inilah yang menjadi kebanggaan dan dapat diyakini mampu menghibur hati masing-masing orang. Setiap orang akan kembali tenggelam dalam lautan masa lalunya, saat mereka pertama kali lahir ke muka bumi. Bersih, suci, dan menjadi manusia yang paling mulia. Bukan hanya soal itu saja, terulangnya hari kelahiran, nyatanya juga mampu memberikan kekuatan baru untuk menjalani kehidupan menjadi lebih baik. Seiring pertambahan usia, semakin sering di terjang oleh berbagai masalah, ternyata dapat merangsang pemikiran manusia menjadi semakin dewasa. Pun soal dengan siapa kita merayakan pergantian usia, telah menjadi rasa tersendiri yang melengkapi rasa yang belum ada.

* * *

Pada kesempatan kali ini, penulis akan menceritakan beberapa kepingan kisah yang tersimpan baik di dalam ingatan penulis sendiri. Kisaran umur kepingan-kepingan ini, kurang lebih sekitar satu tahun yang lalu. Dan marilah simak dengan khidmat, sebuah kisah romantis ala aktifis nasionalis.

Pada awal tulisan ini, penulis sedikit telah menyinggung soal hari kelahiran. Pun penulis akan membahas soal itu. tetapi, hari kelahiran yang dimaksudkan bukanlah hari kelahiran seorang manusia, melainkan, hari kelahiran dari sebuah organisasi yang bernama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (baca : GmnI). Perlu pembaca ketahui, tulisan ini hanya sekedar catatan yang memuat kisah romantis yang telah penulis alami selama bergabung dan hidup didalam organisasi ini.

Kisah ini bermula, saat semua anggota dengan secara intens melaksanakan rapat demi menyiapkan hajatan besar untuk merayakan peristiwa sakral lahirnya organisasi kami (baca : perayaan dies natalis). Para anggota organisasi (dari masing-masing komisariat) dibawah garis koordinasi pengurus cabang GmnI surabaya secara langsung mendapat undangan dari pengurus cabang untuk hadir dalam rapat dan dengan cepat di bentuk sebuah kepanitiaan. Segala macam telah dipersiapkan dengan baik, dan saatnya menunggu waktu perayaan itu tiba.

Acara akan berlangsung pada tanggal 23 maret 2016, tepat, pada saat lahirnya organisasi kami. Pun beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh panitia telah disiapkan. Misal, pendirian tenda di luar gedung untuk para tamu undangan serta mengantisipasi hujan telah dilaksanakan sehari sebelumnya. Sebab, hasil rapat memutuskan untuk perayaan dies natalis diselenggarakan di luar gedung organisasi. Tenda pun selesai di dirikan.

Esok harinya, detik demi detik menjelang perayaan dies natalis kami lalui. Semua panitia telah menyiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik. Kursi-kursi tamu tertata dengan rapi, set panggung pun di hias dengan beberapa bunga yang cantik. Saatnya menunggu waktu untuk memulai acaranya.

Para tamu mulai berdatangan. Beberapa kursi telah terisi. Sebentar lagi, acara akan segera dimulai. Dan tanpa terduga, ternyata, alam juga ingin turut serta didalam perayaan dies natalis organisasi kami. Akhirnya, alam menjadi tamu dalam organisasi kami, dengan mendelegasikan hujan yang begitu deras sebagai perwakilan mereka.

Awalnya, kami panitia hanya menganggap itu sekedar tegur sapa oleh alam, namun, akhirnya kami sedikit harus bekerja keras, saat hujan tidak kunjung reda. Semula rencana awal acara di gelar di luar gedung, akan tetapi, saat hujan belum juga kunjung reda, tempat acara pun di ganti di gelar di dalam gedung. Tampak panitia berlalu lalang, keluar masuk gedung, dengan tanggung jawabnya masing-masing. Dan kejadian ini, rupanya, bukan hanya membebankan tanggung jawab kepada panitia semata, akan tetapi, peristiwa ini juga telah mampu memberikan kesadara kolektif kepada semua anggota organisasi yang hadir. Semua orang memberikan pembuktian yang luar biasa, yakni sebuah kerjasama yang baik, tidak ada lagi pembedaan jabatan. Semua berbaur menjadi satu dan bergotong royong menyiapkan segala sesuatunya dengan bergelora. Dan acaranya pun dapat segera dimulai.

Lain halnya dengan peristiwa tersebut, ada salah satu moment yang terlupakan. Kisah yang paling romantis dibandingkan dengan yang lainnya yang belum kita ketahui, saat tanpa sengaja telinga ini mendengar kabar, bahwa pengurus cabang dengan bersusah payah bekerja sendiri mengumpulkan dana. Mungkin salah satu usaha yang mereka lakukan adalah menggadaikan barang milik mereka. Dan saya yakini, ini adalah bagian kisah romantis ala aktifis. Mengapa saya katakan ini begitu romantis?. Sebab, peristiwa ini hanya akan dialami oleh sebagian orang yang tergabung didalam organisasi yang berhaluan gerakan saja. Selain daripada organisasi semacam ini, beberapa organisasi telah memiliki kejelasan sumber pendanaan mereka. Sehingga, untuk mendapatkan tingkat keromantisan sebagai seorang organisatoris, rasanya belum lengkap, jika tidak pernah mencoba pada tingkat yang ini. berjuang dengan sepenuh tenaga, mencintai organisasi dengan sedalam-dalamnya, dengan melakukan pengorbanan yang amat luar biasa pula.

Dan terakhir sebagai sajian penutup, untuk melengkapi keromantisan dalam tulisan ini, penulis akan mengisahkan satu lagi peristiwa romantis yang secara bersama-sama dengan perlahan telah kita lupakan. Penulis terinspirasi saat menghadiri sebuah acara pelatihan yang di gelar oleh GmnI. Pada saat itu, salah seorang peserta pelatihan memberikan jawaban atas tugas yang diberikan oleh panitia. Jawaban yang ia tulis adalah bangga terhadap warisan kebiasaan yang luhur. Peserta tersebut menjelaskan kebiasaan yang luhur tersebut adalah “GOTONG ROYONG”. Ia meyakini, semakin hari, kebiasaan ini semakin tergerus, dan lenyap dari kehidupan sosial kita. Dan pernyataan ini sangatlah dapat kita benarkan. Roh daripada kehidupan berbangsa dan bernegara yang kita miliki adalah gotong royong. Namun, roh tersebut telah hilang dari kehidupan sosial kita. Gotong royong adalah bentuk keromantisan yang paling nyata yang mewarnai kehidupan kita. Tingkat keromantisannya begitu luar biasa. semua komponen masyarakat memikul beban yang sama. Bukti yang paling nyata soal romantisme gotong royong yang masih bertahan adalah kehidupan sosial yang ada didesa. Misal, pembangunan rumah ibadah, semua warga bahu membahu turun tangan, bekerja sama, membagi tugas. Ada yang bertugas mengangkut batu-bata, ada yang bertugas mengangkut semen, dan ada pula yang bertugas memasak nasi. Ah, saya tidak ingin memperpanjang kisah romantis itu. Saya tidak ingin rasa sakit ini semakin menjadi-jadi. Sudah waktunya mengembalikan sesegera mungkin romantisme itu, dan hal itu lebih baik daripada hanya sekedar berlarut-larut dalam kesedihan saja. Meskipun, semua itu masih dalam proses panjang. Kita do’akan saja. Semoga lekas terkabul. Dan kini kita harus menerima kenyataan ini dengan pahit, saat kehidupan menjadi semakin individualis, warisan luhur itu semakin terkikis, kehidupan berbangsa dan bernegara kian tak romantis.

Semoga persoalan ini memberikan pengsadaran yang luar biasa kepada kita semua, selaku anggota GmnI untuk mencari solusi terbaik dalam menyalakan kembali warisan api yang perlahan mulai redup.

 

“DIRGAHAYU GmnI Ke-62 Tahun, semoga Tetap Menjadi Bagian Sejarah Perubahan Kemajuan Bangsa Indonesia. Semoga Cita-cita Sosialisme Indonesia Juga Segera Tercapai.”

Merdekaaaa!!!!

GmnI…. JAYA!!!

Marhaen… MENANG!!!!

*Oleh : #BungLangit #RRI

(Mimpi) Indonesia Digdaya?

Saya sangat tergelitik untuk menuliskan ini. saya sangat yakin dengan seyakin-yakinnya, tulisan ini juga mewakili perasaan (baca : keresahan) pembaca yang budiman. Saat majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi memutus vonis hukuman penjara 7 tahun terhadap terdakwa dasep yang merupakan pencipta mobil listrik nasional.

Awal mula, saya menginginkan karya ini sedikit mengulas tentang hukum. Namun, penulis sangat mengalami kesulitan untuk mengumpulkan bahan hukum untuk mewujudkan keinginan itu. penulis telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi, usaha itu berakhir sia-sia. Sebab, bahan hukum juga belum berhasil di temukan

* * * * *

Saya akan memulai tulisan ini dengan pertanyaan sederhana, “apa yang menjadi cita-cita kita bersama sebagai bangsa besar?.” Sebuah bangsa yang memiliki warisan sejarah kejayaan yang luar biasa. tentu, sudah sangat jelas apa yang menjadi alasan kita, dengan modal warisan sejarah bangsa yang pernah Berjaya pada masanya akan menjadi alasan terkuat bagi generasi saat ini untuk mewujudkan kembali bangsa indonesia sebagai bangsa digdaya. Lalu, bagaimana kita mampu menjadi bangsa digdaya?. Sebagian orang menjawab dengan penuh percaya terhadap pemikiran soekarno –presiden pertama indonesia – bahwa “ TRISAKTI “ adalah 3 jurus sakti yang membuka jalan bagi bangsa indonesia untuk mencapai kedigdayaannya kembali. Namun, rupanya menggunakan 3 jurus sakti tersebut sangat membutuhkan waktu yang lama dan juga harus mendapat dukungan penuh dari segenap kekuatan komponen bangsa ini. artinya, menuju indonesia digdaya, tidak hanya menggantungkan seluruhnya hanya kepada pemimpin semata, tetapi, kita – rakyat indonesia – memiliki kewajiban untuk itu. bukankah keterlibatan rakyat dalam memajukan bangsanya adalah hakikat dari demokrasi itu sendiri?.

Lalu, kemudian, apa yang menjadi benang merah terhadap kasus yang menimpa dasep?. Marilah kita berpetualang kembali dengan pemikiran soekarno tentang “TRISAKTI”. Salah satu jurusnya adalah “BERDIKARI DALAM EKONOMI”. Secara sederhana kalimat ini dapat kita maknai bahwa salah satu komponen untuk sebuah bangsa menjadi digdaya adalah terletak pada kekuatan ekonominya. Kemudian, bagaimana kita menyusun kekuatan ekonomi bangsa ini?. salah satunya adalah dengan cara turut bersaing dalam pentas industri global. Sebab, hal ini tidak dapat di hindarkan, mengingat, sistem perekonomian global telah mengikat semua bangsa. Agar memiliki keterkaitan dengan tulisan ini, industri global yang dimaksud adalah mobil listrik yang hampir seluruh dunia belum memiliki pabrik yang secara besar-besaran memproduksi jenis mobil ini. dan ini adalah peluang yang terbuka sangat lebar bagi bangsa ini untuk menyusun kekuatan ekonominya. Bagaimana mungkin hal ini memberikan peluang bagi bangsa indonesia menyusun kekuatan ekonominya?

Penulis akan menguraikan jawaban ini berdasarkan pemikiran yang telah penulis baca dari berbagai literatur, dan kemudian penulis uraikan kembali dengan menambahkan sedikit pemikiran penulis sendiri. Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan “keberadaan transportasi listrik akan menjadi yang terfavorit dimasa yang akan datang, terutama mobil listrik. Banyak perusahaan mobil dunia yang mulai merambah dunia industri mobil listrik. Perusahaan-perusahaan tersebut rela menghabiskan dana dengan nominal yang sangat besar untuk sebuah penelitian guna menghasilkan produk terbaik dan dapat menjadi perusaahan pertama yang mampu menarik hati konsumen agar menggunakan produk mereka. Kenyataan yang demikian, saat perusahaan masih berlomba-lomba mengembangkan industri ini, indonesia harus turut serta dalam pengembangan ini. mengingat, belum adanya kompetitor yang mampu memproduksi massal dan belum memiliki kepopuleran, akan membuka peluang bagi indonesia untuk masuk sebagai kompetitor yang tidak dapat dipandang remeh. Sebab, hal ini juga di dukung oleh besarnya pangsa pasar di indonesia sendiri.”

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan oleh pengamat ekonomi tersebut, dapat kita simpulkan, jika kita mampu bersaing dalam pengembangan industri mobil listrik dan menguasai pangsa pasar domestik akan sangat membantu perekonomian bangsa ini, untuk merebut kembali kedigdayaannya. Perusahaan-perusahaan negara akan meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga, akan membantu pembangunan bangsa tanpa harus berutang kepada lembaga-lembaga peminjaman internasional yang memberikan beban di kemudian hari.

Namun, apa yang terjadi, kembali kabar buruk memukul K.O mental bangsa ini untuk merebut kedigdayaannya yang sudah lama terenggut. putusan pengadilan yang memvonis dasep dengan penjara 7 tahun sangat memukul dada kita yang membusung tegak. Kita seolah kembali di paksa melambatkan langkah mencapai cita-cita itu, atau barangkali kita memang di paksa mundur dan menyerah untuk tidak ikut serta didalam pertarungan industri ini. sebab, dengan kehadiran indonesia sebagai kompetitor industri ini, akan mengakibatkan perusahaan-perusahaan dunia kehilangan pangsa pasarnya. Sehingga, segala macam cara pun dilakukan untuk menghentikan langkah indonesia menjadi kompetitor yang patut diperhitungkan keberadaannya. Untuk menambah keyakinan kita, coba ingatlah kembali beberapa kejadian seputar mobil listrik ini, mulai dari mobil listrik yang di ciptakan ricky elson (gagal uji emisi, akhirnya, di sponsori oleh Malaysia), terseretnya dahlan iskan ke meja hijau (akhirnya kasusnya terhenti), dan terakhir putusan pengadilan yang menjatuhkan vonis penjara kepada dasep. Selain itu, masih ada faktor yang telah menjadi bagian daripada skenario tadi, yaitu sebuah kebiasaan lama yang belum kita tinggalkan. Kebiasaan lama yang sangat sering dilakukan oleh para politisi kita dengan mempertontonkan pertunjukan yang heboh, yaitu sangat sering menggunjing karya anak bangsa dengan melahirkan sebuah isu yang mampu mematahkan mental penerus bangsanya sendiri. Nyali dan mental kita ciut. Sehingga kita mengalami ketakutan untuk berkarya. Karena di negeri ini, berlaku ketentuan, tidak bisa asal-asalan berkarya, sebab penjara akan menanti mereka.

Satu yang menjadi pesan terakhir, ialah perlunya kita meningkatkan pengetahuan-pengetahuan kita dalam memahami perpolitikan nasional, terutama politik global. Kegaduhan yang sering di pertontonkan oleh politisi kita bukanlah semata-mata tidak di rencanakan, semua telah terencana dengan sangat cantik. Semua telah di ciptakan untuk menghentikan langkah kita meraih cita-cita kita sebagai bangsa digdaya. Ingatlah satu saja, terhadap peluang-peluang yang kita miliki, misal salah satunya, mengenai mobil listrik, tetaplah kita dukung dengan sekuat tenaga, dengan cara mendesak pemerintah untuk mengembangkan industri ini dengan kekuatan sendiri (perusahaan-perusaahaan negara). Pada saat industri ini berjalan, kita harus tetap memberi dukungan dengan cara mencintai produk hasil karya bangsa kita sendiri. Semoga mimpi untuk indonesia digdaya dapat segera terwujud. Amin.

*Oleh : #BungLangit #RRI

Surat ke-Lima : Selepas Wisuda, Aku siapkan bahu dan pundak terbaikku, Untukmu.

Aku selalu menunggu waktu seperti ini. waktu yang memberikan kesempatan kepadaku untuk menyapamu. Apakah kau tahu?. Tuhan hanya menyediakan waktu sekali dalam 2 minggu untukku, untuk mengirimimu surat-surat yang semoga penuh dengan wewangian dari surga, sebab, kita masih suci menjaga cinta. Aku rasa ini adalah bagian daripada takdir yang harus aku jalani dengan berat. Meskipun tiada aral melintang Nampak di depan mata, namun, jarak pandang yang begitu jauh, adalah hal yang terutama menjadi cobaan didalam perjalanan hidup kita untuk saling menemukan satu sama lain. Sabarlah sayang. 🙂

Aku bingung, apa yang harus aku tulis pada bagian surat kali ini. sebab, hingga detik ini pun, satu surat yang aku kirim belum juga engkau berikan balasan. Bukankah kita telah memahami, bahwa suatu komunikasi yang baik adalah ketika dua orang saling menyampaikan pendapatnya masing-masing. Lalu, kemudian kita memperdebatkannya, saling melepaskan jurus masing-masing untuk meyakinkan lawan, dengan sistem pertahanan yang mengharuskan kita kuat pada pendirian masing-masing, sampai diantara kita menyelesaikan perdebatan dengan melepas tawa, menganggap perdebatan ini adalah proses mendewasakan satu sama lain yang dilakukan melalui proses yang diluar kebiasaan orang lain. Bukankah keharmonisan dan romantisme yang semacam ini adalah sebuah harapan dari banyak orang atas hubungan mereka?. Semoga kau seirama dengan apa yang aku pikirkan ini, bulan.

Bulan, aku meminta ijin kepadamu untuk menuliskan ini. semoga tulisan ini membuat kita semakin yakin untuk selalu teguh dan sabar dalam menghadapi proses panjang untuk sebuah pertemuan dan proses menyatunya kita dalam ikatan suci, sebagaimana menjadi cita-cita berdua. Amin.

Bulan, saat ini, aku telah berada didalam masa-masa terakhirku menjalani kewajiban sebagai mahasiswa strata 1. Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama, sebuah gelar sarjana, akan aku sandang diantara bahu dan pundakku. Masa-masa terakhir ini adalah masa yang akan penuh dengan cobaan dan upaya pelemahan terhadap semangat seorang yang bernama mahasiswa. Namun, aku selalu menguatkan diriku sendiri, memberikan kepercayan, bahwa meskipun senyatanya engkau tak hadir dengan nyata, untuk memberiku semangat agar lekas bangkit, do’a-do’amu lah yang akhirnya aku yakini telah mengantar sebuah kekuatan luar biasa untuk hatiku yang lemah tidak berdaya. Dan janganlah engkau khawatir, bulan, aku kuat dalam menjalani masa-masa terakhirku ini. aku janji kepadamu, bahwa aku sangatlah kuat, sekuat kau mengirimkan do’a kepadaku setiap waktu. Aku janji bulan.

Bulan, sebelum aku menyelesaikan masa studiku, kelak dalam suatu waktu, aku akan menjalani masa yang penuh bahagia. Wisuda. Banyak orang bilang, ketika waktu itu tiba, pada proses wisuda, adalah sebuah keharusan untuk mengundang seseorang yang sangat special didalam hidup kita, sebut saja, dia adalah orang yang kita cintai di luar keluarga kita. Jika kau tanya padaku, siapakah orang itu, tentu, orang spsesial itu adalah kamu bulan. Namun, kita harus kembali bersabar. Sabar. Mungkin juga Kita harus sadar bulan, kita hidup dalam keterbatasan untuk saling berhubungan. Hingga, kita harus menjalani masa-masa bahagia masing-masing tanpa kedatangan orang yang kita cintai, seperti masa bahagiaku ini, mungkin juga tanpa kehadiranmu. Menyakitkan, namun, kita harus segera sembuhkan kesakitan ini. untuk kembali meyakinkan diri, bahwa masa bahagia yang sesungguhnya adalah tatkala kita mampu bertahan dan saling menguatkan tanpa selalu bertemu untuk sekedar mengantar pesan kekuatan. Kita harus yakin itu.

Terakhir bulan, meskipun aku tidak pernah tahu, bagaimana kondisimu saat ini. apa yang tengah kau jalani saat ini. namun, yang jelas, jika kau tengah sibuk dengan pendidikanmu, aku akan menjadi orang kedua, setelah orang tuamu yang mendukung penuh untuk pendidikanmu. Bolehkah aku berpesan, mungkin saat ini kau akan menolak ini, namun, cukup bacalah saja dan pahami, sampai perjanalan kita berakhir, dan saling bertemu. Bulan, utamakanlah pendidikanmu, namun, tetaplah bermimpi untuk berkarir di rumah kita saja. percayalah, bahwa bahu dan pundakku adalah yang telah disiapkan oleh tuhan untuk menggantikan bahu dan pundak ayahmu itu. Dan tetaplah kau pegang teguh janjiku, selama kita belum bersatu dalam ikatan halal, selepas wisudaku nanti, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menyiapkan bahu dan pundak terbaikku untukmu. Bulan, percayalah, bahwa saat aku mulai mengenal sebuah tanggung jawab, maka tiada hentinya aku hantamkan diriku pada keadaan serba tidak nyaman, aku berusaha menguji kekuatan bahu dan pundakku, apakah sudah mampu untuk menggantikan bahu dan pundak ayahmu yang sangat kuat itu? begitulah kiranya pertanyaan yang selalu menghantui jiwaku.

Dan terimakasih bulan atas do’a-do’a yang selalu engkau kirimkan kepadaku. Semoga kita hidup dalam keyakinan yang sama. Amin

*Oleh : #RizkieMuxafier #RRI

Memuji Pembakaran Skripsi?

Waw!!! Luar biasa!!! Sebuah keputusan yang tidak terduga, yang telah dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi (baca : kampus) di Indonesia. Sebuah Kampus yang dikabarkan bermarkas di Makassar ini telah berani melakukan sebuah tindakan yang sangat memukul hati para mahasiswanya dan juga tentu memukul hati seluruh mahasiswa di seantero Indonesia. Bahkan memukul K.O.

Betapa hal ini dapat saya katakan sangat luar biasa, karena kampus tersebut dengan berani membakar karya-karya mahasiswanya yang berupa skripsi dan thesis. Saya menunggu kampus yang lainnya untuk melakukan tindakan yang sangat berani itu. sebab, bukan sesuatu yang mustahil, tindakan yang serupa akan di lakukan oleh semua kampus, mengingat ruang penyimpanan berkas-berkas seperti skripsi dan thesis akan semakin tiada. Karena seiring perkembangannya, dalam setiap tahunnya, akan terjadi kenaikan jumlah mahasiswa yang lulus dari perguruang tinggi tersebut. Selain itu, berlembar-lembar kertas tersebut, akan menjadi using, dan sebuah keputusan yang cerdas jika harus menjual kertas tidak terpakai tersebut per kilogramnya. Tentu, pihak kampus akan mendapatkan uang tambahan dari hasil penjualan kertas-kertas tersebut, meskipun hasil yang diperoleh juga tidak mungkin bisa membangun satu buah gedung. Itu mustahil.

Dalam tulisan ini, mengingat fenomena yang tidak lama terjadi tersebut, akhirnya, mengajak hati kecil saya untuk berpetualang mencari kebenaran, siapakah diantara mahasiswa dan kampus yang paling benar? Apakah yang dilakukan kampus dengan membakar skripsi dan thesis adalah sebuah perbuatan yang benar? Atau apakah mahasiswa adalah yang paling benar bahwa mereka memiliki hak atas karyanya tersebut dan dapat menggugat ganti rugi kepada kampus yang telah dengan sengaja membakar karya mereka yang berupa skripsi dan thesis? Saya akan mencoba menjawab dengan pemahaman yang saya miliki. Semoga dapat member pencerahan bagi kita semua.

Pertama, saya merasa berat untuk menulis ini. mengingat, di usia semester yang sudah memasuki proses mengerjakan sebuah karya yang disebut skripsi tersebut. Saya mendapat kabar yang mengguncang pendirian saya untuk segera menyelesaikan skripsi itu. Saat pertama kali tahu, bahwa ada sebuah kampus yang melakukan pembakaran, keteguhan hati seolah di uji, benarkah karya yang kita ciptakan itu tidak ada harganya? Menurut saya, jika hasil karya tersebut adalah murni dari hasil kerja keras kita, maka bukan harga yang menjadi tolak ukurnya, melainkan, yang menjadi tolak ukurnya adalah kesanggupan anda menjalani masa depan dengan matang. Dan hal ini merupakan sebuah pertanggungjawaban kita terhadap keilmuan kita selama ini. tetapi, bagaimana jika karya tersebut bukanlah murni dari kerja keras kita sendiri? Jawabannya hanyalah satu, kita pantas menyematkan harga atas karya kita yang bukan hasil kerja keras kita. Untuk mengetahui berapa harga karya kita tersebut, hanya diri anda saja yang mengetahui itu.

Bagaimana dengan tindakan kampus tersebut? Apakah benar atau salah? Untuk menjawab itu, semua bergantung kepada diri masing-masing. Kita akan menggunakan pendekatan yang mana? Dan pilihannya hanyalah dua, pertama, kita wajib kecewa jika itu murni karya kita. Dan, kita wajib marah, jika karya kita yang dibakar adalah hasil dari tawar menawar harga dengan yang ahli. Karena membeli sebuah karya, dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Silahkan anda memilih.

Namun, ada satu alasan yang dapat kita terima dengan hati yang lapang, jikalau karya skripsi yang kita buat tersebut, dengan terpaksa harus dibakar atau dijual ke pedagang kertas bekas. Yaitu, bahwa karya yang kita buat dalam sebuah kertas hanya memiliki batas umur yang tidak lama. Sehingga, menjadi suatu yang sia-sia, jika masih mempertahankan limbah sampah tersebut. Apakah kita sudah lupa? Bahwa sejak februari kemarin, untuk sebuah kantong plastik saja, kita harus membayar sejumlah uang. Pemberlakuan ini di tujukan untuk mencegah peningkatan limbah plastik yang sangat mengancam lingkungan kita. Dan pemberlakuan ini, terbilang sangat efektif. Untuk mengeluarkan biaya yang sebenarnya tidak terlalu mahal, kita masih harus bepikir ulang. Apakah tetap membeli kantong plastic tersebut atau tidak harus memakai kantong plastic? Semua bergantung faktor yang mempengaruhi diri. Kalau kita tidak memperhitungkan jumlah uang yang di keluarkan, tentu, kita tetap akan membeli. Namun, jika yang menjadi pertimbangannya adalah ancaman terhadap lingkungan, maka kita akan menunda untuk membeli kantong tersebut. Sederhana.

Sebagai sajian penutup, sebaiknya kita wajib tahu, bagaimana sistem pendidikan yang ada saat ini dan bergesernya fungsi pendidikan. sedikit mengulas sejarah, nyatanya, pendidikan sudah menjadi alat dari penjajah untuk mendiskriminasikan kehidupan seseorang. Dahulu, pendidikan hanya dinikmati oleh orang-orang yang merupakan keturunan bangsawan, dan setelah berhasil  menyelesaikan masa belajar di sekolah-sekolah milik pemerintah belanda, mereka di angkat sebagai pegawai di instansi-instansi milik pemerintah belanda. Sedangkan rakyat jelata, hanya dapat menikmati masa bekerja yang sangat menyiksa. Dan hal ini juga masih berlaku hingga saat ini, betapa beberapa instansi pendidikan tinggi yang terbilang maju masih didominasi oleh keturuan sekelompok orang yang berkuasa. Bagi yang tidak diterima di kampus tersebut, akan berlari mencari kampus lain yang berkenan menerima mereka. Entah kampus tersebut murni untuk mendidik atau mungkin karena sang anak didik sanggup membayar dengan lancar, jadi bukan sebuah masalah untuk memberikan ijazah secara cuma-cuma kepada sang anak didik sebagai pengakuan bahwa ia telah lulus dari kampus tersebut. sistem pendidikan yang merupakan warisan kolonial juga telah memaksa kita untuk berkompetisi dengan memprioritaskan sebuah kertas yang bernama ijazah sebagai tolak ukur seseorang semasa menimba ilmu di sekolah. Dan jika kita tidak memiliki ijazah, tamatlah riwayat masa depan kita. Sehingga, sangat menarik, seiring banyaknya instansi pendidikan yang berdiri, justru semakin membuat orang lupa untuk mendidik diri, bagaimana memfungsikan diri dengan sebaik-baiknya untuk hadir di tengah-tengah masyarakat yang tengah dilanda bencana pesimisme yang luar biasa. Kami sebagai anak didik hanya insyaf dan sadar dalam hal untuk mengejar selembar kertas yang bernama ijazah dengan selekas-lekasnya guna menyelamatkan hidup sendiri tanpa hadir dengan ilmu untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. padahal, dari seorang anak muda Indonesia pula, orang mengenal namanya Sjahrir, pernah berkata, “bahwa sejatinya intelektualitas (baca : ilmu) adalah sesuatu yang hidup, yang senantiasa berkembang, dipupuk serta di pelihara.” Singkatnya, pemaknaan kata hidup adalah sesuatu yang mengharuskan masing-masing manusia (kaum intelektual) untuk terus melanjutkan ilmu yang didapatnya. Mereka dapat melakukan ini dengan cara menjebakkan diri untuk hidup di tengah-tengah masyarakat. Menghadiahkan sebuah jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menjelma menjadi sebuah problema kehidupan yang sulit untuk diselesaikan oleh masyarakat kita. Dan pada kenyataannya, kita sudah terlalu jauh berjalan dengan prinsip sendiri, bahwa menyelesaikan sekolah hanya sekedar untuk berburu gelar akademis belaka.

Jadi, pembakaran skripsi tersebut, sudah jelas merupakan tindakan yang dapat dibenarkan, jika masing-masing diri kita telah menyadari bahwa ilmu adalah sesuatu yang hidup. Sesuatu yang semakin menegaskan kepada kita, bagaimana sesungguhnya peran kaum intelektual untuk semakin dekat dengan problema-problema yang dihadapi masyarakat. Karena masyarakat membutuhkan solusi, bukan hanya bukti yang terbatas pada penyelesaian skripsi.

*Oleh : #RRI #BungLangit

MONOPOLI KURSI 1 (SATU)

Sebuah kabar yang menggembirakan di dunia perpolitikan kita. Betapa sejauh ini, rakyat telah hadir untuk membuktikan diri, bahwa mereka adalah pemegang kedaulatan tertinggi. Ditengah-tengah panasnya kursi Jakarta 1 (satu), rakyat membuktikan keberadaan mereka sebagai raja yang memiliki kuasa mutlak untuk menyeleksi siapa yang harus menduduki jabatan sebagai pelayan mereka di pemerintahan tingkat provinsi yang menjadi pusat ibukota indonesia. Bukan hanya rakyat Jakarta yang angkat bicara soal kursi Jakarta 1, bahkan hal ini juga mampu menarik perhatian publik, rakyat  seluruh Indonesia dengan secara berkelanjutan membicarakan siapa yang pantas untuk duduk di kursi Jakarta 1. Hal ini disebabkan peran media yang begitu mendominasi pemberitaan dengan membuat sejumlah isu untuk menghadirkan kandidat calon versi mereka (media), sehingga, rakyat sebagai subyek yang membaca maupun mendengar berita tersebut turut berpartisipasi aktif mengikuti perkembangan pemberitaan. Sebut saja, kang emil yang merupakan walikota bandung, ibu tri rismaharini walikota surabaya, dan bahkan seorang guburnur pun seperti mas ganjar pranowo juga mendapat tawaran oleh media untuk maju sebagai kandidat yang akan menduduki kursi panas Jakarta 1. Meskipun diantara ketiga orang tersebut porsi pemberitaannya berbeda-beda, namun, ada satu orang yang dengan begitu deras mendapat pemberitaan oleh media sebagai kandidat terkuat yang mampu melawan ahok (gubernur saat ini) di kompetisi perebutan kursi panas jakarta 1.

Dia adalah kang emil, sosok pemuda tampan yang menjabat walikota bandung saat ini. namun, beberapa hari yang lalu, saat iklim politik semakin menyudutkan posisinya, untuk segera menentukan sikap, apakah akan maju dalam pertarungan perebutan kursi Jakarta 1, kang emil menyatakan sikap dengan tegas (di beberapa media sosialnya), bahwa dirinya tidak akan maju dalam perebutan kursi panas Jakarta 1 (satu) saat ini, sebelum ia menunaikan sumpah dan kewajibannnya sebagai walikota bandung. Sebuah keputusan politik yang sangat di penuhi oleh rasa cintanya terhadap warga bandung. Ada satu hal yang menjadi alasan saya mengagumi salah satu walikota terbaik Indonesia ini, tentang sebuah alasannya yang memilih untuk tidak ikut dalam pertarungan menuju Jakarta 1, kang emil menjelaskan bahwa untuk mengabdi kepada Indonesia (memajukan Indonesia) tidak harus selamanya duduk dan mengatur dari Jakarta. Akan tetapi, untuk mengabdi kepada Indonesia, kita juga dapat melakukannya di daerah masing-masing. Saya sangat sepakat dengan alasan akang.

* * *

Dalam tulisan ini, sebagaimana penjelasan sebelumnya diatas, penulis akan membahas sebuah fenomena politik terbaru yang sesungguhnya menyajikan sebuah kabar yang memilukan. Hal ini terkait semakin banyaknya rakyat yang mengalami penurunan dalam berpikir kritis dan objektif. Selain itu, masyarakat kita semakin mudah terbawa arus yang diberitakan oleh media. Contohnya, keberhasilan jokowi menduduki kursi Jakarta 1 dan kursi RI 1( baca : republik Indonesia 1) yang sangat dipengaruhi oleh pemberitaan yang dilakukan oleh media. Apabila kita memperhatikan perkembangan masyarakat kita, nyatanya, mereka tetap belum mampu berubah. Mereka tetap saja hidup dalam pusaran arus yang diberitakan oleh media. Salah satu contoh, untuk membicarakan soal kursi panas Jakarta 1, betapa rakyat kita masih mengikuti arus pemberitaan dari media. Sering munculnya kang emil di beberapa media (elektronik maupun digital), menjadi faktor utama lahirnya sebuah keinginan rakyat untuk menjadikan kang emil sebagai kandidat calon gubernur Jakarta dan berencana menjadikan kang emil sebagai lawan ahok. Apakah rakyat tidak sadar, jika hal itu sampai terjadi, kita akan mengadu dua putra terbaik bangsa ini dalam satu kompetisi. Dan akan menyingkirkan dia yang kalah dari posisinya sebagai pelayan bangsa yang telah didapat sebelumnya. Beruntung, kemudian kang emil menolak untuk maju ke Jakarta 1.

Lalu, mengapa penulis berpendapat bahwa rakyat telah mengalami penurunan daya berpikir kritisnya yang luar biasa? salah satu alasannya adalah sampai sejauh ini, rakyat selalu memberikan pujian-pujian dan rendahnya kritik terhadap pejabat yang duduk di kursi satu. Misal, kursi satu yang dimaksud adalah gubernur. Betapa semua orang mengenal siapa gubernur Jakarta. Ahok. Dan bagaimana jika pertanyaannya kita ubah menjadi, “apakah rakyat tahu siapa yang menjadi wakil gubernur Jakarta?”. Menurut hemat penulis, kurang dari 30% rakyat akan menjawab mereka tahu siapa wakil gubernur Jakarta. Penulis sangat berkeyakinan bahwa jika angka tersebut merupakan fakta yang terjadi, betapa pengetahuan kita hanya bergantung kepada pemberitaan media saja. hal itu juga semakin kuat dengan di dukung bukti keinginan mereka untuk mendatangkan calon gubernur dari pejabat-pejabat (bupati atau walikota) daerah di luar daerah mereka. Padahal, jika kita ingin memahami lebih dalam, provinsi Jakarta senyatanya memiliki beberapa daerah perkotaan yang diwakili oleh walikota masing-masing. Namun, apakah salah satu dari walikota-walikota tersebut mendapatkan kesempatan untuk menjadi topik pemberitaan untuk berebut kursi Jakarta 1? Apakah mereka sama sekali tidak memiliki sebuah prestasi yang membanggakan yang dapat mengantarkannya duduk sebagai orang nomor 1 (satu) di Jakarta?. Jika itu sebuah kemustahilan bagi mereka untuk menjadi orang nomer 1 jakarta, Bagaimana jika kita membuat contoh yang lebih sederhana saja. kita buat contoh dari orang terdekat ahok sebagai lawannya di pemilihan kepala daerah (pilkada) Jakarta? Kita coba memasangkan sang wakil gubernur Jakarta, mas jarot untuk menantang ahok. Apakah mas jarot sanggup melawan ahok dengan elektabilitasnya saat ini? padahal, sang wakil gubernur sebelumnya telah berhasil memimpin blitar, sebuah daerah pencil di jawa timur. Namun, untuk bisa duduk di kursi Jakarta 1 adalah soal yang berbeda. Sekalipun ia merupakan orang nomer dua di Jakarta, bahkan salah satu kader terbaik partai, sangat mustahil untuk berebut kursi Jakarta 1, selama monopoli pemberitaan terus terjadi. Dan sebenarnya rakyat tidak pernah takut, untuk mengundang seorang kang emil, mas ganjar pranowo, ibu tri rismaharini untuk turut berpartisipasi  dalam pilkada menuju kursi Jakarta 1 sebagai penantang ahok. Jika pemberitaan yang termonopoli terhadap satu tokoh dan melupakan tokoh kedua tidak pernah terjadi.  Kami, rakyat siap kehilangan pemimpin seperti kang emil, mas ganjar, ibu risma, saat kami juga memiliki kepercayaan kepada wakil-wakil mereka.

Pada akhirnya, kita tetaplah menjadi rakyat yang kritis dan cerdas. Dan mampu menempatkan diri pada tempat yang sebenarnya. Bukan terbawa oleh arus pemberitaan media yang begitu derasnya. Tugas kita sebagai raja adalah bukan hanya mengawasi kinerja siapa yang duduk di kursi satu, melainkan, kita memiliki tugas untuk mengawasi kinerja orang nomer dua. Memberikan penilaian yang obyektif terhadap kinerja keduanya, jika yang terjadi, orang nomer dua memiliki kinerja baik, berikan kesempatan baginya untuk memilih, apakah ingin berlomba menjadi orang nomer satu dalam wilayah kerja yang sama atau menggantikan tempat orang nomer satu yang ditinggalkan orangnya karena harus mendapatkan tempat yang lebih tinggi.

*Oleh : #RRI #BungLangit