Surat Ke-Enam belas : Rindu Adalah Keresahan

Assalamualaikum Bulan?

Bagaimana kabarmu? Semoga segala kebaikan dan keselamatan selalu tertuju kepadamu. Amin.

Bulan, maafkanlah diriku, atas ketidaksanggupanku menjaga janjiku sendiri. untuk yang kesekian kalinya, aku mengingkari janji yang aku buat sendiri. aku berjanji untuk mengirimimu surat-surat setiap 2 (dua) minggu sekali, namun, dengan mudahnya, aku mengingkari itu. semoga kau tidak resah dengan itu semua. Sebab, meskipun tidak seperti biasanya, aku mengirimimu surat-surat tentang keadaaanku, aku sampaikan, bahwa kabarku selama ini baik-baik saja. kabarku, kabar cintaku masih hidup abadi dirumah hati kecilmu itu.

Bulan, ada sesuatu yang begitu mengganggu hati dan pikiranku. Didalam perbedaan aktifitas yang kita jalani saat ini, dalam rentang jarak berpuluh kilometer nun jauh yang memisahkan pertemuan kita, membuat kita saling berjauhan dan seringkali menunda waktu untuk berjumpa dalam suatu pertemuan. Aku merasa ini sangat berat sekali untuk kita jalani. Bukankah didalam kebiasaannya, kita harus menjaga hubungan dan merawatnya dengan pertemuan-pertemuan untuk memupuk rasa cinta didalam diri kita masing-masing. Tetapi, inilah ketulusan yang kita coba tunjukkan, mengapa akhirnya kita jatuh cinta satu sama lain? Meskipun kita tahu, kita harus menyiapkan hati yang lapang, sebab, kita harus berkorban besar untuk penundaan-penundaan pertemuan kita. Pertemuan-pertemuan yang biasa dilakukan didalam menjalin hubungan, menurut banyak orang adalah salah satu tonggak terutama untuk menjaga keharmonisan hubungan. Apakah cinta hanya mengisahkan soal itu saja?. kita menjawabnya dengan pilihan yang kita jalani saat ini, yaitu menunda sementara untuk selalu bersama. Sebab, hubungan yang kita jalani saat ini adalah merupakan bagian kecil dari keseriusan kita untuk membina hubungan yang lebih serius lagi. Oleh sebab itu, sebelum hubungan yang serius didalam ikatan yang sah itu, kita memiliki keterikatan pada kewajiban dan tanggung jawab yang kita pikul dipundak kita. Dan kita, sadar akan kewajiban itu. Lagipula, menjalani hubungan dengan kerapkali bertemu, tidakkah sedikit menghilangkan warna yang indah didalam suatu hubungan?. Ya, kita akan mengorbankan satu warna hilang didalam suatu hubungan, bila seringkali kita bertemu setiap waktu. lalu, apakah yang aku maksud dengan warna yang indah itu yang seringkali dilupakan oleh banyak pasangan?. Rindu. Ya, hanya rindulah yang lahir bilamana kita seringkali tidak menunda waktu bertemu. Pun kita sangat tegar memeluk rindu itu, dalam dekap jarak dan waktu yang memisahkan.

Tapi, bulan, meski kita jarang berjumpa didalam pertemuan, bagiku bukanlah sebuah masalah. Kita sudah terbiasa memupuk rindu ini didalam diri masing-masing. Akan tetapi, kali ini rindu yang aku rasakan adalah keresahan-keresahan yang hidup didalam hati dan pikiranku sendiri. aku tiada mengerti mengapa kali ini rindu menjelma menjadi keresahan-keresahan?. Aku begitu resah dan khawatir dengan keadaanmu. Apakah engkau disana baik-baik saja? atau sedang dalam keadaan seorang diri menyelesaikan masalah-masalahmu? Bila itu benar-benar terjadi, engkau seorang diri menyelesaikan masalah-masalahmu, aku merasa bahwa aku bukanlah lelaki yang tepat yang harus engkau pilih menjadi teman hidupmu. Oleh sebab itu, tuntunlah aku menjadi lelaki yang tepat untuk engkau pillih menjadi teman hidupmu. Segera beri aku kabar, bila engkau seorang diri dalam menyelesaikan masalah-masalahmu. Aku tidak berharap rinduku benar-benar menjelma menjadi keresahan-keresahan dan kekhawatiran. Panggilah diriku, panggilah segenap jiwaku untuk pulang melunasi rinduku. Aku ingin lebih dekat denganmu, menemanimu dalam waktu yang sebentar itu, agar tiada masalah yang menjadi beban dipundakm. Berbagilah denganku. Semoga kau tahu bulan, semoga rindu benar-benar bukanlah soal keresahan-keresahan yang aku rasakan. Sebab, rindu yang hidup karena ruh-ruh keresahan itu, dapat membunuh jiwaku kapan saja.

Bulan, aku akhiri suratku dengan harapan agar engkau segera memberiku kabar, dan baik-baiklah disana.

Wassalam,

dari langitmu yang resah akan kegelapan dunianya

#RizkieMuxafier #RRI

Surat Perjuangan : Kebenaran dan Kejujuran

Saya hampir tidak menyangka, mengapa saya begitu berani menulis surat ini. Hal ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, sebab, didalam saya punya jiwa, bersemayam sebuah keyakinan yang tertanam begitu kuat, bahwa menjadi seorang anggota didalam rumah yang disesaki pemikiran bung karno, terutama tentang pemikirannya yang sangat tegas membahas soal segala usaha untuk membangun atau berkarya tentang apapun, yang terutama harus berlandaskan semangat kerjasama yang kokoh, menjadikan gotong-royong sebagai ruh yang senantiasa menghidupkan dan mengobarkan semangat didalam diri kita agar tiada pernah menghentikan langkah untuk berhenti berjuang mewujudkan cita-cita kita bersama, sosialisme indonesia.

Namun, sebagian dari kita, mungkin juga termasuk saya pribadi, belum mampu mengamalkan dengan baik gotong-royong tersebut. Ruh yang hidup dalam nafas perjuangan kita, tidak pernah kita amalkan dengan baik. Gotong-royong hanya menjadi teori yang menguap didalam otak kita masing-masing. Dan tiada pernah menjelma didalam karya hidup kita sehari-hari.

Saat ini, saya berada di depan pintu keputusasaan. Saat saya berjumpa dengan sebuah keadaan, seluruh orang-orang yang memiliki peranan penting didalam rumah kami, mereka telah pergi tanpa kabar. Didalam hari-hari yang harus saya jalankan, saya hanya ditemani oleh salah seorang pemimpin kami. Terkadang, ada juga salah seorang kawan membantu, mengusahakan agar segeranya dapat kembali membaik. Ia memiliki status yang sama dengan saya, menjabat sebagai pembantu. Namun, kabarnya lagi tidak terdengar, saya menghadapi masa-masa yang sangat sulit kembali. Berjuang hanya berdua dengan salah seorang pemimpin yang didalam jiwanya tiada memiliki keberanian. Saya semakin dalam keadaaan sulit. Bagaimana mungkin saya sanggup memutuskan sesuatu, sedangkan pemimpin saya tiada memiliki keberanian untuk bertanggung jawab seutuhnya?. Saya memahami mengapa ia memiliki ketakutan seperti itu. Sejak ditinggalkan oleh rekannya, yang memiliki jabatan yang hampir sama dengannya tersebut, pemimpin yang biasa saya temani dalam kesehariannya ini semakin merasa takut untuk memutuskan sesuatu. Wajar saja, bahwa salah satu tonggak yang hidup didalam rumah kita, adalah mengharuskan segala sesuatunya harus diputuskan berdasarkan hasil musyawarah mufakat bersama. Dan inilah yang menjadi penyebab, ia semakin takut untuk memutuskan itu.

Saya merasa semakin dekat dengan pintu keputusasaan. saya yang tiada memiliki peran yang sangat kuat untuk memutuskan sesuatu, mengantar diri saya menuju suatu keadaan yang sangat membingungkan. Bagaimana saya harus menyelesaikan segala masalah jika keadaaanya demikian?. Ruh Gotong-royong telah mati. Tidak ada kawan yang tersisa untuk diajak bergotong-royong dengan urun pikiran. Tidak ada kawan yang tersisa untuk diajak bergotong-royong dengan segenap tenaga. Saya tidak tahu, sampai kapan waktu akan menjamin kepercayaan diri pemimpin yang biasa saya temani itu menguat kembali. Pun saya tidak tahu, sampai kapan pemimpin kami yang lain, akan datang dan pulang ke rumah dengan kabar yang membahagiakan, bahwa ia tidak akan pergi sekehendak hatinya saja, sebab, menurut saya, seorang pemimpin adalah lambang dari sebuah rumah yang kita tinggali bersama. Sedangkan, jabatan seorang pembantu, sangat memiliki keterbatasan untuk memutuskan sesuatu yang sangat penting. Ini menjadi tanggung jawab 2 (dua) pemimpin kami sebagai lambang dari rumah yang telah kita tempati bersama.

Terkadang, saya juga heran dengan seluruh anggota yang menetap didalam rumah besar ideologi marhaenisme. Mengapa kita tidak resah dengan keadaan ini?. Menjalani kehidupan sehari-hari tanpa adanya pemimpin. Saya tidak mengerti, mengapa pula keadaan ini kita diamkan dan kita terima begitu saja. Rumah yang ditinggalkan oleh pemimpinnya, samasekali bukanlah sebuah masalah. Kita berusaha dengan cara yang lain, berharap rumah yang telah berpuluh tahun tegak berdiri, senantiasa tanpa lelah kita perjuangkan agar tetap kokoh berdiri. Meskipun, pilihan ini, menurut saya adalah sebuah keputusan yang kurang sempurna. Sebab, kita masih mendiamkan seseorang yang diamanahi tanggung jawab, sekaligus juga merupakan seorang pemimpin tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Bukankah dahulu pernah kita pelajari, bahwa siapapun yang memiliki tanggung jawab namun tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan tanpa adanya kejelasan kabar, sudah seharusnya mendapatkan kritikan dari siapapun atas kinerjanya selama ini. lalu, mengapa hal ini kita diamkan dan seolah-olah memberikan perlindungan kepada seseorang yang tidak amanah tersebut?. Apakah pelajaran-pelajaran yang selama ini kita terima dari kerasnya jalanan saat berdemonstrasi belum memberikan pengsadaran dan pencerahan?. Bukankah hal tersebut, dipicu oleh ketidaksepakatan kita atas kinerja pemimpin-pemimpin kita selama ini?. sehingga, mengharuskan kita turun jalan dan mengkritik mereka, hingga berani mengancam jabatannya bila tidak sanggup menjalankan tugas dengan baik?.

Saya tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang, bilamana kita tidak pernah sanggup bertindak atas kebenaran dan menyuarakan kejujuran yang kita yakini selama ini. sebab, didalam perjuangan, kita memerlukan keduanya, kebenaran dan kejujuran. Bila kedua hal tersebut telah terpenuhi, didalam waktu yang tidak begitu lama, kita secara bersama-sama dapat mewujudkan cita-cita.

#BungLangit #RRI

PEMUDA : PELOPOR GOTONG ROYONG

Malam itu, saya menjadi saksi bisu kerja keras dari kawan-kawan kami dalam menyiapkan sebuah acara pagelaran budaya yang telah berhasil kami selenggarakan pada bulan lalu. Semilir angin yang berhembus menusuk tubuh, tidak mampu menghentikan laju darah perjuangan yang mengalir deras menemani perjalanan kami mencapai cita-cita, Festival Kampung Bago Pertama. Beberapa orang berkumpul di lokasi yang kami pilih untuk terselenggaranya acara. Setiap orang memiliki tugasnya masing-masing. Saat itu, setelah beberapa kelengkapan acara telah dipersiapkan sebelumnya, malam itu, kami bersiap-siap mendekorasi panggung dengan seadanya. Bambu-bambu hasil dari sumbangan rekan yang memiliki pepohanan bambu telah disiapkan. Kawat untuk menjadi pengikat, telah tersedia. Serta beberapa kebutuhan juga telah dipersiapkan dengan baik. Semua telah bersiap, kami memulai mengerjakan dekorasi panggung. Alhasil, sebuah backdrop alami yang sangat besar terpampang. Seluruh panitia yang hadir saat itu, dapat menyaksikan langsung sebuah karya megah backdrop berbahan alam, hasil dari gotong-royong bersama.

Kisah tersebut hanyalah bagian dari seluruh cerita yang tidak sanggup penulis tuliskan secara utuh. Banyak keseruan, banyak kesedihan, banyak kenangan yang oleh kawan-kawan panitia alami selama proses persiapan berlangsungnya acara hingga selesai acara. Berbagai macam proses negosiasi kami lalui. Bernegosiasi dengan pemerintah desa agar berkenan membantu dalam menutupi kekurangan dana. Bernegosiasi dengan instansi pendidikan, dan masyarakat, agar berkenan untuk menyumbangkan kekretifitasannya pada acara festival kampung tersebut. Dan bernegosiasi dengan segenap tamu undangan yang secara sukarela didalam kesehariannya mengabdikan hidupnya untuk tetap melestarikan budaya moyang. Setiap proses yang kami lalui, memberikan pelajaran yang sangat berarti.

Ada sebuah fakta yang menarik yang kami dengar sebelumnya. Bahwa ide yang serupa dengan kegiatan kami, telah bergulir sejak lama. Para kelompok orang tua, juga memiliki keinginan yang sama terhadap berkembangnya desa yang kami cintai bersama ini dengan ragam aktifitas yang memberikan perubahan yang lebih baik kepada masyarakat. Salah satunya dengan membuat sebuah acara yang berkaitan erat dengan pembahasan sejarah yang ada didesa Bago, termasuk beberapa arca yang ditemukan disalah satu dusun yang ada didesa Bago. Tujuan dilaksanakannya acara tersebut oleh kelompok orang tua adalah semata-mata untuk memberikan pelajaran kepada generasi muda, salah satu kehebatan desanya adalah pewarisan salah satu peninggalan dari kerajaan besar di nusantara.

Namun, ide tersebut hanya hidup didalam angan-angan saja. ide yang didambakan tidak dapat menjelma berwujud menjadi sebuah kenyataan. Kelompok tua menerima kegagalannya, sebab, ide tersebut tidak pernah terwujud. Mungkin saja, hal tersebut dipengaruhi oleh perilaku yang ditunjukkan oleh kelompok tua yang selama ini cenderung sangat senang berkonflik. Sehingga, mereka selalu gagal untuk memberikan yang terbaik bagi Desa yang mereka tinggali tersebut.

Akan tetapi, sungguh beruntung Desa kami. Para pemuda yang tinggal di Desa Bago bahkan ada beberapa orang pemuda diluar dari desa kami telah membantu mewujudkan ide dari kelompok tua tersebut yang merupakan bagian dari ide besar dari kelompok pemuda. Meskipun sedikit mengalami kebingungan bagaimana harus mewujudkan ide tersebut. Dengan sedikit mendapat arahan dari orang-orang yang berpengalaman, akhirnya darah muda mengalir ke sekujur tubuh dengan membawa segenap optimisme serta keyakinan diri yang sangat luar biasa, bahwa kami kelompok muda dapat menyelesaikan segenap hambatan ini dengan baik. Lalu, mensukseskan acara festival kampung Bago dengan sebaik-baiknya. Optimisme yang hidup didalm diri pemuda, selalu melahirkan jalan-jalan baru yang lebih memudahkan pemuda mewujudkan cita-citanya. Akhirnya, jalan itu terbuka. Pemuda dengan penuh keyakinan mengambil langkah, untuk kembali bergotong-royong. Dengan dana yang terbatas, perlengkapan yang belum terpenuhi, pemuda mensiasatinya dengan mewajibkan bagi siapa saja yang hendak menyumbangkan kepunyaannya. Secara satu persatu, panitia menyampaikan kesanggupan untuk menyumbangkan kepunyaannya. Atau, bilamana tidak ada yang disumbangkan, panitia tersebut menyumbangkan tenaga dan pikirannya. Alhasil, seluruh perlengkapan telah tersedia. Para pengisi tamu telah siap menghibur. Akhirnya, untuk pertama kali, di tahun 2016, Desa Bago dapat menyenggarakan Festival Kampung Bago pertama yang dipelopori oleh semangat kegotongroyongan yang ditunjukkan oleh kelompok muda. Semangat gotong royong tersebut tetap membara sampai menjelang akhir tahun, sebab, dimalam pergantian tahun, anak-anak muda gila tersebut, yang dengan sedikit modal akan mempertunjukkan kegilaannya kembali, dengan mengadakan acara sik-musikan. Sebuah usaha untuk mengubah kebiasaan perayaan malam pergantian tahun di kota, kini, harus berpindah tempat, menikmati perayaan malam pergantian tahun di rumah sendiri, di desa tercinta, Desa Bago.

#BungLangit #RRI

Nabi Muhammad SAW di gubuk miskin

Didalam beberapa tahun ini, sesaat usia menjemput masa tua, segenap manusia yang ada dimuka bumi juga sedang menjemput kehancurannya. Atas nama kekuasaan dan keserakahan, segala macam cara akan dilakukan guna mencapai kekuasaan dan memenuhi nafsu serakah yang berserakan. Salah satu hal yang paling sering dilakukan adalah bertindak dengan mengatasnamakan agama. Betapa sangat memukul hati nurani, didalam bulan yang senyatanya sangat kita muliakan, kita menyaksikan beberapa perilaku yang mengatasnamakan islam, namun, tidak memberikan keselamatan bagi segenap penghuni dimuka bumi.

Lalu, apakah yang saya maksud dengan bulan yang begitu mulia tersebut?

Barangkali sebagian diantara muslim belum memahami, bahwa di bulan desember ini (tahun masehi), bertepatan juga dengan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah SWT sebagai satu-satunya makhluk yang mendapat kepercayaan langsung dari Tuhan untuk menyiarkan islam sebagai agama yang memberikan keselamatan dan merupakan rahmat bagi semesta alam. Apakah kalian masih meragukan bahwa bulan ini adalah bulan yang mulia?.Bukankah nikmat saat ini, ketika kita sampai di zaman yang terang benderang adalah karena Nabi Muhammad SAW. Sehingga, adalah sebuah kewajaran bilamana orang islam, setidaknya bersandar pada 2 (dua) prinsip dasar, yaitu Al-qur’an dan Hadist. Segala hal yang menyangkut perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW adalah disebut dengan hadist.

Namun, dalam hal ini, sebelum memasuki pergantian tahun, penulis hendak menuliskan sebuah pemikiran yang menjadi refleksi bersama atas beberapa peristiwa yang terjadi dalam setahun terakhir ini, topik-topik tentang agama islam yang seringkali tidak pernah surut menghiasi layar kaca dan media sosial adalah daya tarik tersendiri bagi umat muslim untuk secara berkelanjutan agar tetap istiqomah didalam usaha-usaha memperbaiki diri menuju insan yang bertaqwa. Hal ini disebabkan, penulis menganggap bahwa ini bagian dari tanggung jawab sebagai seorang muslim untuk mensyiarkan agama islam yang memberikan keselamatan dan rahmat bagi semesta alam. Dan mohon maaf bagi pembaca, bahwa didalam tulisan ini, para pembaca yang budiman tidak akan pernah menemukan kutipan Al-qur’an dan Hadist, sebab, penulis tidak punya kompetensi untuk membahas soal itu.

Beberapa peristiwa yang terjadi didunia seperti pembungihangusan kota Aleppo yang menewaskan seluruhnya umat islam, berjihad atas nama islam dengan membom beberapa pusat-pusat keramaian, hingga sebuah aksi yang terjadi ditanah air, dengan mengatasnamakan islam, sekelompok orang melakukan aksi sweeping di beberapa pusat perbelanjaan untuk melarang pegawai muslim memakai atibut yang biasa digunakan oleh pemeluk agama non islam menjelang perayaan hari keagamaan mereka. Aksi ini dilakukan disebabkan oleh fatwa yang diputuskan oleh MUI terkait pelarangan pegawai muslim untuk mengenakan atribut-atribut yang biasa dikenakan oleh pemeluk non islam.

Atas beberapa peristiwa tersebut, senyatanya merupakan kabar yang sangat menyedihkan. Jihad yang sedang mereka lakukan, sebagaimana beberapa contoh peristiwa diatas adalah merupakan sebuah perbuatan yang tidak mencerminkan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang penulis kemukakan diawal tadi, bahwa salah satu penyebab mengapa agama islam yang melalui perantara Nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Lalu, bagaimana memahami rahmat yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW dan dikehendaki oleh Allah SWT?. Untuk menjawab itu, semoga cerita yang penulis sampaikan dapat memberikan hikmah bagi para pembaca.

Di bulan yang sangat kita muliakan ini, penulis memiliki sebuah cerita yang penulis dengar langsung dari narasumber. Seorang ibu itu berkata, “ Nak, semalam ibu datang ke sebuah acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh warga. Sesuatu yang membuat ibu bersedih hati adalah peringatan maulid Nabi itu diselenggarakan secara bersama-sama oleh mereka yang serba kekurangan. Diantara para penyelenggara itu, ibu berkunjung ke salah satu rumah diantara mereka. Betapa hati ibu semakin bersedih, ketika melihat rumah yang mereka tempati, sangatlah tidak layak untuk ditempati. Akan tetapi, ibu sangat memuji dengan luar biasa, untuk memberikan penghormatan dan berharap syafaat baginda Nabi Muhammad SAW, para penyelenggara maulid Nabi meskipun dalam keadaan serba kekurangan, mereka masih tetap mampu mengadakan kegiatan maulid Nabi.”

Didalam kisahnya itu, sebagaimana yang pernah saya dengar dari pendapat alim ulama, bahwa ketika memperingati maulid Nabi, Baginda Agung juga hadir didalam acara tersebut. Nabi Muhammad SAW tetap hadir berkunjung ke gubuk miskin. Sebagaimana hal ini juga seringkali beliau lakukan semasa hidupnya. Hal tersebut dapat kita temukan didalam beberapa hadistnya, bahwa Nabi Muhammad SAW selalu berbicara lantang untuk memperjuangkan nasib kaum miskin. Beliau berada digaris terdepan untuk memperjuangkan hal tersebut.

Oleh sebab itu, sebelum berganti tahun, dibulan yang sangat mulia ini, sepatutnya kita merefleksikan kembali dengan sebaik-baiknya, untuk meneladani salah satu sikap Nabi Muhammad SAW yang memperjuangkan nasib kaum miskin. Dengan salah satu caranya adalah kita berada ditengah-tengah mereka, hidup dibarisan mereka, agar para kaum miskin mendapatkan hak-haknya, serta mendapatkan perlakuan yang memanusiakan dari aturan yang dibuat sewenang-wenang oleh para pemilik modal. Bukankah hal tersebut merupakan jihad yang sebenar-benarnya diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada generasi selanjutnya? Masihkah jihad yang kita lakukan hanyalah sebatas pada permukaannya saja? Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan islam dengan memboikot agar tidak membeli salah satu produk perusahan atau melarang pegawai muslim memakai atribut yang biasa dikenakan oleh pegawai non islam? Apakah hal yang demikian yang disebut islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam?. Untuk meyakini islam sebagai rahmat bagi semesta alam, ialah pembuktiannya ketika seluruh makhluk dimuka bumi, terutama makhluk yang bernama manusia mendapatkan kebaikan dan keuntungan dari jihad yang kita lakukan. Sebagaimana jihad yang secara berkelanjutan oleh Nabi Muhammad SAW wariskan kepada kita. Yaitu, memperjuangkan nasib kaum miskin yang sampai saat ini masih menetap didalam gubuknya yang reyot itu. Atau para pekerja yang belum mendapatkan perlakuan yang adil.

#BungLangit #RRI

(andai) Bergotong-royong?

Dewasa ini, kita akan mengalami peperangan yang begitu dahsyat. Sebuah perang mahadashyat yang sejak beberapa puluh tahun lalu, telah tersusun dan tersistem dengan sangat baik. Sehingga, didalam waktu dekat, kita akan menjumpai perang itu pada titik puncak, yang akan menghancurlemburkan kita punya kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan kepribadian budaya. Atau jalan panjang kita menuju masyarakat adil dan makmur yang sering kita sebut Trisakti itu, hanya akan tercatat sebagai bagian dari kebesaran sejarah sebuah bangsa yang pernah melahirkan sosok pemikir, seperti soekarno. Oleh sebab itu, perang ini lebih sangat menyeramkan, daripada sebuah perang antar bangsa yang didalam sejarahnya itu, tercatat telah berhasil memporak-porandakan dunia beserta isinya. Apakah perang yang saya maksudkan itu?. apakah saudara dapat memahami perkataan saya tersebut?. Jikalau saudara belum memahaminya, maka sudilah kiranya, saudara membaca karangan ini sampai selesai. Dan sebaiknya, tinggalkan segala egoism yang hidup di dalam jiwa saudara, agar saudara punya jiwa tidak mudah berpenyakit sehingga didalam mehamami tulisan ini, saudara dengan keleluasan hati dapat insyaf dan sadar agar sesegera mungkin saudara tergerak untuk mengamalkannya.

* * * * *

Sebelum saya memberikan jawaban atas pertanyaan saya yang di awal tadi, mari kita kembali sejenak ke suatu masa, awal mula seluruh sistem mulai tersusun dengan baik dan sanggup bertahan hingga saat ini. beberapa puluh tahun lalu, saat bangsa ini memulai menggencarkan pembangunan, seluruh masyarakat bersorak sorai, mereka punya jiwa bergembira. Mereka mulai meyakini, bahwa tidak lama lagi, masa depan bangsa akan lebih cerah. Bagaimana mungkin mereka tidak mempercayai dashyatnya mantra sakti yang bernama pembangunan itu? sedangkan dihadapan mereka, banyak gedung-gedung megah mulai dibangun. Pabrik-pabrik mulai dibangun. Masyarakat mendapatkan sumber penghasilan baru dengan memilih bekerja di pabrik-pabrik. masyarakat mulai bergerak, beralih dari bertani menjadi buruh pabrik. Dengan adanya sebuah kepastian pendapatan yang di terima setiap bulannya, menyebabkan banyak masyarakat yang semakin yakin untuk beralih menjadi seorang buruh pabrik daripada menjadi petani. Hal ini menjadi penyebab terutama meningkatnya permintaan kerja, namun, penawaran kerja tetap pada angka yang sangat rendah. Dengan demikian, karena tidak sanggupnya sebuah perusahaan menangani permasalahan yang sangatlah rumit ini, kemudian, perusahaan-perusahaan yang ada memberlakukan sebuah aturan baru bagi setiap pelamar kerja dengan mensyaratkan adanya bukti otentik ijazah sebagai bukti kelulusan seorang pelamar kerja dari sebuah jenjang pendidikan. Dan oleh sebab keadaan demikian ini, lembaga pendidikan menjadi ramai peminat. Tentu, tujuan terutama dari mereka adalah untuk mengejar selembar kertas yang bertuliskan ijazah. Agar kelak ketika mereka lulus dari sebuah jenjang pendidikan, sebuah pekerjaan baru juga telah menunggunya.

Pada saat keadaan yang demikian itu, wajah dan sistem pendidikan kita merubah haluannya. Pendidikan yang terdahulu diadakan sebagai alat perjuangan untuk memerdekakan setiap manusia dari segala bentuk penjajahan, kini, ia hanya menjadi sebuah alat untuk mencetak pekerja-pekerja baru dengan standart yang sama. Bahkan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada itu adalah aturan sistem pendidikan kita yang mengharuskan masing-masing individu berkompetisi antara yang satu dengan yang lainnya. Sebuah sistem yang sangatlah menjunjung tinggi kepentingan individu, daripada kepentingan sosial. Menempatkan hak individu diatas segalanya, dan mengesampingkan rasa kepemilikan sosial. Pada akhirnya, sistem ini berdampak pada penciptaan kelas-kelas sosial yang baru, yang mengakibatkan adanya jarak diantara masyarakat kita sendiri. Hal ini menjadi sebuah ancaman besar bagi nilai-nilai kehidupan yang kita pegang teguh selama ini. Nilai kegotong-royongan, nilai bahu-membahu yang kelak di kemudian hari akan menghadapi kehancurannya. Nilai gotong-royong yang dihidupi oleh nafas kesadaran bersama, diatas segalanya adalah rasa kepemilikan sosial, dalam waktu yang tidak begitu lama akan menemui kehancurannya. Disamping itu, nilai gotong-royong yang sangat menjunjung tinggi nafas kebersamaan, tidak pernah memberikan jarak dan ruang diantara masyarakat itu sendiri. sehingga, sangatlah nyata, gotong-royong begitu menjunjung tinggi untuk kerja bersama tanpa memberikan jarak diantara mereka yang memegang teguh gotong-royong sebagai prinsip hidup.

Betapa kenyataan itu harus kita terima dengan pahit, bahwa bangsa kita sejak berpuluh tahun lalu telah merawat sebuah sistem pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal bangsa kita berhadapan dengan kehancurannya sendiri. Sebab, sistem pendidikan kita yang telah berjalan berpuluh tahun lalu itu, sangat memberikan ruang yang luas bagi perorangan untuk menjunjung tinggi kepentingan-kepentingannya daripada menjunjung tinggi rasa kepemilikan sosial. Sehingga, dapatlah kita maklumi, bila sekarang ini, bangsa kita hanya melahirkan orang-orang cerdas namun begitu jauh dengan kehidupan sosialnya. Pada kenyataan ini, senyatanya saudara dapat memahami apakah perang yang saya maksud dimuka tadi?. ya, sebuah perang yang mahadahsyat akan menimpa bangsa ini. ketika orang-orang yang cerdas itu yang tiada memiliki kebaikan hati, hanya akan menjadi sekelompok orang yang merampas dan menjadi penjajah yang lebih kejam daripada bangsa penjajah itu sendiri. mereka yang dengan kecerdasannya itu, akan memperalat orang-orang yang tiada memiliki pencerahan pengetahuan dengan pembodohan dan penipuan.

Lalu, mengapa saya menyebutnya ini sebagai sebuah perang yang amat dahsyat? Kita harus mengakui ini secara insyaf dan sadar, bahwa banyak diantara saudara kita sendiri yang mencari keuntungan di tanah surga yang menjadi rahmat bagi seluruh bangsa yang hidup di indonesia. Perang yang amat dahsyat itu, adalah perang saudara. Sebuah perang yang mempertemukan kehendak untuk membela kehendak akal dan membela kehendak hati masing-masing. Suatu kelompok akan membela sampai mati sumber penghasilannya itu untuk dinikmatinya sendiri atau bersama koleganya itu. sedangkan, suatu kelompok yang lain, atas nama bangsa dan kemanusiaan, akan berjuang melawan para kelompok yang mementingkan kepentingannya sendiri. pun perang yang amat dahsyat ini tidak akan pernah sanggup kita bendung. Suatu waktu, ia akan meluap bagai lahar panas yang akan menghancurkan segala sesuatunya. Oleh sebab apakah perang ini akan terjadi? Hal ini disebabkan rasa kepemilikan kita bersama atas suatu bangsa telah memudar. Prinsip gotong-royong yang kita pegang teguh, hanya bersisa sebagai karya agung pemikir besar bangsa ini. prinsip-prinsip hidup nan mulia itu, tidak pernah kita amalkan, karena kehidupan kita yang semakin berjarak diantara ruang yang satu dengan yang lainnya.

Oleh sebab itu, sebaiknya, kita sebagai bangsa harus berjuang lebih kuat dan bertenaga. Kita tidak boleh berputus asa untuk secara terus-menerus memberikan pengsadaran bagi mereka yang jiwanya sedang berpenyakit itu. agar dapat kita amalkan dengan baik, prinsip hidup yang amat mulia itu. nilai gotong-royong sepatutnya pula kita kerjakan sendiri dan memberikan tauladan kepada yang lain. Dengan cara memerangi segala sistem yang menjadi musuh nyata bagi keberlangsungan hidup prinsip mulia yang kita pegang teguh itu. lalu, tetap dengan tegak, kita bergerak mengamalkannya. Sebab, hanya dengan cara demikian itu, kita dapat memberikan pengsadaran yang sedalam-dalamnya kepada masyakarat kita. Karena gotong-royong bukanlah sebuah ilusi maupun imajinasi yang penuh pengandaian. Tetapi, gotong-royong adalah bukti nyata laku keindonesiaan. Ia adalah amalan-amalan sehari-hari yang dengan senantiasa kita kerjakan demi menjunjung rasa kebersamaan. Untuk menghidupkan rasa kepemilikan sosial, sebuah rasa yang menjunjung harkat martabat kemanusiaan. Agar hidup tidaklah hina, agar keadilan sosial tetaplah untuk seluruh rakyat indonesia.

#BungLangit #RRI #RizkieMuxafier