Surat ke Dua Puluh Tiga : “ Rumus Tuhan ”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bulan, teriring salamku adalah doa untuk segala kebaikan untuk hidupmu. Semoga saja di dalam ketidakberdayaanku untuk menjaga dan melindungi dirimu saban waktu, do’a yang menjadi permohonanku kepada Tuhan adalah sebaik-baiknya perlindungan dan penjagaan yang aku persembahkan untukmu. Semoga saja.

Bulan, waktu yang telah berlalu tanpa mendengar kabar tentangmu, seolah menjelaskan tentang keadaan yang aku alami bagai selembar kertas putih yang samasekali tidak memiliki coretan apapun. Warna kertas tersebut samasekali tidak berubah. Ia tetap saja berwarna putih. Atau mungkin suatu saat, kertas tersebut akan berubah bentuknya, isi dan segala sesuatu yang melekat padanya.

Bagaimana jika kelak kertas tersebut dipenuhi coretan-coretan dari kisah orang lain?. Karena aku telah menghabiskan banyak waktu dengan seseorang yang seringkali berkunjung ke rumah pikiranku?. Ia adalah kenangan yang akan selalu aku ingat setiap harinya. Karena kami telah terbiasa menghabiskan waktu berdua.

Atau mungkin saja, kamu lebih dahulu mengalaminya. Menunggu kabar kedatanganku dalam kurun waktu yang tidak terhingga. Sebab, surat-surat yang aku tulis, tidak pernah sampai kepadamu. Sehingga, kau tidak pernah tahu, bagaimana aku juga tetap berjuang untuk menunggumu seorang diri. Tetapi, kamu telah membuat sebuah keputusan yang lain. Kamu telah lebih dulu mempersilahkan orang lain untuk memberikan coretan pada selembar kertas hidupmu.

Bulan, ketahuilah, jika salah satu diantara kita benar-benar mengalami hal tersebut, semoga saja kita tidak akan pernah merasa sakit hati. Dan jika hal itu harus terjadi, aku berdo’a, semoga saja hatiku yang mendapat ujian berat tersebut. Aku tidak ingin menambah beban hatimu. Aku berharap kamu tidak perlu khawatir, mengapa aku berdo’a demikian. Sebab, laki-laki harus mendapat porsi ujian hidup yang lebih banyak, sebelum ia menjadi nahkoda untuk biduk rumah tangganya, kelak.

Bulan, saat ini, aku ingin menulis suratku dengan judul “ Rumus Tuhan ”. apakah kira-kira kamu bisa menebak isi suratnya?. Aku berharap, kamu memahami isi suratnya. Tetapi, aku lebih berharap lagi, andai saja, judul dari surat ini dapat kita perdebatkan secara langsung. Secara tatap muka, sembari menikmati minuman kesukaan masing-masing, aku dan dirimu telah menyiapkan materi untuk memperkuat pendapat masing-masing. Dan dengan berdialog yang demikian itulah, kelak, aku berharap kita dapat bertukar pikiran untuk menemukan solusi atas permasalahan-permasalahan yang akan kita hadapi nantinya.

Bulan, sejujurnya maksud dari judul surat ini adalah semata-mata untuk saling memberi kekuatan pada diri kita masing-masing, agar senantiasa didalam melewati sebagian perjalanan hidup, sebelum akhirnya kita bertemu – menjadi sah – kita harus menanamkan keyakinan didalam diri masing-masing bahwa kita harus melewati seluruh kisah hidup ini dengan menggunakan rumus-rumus Tuhan. Sebagian dari rumusNya, dapat kita kenali melalui ajaran yang tertuang didalam kitab suciNya. Dan rumus yang sebagiannya lagi, hanyalah Tuhan yang mengetahuinya. Hal demikian, biasanya kita sebut sebagai sebuah misteri.

Bulan, perihal pertemuan yang akan mengesahkan kita berdua nantinya, sebaiknya, kita mengutamakan iman (kepercayaan) terhadap ketentuanNya. Andai proses yang kita jalani saat ini, telah memaksa salah satu diantara kita menuntut untuk menjalani sebuah hubungan yang samasekali tidak berdasarkan rumus Tuhan, sebaiknya kita saling tegur. Sebab, hal ini adalah prinsip dan bentuk keimanan.

Bagaimana mungkin kita menjalani hidup dengan bersandar pada rumus-rumus manusia?. Sedangkan, mereka juga menjalani yang dikehendaki olehNya.

Bulan, sebelum aku mengakhiri suratku, jika kelak kamu mendapati dan telah membaca surat ini, dan kamu menghadapi keragu-raguan bahkan ketakutan untuk menikmati proses ini bersamaku. Aku berharap, sejenak, kamu bisa mengesampingkan segala hal tentangku. Salah satunya yang bisa kamu lakukan adalah dengan mempelajari, memahami, memaknai, dan meyakini rumus-rumus Tuhan yang ada. Terutama, bila hal ini menyangkut persoalan jodoh, Tuhan telah membuat satu rumusan yang luar biasa.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (Qs : an-nur : 26).

Bulan, aku hanya mengkhawatirkan satu hal saja, aku khawatir bahwa aku masih menjadi laki-laki yang buruk yang tidak memiliki kepantasan untuk bersanding denganmu. Jadi, berilah kesempatan bagiku untuk memantaskan diri. Sebelum akhirnya, aku datang menemuimu dengan maksud ingin mempersuntingmu.

Wassalam.

 

RizkieMuxafier #RRI