Assalamualaikum Wr. Wb.
Bulan, kekasih yang memiliki jiwa dan ragaku seutuhnya, semoga kasih sayangNya senantiasa menjadi penuntun bagi langkah kita yang tengah menemui rasa putus asa. Semoga aku dan kamu, masih dalam satu hembusan nafas yang sama. Meski jiwa raga belum juga bertemu, aku tetap teguh dengan pendirianku, bahwa penderitaan-penderitaan panjang ini, telah menjadi suatu perantara bagi kita berdua untuk saling mencintai satu sama lain dalam keadaan paripurna
Bulan, tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja. Sungguh, aku belum juga mempercayai ini semua. Didalam hari-hariku, dari setiap detik yang bergerak menuju ke detik yang lain, ketika waktu akan menutup diri setiap harinya, aku hanya mampu membayangkanmu didalam pikiranku saja.
Padahal, setiap orang yang sedang dilanda asmara, biasanya, mereka akan berbuat sesuatu untuk seseorang yang sangat dicintainya. Namun, aku tidak melakukan itu. Misalnya, aku menulis surat-surat romantis yang seringkali aku persembahkan untukmu. Sebuah surat yang menceritakan tentang keadaanku, tentang rinduku yang menggunung, tentang impian besarku untuk menjalani sisa hidup denganmu, dan tentang segala hal yang kelak dapat terwujudkan ketika kita telah bersama. Oleh sebab itu, aku meminta maaf kepadamu. Aku mohon, maafkanlah aku.
Bulan, surat ke dua puluh dua yang aku tulis ini, adalah merupakan sebuah do’a atau sebuah harapan besar di masa mendatang. Semoga saja Tuhan berkehendak menjawab do’aku ini. Aku pasrahkan segalanya, hanya kepadaNya. Sebab, sebagai seorang hamba, kita hanya berkewajiban untuk berusaha dan berdo’a. Lalu, segala keputusan ada pada kehendakNya.
Pada suratku kali ini, didalam keadaan hati yang sedang berkecamuk, ia menuntun kedua tanganku untuk menulis tentang seorang istri soliha sosialis. Didalam usia yang telah memasuki masa-masa harus melepas masa lajang, pada akhirnya, aku harus memiliki pertimbangan mendasar, bagaimana aku harus mengantar hati kecilku untuk menemukan pelabuhan hatinya. Bagaimana sosok yang menjadi dambaan hati kecilku?.
Sebagaimana pada umumnya, para lelaki memiliki pandangan yang sama terhadap calon istrinya. Namun, apakah sebuah keniscayaan bagi seorang lelaki untuk menemukan sederet karakter perempuan didalam satu orang saja?. Bagiku, itu sebuah ketidakmungkinan. Oleh sebab itu, aku menyimpulkan, bahwa yang benar-benar menjadi dambaan hatiku ialah perempuan yang memiliki 2 (dua) identitas saja, yaitu perempuan soliha sosialis.
Lalu, bagaimana aku menggambarkan sosok perempuan soliha sosialis?.
Bagiku, seorang perempuan soliha sosialis ialah mereka yang taat terhadap kewajiban keagamaannya, serta ia juga memiliki kesadaran diri akan tanggung jawab sosialnya. Seorang perempuan soliha, ia tidak akan pernah melalaikan tugas kehambaannya kepada Tuhannya. Sedangkan, seorang perempuan sosialis, ia memiliki kesadaran utuh bahwa kehidupan adalah kebahagiaan untuk seluruh manusia. Sehingga, sepanjang kebahagiaan-kebahagiaan dasar belum juga dinikmati oleh manusia yang lain, perempuan sosialis akan bergerak dengan sendirinya untuk mewujudkan itu sesuai dengan batas kemampuannya.
Bulan, untuk mengakhiri suratku, bilamana saat ini, kita juga belum bertemu, maka tugas terutama kita adalah melatih diri untuk sampai pada suatu keadaan yang paling suci sebagai manusia yang sholih maupun sholiha secara agama, serta menjadi seorang sosialis untuk menyebar kebahagiaan-kebahagiaan didalam hidup orang lain. Semoga kelak kita dipertemukan didalam kedua medan perjuangan itu. Amin.
Wassalam.
RizkieMuxafier #RRI