Ibu, betapa aku merasa sangat terkejut ketika aku mendengar kabar tentangmu. Sebuah kabar yang berbeda dari kabar-kabar sebelumnya, kini kabar tentangmu, sangat mengalir deras, beredar diseluruh media sosial milikku. Betapa aku merasakan yang pertama kali, saat itu, aku begitu terpukul. Mengapa begitu cepat, Tuhan selalu memanggil pulang orang-orang yang dicintaiNya. Padahal, kami belum mengenalmu lebih jauh, bercengkerama, mungkin juga sekaligus menyaksikan setiap tetes keringatmu yang mengalir dan jatuh di jalan yang beraspal, diseberang istana yang menjadi saksi bisu perjuanganmu. Dan dengan sangat tiba-tiba, Tuhan memintamu untuk pulang, kembali dekat denganNya, untuk menyaksikan perlawanan kami dibumi untuk meneruskan cita-cita engkau yang begitu mulia. Warisan perjuangan demi kedaulatan hidup anak cucu kita.
Ibu, kami benar-benar meminta maaf. Bila selama ini, hingga ibu dipanggil pulang, kami belum sempat menjenguk. Datang dan melihat langsung keadaan ibu dan kawan-kawan ibu lainnya, untuk memastikan bahwa keadaan ibu dan yang lain-lain baik-baik saja. Sebuah harapan yang selalu kami selipkan dikala kami berdo’a dari ruang yang jauh, adalah semoga ibu beserta kawan ibu yang lain selalu sehat wal afiat. Dan kami masih berhutang kepada mimpi-mimpi kecil kami untuk datang menemuimu. Hidup bersamamu, dekat disampingmu, lalu, menjadi pendengar setia, segala curahan hatimu. Agar kami kelak tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepekaan rasa terhadap sesama juga terhadap semesta. Sebagai manusia yang kelak harus bertanggung jawab atas keselamatan hidup generasi selanjutnya. Karena kami belajar dari engkau ibu, bahwa kehidupan hari ini, adalah kehidupan yang kita pinjam dari generasi yang akan datang. Jadi, kami harus menyadari tanggung jawab besar itu, memberikan jaminan hidup terhadap anak cucu. Kami juga akan menjadi saksi mata, menyaksikan segala sesuatunya secara langsung, perjuang-perjuangan berat yang telah ibu lakukan bersama kawan-kawan lainnya. Mendirikan tenda perjuangan yang sangat dekat dengan tindakan aparat yang kerapkali diwarnai kekerasan. Mungkin akan memberikan pengsadaran kepada kami, bahwa sebuah perjuangan kerapkali berbanding lurus dengan penderitaan.
Ibu, doakan kami semua, semoga di zaman milenial, kepekaan sosial tetap akan tinggal. Semoga dari lubuk hati yang terdalam, dari para anak muda serta para kaum intelektual yang bernama mahasiswa, akan segera insyaf dan sadar, untuk tetap tegak berdiri memperjuangan tanah leluhurnya, sebagai sebuah warisan bagi kehidupan anak cucu mereka.
Ibu, bagaimana perasaan ibu saat ini?. Ketika Tuhan berkehendak untuk memanggilmu pulang lebih cepat. Semoga ibu merasa bahagia di surga sana. Bertemu dengan pejuang-pejuang lain, menikmati hidup bersama mereka. lalu, ibu mengirimkan doa dari surga, semoga para pejabat kita, juga akan segera insyaf dan sadar. Doa yang ibu tujukan Kepada bapak gubernur, kepada menteri, bahkan kepada bapak presiden kita, semoga mampu menyadarkan mereka betapa pentingnya sebuah keharusan bagi kita untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan kita. Semoga doa ibu dikabulkan, agar besok, mungkin lusa, atau sebentar lagi, mereka tidak akan lagi tuli dan buta, mengetahui segala putusan pengadilan yang telah memenangkan perjuangan kita. Karena seharusnya mereka sadar, peran penegak keadilan adalah wakil Tuhan dimuka bumi. Masihkah pejabat kita berani mengingkari itu semua?. Semoga mereka takut melakukan itu, lalu, menerima putusan pengadilan dan memenangkan perjuangan kita. Agar kehidupan kita selamat dari bencana.
Ibu, jaga diri dan baik-baik disana. Semoga dari seberang istana, di kemudian hari, tidak akan lagi datang sebuah kabar duka. Semoga presiden selamanya akan baik hati dan memihak kepada rakyat kecil ya, bu. Mewujudkan seluruh permohonan yang diajukan oleh setiap pejuang yang datang mendekat ke istana. Karena istana yang dibangun megah, menjadi cermin untuk menghapus duka para kaum yang susah. Para petani, para buruh, para nelayan, serta kaum-kaum marhaen lainnya, tidak sampai mengalami hal yang ibu alami. Seperti halnya, ibu harus duduk berbaris dengan rapi bersama pejuang kendeng yang lain, sembari mencor kaki dengan semen, sebagai bentuk pengaduan nyata kepada bapak presiden, karena gubernur yang telah dipercaya untuk memimpin pemerintahan di daerah ibu, telah melakukan tindakan yang telah mencederai putusan pengadilan. Semoga kisah perjuangan ibu yang telah bersejarah akan mengetuk hati presiden, agar dengan secepat mungkin mengabulkan permohonan warga kendeng untuk menolak pendirian pabrik semen. Semoga pula, kisah ibu akan mampu mengetuk hati presiden untuk selalu berpihak kepada rakyat. Agar bapak presiden dengan cepat mengabulkan permohonan pengaduan yang telah diajukan oleh sekelompok rakyat, para petani, para buruh, para nelayan serta kaum-kaum marhaen lainnya, untuk sebuah kehidupan mereka yang lebih baik.
Ibu, semoga perjuangan kita tidak akan mati, meski pemerannya harus berganti. Semoga perjuangan kita panjang umur, dan para pejuang tumbuh subur. Dan terimakasih bu, telah berjuang untuk kami, serta anak cucu kami. Al-fatihah.
#BungLangit #RRI