Per(empu)an ?

Sebuah diskursus yang sangat hangat dan intim malam itu, didalam suasana sunyi warung kopi, pembahasan tentang perempuan memberikan suntikan tenaga lebih terhadap kaum laki-laki. Ya, kami yang berkumpul malam itu, seluruhnya adalah laki-laki. Diskursus soal perempuan dalam lingkar imajinasi laki-laki adalah sesuatu yang wajar. Begitu juga sebaliknya, didalam imajinasi kaum perempuan sendiri, laki-laki adalah diskursus yang terutama untuk dibahas tatkala para perempuan-perempuan sedang berkumpul bersama. Bagi mereka (perempuan), mungkin saja laki-laki adalah seperti halnya gadget yang berada dalam genggaman tangan mereka, dalam keadaan apapun, setiap waktunya, laki-laki maupun gadget adalah satu kesatuan yang harus tinggal dalam ingatan dan genggaman. Dan jika hal itu pun benar adanya, kaum laki-laki tentu berharap kepada mereka, agar senantiasa setia kepada satu gadget saja, mengingat, dalam perjalanan waktu, gadget selalu berubah-ubah penuh gemerlap nan mempesona.

Dalam tulisan ini, tentu, pembahasan tidak tertuju pada suatu diskusi perihal kisah cinta laki-laki dan perempuan, melainkan, pembahasan dalam tulisan kali ini adalah persoalan menyelami lebih dalam makna tentang perempuan secara kekhasan ketimuran.

Bagi kaum laki-laki, menulis tentang seorang perempuan adalah menulis keresahan. Sebagai keturunan dari bangsa timur, yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan, maka kami selalu berkeyakinan, tempat yang paling mulia bagi seorang perempuan adalah di rumah. Keresahan-keresahan yang kian memuncak, tatkala melihat banyak sekali fenomena yang memotret kehidupan perempuan meninggalkan rumahnya (kodratnya). Banyak dari kaum perempuan yang menjadi buruh, disebabkan oleh tidak tercukupinya kebutuhan rumah. Para kaum laki-laki yang tidak bertanggung jawab, yang menyebabkan, akhirnya, kaum perempuan ambil bagian (bekerja).

Memasuki era industri yang mengantar kita (seluruhnya) pada keadaan ekonomi yang tidak menentu, dan menjalani hidup yang penuh kecemasan, membuat para orang tua, baik orang miskin maupun orang kaya, berlomba-lomba menyekolahkan para anak-anak mereka sampai tingkat yang setinggi-tingginya. Para anak perempuan juga mendapatkan kesempatan itu (bersekolah). Tujuan orang tua jelas, dengan modal membaca dan memahami kebutuhan industri, anak-anak mereka harus bersekolah dengan minimal capain menjadi seorang sarjana. Jika anak mereka belum sarjana, orang tua sadar, bahwa kelak anak kita hanya bekerja di tingkat yang paling rendah (buruh). Dan itu, tentu, bukan harapan mereka. nasib yang telah mereka alami sebagai orang tua, semoga dijauhkan kepada anak-anak mereka. Artinya, perempuan (Ibu) hari ini, berperan mengantar anak-anak mereka (laki-laki maupun perempuan) pada batas ruang kesempatan untuk bekerja. Agar nasib yang orang tua mereka alami, juga tidak dialami oleh anak-anaknya.

Ada sebuah fakta yang menarik (cerita dari seorang teman), ia menceritakan sebuah pengakuan dari salah seorang perempuan sarjana yang memilih menjadi ibu rumah tangga berdasarkan permintaan suaminya. Kemudian, pilihan itu mendapat gunjingan luar biasa dari para tetangganya. Perkataannya seperti ini, “ sarjana kok pengangguran”. Ibu tersebut tidak menghiraukan gunjingan dari para tetangganya. Ia tetap hidup dengan prinsip dan menjaga amanah suaminya. Tidak tergoda untuk kembali bekerja. Suatu waktu, ia menceritakan alasannya, mengapa ia tidak menanggapi gunjingan dari para tetangganya. Pesannya sederhana, “ mereka hanya melihat suatu kondisi hanya dengan mata, sedangkan suamiku melihat kondisi ini dengan hatinya. Mereka tidak pernah tahu isi hati suamiku, mengapa melarangku untuk bekerja, sedangkan aku sangat memahami isi hati suamiku. Dan semoga aku teguh dengan pilihan yang di ajukan suamiku itu.”

Perempuan sarjana tersebut yang tetap memilih menjadi ibu, adalah pilihan yang menegaskan suatu kenyataan bahwa ia dengan penuh keyakinan, meyakini bahwa hanya dari rahim ibu yang cerdas, dan melalui bimbingan ibu yang cerdas pula, kita akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas. Sebagaimana yang pernah penulis baca dari perkataan salah seorang mahasiswa perempuan yang giat dalam pekerjaan sosial berkata, “ Tidak pernah terbayang, jika satu ibu yang cerdas, dapat membesarkan dan membimbing 2 (dua) anak menjadi generasi cerdas. Maka, saat ini, kita cukup menghitung berapa juta ibu yang ada di negeri ini, dan kita gandakan 2 kali lipat, maka berjuta-juta generasi emas yang cerdas, akan lahir dari rahim dan bimbingan ibu yang cerdas. Dan pada saat itulah, para perempuan, benar-benar berperan untuk kemajuan bangsanya.”

Dan terakhir untuk memahami judul diatas, per(empu)an, setidaknya ada 2 (dua) kata yang terpisah, yaitu kata dasar empu dan kata imbuhan per-an. Bilamana kita maknai dengan baik, sejatinya, memahami kata perempuan adalah cara kita memahami ulang peran empu itu sendiri. jadi peran perempuan secara kodrat adalah orang yang ahli dalam mendidik generasi-generasi emas negeri.

Oleh : #RRI #BungLangit

Surat Ke Sepuluh : “ Semesta Menunggu Kita “

Assalamualaikum bulan? bagaimana kabarmu hingga hari ini? semoga tetap Rahman-RahimNya yang akan memberimu pelukan yang paling hangat, dan selalu melindungi dirimu yang masih berjarak denganku. Amin.

Bulan, ini adalah suratku yang ke sepuluh. Sebelumnya, aku tidak pernah mempercayai ini bisa terjadi. Aku sanggup menuliskan surat-surat cintaku kepadamu. Surat-surat yang menggambarkan segenap perasaanku kepadamu. Surat-surat yang menjelaskan tentang ketidakberdayaanku, dan seluruh usaha-usaha yang senantiasa aku perjuangkan, agar aku dapat bangkit menunggu kedatanganmu. Saat itu pula, harapan besar selalu bergelora menuntun kesabaranku menunggu kedatanganmu. Menumbuhkan rasa percaya diriku sendiri, bahwa kelak di kemudian hari, kita adalah pasangan yang paling dunia ini tunggu. Semoga.

Bulan, rasanya, aku tidak perlu untuk menjelaskan rindu didalam surat-suratku ini. percayalah, rindu yang kau harapkan dariku, senantiasa selalu menjadi nafas didalam kata perkata yang tersusun menjadi kalimat-kalimat yang memenuhi setiap surat yang aku tulis.

Saat ini, aku merasakan kebingungan bulan. apa yang sebaiknya untuk aku ceritakan didalam suratku ini. namun, aku bersyukur, dalam keadaan yang sendiri seperti saat ini, aku memiliki ruang-ruang yang lebih luas untuk aku manfaatkan sebagai jalan untuk mendewasakan diri. Tangguh dalam menghadapi masalah. Ya, seperti dirimu, aku yakin dalam penundaan pertemuan ini, banyak hal yang telah kau lakukan dan berhasil kau lakukan sendiri. semua yang kau lakukan, aku yakini adalah semata-mata hanya untuk mendewasakan diri dan sebuah ihtiar untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Bersabarlah bulan, Tuhan amat menyayangi hambanya yang selalu berjuang untuk perubahan nasib hidupnya sendiri. dan semoga kita adalah bagian dari orang-orang yang Tuhan sayangi karena telah berlelah hati dan tenaga, hanya untuk memperjuang nasib hidup yang lebih baik.

Bulan, sayangku, bagaimana kau memahami penundaan pertemuan ini? ceritakanlah. Aku siap mendengarkannya. Sembari aku ingin melihat gerak bibirmu, sesekali senyum wajahmu, dan keceriaan yang terpancar, tatkala kau menceritakannya tepat diwajahku. Aku selalu berdo’a seperti itu, bulan. mengharapkan, agar Tuhan berbelas kasih, mempercepat pertemuan kita. Tetapi, aku harus sadar, Tuhanlah yang maha tahu segala sesuatunya. Kita hanya memainkan peran, dan tumbuh berkembang sesuai dengan perintah-perintahNya. Lalu, Tuhanlah yang mengatur segala sesuatunya. Salah satunya, soal pertemuan kita nantinya.

Jika kau menanyakan kepadaku, bagaimana aku memahami penundaan pertemuan ini. bagiku sangat sederhana. Tuhan hanya ingin menunjukkan cinta kasihNya yang sangat besar itu. saat ini, dalam masa penundaan pertemuan kita, Tuhan sedang merencanakan sesuatu, agar kelak pertemuan kita adalah pertemuan suci yang oleh semesta raya sangat di tunggu. Saat sebelum waktunya kelak akan tiba, entah mulai kapan waktunya, aku yakini, Tuhan akan mengatur pertemuan kita melalui semesta. Mungkin saja, kelak pertemuan kita, salah satunya adalah disebabkan oleh kebaikan seseorang yang menjadi perantara Tuhan untuk mempertemukan kita. Atau mungkin alam yang tergerak untuk membantu pertemuan kita. Mungkin saja, kelak pertemuan kita tanpa sengaja karena kejadian alam, seperti saat hujan. Saat itu, tanpa sengaja aku menjadi teman bicaramu. Kita bicara sangat dekat dan hangat. Dan mungkin saat itu juga, hujan yang menjadi saksi dan merekam pertemuan kita, kita dapat membuat janji suci yang harus kita segerakan untuk kita tunaikan. Ya, kita tunaikan dalam bentuk pernikahan. Semoga.

Aku memang sangat berharap, pertemuan kita, bukanlah pertemuan yang biasa. aku sangat berharap bahwa kita adalah benar-benar pasangan yang oleh semesta paling di tunggu.

Namun, bulan, untuk mengharapkan cita-cita besar itu terwujud, tentu, masih ada syarat-syaratnya. Hati kecilku meyakini, bahwa selama penundaan pertemuan ini, kita hanya cukup berbuat baik dan mengabdi sebanyak-banyak terhadap kehidupan semesta atau masyarakat kita. Dan oleh karena itu, kita harus mempercayai, bahwa pengabdian yang kita lakukan tersebut, semesta akan menghadiahkan kita sebuah pertemuan. Hal itu merupakan bentuk kepercayaan semesta terhadap kita. Bahwa kita adalah pasangan yang dapat memberikan kehidupan yang lebih baik. Semoga.

Oleh karena itu bulan, kita sebaiknya menikmati saja penundan pertemuan ini. meskipun aku tidak pernah tahu, bidang apa yang sedang kau tekuni, apakah sebagai seorang calon dokter, calon apoteker, calon sarjana ekonomi, atau seorang da’iyah, bagiku, yang terpenting, kita tidak pernah lupa hakikat kita sebagai manusia yang berjuang untuk kehidupan manusia yang lainnya pula. Aku ingin mengajakmu menikmati bagian cerita yang mampu menguatkan hati menjadi lebih baik ini, dengan cara mengabdikan sebagian hidupmu kepada semesta. Agar kelak dalam pertemuan kita, semesta juga menyambut gembira sembari menyaksikan pasangan tersebut berjanji suci dihadapannya. Semoga.

Aku akhiri tulisanku, dengan menitipkanmu kepada semesta.

Oleh : #RRI #RizkieMuxafier

Pena Urban : Berani Pulang Bangun Kampung Halaman

Entah apa yang menjadi alasan mengapa ide untuk menulis ini senyatanya sangat mendesak hati untuk berani mengungkapkannya dalam sebuah karya tulisan. sebuah cita-cita yang sederhana yang menjadi sebuah harapan, kelak saat semua orang-orang membaca, terutama untuk diri saya sendiri, kita mendapat teguran keras, saat perjalanan yang telah kita tempuh, keluar dari jalur cita-cita suci yang menjadi dambaan kita bersama.

Saya masih ingat peristiwa didalam suatu waktu yang kemudian menjadi pemantik semangat, dan menjadi pemukul keras terhadap egoisme yang tumbuh semakin mengakar didalam halaman jiwa. Saat itu, didalam hari yang paling menggembirakan, kami mengajak beberapa kawan-kawan muda desa untuk turut serta didalam kegiatan yang kami laksanakan. Namun, betapa kami sangat terpukul, mendengar jawaban yang keluar dari bibir mereka yang sangat manis itu. mereka mengungkapkan seperti ini, “ kami hanya sekelompok pemuda, sedang kalian disana adalah sekelompok mahasiswa.” Setelah selesai mendengar ungkapan hatinya yang sangat tulus itu, kami merasa seolah-olah telah ada jarak yang sangat jauh memisahkan ruang keromantisan yang seharusnya kita rasakan bersama. Diantara jarak yang mengisahkan kesedihan itu, kisah ini layaknya menggambarkan seorang pemuda miskin yang sedang jatuh cinta terhadap seseorang yang sangat kaya raya. Siapa yang sangat tidak hafal dengan kisah yang seperti ini? bagaimana akhir kisahnya? Kita akan sangat tahu bahwa nasib orang miskin yang jatuh cinta terhadap orang kaya akan berakhir memilukan. Dan yang menjadi penyebab, adalah pengagungan terhadap kelas sosial. Bahwa kelompok terdidik, terpelajar, seperti Kami (mahasiswa), dalam perkembangannya, semakin mendapat kelas sosial yang semakin tinggi. Sehingga tanpa sadar, keadaan yang demikian, adalah tercipta oleh peranan kita sendiri.

Dalam keadaan yang sangat menyedihkan ini, sangat penting sekali, untuk kita ingat kembali segenap memori yang ada dalam pikiran kita. Mengingat kembali, segala kenangan manis sewaktu kita kecil, saat diantara hubungan persahabatan itu, kita kerapkali bersepeda bersama-sama, menghabiskan waktu sore hari dengan bermain bola dilapangan, sampai orang tua diantara kita menjemput ke lapangan, karena anaknya menjelang petang, belum juga pulang. Namun, saat kehidupan berjalan, ruang persahabatan tidak seharmonis dulu. Kami memasuki ruang dimensi yang berbeda, sahabat-sahabat kami menghentikan petualangannya di dunia pendidikan, tetapi, kami kaum berada, melanjutkan petualangan itu hingga menjadi mahasiswa dan kemudian mendapat gelar sarjana. Dalam perjalanannya, selalu tidak ada waktu dan kesempatan untuk menjaga keharmonisan persahabatan  yang seperti dulu. kami (mahasiswa) tumbuh menjadi sekelompok kaum elit, yang meninggalkan jauh para sahabat kita yang ekonominya sulit. Kami merantau jauh ke kota orang, demi menimba ilmu, atau berburu gelar, hanya untuk kepentingan menaikkan kelas sosial semata. Berharap kelak, saat pulang ke kampung halaman, kami akan menuai pujian.

Saat kesempatan bertemu datang kembali, dengan ungkapan kalimat dari seorang sahabat yang menggugah hati, yang mengungkapkan sebuah kenyataan tentang jarak diantara kita, kami wajib merenungkannya. Kami (mahasiswa) harus kembali mempelajari dan memahami lebih jernih dan murni, peran kami sebagai mahasiswa didalam kehidupan masyarakat kelak. Status sosial yang begitu tinggi, tentu, para sahabat kami menitipkan mimpi-mimpi mereka, cita-cita mereka di pundak kami. Kami memikul cita-cita besar itu, cita-cita yang bernafaskan kebaikan untuk semua. Kebaikan untuk kami, kebaikan untuk masyarakat kami, kebaikan untuk daerah kami, kebaikan untuk negeri kami. Jika para sahabat kami mempercayai kami  sebagai generasi emas yang dapat mengantar bangsa menggapai cita-citanya, maka perlu juga kami pikul, cita-cita kemajuan bangsa adalah kesejahteraan hidup yang adil dan makmur. Oleh sebab itu, bagi kami yang hendak merantau dan/atau sedang merantau menjadi mahasiswa, sebaiknya, perlu mengingat kembali, segenap cita-cita besar yang dititipkan oleh segenap rakyat kita. Menanamkannya didalam jiwa perjuangan kita, agar senantiasa kita ingat, “UNTUK BERANI PULANG, BANGUN KAMPUNG HALAMAN.”

Oleh : #RRI #RizkieMuxafier #BungLangit

Berpuasa ;  Jalan Terang Ciptakan Keadilan Sosial

Datangnya bulan suci ramadhan, terutama bagi kalangan muslim, hendaknya kita sambut dengan hati yang riang gembira. Pasalnya, 1 bulan penuh, kita akan menghadapi ruang kehidupan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Menjalani puasa, dari pagi hingga petang datang adalah medan pertempuran yang sesungguhnya bagi siapapun mereka yang telah berpuasa untuk memenangkan peperangan antara rasional yang bersekutu dengan keliberalan diri melawan hakikat sejati sebagai manusia sosial, untuk melabuhkan tujuan akhir sebagai insan manusia sosial yang sangat sholeh.

Dalam moment yang indah ini, sejatinya, berbagai macam dinamika kehidupan di bulan suci seharusnya diwarnai oleh segala macam tindak tanduk yang mengantar kita pada daya juang untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan cara menyusuri jalan yang membentang jauh dengan suguhan potret kehidupan sosial yang masih timpang. Bulan puasa, bukan hanya sekedar sebagai jalan yang tersedia bagi diri kita, sekedar hanya untuk meningkatkan kemesraan kita dengan Tuhan melalui ritual-ritual ibadah belaka, namun, semangat berpuasa yang memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi kita untuk meningkatkan kemesraan dengan Tuhan, sebaiknya, juga diikuti oleh meningkatnya kepekaan kita terhadap kehidupan sesama yang sangat jauh dari kehidupan cukup dan mapan.

Bulan puasa, adalah bulan yang tanpa paksaan bagi setiap orang yang beriman untuk menahan lapar haus, dan menahan nafsu, sejak pagi hingga petang menjelang, kurang lebih demikian kitab suci al-qur’an mengaturNya. Dengan bekal pengetahuan keagamaan yang dangkal, perkenankan saya hanya mencoba memaknai kata puasa secara sederhana dalam konteks “ menahan (lapar, haus)  dan menahan nafsu “. Sebab, bagi saya, nafsu adalah hakikat yang hidup didalam diri manusia sendiri, yang harus kita kendalikan dengan baik, dengan modal perpaduan manajemen akal dan spiritual.

Oleh sebab itu, dalam menjalani puasa, hendaknya, kita dapat memahami lebih dalam tentang hakikat puasa yang kita jalani secara utuh. Setiap apapun yang terjadi, dan bergolak dalam kehidupan sosial kita, seharusnya dapat kita pahami dengan baik. Anjuran berpuasa yang tidak hanya dialami oleh kaum muslim saja, sejatinya, dengan sangat terang mengirimkan sebuah pesan agar setiap manusia di muka bumi hendaknya menahan hawa nafsu mereka dalam suatu waktu tertentu. Berpuasa, meski dalam pemahaman dan pelaksanaan yang berbeda-beda di setiap agama, namun, tujuan akhir daripada puasa adalah keberhasilan kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan dengan juga diikuti meningkatnya kepekaan sosial kita terhadap sesama.

Dengan demikian, kita memaknai puasa dalam konteks pemahaman yang sama yaitu, menahan (lapar, haus) dan menahan hawa nafsu. Dalam konteks sosial, kewajiban berpuasa haruslah berlaku umum dan adil. Maksudnya, kepada siapa saja mereka, yang hidup dimuka bumi diwajibkan berpuasa. pedagang-pedagang kecil di wajibkan berpuasa rezeki oleh penguasa. Dagangan mereka di sita, dengan alasan penegakan perda (peraturan daerah). Sedang, para pedagang besar, berpesta pora mengais rezeki di bulan puasa. Para buruh yang dipaksa berbuka puasa di pabrik yang bising. Sedang, pemilik pabrik menggelar acara buka bersama bersama para tamu-tamu asing. Para penyapu jalanan yang tidak dapat menikmati sahur bersama keluarga, karena tuntutan di pagi hari jalanan dan taman harus bersih dan rapi, tanpa maksud lain, agar tuan putri, si empunya taman bergembira hatinya. Daripada harus merawat bangunan bersejarah yang bukan peninggalannya. Terhadap persoalan demikian, kita dapat menggunakan kesempatan ini, didalam bulan puasa, untuk melakukan refleksi sosial, memahami nilai-nilai yang terkandung dari maksud lahirnya kewajiban berpuasa. Memanfaatkan setiap waktu yang ada, baik pada saat siang hari, pada waktu akan berbuka puasa, dan pada saat hendak sahur pada dini hari, untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam kewajiban berpuasa. Bila benar-benar kita menginginkan terwujudnya keadilan sosial, sebaiknya kita meningkatkan kembali kepekaan sosial. Bila kau bingung bagaimana caranya, sebaiknya keluar rumah waktu dini hari, pahami kehidupan sosial jalanan yang penuh tangisan, tukang sampah yang mengangkut sampah untuk di buang ke pembuangan terakhir, tukang becak yang tertidur di becak mereka menunggu berjam-jam kedatangan penumpang mereka, pekerja perbaikan jalan yang bekerja dimalam hari, sebab, siang hari kitalah yang berkuasa dijalan. Kesemua potret kehidupan sosial tersebut, hendaknya dapat mengantar kita untuk memahami dengan baik, mengapa manusia wajib berpuasa? Setidaknya, kita paham salah satu tujuan yang hendak dicapai, yaitu keadilan sosial.

Oleh : #RRI #BungLangit

Surat ke Sembilan :  “ Aku Bukan Matahari Dan Kau Bukanlah Malam “

assalamualaikum bulan, 🙂

Bagaimana kabarmu, sayang? Semoga kasih sayang Tuhan selalu menjaga dan melindungimu. Amin.

Maaf jika aku kembali mengulangi kesalahan ini. kesalahan yang sama, dalam mengingkari janjiku sendiri, untuk menyapamu di setiap waktu yang ada. Mungkin yang menjadi sebab adalah keadaan kita yang sedang berjauhan. Bahkan mungkin semakin menjauh satu sama lain. Hingga, tidak ada kesempatan bagi kita untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain. Seperti halnya matahari yang penuh harap agar bisa bersanding dengan malam, nyatanya, itu hanya sebuah mimpi belaka. Tidak akan pernah terwujud. Begitu juga denganku, seorang laki-laki yang setiap waktu hanya bisa memupuk harapannya sendiri, sebuah harapan yang lebih dari hanya sekedar harapan agar mendapat kesempatan untuk bertatap wajah, namun juga, aku memupuk sebuah harapan agar dilain waktu ini dapat terwujud, kita jalani sisa hidup berdua, kita bangun rumah cita-cita kita bersama. Meskipun, mimpiku masih jauh dari harapan untuk terwujud, semoga hati yang kecil tetap tegar kuat seperti karang di lautan untuk menunggu waktu yang tepat, kapan takdir mencatatkan pertemuan dan persatuan kita dalam pernikahan. Amin.

Bulan, seharusnya kita sadar. Bahwa kita adalah manusia seutuhnya yang oleh Tuhan diberikan kuasa untuk berusaha mengubah takdir kita sendiri. Bulan, jika benar, kita adalah satu, aku harap, kita dapat berjuang bersama. Bukankah banyak orang yang pandai berkata, bahwa seharusnya diantara dua orang yang saling mencintai, maka keduanya harus memperjuangkan cinta mereka. aku telah berjalan jauh untuk menemukanmu, maka aku harap mendekatlah dengan keberadaanku, agar kita lekas bersua.

Tetapi, sebagaimana yang aku tulis diawal, meski kita berbeda dengan matahari maupun malam, senyatanya, kita juga masih memiliki kesamaan dengan mereka. perbedaan yang paling jelas, adalah matahari tidak akan pernah bertemu malam, namun, kita masih bisa bertemu, dan mengusahakan pertemuan itu. dan kesamaan yang kita miliki adalah keberadaan kita didunia adalah saling memberikan kebaikan hidup untuk sesama. Untuk itu bulan, sayangku, seyogyanya kita harus sadar dan sabar, bilamana pertemuan kita masih membutuhkan waktu yang begitu lama, saat ini yang harus benar-benar kita lakukan adalah memberikan dan menyediakan kebaikan hidup untuk orang lain. Bahwa hal itu adalah satu-satunya jalan terbaik bagi kita berdua, mengabdikan hidup sepenuhnya kepada sesama, sebelum akhirnya, suatu saat kita bertemu dan membangun rumah tangga kita. Berjuanglah bulan untuk kehidupan orang lain yang lebih baik.

Bulan, sebelum aku akhiri suratku, ketahuilah bahwa hanya engkaulah yang membuat waktuku tersita oleh angan yang menggambarkan segala tentangmu. Setiap saat dan setiap waktu, kecemasan hadir bersama rindu yang menggebu. Untuk itu, lekas balaslah suratku agar aku tak mati hanya karena tersiksa oleh cintaku sendiri.

Bulan, semoga engkau selalu dalam pelukan kasih dan sayang tuhan. Amin. 🙂

*Oleh : #RRI #RizkieMuxafier