Surat ke Dua Puluh Empat : “ Kesejiwaan Cita-cita Hidup ”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarmu, bulan?. Duhai kekasih pujaan hatiku?. Bulan, waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, 4 bulan telah berlalu. Namun, engkau tidak perlu khawatir, didalam kesunyian-kesunyian waktu, pengharapan yang sangat tinggi untuk dapat menjadi pendamping hidupmu, telah melebur menjadi satu, senafas dengan pengharapan-pengharapan itu, teriring do’a-do’a yang aku tembakkan ke langit-langit, mengharapkan perlindungan dariNya untuk menemani perjalananmu mengarungi waktu; tanpa diriku.

Bulan, aku meminta maaf, jika surat ini, baru aku tulis kembali setelah 4 bulan waktu berlalu. Sungguh aku tidak merencanakan ini semua. Aku hanya mengikuti sesuatu yang berbicara didalam hatiku. Ia memberikan sebuah petunjuk; sebuah firasat yang sangat kuat, bahwa engkau berada pada jarak yang sangat jauh untuk aku dekap. Menyadari kenyataan itu – seketika – aku menjadi sangat lemah, karena separuh jiwa telah hilang didalam diriku.

Bulan, sungguh aku tidak menyangka, bahwa surat yang aku tulis ini, adalah surat yang sama dengan usiaku. Didalam Usia ke-24 tahun, aku menulis surat yang ke-24 pula. Meskipun, untuk menyambut usiaku yang baru, tanpa perayaan apapun dan juga tanpa hadirnya dirimu, aku tetap harus membahagiakan diriku. Semoga dengan menulis surat ini, sebagai bentuk rasa cintaku yang terdalam untukmu; aku akan menemukan puncak kebahagiaan yang tertinggi, sekalipun surat-surat cinta yang aku tulis, ia tidak pernah mendapat balasan dari seseorang yang ditujunya.

Bulan, dengan bertambahnya usiaku, mungkin sudah tiba waktunya; engkau mulai harus mengenal siapa diriku. Bagaimana sosok diriku yang kelak akan engkau pilih menjadi pendamping hidupmu?. Bagaimana dengan cita-cita hidup yang telah aku tanam didalam diriku?. Apakah cita-cita tersebut juga sejiwa dengan cita-citamu?. Aku sangat berharap sekali, pada suatu saat nanti, kita berdua akan dipertemukan oleh takdir, karena kesejiwaan cita-cita hidup. Semoga!.

Tiba saatnya, aku akan menerangkan tentang siapa diriku.

Kekasihku, Bulan!!!. Sesungguhnya cinta yang aku persembahkan kepadamu adalah segenap pengharapan-pengharapan hidup. Pada pengharapan tersebut, cinta yang engkau persembahkan untukku, ia akan menjadi pendamping perjalanan pengabdian hidupku.

Bulan, kelak engkau akan menjadi kedua mataku; yang semakin tajam melihat kenyataan bahwa banyak orang-orang yang hidup banting tulang, menjadi tulang punggung dengan penghasilan upah yang nominalnya sangat rendah. Engkau akan menjadi kedua telingaku; yang semakin hikmat mendengarkan ungkapan-ungkapan hati dari mereka, yang memikul beban hidup yang sangat berat.

Engkau akan menjadi kedua tanganku; yang akan semakin kuat merangkul orang-orang, yang sedang menghadapi keputus-asaan hidup. Kita berdua juga akan menjadi sepasang yang memberikan pelukan kepada orang-orang, yang merasa terancam hidupnya, dan memberikan dekapan yang sangat hangat, kepada orang-orang yang mendapatkan sikap dingin dari dunia.

Engkau akan menjadi sepasang kakiku; yang akan bergerak, melangkah dan berlari lebih cepat lagi, untuk datang berkunjung, menemui segenap orang-orang – secara satu per satu – yang hidupnya dirundung permasalahan. Dan engkau akan menjadi hati kecilku; nurani yang tetap suci, menjaga fitrah pengabdian hidup yang akan kita jalani sepanjang hayat.”

Bulan, akhirnya surat ini, untuk sementara, aku harus mengakhirinya. Semoga selekas-lekasnya kita dapat bertemu. Aku sangat berharap; sebagaimana yang telah aku ungkapkan sebelumnya, semoga kita merupakan sepasang yang akan dipersatukan karena kesejiwaan cita-cita hidup yang sama. Sehingga, kelak, banyak hal yang dapat kita kerjakan berdua, dan kita berdua akan memperjuangkannya hingga titik akhir; segala hal yang kita cintai, yang telah tertanam didalam hati, untuk sebuah kebahagiaan pengabdian yang abadi. Semoga!!!.

Wassalam.

Rizqy Ridho Ilahi #RRI

RizkieMuxafier #Bahagia24th