Assalamualaikum bulan, bagaimana kabarmu?. Semoga kabarmu baik-baik saja, dan senantiasa dalam rengkuhan doa-doaku. Amin.
Bulan, maafkanlah aku, karena aku telah membuatmu menunggu cukup lama untuk kembali membaca surat-suratku. Membaca setiap rinduku yang berbaris memanjang menjadi kalimat-kalimat indah untuk menyatu menjadi senyawa didalam kamu punya jiwa. Bahwa rindu yang aku hantar, adalah partikel-partikel kecil yang kemudian menghidupkan kembali cinta yang aku punya didalam jiwa. Dan manusia harus membuktikan kemanusiaannya dengan menunjukkan rasa cinta kasihnya. Aku membuktikan itu, bulan.
Bulan, sepertinya, bulan November adalah menjadi bulan kebahagiaan semua orang. Hampir seluruhnya, merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Itu sangat jelas sekali, ketika dunia ini ramai dengan pemberitaan yang mewartakan sebuah fenomena alam Supermoon. Atau fenomena bulan purnama terbesar sepanjang sejarah dunia. Semua orang, hampir tanpa jeda, mengabadikan moment langka tersebut didalam dunia maya mereka masing-masing.
Namun, berbeda halnya dengan diriku. Bagiku, menyaksikan supermoon adalah sebagian daripada kebahagiaan kecilku. Sedangkan, kebahagiaan terbesar didalam hidupku ini, telah aku rasakan beberapa bulan yang lalu, saat Tuhan dan semesta memberi restu untuk perjuanganku melabuhkan kapal besarku yang seluruhnya memuat keyakinanku untuk memilihmu menjadi pelabuhan hatiku. Ya, tepat 2 bulan yang lalu, aku merasakan kembali kebahagiaan yang selama ini terkubur sendiri. aku masih sangat hafal setiap bagian dari kisah romantik yang aku lalui waktu itu. bahkan bukan hanya sekedar hafal, pun aku mengingatnya dengan utuh.
Ketika itu, aku tidak pernah menduga, bahwa niat baikku, oleh Tuhan dan semesta disambut dengan sangat baik. Bermula dari restu orang tua, yang mengijinkanku untuk menemuimu. Aku berangkat berjuang memperjuangkan apa yang sepenuhnya menjadi keyakinanku yang selama ini hidup didalam aku punya jiwa. Aku sempat grogi, maklum saja, bertahun-tahun aku hidup sendiri, memberikan dampak luar biasa bagi psikologisku. Aku tumbuh menjadi sedikit pemalu. Sesuatu yang tidak pernah aku duga, setiap doa yang aku panjatkan, mengantarkan segenap cinta kasihku kepada keyakinan untuk memilihmu, seseorang yang senyatanya selama ini tidak pernah aku sebut-sebut namanya. Sebab, mana mungkin aku berani menyebutkan namamu, paras wajahmu yang begitu cantik, persis seperti bulan purnama, dambaan semua lelaki, membuat aku sadar diri, memutuskan untuk menjauhimu saat itu, adalah keputusan yang terbaik. Dan, Tuhan senantiasa kembali memberikan kejutannya. Ia mengantarkan keyakinanku untuk memilihmu.
Lalu, setelah mendapat restu orang tuaku, aku berangkat menuju kotamu. Seperti yang aku ceritakan sebelumya, untuk memerangi rasa gugupku sendiri, sepanjang perjalanan, aku tidak pernah berhenti berpikir sembari melafalkan doa. Aku melakukannya, semata-mata untuk menyiapkan mentalku yang rasanya mudah gugur begitu saja. pun aku tidak melupakan, untuk menyapa pohon-pohon yang berbaris rapi di sepanjang perjalanan dari kotaku menuju kotamu. Sebab, pohon-pohon itulah yang menjadi saksi nyata perjuanganku. Ia yang akan menemani keberangkatanku, dan juga kepulanganku.
Tiba saat bertemu denganmu, sesuatu yang menjadi kekhawatiranku, benar-benar terjadi. Aku gugup. Tidak berkata-kata. Dalam pertemuan kita, aku hanya sanggup menjadi pendengar yang baik dan menjadi satu-satunya pengagum paras wajahmu dan tingkah manismu. Lalu, aku mencoba memberanikan diri, setelah berjam-jam kita menghabiskan waktu berdua, aku sampaikan maksud baikku menemuimu. Meski harus aku akui, aku sedikit gugup dan terbata-bata, aku ungkapkan juga perasaanku padamu. Saat itu, aku memahami keadaaanmu. Ketika engkau tidak memberikan jawaban secara langsung, terima atau menolak. Aku masih ingat, kala engkau memberikan sebuah syarat dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk memberikan jawaban. Aku mencoba menunggu, dan kemudian engkau memberikan jawaban saat hari dan tanggal telah berganti. Aku sangat bersyukur dengan jawaban yang engkau katakan, sangat menggembirakan aku punya hati. Saat itu, tepat saat bulan purnama yang menjadi saksi, engkau yang menjadi bulanku, mempercayakan seluruh cintamu kepada langitmu, yaitu diriku.
Dan kesemua keajaiban itu, adalah yang aku yakini atas peran Tuhan dan restu semesta.
Untuk mengakhiri suratku, Terimakasih bulan, karena telah menjadi inspirasiku.
#RizkieMuxafier #RRI
