Surat ke-Delapan belas :  “ Rumah Segenap Hati ”

Assalamualaikum bulan?

Semoga Rahman dan RahimNya, memberikan sebaik-baiknya perlindungan untuk hidupmu. Memberikan penjagaan yang sebaik-baiknya kepadamu. Karena perempuan bagi Tuhan, adalah makhluk yang mulia. Sehingga, Tuhan pun turut serta menjaga ciptaanya yang paling sempurna tersebut. Semoga kau dalam penjagaan dan perlindunganNya. Amin.

Bulan, seperti kebiasaanku sebelumnya, diawal surat, selain menyapamu dengan doa, aku turut sertakan permintaan maafku. Jika sampai hari ini, aku belum mampu menjadi sebaik-baiknya kekasih idamanmu. Sebab seorang kekasih yang terbaik, tidak akan pernah meninggalkan orang yang dicintainya tanpa kabar. Aku minta maaf bulan atas sikapku tersebut. Hanya dapat mengabarimu melalui surat-suratku, tanpa sanggup membawa kemesraan dan kehangatan, melainkan hanya membawa kesedihan yang mendalam. Maafkan bulan.

Bulan, semoga di lain ruang, engkau baik-baik saja. Kabarkan padaku, dan sebaiknya tidak engkau simpan sendiri, bila di dalam hari-harimu, kau menemui permasalahan yang sulit untuk dihadapi, beri aku kesempatan untuk menjadi pendampingmu untuk mengatasi seluruh masalah-masalahmu. Agar kelak seluruh keluargamu, mempercayai aku untuk menerimanya sebagai bagian dari keluarga besarmu.

Bulan, aku meminta ijin kepadamu. Untuk aku jelaskan tentang kabarku. Sebentar lagi, aku akan melepas statusku sebagai seorang mahasiswa. Ya, dalam waktu dekat aku akan wisuda dan menjadi seorang sarjana. Lalu, setelah ini kemana? Mungkinkah kiranya, kau akan menanyakanku seperti itu?. aku sedikit sudah menjelaskan kepadamu bulan, di surat yang aku tulis sebelumnya. Pilihannya hanya ada 3, pertama melanjutkan kuliah. Kedua, bekerja. Dan terakhir adalah menikah. Di surat ini, aku tidak akan akan menjelaskan tentang poin pertama dan kedua. Sebab, logika yang dipakai adalah bermuara pada pencapaian karir dan materi. Aku lebih semangat jika kita bicara soal menikah. Meskipun, rejeki, ajal dan jodoh atau pun pernikahan masih selalu menjadi misteri. Setidaknya, kita telah berusaha, agar senantiasa menggunakan iman daripada logika. Dan sebaik-baiknya iman, adalah menturut sertakan Tuhan didalam segala kehidupan kita. Sehingga, dalam persoalan pernikahan, aku lebih menggunakan keimananku,  daripada sebuah logika. Aku akan menerangkannya kepadamu. Semoga kau juga bergembira, ketika membaca suratku.

Bulan, sesungguhnya, membuka jalan untuk melanjutkan kuliah atau bekerja adalah suatu urusan yang mudah. Karena Tuhan adalah Dzat yang maha pengasih. Kepada siapapun, Tuhan akan membuka jalan bagi mereka yang senantiasa berusaha dan bekerja keras. Dan setiap manusia, adalah wajib hukumnya untuk bekerja keras. Jadi, kita sama sekali tidak pernah bermasalah soal kuliah lagi atau harus bekerja.

Namun, kita akan menghadapi satu masalah yang sulit oleh akal dan logika kita untuk diselesaikan. Apakah masalah yang aku maksudkan itu?. jawabannya adalah Menikah. Apakah kau pernah menemukan didunia ini mengenai pernikahan, bahwa banyak orang-orang yang telah mencapai kesempurnaannya menjalani pernikahan? Atau apakah mereka sudah melangkah memasuki dunia itu?. Di zaman yang sangat maju dan modern, kita akan sangat kesulitan untuk menemukan orang-orang yang telah berhasil menjalani pernikahan dengan sempurna, atau seseorang yang saling mencintai sampai kepada pernikahan?. Karena arus kehidupan modern menyeret setiap orang yang mengutamakan logika mereka. Dan soal pernikahan yang aku maksudkan, aku memiliki hati yang oleh kuasa tuhan semoga tetap dalam lindungannya. Bahwa semoga dengan keimananku, aku memilihmu adalah sebuah keputusan yang mendapat restu dari Tuhan. Semoga.

Sebab, bagiku, aku memilihmu adalah dengan perantaraan semesta yang dalam kepercayaanku, itu semua tergerak atas kuasa tuhan. Aku mencoba mengumpulkan keyakinan agar dalam sekejap saja, aku tidak luput untuk memikirkan tentang pernikahan. Dan salah satu unsur yang hidup didalam sebuah pernikahan adalah sebenarnya persoalan kerelaan berbagi rumah satu sama lain. Rumah yang aku maksudkan adalah bukan bangunan gedung mewah. Namun, sebuah rumah yang menjadi tempat berlindung paling menenangkan dan menentramkan. Tentang rumah yang pernah aku tulis di surat sebelumnya (https://rizqyridhoilahi.wordpress.com/2016/05/04/surat-ke-delapan-membangun-rumah-rindu/), setiap seseorang yang benar-benar jatuh cinta, didalam hati dan pikirannya, hanya memimpikan rumah yang dapat ditempati dengan nyaman, tenang, dan tentram. Sebuah rumah yang penuh dengan keharmonisan. Rumah yang akan selalu menyambut penghuninya dengan riang. Rumah yang menyediakan tempat yang seluas-luasnya untuk mencurahkan segala keluh kesah kehidupan. Rumah yang menyediakan waktunya dari pagi hingga malam. Rumah yang akan menjadi tempat berseminya segala suka dan duka. Dan sebaik-baiknya rumah yang aku maksudkan adalah hati kita masing-masing. Sesungguhnya, aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku tidak pernah lepas memikirkan soal pernikahan, karena aku meyakini bahwa kamu adalah rumah untuk segenap hati. Ya, segenap hatiku yang akan menetap dihatimu. Segenap hatiku yang penuh dengan rasa ingin manja, penakut, kurang percaya diri dan lain sebagainya. Dan memutuskan untuk menetap dirumah hatimu, adalah sebuah keputusan yang juga aku turut sertakan peran Tuhan untuk mengatur perjalanan kita selanjutnya.

Dan diakhir tulisanku, aku memohon kepadamu, persembahkanlah rumah hatimu, untuk segenap hatiku. Semoga tuhan mengabulkan ini. amin.

wassalam

#RizkieMuxafier #RRI

 

SEKAPUR SIRIH RUMAH SASTRA GANDES

backdrop-gandes

Rumah Sastra Gandes (Guyub Among Ndeso) adalah merupakan rumah besar bagi seluruh penggiat-penggiat Sastra. Namun, bukan hanya itu saja, sebagai Rumah Besar, Rumah Sastra Gandes juga membuka pintu selebar-lebarnya kepada setiap orang yang ingin menetap dan tinggal. Kepada siapapun mereka yang dengan kesadaran dan keinsyafannya hatinya, hendak memperjuangkan dirinya agar senantiasa menjalani hidup dengan nilai-nilai kemanusian yang hidup menjadi ruh didalam jiwa manusia. Dengan kenyataan tersebut, kami berharap Rumah Sastra Gandes dapat bertransformasi menjadi Rumah Budaya bagi siapapun mereka. Sehingga, Rumah Sastra Gandes juga memberikan andil didalam melahirkan peradaban sosial yang lebih kemanusiaan dimasa mendatang.

Rumah Sastra Gandes, pertama kali lahir di desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sebuah desa yang berada di pelosok nun jauh dari hiruk pikuk keramaian, desas-desus saling tikam, hingga  perdebatan-perdebatan mencari dan mempertahankan kekuasaan. Oleh sebab keadaan yang demikian itu, Rumah Sastra Gandes kami bangun dengan semangat kebersamaan. Didalam kenangan sejarah, kebersamaan yang dimaksudkan adalah gotong-royong. Satu-satunya warisan luhur dari para moyang, yang berusaha kami jaga dan rawat agar tidak binasa.

Bilamana pada umumnya, sebuah komunitas seringkali menunjukkan identitas kedaerahannya, Rumah Sastra Gandes dibangun bukan dengan pengharapan untuk perubahan satu daerah saja, melainkan untuk perubahan bagi seluruh daerah yang ada. Namun, hal ini tidak akan mungkin pernah terjadi, bilamana diantara kami masih memelihara dan senantiasa merawat egoisme didalam pribadi masing-masing. Ego yang senantiasa memberi pengaruh untuk mementingkan diri sendiri dan juga mendahulukan kepentingan daerah mereka sendiri. Pun ego akan tetap menjadi panglima bagi siapa saja yang tidak pernah merasakan nikmatnya bergaul dengan ragam kelas kemasyarakatan yang ada. Dan puji syukur, mereka-mereka yang hidup dan tinggal di Rumah Sastra Gandes memiliki hati yang lapang, kepribadian yang tulus, jiwa yang bernafaskan gotong-royong, untuk menjadikan Rumah Sastra Gandes sebagai kepunyaan semua orang, dan juga semua daerah yang memiliki kegembiraan luar biasa terhadap Rumah Sastra Gandes ketika sedang mengadakan kerjasama. Sehingga, Rumah Sastra Gandes lahir untuk “ guyub among ndeso “ atau “ Bergotong-royong bangun desa “.

Rumah Sastra Gandes kami dirikan dengan semangat untuk menanamkan rasa kemanusiaan didalam pribadi perseorangan. Dan mungkin juga untuk merangsang rasa kemanusiaan yang telah pudar didalam jiwa seseorang. Hal ini kami lakukan bukan tanpa alasan. Perkembangan zaman yang bergerak cepat, pembangunan yang marak, gedung-gedung yang dibangun menjulang tinggi, memberikan kekhawatiran yang terdalam bagi peradaban sosial yang akan lahir tanpa nilai-nilai sosial. Sikap saling bantu, tolong menolong, saling peduli dan lain-lain, hanya akan menjadi teori-teori yang diajarkan di ruang-ruang belajar tanpa mampu kita praktikkan dengan sempurna nilai-nilai tersebut di kehidupan yang nyata. Kenyataan yang demikian ini telah diawali dengan menimpa kitab-kitab suci Tuhan. Betapa nilai-nilai yang terkandung didalam ayat suciNya sangatlah sempurna, namun, didalam pengamalannya, umat Tuhan senantiasa gagal. Betapa sangat kecil yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, orang akan membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Hal tersebut menjadi pengingat agar kita lebih berhati-hati didalam menyambut kemajuan zaman. Nilai-nilai kemanusiaan adalah nilai yang orisinil dimiliki oleh manusia. Oleh sebab itu, mereka, para manusia-manusia itu haruslah tetap menjaga dan merawatnya dengan baik.

Bahwa tidak dapat di pungkiri, tingginya rasa yang dimiliki oleh pribadi sastrawan, seniman, musisi dan lain-lain, didalam kenyataannya, menjadi sebab terutama mereka melahirkan dan menciptakan karya. Untuk itu, kami berharap kepada mereka yang hidup dan tinggal di Rumah Sastra Gandes, agar senantiasa meningkatkan rasa, terutama rasa yang dipenuhi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang ada didalam jiwa mereka masing-masing. Hal tersebut akan memberikan pengaruh yang baik didalam kehidupan kita kelak. Rasa yang kita jaga dan pelihara dengan baik, akan mengantar kita pada pencapaian lahirnya sebuah karya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Sebab, Rumah Sastra Gandes kami dirikan dengan fungsi agar para anggota yang tinggal dapat meningkatkan dirinya dengan perantaraan Rumah Sastra Gandes. Kelak, dikemudian hari, didalam perencanaan kami, Rumah Sastra Gandes diharapkan dapat memberikan pengembangan pengetahuan dan keahlian bagi masing-masing orang yang bersandar pada rasa yang memanusiakan.

Dengan mengilhami pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia – Ki Hajar Dewantara – yang mengatakan bahwa “ setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah “, mengantar Rumah Sastra Gandes menuju satu tujuan yang menghendaki agar Rumah Sastra Gandes menjadi sebuah rumah bagi siapapun yang dengan bekal pengetahuannya berlimpah, suci hatinya, yang dengan ketulusan hatinya pula, dengan perasaan gembira akan membagikan ilmu dan pengetahuannya kepada semua orang. Karena mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah tugas terutama bagi mereka yang menyebut dirinya manusia indonesia.

Selain itu, Rumah Sastra Gandes kami fungsikan sebagai perantara antara kaum intelektual yang bergelar dengan masyarakatnya. Hal ini kami sadari dari sebuah kenyataan yang ada, bahwa setiap orang yang beranjak pergi dari kampung halamannya untuk menuntut ilmu, lalu, tatkala mereka pulang ke kampung halamannya kembali, mereka merasa sepi dan merasa menjadi asing bagi kehidupan sekitarnya. Kenyataan yang demikian ini, pernah dijelaskan oleh WS Rendra didalam salah satu puisinya yang berjudul “ Sajak Seonggok Jagung “. Betapa pemikiran Rendra didalam puisinya tersebut dapat menggambarkan keadaan dimasa sekarang. Bahwa para intelektual yang bergelar sarjana, seringkali menemukan kebuntuan ketika mereka hendak pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Oleh sebab itu, Rumah Sastra Gandes menyulap dirinya untuk berfungsi sebagai perantara bagi para calon sarjana maupun sarjana yang hendak pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Didalam bagian akhir tulisan ini, kami hanya akan menjelaskan cita-cita besar Rumah Sastra Gandes. Bahwa kami mencita-citakan kelak Rumah Sastra Gandes dapat menemukan puncak pengabdiannya dengan memetamorfosi diri menjadi sebuah kelembagaan yang bergerak untuk kebaikan hidup masyarakat. Dalam hal yang terutama, kami berharap Rumah Sastra Gandes akan berubah menjadi sebuah institusi pendidikan, yang segala hal macamnya, menggunakan standart operasional prosedur dan kurikulum kami sendiri. Agar kelak para lulusan dapat melanjutkan cita-cita dari Rumah Sastra Gandes, yaitu, melahirkan dan menjaga rasa kemanusiaan.

 

Among Rumah Sastra Gandes

 

Rizqy Ridho Ilahi