Kekaryaan Beringin Berbuah (Saham)

Politik adalah sebuah bahasan yang menarik dewasa ini. kita berjumpa dengan sebuah fenomena yang mengantar  masyarakat kita secara berangsur-angsur belajar memahami tentang bagaimana politik sangat berperan penuh dalam perubahan wajah negeri. puncaknya (dapat pula dikatakan awal babak baru), adalah saat kebulatan tekad seorang mantan walikota, yang sementara waktu pernah singgah menjabat gubernur Jakarta, dan kemudian bertarung dalam kontestasi untuk menjadi orang nomor 1 di negeri ini. orang mengenalnya jokowi. Namun, dalam kesempatan ini, yang menjadi cukup menarik untuk kita bahas adalah ketika masyarakat yang secara perlahan sadar tentang sebuah politik dan menjalankan sistem demokrasi dengan baik, masyarakat menemukan kembali kebuntuan. Sebab, untuk menjalankan demokrasi, sepenuhnya masih berada di bawah arahan partai politik. Seolah-olah hal tersebut harus kita terima sebagai sebuah kenyataan bahwa partai politik adalah merupakan representasi dari sebuah demokrasi.

Bila harus membahas persoalan partai politik, hal yang pertama dirasakan adalah perasaan geli. Sebut saja, penyelenggaraan forum tertinggi partai yang belum lama ini terjadi, dengan memberikan mandate (amanat) kepada dewan perwakilan daerah tingkat I dan II, mereka memiliki hak untuk menentukan siapa yang berhak menjabat sebagai nahkoda dari sebuah kapal besar yang merupakan warisan kejayaan pemerintahan lama (baca: orde baru). Fenomena yang patut kita sorot pertama kali adalah keributan yang mewarnai jalannya forum tertinggi partai tersebut. Seyogyanya, keributan itu tidak pernah terjadi, bilamana partai politik telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, untuk melahirkan kader-kader yang terbaik yang mampu menjadi pemimpin di masing-masing wilayah pemerintahan yang ada. Dan tampak sangat jelas, keributan tersebut mencerminkan telah hilangnya filosofi partai tersebut. Partai yang berlambang beringin, menandakan bahwa partai tersebut dapat mengayomi dan memberikan keteduhan bagi siapapun yang berlindung dibawahnya.

Fenomena kedua adalah terpilihnya nahkoda baru. penulis meyakini akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan untuk membahas ini, dan sangat rentan terjadinya pro dan kontra. Sebab, itulah hakikat dari sebuah politik yang kita imani bersama, adalah sikap saling menjatuhkan dan mempertahankan. Tetapi, penulis juga menganggap ini juga menjadi tanggung jawab penulis untuk menyampaikannya. Untuk membahas fenomena kedua, penulis mulai merasakan klimaks kegelian tingkat tinggi. Betapa penulis terkejut, saat forum tertinggi partai tersebut berakhir dan melahirkan sebuah pemimpin baru, yaitu SN. Kami tidak tahu bagaimana proses politik yang terjadi di dalam, namun, yang jelas, voting masih menjadi favorit yang terutama didalam menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin daripada mengutamakan musyawarah mufakat. Terpilihnya SN kemudian mendorong siapapun untuk berpikir lebih kritis. Betapa kita masih ingat soal rekam jejak nahkoda baru ini, tatkala menjabat sebagai Ketua DPR RI, bahwa ia terduga telah melakukan permufakatan jahat untuk meminta saham kepada salah satu korporasi tambang emas terbesar didunia. Bahwa tindakannya tersebut, sangatlah jelas merupakan sebuah upaya untuk memperkaya diri sendiri. Tindakannya tersebut juga dapat menjadi sebuah pertimbangan bagi pemilik suara agar sebaiknya tidak memilih SN sebagai nahkoda baru partai yang begitu meneduhkan ini (kepercayaan kader saja). tetapi, nasi telah menjadi bubur. Masyarakat hanya dihadapkan pada dua pilihan saja, yaitu menolak kadernya menjadi pemimpin di wilayah pemerintahan, atau menerima kader-kader yang dinahkodai SN sebagai pemimpin mereka. menurut keyakinan kami, terpilihnya SN juga tidak lepas dari masih hidupnya ruh doktrinasi bahwa pemerintah adalah golongan karya. Dan sangatlah wajar, bila pohon beringin yang ditinggali oleh bangsa di luar manusia, memilih dan menunjuk seseorang yang sangat ahli dalam hal tawar menawar yang berkaitan erat dengan tumbuh suburnya pohon beringin itu sendiri. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, telah terbukti bahwa beringin hanya dapat tumbuh subur dengan disiram dan diobati dengan saham-saham.

Fenomena ketiga adalah kekaryaan yang di tunjukkan oleh para kader partai. Forum tertinggi partai beberapa hari yang lalu, hanya menghasilkan 2 macam karya saja, yaitu keributan dan kekhilafan dalam menunjuk nahkoda baru. keributan dan proses penunjukkan seorang nahkoda baru, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, senyatanya adalah merupakan sebuah karya lama yang di cetak ulang. Bukankah keributan-keributan dalam partai telah lama terjadi. Dan bukankah pula dalam penunjukkan nahkoda baru yang semacam ini juga secara berulang-ulang terjadi. Kepemimpinan yang baru kerap digantikan oleh mereka yang pandai tawar menawar soal jabatan, dan juga mereka yang memiliki sebagian perusahaan untuk menguasai arah perekonomian.

Oleh sebab itu, menarik untuk kita tunggu bersama sepak terjang partai yang berlambang beringin yang meneduhkan. Menunggu karya-karya terbaik yang mereka ciptakan. Sebab, sekarang, bukanlah waktu untuk berkarya mengejar jabatan dan kekuasaan. Apalagi soal bagi-bagi saham. Kini, saatnya mereka buktikan, bahwa partai kekaryaan adalah partai pengayom bagi kader terbaik yang hidup dengan ide-ide yang cemerlang. Selamat berkarya partai kekaryaan.

*Oleh : #RRI #BungLangit

Perempuan, Anak, dan Langit Mendung

Kasus pemerkosaan yang juga di ikuti tindakan pembunuhan oleh sekelompok remaja terhadap bocah perempuan sangat menyayat hati. Bocah perempuan yang berinisial Y, terpaksa harus kehilangan masa depannya. Pun kisah hidupnya berakhir tragis di tangan 14 remaja yang terduga sebagai pelaku pemerkosa sekaligus pembunuh. Kasus ini semakin menjadi perhatian publik tatkala pemberitaannya muncul ke permukaan. berbagai aksi simpati pun di gelar dengan semangat #Nyalauntukyuyun. Aksi ini digelar dengan pesan yang mengingatkan kita semua, agar di masa mendatang, tidak akan terulang lagi kasus yang serupa atau tidak akan terjadi lagi kasus-kasus yuyun berikutnya. Selain itu, kasus ini juga mendapat respon publik yang sangat luar biasa, beberapa diantaranya adalah masyarakat menuntut agar pelaku dihukum dengan seberat-beratnya, baik dihukum seumur hidup maupun di hukum mati. Adapun bentuk respon lain yang ditunjukkan masyarakat adalah berupa desakan yang berupa petisi online terhadap pemerintah untuk segera membahas undang-undang penghapusan kekerasan seksual. Harapannya, melalui undang-undang tersebut, negara hadir memberikan perlindungan terhadap kaum perempuan yang kerap menjadi korban pelecehan seksual. Pun yang menjadi harapan lainnya adalah proses peradilan yang berpihak pada korban.

Dewasa ini, kehidupan sosial kita tumbuh dengan penuh kecaman. Seolah-olah kecaman merupakan sebuah solusi terhadap segala permasalahan yang ada. Perilaku orang tua yang kerap kali memberi kecaman terhadap anak-anaknya hanya lantaran malas bersekolah. Perilaku tenaga pendidik yang juga seringkali mengecam anak didiknya yang tidak mengerjakan tugas sekolah. Hingga, di lingkungan sosial kita yang tanpa sadar membesarkan ruang kecaman itu sendiri. Anak-anak yang terlahir dari kelas sosial yang elit, kerap kali menggunjing kehidupan anak-anak yang terlahir dari ekonomi sulit. Bahkan untuk kasus pemerkosaan yang diikuti tindak pidana pembunuhan juga mengundang reaksi publik berupa kecaman kepada jaksa penuntut umum yang hanya menuntut pelaku tindak pidana dengan tuntutan pidana penjara 10 tahun lamanya. Penulis menganggap bahwa reaksi ini sangat berlebihan. penulis harus mengakui, betapa keluarga korban merasa sangat terpukul karena telah kehilangan anak kesayangannya. Namun, dapatkah kita sejenak melihat dengan sudut pandang yang lain, dari pihak keluarga pelaku. Betapakah mereka juga merasakan hal yang sama, bilamana tuntutan jaksa maupun vonis majelis hakim (nantinya) menjatuhkan hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati. Misalkan saja, majelis hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup, derita yang sama akan dialami keluarga pelaku. Mereka akan terpukul, bahkan amat terpukul, sebab, bagi mereka, lebih baik menanggung beban kehilangan anak daripada menyaksikan anak-anak kesayangan mereka harus menjalani kisah hidup mereka didalam penjara. Adakah orang tua yang sanggup menderita seperti ini?. penulis berkeyakinan, para orang tua tidak sanggup menanggung beban yang teramat berat ini. untuk itu, menurut hemat penulis, sebaiknya pemerintah hadir didalam kehidupan keluarga korban. Memberikan jaminan hidup yang layak bagi keluarga korban. Sedangkan untuk para pelaku, berharap majelis memberikan putusan yang seadil-adilnya dengan tidak menjatuhkan putusan melebihi yang telah di tentukan.

Bahwa dengan terjadinya peristiwa ini, telah menambah catatan hitam kasus pelecehan seksual yang menimpa kalangan kaum perempuan dan anak. Hal ini menunjukkan bahwa para anak-anak dan kaum perempuan hidup dibawah langit yang mendung. Mereka tidak lagi hidup dibawah langit yang cerah. Sebagaimana yang banyak orang katakan, bermimpilah setinggi langit. Lantas saat ini, bagaimana dengan mimpi mereka, jika langit telah berubah mendung. Masihkah mereka dapat bermimpi?. Patut untuk kita tanggapi hal ini dengan cepat, mengapa langit itu mendung?. Sebaiknya, pertanyaan ini lekas harus kita jawab, dengan menggunakan pertanyaan selanjutnya. Apakah benar langit mendung tercipta oleh perilaku kita sendiri sebagai kaum dewasa dan generasi tua yang telah lalai dalam menjaga langit yang cerah untuk generasi kita selanjutnya?. Dan terakhir, jawaban penulis serahkan kepada segenap pembaca yang budiman.

 

Oleh : #RRI #BungLangit

Surat Ke-Delapan : Membangun Rumah Rindu

Assalamualaikum Bulan? 😀 bagaimana kabarmu, kekasih hatiku?. Semoga rahman dan rahim sang khalik, selalu memeluk segala suka dan duka yang menyelimuti hidupmu. semoga.

Bulan, aku mengawali suratku ini dengan permintaan maafku kepadamu. Aku minta maaf bulan, atas kesalahan yang aku lakukan kepadamu. Aku telah mengingkari janjiku yang aku buat sendiri. Bahwa aku telah berjanji untuk mengirimimu surat-surat setiap 2 minggu sekali, dan aku telah melanggar perjanjian itu. saat ini, surat yang aku tulis telah melampaui batas waktu perjanjianku kepadamu. Bulan, engkau boleh menghukumku, oleh sebab kelalain yang telah aku lakukan. hukumlah diriku bulan, agar aku dapat belajar menjadi seseorang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap diriku, terhadap dirimu dan terhadap cinta kita. Agar kelak dimasa mendatang dalam mengarungi bahtera kehidupan, aku akan menjadi satu-satunya seorang pemimpin yang dapat bertanggung jawab  terhadap segala resiko yang mengancam keselamatan hidup kekasih hatinya. Aku ingin belajar tentang itu, dan bulan, lekaslah berikan aku hukuman.

Bulan, senyatanya dalam surat kali ini, aku tidak sanggup untuk menuliskan perihal sesuatu. Tetapi, bulan, aku berusaha untuk tidak menyerah begitu saja. aku paksa diriku sendiri untuk menuliskan suratku ini kepadamu. Semoga tulisan ini dapat langsung engkau baca. Atau mungkin saja, semoga Tuhan memberikan jalan yang lain, agar engkau dapat memahami segala isi hati yang aku tulis didalam surat-suratku ini melalui perantara orang lain. Semoga saja bulan. amin

Bulan, aku harus kembali meminta maaf kepadamu. Bilamana yang aku tulis didalam suratku ini, sangat dipenuhi oleh perasaan bersedih. Lalu, engkau menganggap diriku sebagai laki-laki yang lemah. Sosok lelaki yang bukanlah dambaanmu. Tapi, bulan bolehkah aku mengatakan sesuatu tentang kesedihan yang juga harus hidup didalam jiwa laki-laki. Bulan, calon imammu ini, adalah sosok lelaki remaja yang juga adalah seorang anak. Tentu, adalah sebuah kewajaran bilamana didalam diriku juga hidup sifat yang lemah. Sebuah sifat yang menunjukkan betapa mudahnya hati kecil yang kumiliki sangatlah rapuh. Aku adalah seorang anak laki-laki yang lemah, yang setiap hari harus melihat ayah dan ibuku membanting tulang demi permata mungilnya. Lalu, setelah itu, air mataku mengalir. Aku menangis. Tetapi, betapa ayah dan ibuku memahami apa yang aku alami, sehingga beliau selalu berusaha membangun jiwa dan ragaku agar lebih kuat. Tangguh. Dan bulan, begitulah cara kita menjadi manusia seutuhnya, kita tidak bisa terlalu tangguh, agar hati mudah terenyuh terhadap segala kesedihan yang seseorang alami. Namun, kita juga tidak bisa untuk selalu menjadi rapuh, sebab, perjalanan kehidupan sangat dipenuhi gelombang. Oleh sebab itu, kita harus tangguh.

Bulan, setelah beberapa lama aku tidak mengirimimu surat. Dan setelah berlembar-lembar surat yang tanpa aku tahu, apakah salah satu suratku telah engkau baca. Aku ingin menceritakan sesuatu, bahwa perjalanan yang harus kita lalui, hingga akhirnya kita bersatu adalah sebuah pelajaran-pelajaran yang berharga yang harus kita pelajari dengan sebaik-baiknya. Dalam hal kita belum bersatu, sebab, tidak pernah bertemu, akhirnya telah mengajarkan kepada kita untuk membangun rumah rindu. Sebuah rumah yang akan selalu kita rindukan kehangatannya. Rumah yang menjadi tempat lelah berlabuh. Rumah yang memberikan sandaran yang paling nyaman kepada setiap hati yang penuh dengan ketakutan. Tapi, bulan, rumah rindu itu harus kita bangun lebih dahulu. Tiang-tiang penyangga yang terdiri dari perpisahan dan penundaan perjumpaan harus berdiri kokoh. Kesucian dan kemurnian cinta akan menjadi pondasi rumah yang memangku segala tiang-tiang penyangga yang berdiri diatasnya. Kemudian kita memberinya atap yang penuh dengan kesabaran. Dan rumah rindu pun terbangun. Rasanya, aku sudah tidak sabar untuk menempatinya, bulan. Bahkan hati berlari mengejar waktu, agar lekas mengantar pertemuan kita. Dan bilamana kita telah benar-benar bertemu, aku berjanji kepadamu bulan, aku akan memegang erat dan aku akan menghalangi waktu. Agar engkau tidak pergi lagi. Dan selamanya, di rumah rindu milik kita.

Bulan, sebaiknya aku akhiri suratku ini. dan semoga lekas engkau baca surat-suratku. Aku akan membangun rumah rindu secepatnya, agar engkau datang secepatnya pula. Semoga engkau berada dalam lindungan-Nya. Amin. Salam rindu yang tiada henti dari diriku yang begitu mencintaimu.

*Oleh : #RRI #RizkieMuxafier

Hikayat Manusia Dan Mesin

Dalam keadaan resah, telah mengantarkan kita pada keadaan tak berdaya. Lemah. Betapa kami sebagai anak didik mendapat paksaan untuk mengerjakan segala sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah kami cintai dengan setulus hati. Bertahun-tahun hidup didalam kungkungan aturan yang penuh komando, semakin menegaskan bahwa kita sangat ketakutan terhadap keadaan yang akan terjadi dimasa mendatang.  Siapa pun mereka, telah menanamkan benih-benih ketakutan didalam pribadi kami masing-masing sejak dini. Perkataanya yang cukup sederhana, namun, telah menguasai pikiran kami secara seluruhnya. Akhirnya, ketidakmerdekaan yang menjadi hadiah manis untuk mereka, dan pahit untuk diri kami sendiri. Pun kami menjadi seorang manusia, yang terlahir dan berkembang tanpa kemurniannya sendiri. Kami bergerak dalam ruang kehidupan untuk menjalankan sebuah kewajiban, namun, tanpa sadar, oleh sebab sikap kami pula, roh yang suci, yang hidup dalam segala hal yang menjadi kewajiban menjadi binasa. Kita hanya menjalankan kewajiban tanpa dihidupi oleh roh yang suci. Akibatnya, perjalanan yang kami lalui hanya mengantarkan kami pada keadaan yang merubah segala sesuatu yang hidup didalam hakikat manusia itu sendiri. Manusia kemudian berrevolusi sendiri menjadi mesin yang dirawat sesuai dengan keadaan kualitas kemampuan mesin bekerja secara maksimal. Tanpa sadar, bahkan dengan bodohnya, sejak manusia berevolusi menjadi mesin, mereka telah menaruhkan kemerdekaan yang nilainya begitu mahal, dengan sesuatu yang tidak sebanding dengan kemerdekaan mereka sendiri. Mesin-mesin di gunakan sesuai dengan kebutuhannya, bila ia rusak, semampunya di perbaiki, dan jika dalam hal rusak parah, mesin-mesin akan dirongsokan. Sebab, persediaan mesin baru masih tersedia dalam berjuta-juta jumlahnya.

Dalam perjalanan waktu, dunia semakin berkembang pesat. Banyak pabrik-pabrik baru dibangun untuk menciptakan mesin-mesin yang baru. komponen-komponen pendukung yang menjadi kualitas utama mesin bukan menjadi perhatian penting bagi pabrik. Tugas pabrik sangatlah mudah, menerbitkan selembar surat yang mengatasnamakan lisensi ternama, berlabel pabrik nasional bahkan berkelas internasional. kemudian mesin-mesin terlantarkan, menurut pabrik, bahwa mesin yang bersurat bukan lagi menjadi tanggungan. Oleh sebab itu, mesin bergerak dengan sendirinya. Menjual diri kepada siapapun yang membutuhkannya. Mesin dapat bernilai mahal atau murah, bergantung lisensi pabrik yang mengeluarkannya. Atau mesin dapat bernilai tinggi, tatkala ia mengetahui tentang kualitas dirinya sendiri. Tapi, terkadang itu juga ilusi. Sebab, anggapan semua pihak yang akan membeli mesin itu adalah sama. Mesin baru, masih memiliki kecenderungan yang sangat rentan untuk menghancurkan perhitungan produksi sendiri. Banyak biaya yang akan dikeluarkan oleh pembeli, bilamana penggunaan mesin baru menjadi prioritas yang terbilang masih belum teruji coba kualitasnya. Mesin baru pun menempa rasa sabarnya. Ia hanya berada pada dua pilihan, melanjutkan perjuangannya atau berdiam diri. Menunggu seseorang yang tertarik untuk menggunakannya.

Barangkali penjelasan yang baru saja adalah sesuatu yang sederhana, namun, sangat memberikan pengaruh terhadap cita-cita seluruh masyarakat dunia. Mencita-citakan kesejahteraan umum, dengan cara memerdekakan lahir dan batinnya terlebih dahulu. Namun, Manusia hari ini telah kehilangan cita-citanya, dan, berjalan sesuai kemana air mengalir. Manusia-manusia menjual murah kemerdekaan lahir dan batin mereka sendiri. Akhirnya, tanpa daya dan kekuatan yang merdeka, manusia-manusia secara satu persatu menjadikan tujuan hidup semakin gelap, cahaya cita-cita yang sangat terang tampak pekat, sebab, hati nurani telah tertutup rapat.

 

*Oleh : #RRI #BungLangit