Belum lama, bangsa indonesia yang mayoritas di huni oleh umat islam, telah merayakan moment pulang kampung secara serentak untuk merayakan hari raya lebaran di rumah masing-masing. Moment tersebut sesungguhnya telah memberikan kegembiraan yang luar biasa kepada segenap pihak. Mereka , para perantau sudah tak sabar untuk pulang ke kampung halaman, dan segera bergegas pergi untuk menikmati masa libur lebaran yang sebentar, dengan bertemu sanak keluarga dan kemudian berlibur bersama. Bukan hanya itu, kegembiraan yang lainnya juga di nikmati oleh para penduduk asli yang menempati daerah yang di tempati oleh para perantau. Mereka dapat menikmati suasana jalan yang sangat sepi, sehingga, mereka dapat merasakan kembali sebagai pemilik sah jalanan daerah tersebut.
Namun, dalam pembahasan kali ini, penulis tidak akan membahas soal rutinitas tahunan yang di rayakan oleh salah satu umat beragama yang ada di negara ini. akan tetapi, penulis berusaha untuk membahas terkait fenomena belakangan ini yang muncul menghiasi dunia perpolitikan tanah air kita.
Kita akan bicara soal DKI 1, dan siapa yang pantas?
Sebagaimana kisah manis yang pernah di lalui oleh bapak presiden kita, bapak joko widodo, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, lalu, mendapat durian runtuh sukses mengikuti Pemilu presiden, dan menjadi pemenang, melahirkan sebuah keyakinan baru bagi setiap orang, apapun status sosialnya, menjadikan DKI 1 sebagai tangga awal bagi setiap orang untuk menuju RI 1. Dan belakangan ini, begitu banyak orang yang berbondong-bondong mendeklarasikan dirinya menjadi bakal calon Gubernur DKI untuk memperoleh tampuk kekuasaan, sebagai tangga awal untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kursi RI 1.
Bahwa bicara soal Jakarta, secara umum kita menyepakati kita telah bicara indonesia. Segala aktifitas ekonomi, politik dan sebagainya, Jakarta telah merepresentasikan indonesia dengan sangat kuat. Lalu, bagaimana soal dinamika politik di ibukota?. Menjadi sebuah bahasan menarik jika kita mampu mengikuti perkembangan politik dengan baik. Saat ini, sebuah fenomena yang saya amati soal politik ibukota (tanpa berkompromi dengan media), tengah mengantar sebuah pesan demokrasi yang buruk. Fenomena lahirnya kepercayaan publik (yang di buktikan dengan pengumpulan KTP) terhadap seseorang yang di anggap mampu menjadi pemimpin yang berangkat bertarung dengan modal kepercayaan publik tanpa berafiliasi dengan partai, secara mengejutkan, memberi kabar yang sangat menyakitkan. Tersiar kabar, pemimpin yang tengah mendapat kepercayaan publik yang begitu tinggi, telah bersedia untuk balik bertarung dengan menggunakan partai sebagai kendaraan politiknya. Menurut hemat saya, mengapa ia balik ke pangkuan partai adalah sebuah keputusan yang di buat dengan pertimbangan yang matang. Ia sangat sadar selama menjalani masa pulang kampungnya (keluar dari partai politik), menemukan hambatan yang luar biasa untuk menyelesaikan program-program kerjanya selama menjadi orang nomor 1 di DKI. Atas pertimbangan tersebut, ia dengan tegas memutar balik keputusan politiknya, dengan memilih jalur partai sebagai kendaraannya untuk melenggang menuju DKI 1. Namun, begitulah politik, selamanya tidak akan pernah abadi untuk menjadi kawan maupun lawan. Sehingga, dalam suatu waktu, merupakan suatu hal yang sangat wajar, bilamana politik dapat menciptakan arus balik bagi pelaku politik untuk menuju kesuksesannya.
Akan tetapi, sebuah catatan di akhir tulisan ini adalah harus dapat di pahami dengan baik oleh para politisi kita. Bilamana politik dapat menciptakan arus balik bagi pelaku politik untuk menuju kesuksesannya, mereka pula harus mengingat, untuk dapat memahami gejala partisipasi publik soal politik yang setiap tahun mengalami penurunan. Oleh sebab itu, hal yang patut di sadari oleh para poitisi kita untuk meningkatkan partisipasi publik dalam bidang politik adalah (h)arus balik menjadi politisi yang mengutamakan kepentingan rakyat. Dan (h)arus balik menjadikan politik sebagai medan pertukaran ide untuk membangun kemajuan bangsa, bukan ribut dan gaduh soal bagi-bagi kue kuasa.
#BungLangit #RRI