Surat Ke-Lima Belas : “ Kesaksian Bulan Purnama “

Assalamualaikum bulan, bagaimana kabarmu?. Semoga kabarmu baik-baik saja, dan senantiasa dalam rengkuhan doa-doaku. Amin.

Bulan, maafkanlah aku, karena aku telah membuatmu menunggu cukup lama untuk kembali membaca surat-suratku. Membaca setiap rinduku yang berbaris memanjang menjadi kalimat-kalimat indah untuk menyatu menjadi senyawa didalam kamu punya jiwa. Bahwa rindu yang aku hantar, adalah partikel-partikel kecil yang kemudian menghidupkan kembali cinta yang aku punya didalam jiwa. Dan manusia harus membuktikan kemanusiaannya dengan menunjukkan rasa cinta kasihnya. Aku membuktikan itu, bulan.

Bulan, sepertinya, bulan November adalah menjadi bulan kebahagiaan semua orang. Hampir seluruhnya, merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Itu sangat jelas sekali, ketika dunia ini ramai dengan pemberitaan yang mewartakan sebuah fenomena alam Supermoon. Atau fenomena bulan purnama terbesar sepanjang sejarah dunia. Semua orang, hampir tanpa jeda, mengabadikan moment langka tersebut didalam dunia maya mereka masing-masing.

Namun, berbeda halnya dengan diriku. Bagiku, menyaksikan supermoon adalah sebagian daripada kebahagiaan kecilku. Sedangkan, kebahagiaan terbesar didalam hidupku ini, telah aku rasakan beberapa bulan yang lalu, saat Tuhan dan semesta memberi restu untuk perjuanganku melabuhkan kapal besarku yang seluruhnya memuat keyakinanku untuk memilihmu menjadi pelabuhan hatiku. Ya, tepat 2 bulan yang lalu, aku merasakan kembali kebahagiaan yang selama ini terkubur sendiri. aku masih sangat hafal setiap bagian dari kisah romantik yang aku lalui waktu itu. bahkan bukan hanya sekedar hafal, pun aku mengingatnya dengan utuh.

Ketika itu, aku tidak pernah menduga, bahwa niat baikku, oleh Tuhan dan semesta disambut dengan sangat baik. Bermula dari restu orang tua, yang mengijinkanku untuk menemuimu. Aku berangkat berjuang memperjuangkan apa yang sepenuhnya menjadi keyakinanku yang selama ini hidup didalam aku punya jiwa. Aku sempat grogi, maklum saja, bertahun-tahun aku hidup sendiri, memberikan dampak luar biasa bagi psikologisku. Aku tumbuh menjadi sedikit pemalu. Sesuatu yang tidak pernah aku duga, setiap doa yang aku panjatkan, mengantarkan segenap cinta kasihku kepada keyakinan untuk memilihmu, seseorang yang senyatanya selama ini tidak pernah aku sebut-sebut namanya. Sebab, mana mungkin aku berani menyebutkan namamu, paras wajahmu yang begitu cantik, persis seperti bulan purnama, dambaan semua lelaki, membuat aku sadar diri, memutuskan untuk menjauhimu saat itu, adalah keputusan yang terbaik. Dan, Tuhan senantiasa kembali memberikan kejutannya. Ia mengantarkan keyakinanku untuk memilihmu.

Lalu, setelah mendapat restu orang tuaku, aku berangkat menuju kotamu. Seperti yang aku ceritakan sebelumya, untuk memerangi rasa gugupku sendiri, sepanjang perjalanan, aku tidak pernah berhenti berpikir sembari melafalkan doa. Aku melakukannya, semata-mata untuk menyiapkan mentalku yang rasanya mudah gugur begitu saja. pun aku tidak melupakan, untuk menyapa pohon-pohon yang berbaris rapi di sepanjang perjalanan dari kotaku menuju kotamu. Sebab, pohon-pohon itulah yang menjadi saksi nyata perjuanganku. Ia yang akan menemani keberangkatanku, dan juga kepulanganku.

Tiba saat bertemu denganmu, sesuatu yang menjadi kekhawatiranku, benar-benar terjadi. Aku gugup. Tidak berkata-kata. Dalam pertemuan kita, aku hanya sanggup menjadi pendengar yang baik dan menjadi satu-satunya pengagum paras wajahmu dan tingkah manismu. Lalu, aku mencoba memberanikan diri, setelah berjam-jam kita menghabiskan waktu berdua, aku sampaikan maksud baikku menemuimu. Meski harus aku akui, aku sedikit gugup dan terbata-bata, aku ungkapkan juga perasaanku padamu. Saat itu, aku memahami keadaaanmu. Ketika engkau tidak memberikan jawaban secara langsung, terima atau menolak. Aku masih ingat, kala engkau memberikan sebuah syarat dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk memberikan jawaban. Aku mencoba menunggu, dan kemudian engkau memberikan jawaban saat hari dan tanggal telah berganti. Aku sangat bersyukur dengan jawaban yang engkau katakan, sangat menggembirakan aku punya hati. Saat itu, tepat saat bulan purnama yang menjadi saksi, engkau yang menjadi bulanku, mempercayakan seluruh cintamu kepada langitmu, yaitu diriku.

Dan kesemua keajaiban itu, adalah yang aku yakini atas peran Tuhan dan restu semesta.

Untuk mengakhiri suratku, Terimakasih bulan, karena telah menjadi inspirasiku.

#RizkieMuxafier #RRI

Kampung Bago : Rumah cita-cita

img-20161105-wa0034

Tepat beberapa ratus tahun yang lalu, sebuah peradaban baru lahir di sebuah desa kecil yang bernama BAGO. Seperti halnya desa-desa yang lain, suasana dan aroma khas pedesaan masih melekat kuat. Setiap siapapun mereka yang menetap atau mereka yang pernah berkunjung ke desa BAGO, akan sangat mudah untuk mengingat kembali setiap kenangan yang berlalu, seperti suara kicau burung yang merdu kala pagi hari, semilir angin yang berhembus penuh malu, pemandangan pelataran sawah yang hijau, lalu lalang dokar atau delman yang masih terlihat sibuk mengantar para pedagang dan pembeli ke pasar. Dan tentu, setiap orang tidak akan pernah lupa, bahwa di desa BAGO, kita akan melihat persembahan terindah dari karya pelukis Agung, sebuah lukisan Gunung yang bernama Argopuro akan membuat setiap orang yang melihat akan takjub dan terkesima. Sebab, berbeda halnya dengan gunung yang lain, Gunung Argopuro hanya dapat di lihat kala pagi menjelang, sesaat setelah hujan, dan sebelum malam datang.

Setelah melalui berlembar-lembar peradabannya, dimulai dari zaman kerajaan yang ditandai dengan peninggalan arca, zaman kolonial yang di tandai dengan dibangunnya pabrik gula yang saat ini hanya tersisa tungkunya saja, dan saat ini, memasuki zaman millennium, Desa Bago akan menulis kembali peradabannya yang baru. sebuah usaha untuk menghidupkan kembali aroma pedesaan yang sangat kental akan sifat-sifat kegotong-royongan. Salah satu nilai keindonesiaan yang saat ini, di setiap sudut ruang indonesia, semakin memudar saja. oleh sebab itu, kami, para pemuda yang tercerahkan oleh segenap kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok pegiat kampung yang terhimpun dalam JARINGAN KAMPUNG, akan menyelenggarakan sebuah pagelaran Seni Budaya yang tersaji didalam sebuah FESTIVAL KAMPUNG BAGO #1, yang sebelumnya, kegiatan semacam ini telah diselenggarakan juga oleh kampung-kampung yang bekerjasama dengan Jaringan Kampung. Kegiatan ini sangat diharapkan dapat menjadi magnet bagi masyarakat Bago untuk kembali menjadi satu kesatuan sebagai desa Bago yang mengupayakan kebaikan dan kesejahteraan hidup bagi sesama. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memancarkan semangat yang sama, kepada setiap kampung-kampung sekitar untuk kembali menghidupkan dan meneguhkan nilai-nilai kegotong-royongan guna menjaga kebaikan dan memperjuangkan kesejahteraan hidup sesama.

Untuk itu, satu hal yang menjadi kekuatan kami menyelenggarakan ini semua, FESTIVAL KAMPUNG BAGO, adalah sebab hidup di desa Bago yang berada di dataran tinggi, memberikan pula suatu kepercayaan yang sangat tinggi kepada kami. sebab, kami meyakini, Desa BAGO adalah sebuah rumah bersama yang sangat dekat dengan cita-cita. Mengapa demikian?. Letak desa bago yang berada di dataran tinggi, yang tampak pula dapat kita lihat pegunungan yang berbaris rapi, serta kokohnya Gunung Argopuro, menjadi sebuah pesan tersendiri yang dapat kita pahami sebagai bentuk keterkaitan antara DESA BAGO dengan cita-cita. Hal itu sangat tampak jelas, sebagaimana yang kita pahami, cita-cita selalu berada pada puncak-puncak tertinggi. Sehingga, didalam masing-masing diri kami memikul beban moral yang sama, yaitu mewarisi cita-cita. Oleh sebab itu,  segala hal yang bersangkut paut dengan cita-cita, harus di ikuti pula dengan upaya serta kerja keras untuk mewujudkannya. Dan satu-satunya yang kami yakini, untuk mewujudkan sebuah cita-cita adalah dengan bermodalkan pikiran, keberanian, kenekatan dan pengorbanan yang sebesar-besarnya. Dan sebuah keniscayaan bagi kami untuk mewujudkan itu semua, bilamana dapat kita pahami dengan baik sebuah filosofi gunung yang begitu kokoh berdiri, mengantarkan sebuah kepercayaan kepada kita untuk menjadi sosok manusia yang tangguh dan kuat didalam memperjuangkan segala cita-cita. Bahwa sekalipun badai datang menerjang dengan sangat kuat, sehingga menghambat perjalanan kita mencapai cita-cita, kita harus tetap ingat dan meneguhkan diri untuk tetap menjadi sebuah gunung yang kokoh berdiri, sampai pada suatu waktu, cita-cita kita terwujud.

Dan segala sesuatu yang telah kita perjuangkan hari ini, semoga menjadi cahaya yang terang bagi anak cucu kita kelak. Menjadikan mereka sadar, bahwa sejak dari lahir, masing-masing kita telah mewarisi cita-cita. Salah satunya adalah sebuah cita-cita luhur untuk tetap menjaga indonesia kita, dengan cara menjaga desa kita agar mampu merawat nilai-nilai keindonesiaan dan semangat kegotong-royongannya. Semoga pula, usaha ini dapat mengantar mereka memahami dan akan terus mereka ingat, bahwa lahir dan tumbuh besar di DESA BAGO, adalah sebuah kebanggaan yang harus tetap dipelihara, sebab DESA BAGO adalah Rumah cita-cita bersama, bagi mereka masyarakat Bago dan kepada seluruh masyarakat yang berada disekitar DESA BAGO. FESTIVAL KAMPUNG BAGO #1.

#KARGO(KomunitasArekBago)/(KomunitasRakyatGotongroyong)

#RumahSastraGandes (Guyub Among Ndeso)