Surat ke Dua Puluh Satu : “Akad ”

IMG_20170920_195128Assalamualaikum bulan, kekasih hatiku. Semoga senantiasa kau selalu dalam lindunganNya.

Bulan, ketika aku kembali membuka lembar demi lembar surat-suratku, betapa hatiku sangat terkejut. Aku belum mempercayai sebuah kenyataan bahwa selama kurun waktu 4 bulan lamanya, aku benar-benar kehilanganmu. Aku kehilangan imajinasiku untuk menulis surat kepadamu.  Aku kehilangan jiwaku yang bergembira luar biasa, ketika harus menemuimu didalam surat-surat yang aku tulis. Tetapi, 4 bulan yang lalu, selama kurun waktu itu, aku harus memikul beban yang sangat berat. Selain itu, aku harus mengobati hatiku dengan segera, agar aku segera tersadar bahwa engkau bukanlah yang direncanakan Tuhan kepadaku.

Ketika aku harus mengobati luka hatiku, saat itu pula, aku telah percaya bahwa sesuatu telah terjadi didalam hidupku, bahwa engkau telah benar-benar pergi. Dan aku telah kehilangan segalanya darimu.

Bulan, ketika takdir mempertemukan kita kembali didalam surat ini, betapa aku ingin sekali menuliskan seluruh isi surat tentang kabar kebahagiaan yang telah dialami oleh banyak orang. Ya, didalam bulan September ini, orang-orang telah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Sebulan yang lalu saja, pesta kemerdekaan digelar dimasing-masing kampung dengan sangat meriah. Ada jamaah haji yang berangkat ke tanah suci dengan sangat gembira nan bahagia.

Selain dua kebahagiaan yang telah aku jelaskan sebelumnya, betapa yang terakhir ini, juga memiliki kebahagiaan yang hampir mirip dengan dua kebahagiaan yang aku jelaskan sebelumnya. Akad. Adakah hati yang tidak merasakan bahagia jika telah tiba waktunya?. Ketika hati telah menemukan tempat bersandar, dan rumah untuk berlindung, lalu, mereka ikrarkan dalam peristiwa sakral yang sering kita sebut akad. Betapa beruntungnya mereka yang lebih dulu menerima kesempatan itu. Dua insan manusia yang saling mencintai, dan mengakhirinya dengan menjadi ikatan suami istri. Semoga aku dan kamu segera menyusul.

Bulan, adakah keinginanmu untuk menyanggah pendapatku?. Semoga saja kau sependapat dengan diriku. Karena ada bukti lain, bahwa akad adalah benar-benar menjadi bagian dari kebahagiaan besar yang dialami manusia, sekali dalam hidupnya. Bukti yang paling nyata adalah tatkala aku menemukan pesta pernikahan yang digelar setiap hari di kampung maupun di kota. Betapa itu menunjukkan sebuah kebahagiaan, karena baik keluarga yang mengadakan pesta maupun masyarakat sekitarnya telah kedatangan anggota baru didalam kehidupan mereka.

Oleh sebab itu bulan, bagiku, sesungguhnya akad adalah bukanlah semata-mata perbuatan untuk mengikatkan diri satu sama lain. Namun, akad yang sesungguhnya adalah sebuah sikap untuk merelakan segala sesuatunya yang menjadi milik kita, agar kemudian menjadi bagian daripada orang yang telah terikat dengan kita. Sebab, pesta pernikahan yang digelar, bukanlah semata-mata dengan maksud untuk memperkenalkan siapa yang tengah Berakad. Tetapi, tujuan di gelarnya pesta pernikahan setelah akad, sebagai bentuk tindak lanjut, bahwa mereka yang telah berakad akan kembali kepada kehidupan asalnya, yaitu kehidupan sosialnya. Sebuah kehidupan kedua setelah mereka melalui akad pertama dengan orang tua masing-masing. Dan demikianlah maksud digelarnya pesta pernikahan setelah berakad, sebagai jalan yang membukakan gerbang untuk mengembalikan mereka yang berakad kepada kehidupan sosialnya, setelah segala sesuatunya benar-benar telah disiapkan, seperti tanggung jawab sosial.

Bulan, untuk menutup suratku, aku ingin kita berdua berdoa bersama, semoga Tuhan mempertemukan aku dan kamu dalam waktu dekat. Ketika kita berdua telah menyelesaikan tugas sebagai insan yang bertanggung jawab. Dan pertemuan itu akan mengantar kita menuju kesiapan untuk “Berakad”.  Wassalam.

#RizkieMuxafier #RRI