KRAKSAAN; PERLAWANAN MENEGUHKAN IDENTITAS KITA!!!

Hati mana yang tidak akan merasa senang, bilamana mendengar sebuah wilayah yang konon hanya sebagai kota yang hidup di dalam angan saja, kini, hal tersebut tampak nyata dan bukan lagi angan belaka. Kraksaan adalah merupakan wilayah yang dahulu pernah hidup di dalam angan sebagai suatu wilayah yang menjadi dambaan semua warga (karesidenan kraksaan) agar segera bermetamorfosa menjadi tatanan sebuah kota. Dengan penuh rasa syukur, tanpa menunggu waktu yang begitu lama, akhirnya, kraksaan menjadi sebuah ibukota dari kabupaten probolinggo. Pun usia kota yang baru di tetapkan pada tahun 2010 lalu, kini telah berusia 5 tahun. Bilamana kita mengibaratkan usia manusia, 5 tahun adalah usia yang memosisikan manusia berada pada fase awal pertumbuhan. Pada usia tersebut, manusia mulai mengetahui dan mengenal benda. Bahkan, bukan hanya itu saja, seseorang dengan usia 5 tahun, atau dalam ilmu kesehatan, usia 5 tahun kerap di sebut dengan balita, para balita ini pun mulai belajar merangkak dan setelah itu di ikuti dengan belajar berjalan.

Sebagaimana perumpaan yang saya terangkan di atas, nampaknya, perlu kita tegaskan pula bahwa sejak kraksaan di tetapkan sebagai ibukota kabupaten probolinggo, dengan usia yang menjelang 6 tahun, telah banyak perkembangan yang dapat kita saksikan bersama. Mulai dari bidang pendidikan, upaya pemerintah melalui dinas pendidikan melakukan pengintegrasian (penyatuan) sekolah negeri dari jenjang sekolah paling dasar bahkan sampai jenjang paling atas. Hal itu dimaksudkan agar pendidikan dapat berjalan lebih baik. Pada bidang lain, misal, bidang kesehatan, pemerintah telah membangun rumah sakit daerah dengan fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya (meskipun hal ini masih perlu koreksi dan peningkatan mutu di berbagai fasilitas dan infrastruktur yang belum memadai). Pada bidang pariwisata juga sangat menarik untuk dibahas, beberapa wisata yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah, nampaknya telah berubah. Pemerintah telah melakukan upaya perbaikan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kabupaten probolinggo. Selain di bidang pendidikan, kesehatan, dan pariwisata, juga masih ada beberapa bidang lain yang harus saya terangkan, salah satunya adalah pada bidang ekonomi. Untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, pemerintah dengan sangat gencar mempromosikan diri kepada investor agar melirik kabupaten probolinggo sebagai lahan investasi yang baik. Sebagai daerah yang berkembang, tentu hal ini menjadi point plus bagi kabupaten probolinggo untuk mendapatkan investor sebanyak-banyaknya. Sehingga, proses pembangunan dapat segera tercapai, dan seiring itu pula, pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.

Berdasarkan beberapa pendapat yang saya kemukakan mengenai kemajuan pembangunan yang ada di kabupaten probolinggo, nampaknya, ada satu bidang yang belum saya uraikan dan ini menjadi topic pembahasan yang paling penting. Hal tersebut, berkaitan pada bidang social politik dan budaya atau saya menyebutnya dengan istilah sopo buya. Pada bidang ini, sebagai bagian dari warga masyarakat kabupaten probolinggo, agar secara teguh memberikan kritik yang tajam dan membangun. Sebagaimana sebuah kota-kota yang ada, di dalam melakukan pembangunan, tidak akan terlepas dari sebuah perubahan tatanan dan struktur social masyarakat yang berkaitan pula pada perubahan politik (cara pandang) dan budaya. Jika menelusuri asal usul tatanan social kehidupan kita, bahwa sejatinya, kita adalah keturunan dari bangsa timur yang beradab dan menjunjung tinggi tata krama. Sehingga, bagai mendapat hadiah bola salju yang menyejukkan itu (kita mendapat hadiah pembangunan kota yang begitu pesat), kita pula harus tetap sadar dan terjaga, bahwa sesungguhnya, bola salju yang sedemikian menyejukkan itu, dapat pula membesar dan menghancurkan kehidupan kita. Artinya, sebuah keniscayaan bagi sebuah kota mencapai sebuah pembangunan, namun, tetap masih menjadi sebuah pilihan bagi sebuah kota, apakah dapat bertahan dengan tatanan social yang ada atau tatanan social itu juga hancur seiring di bangunnya gedung-gedung baru?. Mengenai jawaban ini, hanya sejarah yang dapat membuktikan. Sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya, sejarah adalah mahkamah yang paling benar. Bukan hanya itu saja, pembangunan yang di lakukan tidak hanya mengancam pada tatanan social kehidupan kita, melainkan juga, akan menyentuh pada sector politik dan budaya. Pada sector politik, kita akan mempertaruhkan system perpolitikan yang liberal?. Sedangkan pada sector budaya, sebagai wilayah  yang lahir tanpa ke khasan budaya, tentu hal ini menjadi pintu terbuka bagi budaya dari bangsa barat untuk masuk ke wilayah kita dengan sangat leluasa. Hal itu pun dapat kita ketahui melalui kemasan globalisasi, budaya barat dengan cepat merasuk pada setiap lini kehidupan kita.

Dengan demikian, melihat ancaman-ancaman yang datang semakin nyata, seiring dengan usia kota kraksaan yang menjelang usia 6 tahun, kita masih punya banyak waktu yang tersedia, agar dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk mendampingi si kota mungil, kraksaan, ini menjadi sebuah kota dengan pembangunan yang pesat, namun, tetap kokoh mempertahankan kehidupan social, politik dan budaya. Tentu hal ini dapat kita capai dengan selekas-lekasnya, bilamana kita mampu menjunjung tinggi persatuan, bekerjasama dengan sebaik-baiknya, dengan mendasarkan pada prinsip gotong-royong. Kesemua itu dapat pula tercapai, bilamana kita semua sadar untuk duduk bersama, mendiskusikan perihal ini, memberi urun angan dan dengan segera untuk turun tangan.

#RRI
#BungLangit
#RizkieMuxafier

PENDIDIKAN; MASIHKAH MEMISKINKAN IMAJINASI?

Betapa menjadi sebuah kekhawatiran yang mendalam ketika kita mulai menapaki sebuah perjalanan hidup dengan level kehidupan yang lebih keras, tanpa memiliki bekal imajinasi yang sangat cukup?. Apakah mungkin manusia yang baru pertama kali lahir, kemudian ketika pertama kali mulai mengenal sesuatu, baik sebuah subjek maupun objek, manusia dapat menjadi akrab dengan hal tersebut. Misalnya: seorang balita ketika pertama kali diperkenalkan dengan dunia pendidikan, apakah dengan secara tiba-tiba balita tersebut jatuh hati dengan dunia pendidikan?. Menurut hemat saya, jawaban yang sangat mungkin dapat kita ketahui adalah kata TIDAK. Sebab, seorang balita akan mulai jatuh hati dengan dunia pendidikan ketika balita mendapatkan pinjaman imajinasi dari kedua orang tuanya yang berlaku hanya sementara waktu. betapa masih membekas kuat kenangan di masa kecil, ketika kedua orang tua menceritakan imajinasinya bahwa kelak putra-putri kecilnya akan menjadi seorang dokter, polisi, tentara dan segala macamnya. Kemudian, sejak saat itu, ketika tawaran untuk mengenyam dunia pendidikan datang, dengan sangat penuh keyakinan, kita menerima tawaran untuk mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Lalu, secara tiba-tiba kita telah berubah menjadi layaknya seorang pemuda yang jatuh hati kepada kekasih, hanya karena disebabkan pikiran-pikiran kita telah menerima imajinasi yang begitu luar biasa yang telah di tawarkan oleh calon kekasih kita.

Bahwa didalam perjalanannya, kita harus menerima sebuah kenyataan pahit yang sangat memukul nurani dan perasaan. Imajinasi-imajinasi yang di pinjamkan oleh kedua orang tua, telah menghilang secara perlahan. bahkan orang tua kita menyerahkan sepenuhnya diri kita dan nasib kehidupan kita di masa mendatang kepada dunia pendidikan. Orang-orang tua kita juga secara sadar meyakini, bahwa yang menyelamatkan kehidupan seseorang di masa mendatang hanyalah dengan menjadi seseorang yang berpendidikan. Meskipun didalam kenyataannya, dunia pendidikan kita hanya akan bertahan hidup dengan menerapkan sebuah sistem yang begitu menyeramkan. Ya, sebuah sistem yang memaksakan seluruh anak-anak didik mengetahui dan memahami sebuah keilmuan yang di ajarkan. Seluruh anak didik mendapatkan pola dan sistem kurikulum yang sama. Bukankah manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing?. Apakah hal yang demikian tersebut belum mampu menjelaskan bahwa dunia pendidikan kita begitu menyeramkan?.

Lalu, bagaimana jika sistem pendidikan kita tetap seperti itu?. sesuatu yang sangat mungkin akan terjadi adalah kita akan kehilangan daya kritis sebagai manusia terdidik. Pola dan sistem yang di terapkan didalam sebuah kurikulum baku yang berlaku hingga saat ini, hanya akan mengantar anak didik pada pencapaian kelulusannya. Seorang anak didik hanya akan menyelesaikan kewajibannya secara formal. Sedangkan, prestasi yang sesungguhnya menjadi seorang insan terdidik yang merdeka dengan pikirannya tidak akan pernah tercapai. Semenjak anak-anak didik tersebut telah terikat dengan sebuah sistem pendidikan dan tidak adanya upaya perlawanan yang dilakukan oleh anak-anak didik, resiko yang harus di bayar mahal oleh mereka adalah kehilangan sebuah imajinasi yang sesungguhnya menjadi penyelamat bagi kehidupannya. Betapa pernyataan ini harus dijawab dengan seberapa banyak lulusan sekolah yang dimiliki indonesia yang menjadikan mereka sebagai subjek yang membuka peluang pekerjaan? Maka kenyataan yang ada hanyalah, sekolah-sekolah kita seolah menjadi sebuah pabrik besar yang mencetak sejumlah lulusan dengan standart yang sama untuk menekuni bidang pekerjaan yang sama, yaitu menjadi seorang buruh. Sistem pendidikan yang demikian itu telah di singgung oleh Paulo ferreire yang mengatakan bahwa sistem pendidikan yang ada dewasa ini, tidak ubahnya seperti pendidikan gaya bank. Sebuah model pendidikan yang menempatkan tenaga pendidik sebagai seseorang yang mahatahu, sedangkan anak didik sebagai subjek yang memiliki ketidaktahuan dan mendapatkan larangan untuk membantah segala hal yang diajarkan oleh tenaga pendidik.

Lalu, bagaimana menyimpulkan betapa pentingnya sebuah imajinasi didalam dunia pendidikan?. Bahwa ketika pendidikan memberikan ruang imajinasi yang sangat luas kepada anak-anak didik, niscaya kita tidak akan menemukan anak didik yang melanjutkan masa studinya ke jenjang perguruan tinggi yang merasa kebingungan dan dengan gegabah untuk kuliah di sebuah jurusan yang begitu asing dengan kehidupannya. Sebuah keniscayaan pula ketika sarjana-sarjana indonesia memiliki modal imajinasi yang begitu kuat, mereka tidak akan menekuni dan menikmati pekerjaan yang samasekali bukanlah menjadi disiplin keilmuannya. Dan imajinasi seorang anak didik akan tetap hidup dan tumbuh, tatkala ia hidup di dalam sebuah sistem yang mengantarnya menuju kepada keberanian berimajinasi, dengan pula di kuatkan dengan adanya tenaga pendidik yang mampu mengantar anak-anak didik mereka menuju kepada tahap yang mengantar para anak didik berani berimajinasi. Tidak dapat kita sangkal, bahwa imajinasi adalah bagian dari kodrat yang dimiliki oleh anak-anak didik. Untuk itu, mengutip pemikiran ki hajar dewantara, ia pernah berkata bahwa “anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

#RRI
#BungLangit
#RizkieMuxafier