Lestari alamku, lestari desaku…
Penggalan lirik lagu itulah yang kemudian menghipnotis alam sadarku. Di dalam lagunya, terdapat do’a-do’a yang menjadi harapan segenap insan di muka bumi. Sebuah do’a yang menggambarkan sebuah pengharapan yang luar biasa, agar dapat menikmati bagian-bagian terindah dunia yang kini telah hilang. Keindahan dunia yang menyajikan kedekatan manusia dengan alam. Keindahan dunia yang memberikan waktu bagi manusia untuk menghabiskan sebagian hidupnya dibawah atap luas yang bernama cakrawala. Di terangi langsung oleh matahari, sumber dari segala sumber cahaya. Dan mendapatkan sentuhan dingin dari semilir angin yang berhembus. Oleh sebab keindahan dunia itulah, manusia-manusia dahulu kala begitu tangguh dan perkasa.
Kini, manusia-manusia itu merindukan suasana yang amat romantis itu, terutama, bagi mereka yang berasal dari kota. Dengan jumlah yang begitu besar, dalam suatu waktu, manusia-manusia kota berkunjung ke sebuah daerah yang amat tenang, jauh dari kegaduhan kehidupan yang amat kompleksitas di daerah kediaman mereka. Dalam beberapa hari, mereka akan memadati setiap ruang yang ada di daerah yang sangat menenangkan itu. Biasanya, Mereka memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk sekedar menghabiskan waktu, demi menenangkan hati dan pikiran mereka, yang selama ini telah di penuhi oleh tugas-tugas kerja yang begitu sangat membebankan. Manusia-manusia kota kadangkala lupa untuk memenuhi ruang-ruang jiwanya dengan kesenangan-kesenangan alami. Semua kesenangan yang ada di kota adalah sebuah fasilitas yang sengaja diciptakan guna menghibur hati dan pikiran mereka. Sebab, keindahan alam yang sejatinya harus tetap bertahan kokoh, saat ini, telah runtuh dan tergusur oleh pembangunan-pembangunan gedung yang menjulang tinggi nan megah. Dan, akibat yang harus di pikul bersama adalah hilangnya kesempatan yang ada untuk menikmati segala ciptaan Tuhan yang amat luar biasa.
* * * * *
Lalu, bagaimana kita melihat indonesia kita saat ini?. apa yang menjadi alasan dasar lahirnya karangan ini? jika membahas soal desa dan Indonesia, adalah sebuah pokok bahasan yang saling memiliki keterkaitan, saling menyatu, dan tidak dapat di pisahkan satu sama lainnya. Dan sejatinya untuk membahas masing-masing sub-tema dari tulisan ini sangat membutuhkan waktu yang lama, namun, perkenankan penulis menuliskan sampai batas yang penulis dapat lakukan. Berdasarkan pada pemahaman yang penulis pelajari selama ini. Bilamana ada waktu, penulis sangat senang untuk berbagi dalam sebuah diskusi bersama. Tujuannya adalah untuk menambah pengetahuan penulis yang sampai saat ini, masih saja dangkal. Penulis berharap dapat bertemu dengan orang-orang yang sangat memahami kajian ini.
Indonesia?. Sejak pertama kali mendengar kata tersebut, didalam masing-masing pikiran kita, adalah merupakan sebuah negara yang besar. Dan pendapat tersebut adalah benar. Karena pola berpikir yang digunakan adalah dengan cara mengadopsi dari ilmu-ilmu yang lahir dari peradaban dunia barat. Tetapi, dalam kesempatan kali ini, penulis ingin mengajak segenap pembaca yang budiman untuk memahami indonesia dengan pola pikir yang luhur dan merupakan warisan pemikiran dari leluhur kita sendiri.
Jika membahas indonesia, penulis berkeyakinan bahwa indonesia adalah hanya sebuah desa yang amat luas. Sebuah tempat yang dipenuhi oleh segala macam sumber kehidupan alamiah. Dan sebuah tempat yang di kelilingi sumber air yang begitu luas, yang didalamnya mengandung berbagai macam sumber kehidupan pula. Lalu, apa yang membedakan desa dengan negara? Bukankah itu hanya perbedaan istilah, namun, secara pengertian adalah sama.
Sebenarnya perbedaan istilah dan kesamaan pengertian tidak berdampak apapun terhadap tatanan kemasyarakatan kita. Hanya saja, jika kita memilih istilah desa, hal itu akan sangat membantu untuk mempermudah dan mempertajam analisis sosial tentang mengapa indonesia mengalami stagnanisasi? Atau bahkan mengapa indonesia berada pada ambang kehancuran?
Sejatinya, untuk memutuskan bahwa negara indonesia berada pada ambang kehancuran masih butuh analisis yang lebih panjang lagi dan juga harus diikuti dengan parameter yang bermacam-macam untuk mengukur sebuah negara yang mengalami kehancuran. Namun, bagaimana soal stagnanisasi yang dialami negara ini, masih dapat kita bahas dalam tulisan ini.
Sebelum membahas soal stagnanisasi, perlu kita pahami, bahwa kedudukan indonesia adalah sebagai sebuah desa, bukanlah sebuah negara. Dalam struktur pemerintahan, desa adalah sebuah struktur wilayah yang paling rendah di sebuah negara. Lalu, bagaimana mengaitkan dengan stagnanisasi yang di maksud?. Indonesia adalah sebuah negara yang lahir di dunia ketiga, atau ilmuan menyebutnya, indonesia adalah salah satu negara ketiga. Hampir sama dengan negara-negara ketiga lainnya, indonesia adalah negara yang berkembang, namun, sangat memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Sebagai negara ketiga, secara penguasaan ekonomi, dan lebih khusus lagi, soal teknologi, indonesia berada di barisan paling belakang soal penguasaan di dua bidang tersebut. Maka dapat kita katakan bahwa indonesia adalah negara terbelakang. Tentu, sebagian kita sudah paham, bagaimana nasib yang harus dialami oleh indonesia yang merupakan desa yang sangat luas itu untuk bergerak menjadi maju? Sedangkan secara status struktural kita hanya sebatas desa yang kekayaannya di eksploitasi besar-besaran oleh negara (baca : negara kesatu dan negara kedua). Betapa nasib indonesia sepenuhnya sangat bergantung kepada negara. Desa Indonesia hanya berharap penuh atas kebaikan dan kemurahan hati dari negara. Mengharapkan bantuan dana yang luar biasa dari negara. Lalu, negara tersebut memberikan bantuan dengan dalil bantuan kemanusiaan, namun, tersirat sebuah impian dari negara untuk melakukan eksploitasi yang luar biasa terhadap desa kita. Jikalau itu pun bukan bantuan, biasanya, dana yang deras mengalir ke desa kita adalah utang yang harus kita tanggung dan harus segera dilunasi. Jika kita tidak dapat melunasi, maka yang akan terjadi, negara-negara itu akan meminta jalur lain sebagai jaminan atas utang yang kita tanggung. Jalur yang dimaksudkan adalah kembali lagi pada pengeskploitasian sumber daya alam kita, atau meminta kepada desa kita untuk mempermudah jalur investasi.
Lalu bagaimana dengan teknologi?. Kita tetap akan menjadi kelompok yang bisa menikmati karya yang diciptakan oleh teknologi tersebut. Sedangkan desa kita, indonesia, tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan secara mandiri di bidang teknologi. sebab, untuk menciptakan sebuah teknologi, sangat dibutuhkan biaya penelitian yang menghabiskan dana yang begitu besar. Apakah mungkin mereka (negara) dengan sukarela melakukan pengalihan teknologi kepada kita? Bukankah mereka (negara) telah mengeluarkan dana yang begitu besar untuk sebuah teknologi, lalu, kita dengan semudah itu meminta kepada mereka untuk segera pengalihan teknologi? Itu hanya sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Tetapi, mengapa kita tidak menciptakan teknologi sendiri?. Bukankah ilmuan –ilmuan kita juga mumpuni?. Jawabannya adalah ketidakberdaayaan kita secara ekonomi, dan keterikatan kita terhadap utang-utang yang harus kita tanggung dalam jumlah yang besar. Sehingga, sebagian sudah cukup untuk menjelaskan mengapa kita mengalami stagnanisasi.
Sungguh kita harus menanggung derita yang luar biasa. nasib Indonesia hanyalah menjadi sebuah desa, yang tidak akan pernah berubah menjadi negara. Kini, indonesia berada pada keadaaan yang seolah-olah akan dinikmati sumber daya alamnya saja. indonesia tidak akan pernah menikmati bagian-bagian manis, karena bagi mereka, indonesia hanya pantas menerima bagian sepahnya saja.
Dan bagaimana caranya agar indonesia maju dan tidak stagnan?. Semua bergantung kepada segenap elemen yang ada di desa kita, indonesia. Bila kehendak untuk maju hanya ada pada sebagian orang saja, sedangkan sebagian yang lain tidak menghendaki untuk maju karena terlalu nyaman melacurkan diri, maka mustahil bagi kita untuk memajukan DESA INDONESIA.
*Oleh : #BungLangit #RRI