Surat ke Dua Puluh : Cita-cita, Kita, dan Cinta

Assalamualaikum bulan, semoga senantiasa kau selalu dalam lindunganNya.

Aku minta maaf, karena aku baru bisa mengirimimu surat. tolong maafkan kesalahanku ini.

Bulan, betapa aku merindukan keadaan yang seperti ini. keadaan ketika aku merindukanmu tanpa batas. Bahkan aku sampai lupa, bahwa mencintai adalah soal perjumpaan dua hati yang terikat kekal oleh janji. Sehingga, aku tidak pernah menyadari, bahwa merindukan adalah sesuatu yang paling menyiksa bagi mereka yang telah jatuh cinta. Jangan kau tanyakan kepada siapa aku jatuh cinta, sebab, masih adakah bulan yang lain, yang selalu aku sebut-sebut namanya dalam harapanku dimasa mendatang?. Dan cinta itu hanyalah untukmu. Satu-satunya seseorang yang hingga hari ini, belum juga oleh Tuhan di pertemukan kepada hati yang begitu tulus mencintainya.

Bulan, sejujurnya, aku sangat merindukanmu. Penundaan perjumpaan kita yang telah menjadi garis takdir Tuhan, adalah kembali menjadi rintang bagi cinta kita untuk bertemu. Tetapi, aku meyakini, kau juga bersabar dengan keadaan ini, sehingga juga menuntun diriku untuk bersabar dengan ini.

Bulan, kita harus mengakui, ketika saat-saat seperti ini, adalah tantangan terberat bagi mereka yang bertekad dengan penuh ketulusan hendak membangun hubungan yang begitu hangat didalam ruang yang bernama rumah tangga. Sebab, di usia-usia yang seperti ini, yang terutama pada pokoknya adalah menyelesaikan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita. Ya, tanggung jawab yang aku maksudkan itu adalah cita-cita dari masing-masing diri kita. Aku memiliki cita-cita, dan begitu juga denganmu. Untuk itu, mungkin inilah sebagian yang menjadi rencana Tuhan, menunda pertemuan kita berdua. Aku harus menunaikan lebih dulu, sesuatu yang menjadi cita-citaku. Dan hal itu juga berlaku untukmu, seluruh cita-citamu harus engkau tunaikan lebih dahulu. Namun, hal tersebut juga tidak serta merta menjadi alasan bagi kita untuk menunda langkah kita berdua. Sesaat, kesemuanya telah kita tunaikan. Cita-citaku terwujud, begitu pula dengan cita-citamu yang telah terwujud, maka hendaknya kita menyusun cita-cita bersama. Oleh sebab itu, pada surat ini, aku beri judul cita-cita, kita dan cinta. Aku menempatkan keadaan diriku dengan dirimu di antara cita-cita dan cinta. Kita berada tepat di tengah-tengah, dengan maksud agar kita senantiasa mengingat, ada sesuatu yang abstrak yang senantiasa memberi warna di kehidupan kita. Sesuatu yang asbtrak itu adalah cita-cita dan cinta.

Bulan, semuanya bermula dari cita-cita maupun cinta. Sebelum aku dan kamu menjadi kita, maka perjalanan akan di mulai dari cita-cita masing-masing yang harus di tunaikan, kemudian bertemu, dan menjadi kita, untuk berjalan berdua menuju tujuan akhir yaitu cinta. Atau sebaliknya, masing-masing diri kita telah menemukan cinta, hingga pada akhirnya, aku dan kamu menjadi kita, lalu, berjalan beriringan menuju cita-cita. Sebab, untuk menjadi kita, aku dan kamu harus sanggup menyeimbangkan kekuatan antara cita-cita dan cita. Keduanya harus tetap hidup didalam diri kita. Agar tujuan dapat kita tercapai. Hidup bersamamu, hingga akhir hayatku, adalah cita-cita terbesarku, semoga itu pula adalah cita-cita besarmu. Wassalam

#RizkieMuxafier #RRI