Menemukan Muhammad SAW Di Rumah Orang-orang miskin

IMG-20181119-WA0081

Setiap memasuki bulan kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW, seluruh umat islam menyambut dengan ragam perayaan. Ada kelompok yang merayakan dengan pengajian khusus ; meneladani laku agung dari nabi akhir zaman, nabi Muhammad SAW. Ada kelompok lainnya; yang juga merayakan hari kelahiran Nabi muhammad SAW dengan mengadakan pengajian yang diiringi dengan pembacaan sholawat untuk baginda rosul Muhammad SAW. Untuk menambah kekhusyukan ketika membaca sholawat, para jamaah seringkali mengundang sekelompok seniman hadrah untuk mengiri lantunan sholawat yang dikumandangkan menembus puncak langit.

Pada umumnya, diseluruh belahan dunia, pembacaan sholawat seringkali dengan mudah kita temukan. Di indonesia, secara umum pembacaan sholawat disematkan kepada kaum nahdiyyin atau lebih dikenal sebagai jamaah dari Nahdhotul ‘ulama (NU) – salah satu organisasi kemasyarakatan (islam) yang lahir di masa penjajahan, yang memiliki peranan penting didalam memerdekakan Republik Indonesia.

Sebagaimana yang telah penulis kemukakan diawal karangan ini, perihal hari kelahiran nabi Muhammad SAW, kaum nahdiyyin merayakannya dengan melantunkan sholawat-sholawat yang dilaksanakan di masing-masing langgar atau musholla atau masjid milik para guru ngaji.

Para jamaah yang ikut serta dalam perayaan hari lahir nabi, hadir dengan membawa nasi berkat untuk didoakan, dan nasi berkat akan dikembalikan kepada para jamaah secara acak, sehingga, ketika para jamaah pulang ke rumah masing-masing, ia tidak pulang dengan nasi berkat yang telah dibawa sebelumnya, melainkan ia telah membawa pulang nasi berkat yang dibawa (kepunyaan) orang lain. Setelah selesai melaksanakan pembacaan sholawat dan do’a yang ditujukan kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW, terkadang para jamaah langsung memakan nasi berkat tersebut di lokasi perayaan hari lahir nabi.

IMG-20181119-WA0076

Seiring berjalannya waktu, perayaan hari lahir nabi kini semakin semarak. Beberapa tahun belakangan ini, perayaan hari lahir nabi semakin semarak dengan adanya barang-barang yang di gantung dengan tali memanjang di atas kepala masing-masing jamaah. Barang-barang tersebut pada waktu tertentu, akan diperebutkan oleh jamaah yang hadir. Dengan adanya ide tersebut, perayaan hari lahir nabi, kini, tidak hanya semakin indah nan cantik, melainkan semakin mengundang daya tarik jamaah untuk hadir pada perayaan atau peringatan hari lahir nabi Muhammad SAW.

* * * * *

Pada kesempatan ini, penulis menulis karangan ini berdasarkan perjalanan religius yang telah dialami oleh penulis sendiri. Segala hal yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini, semata-mata merupakan proses interaksi, dan pengamatan secara langsung. Bahwa proses interaksi yang dimaksud adalah penulis mendapat informasi atau pengetahuan secara langsung dari seseorang yang diajak dialog, maupun dengan cara mendengar ceramah dari penceramah yang diundang hadir pada perayaan hari lahir nabi Muhammad SAW. Sehingga, pembahasan tulisan ini hanya berdasarkan kepada proses interaksi dan pengamatan secara langsung tersebut.

Betapa penulis sangat kagum sekali terhadap perayaan hari lahir nabi yang telah diselenggarakan di salah satu dusun yang bernama Bago kidul, di desa kami. Dusun tersebut, beberapa tahun belakangan ini, seringkali merayakan hari lahir nabi secara bergantian dari 1 (satu) kelompok ke kelompok lain berikutnya. Perayaan tersebut dimulai sejak berakhirnya maulud agung atau bertepatan dengan tanggal kelahiran baginda agung nabi Muhammad SAW sampai dengan akhir bulan kelahiran nabi Muhammad SAW.

Kelompok-kelompok yang dimaksud adalah kumpulan dari beberapa keluarga (berpendapatan rendah) yang secara sadar, memilih cara bergotong-royong untuk memikul beban secara bersama-sama, demi mewujudkan sebuah perayaan hari lahir nabi yang berkesan nan meriah, dan dengan harapan agar dapat mengundang secara batin kehadiran baginda agung nabi Muhammad SAW ditengah-tengah jamaah yang hadir bersholawat kepadanya.

IMG_20181127_191854

Kenyataan tersebut, sungguh menggetarkan hati. Betapa rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW yang terdalam, meskipun penuh rintang nan curam, seringkali dengan penuh misteri, bantuan datang dari arah dan waktu yang tidak terduga-duga. Selain itu, peristiwa ini telah menjadi potret yang terekam abadi didalam relung hati dan sanubari. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat mengagumkan, sebab, masyarakat kita masih hidup dengan budaya gotong-royong; budaya memikul beban secara bersama-sama.

Selanjutnya, penulis mendapatkan satu nasehat (ceramah) dari habib yang diundang sebagai penceramah. Betapa taman hati penulis yang sebelumnya kering dan tandus, saat ini, telah basah dan subur. Sebab, ceramah yang disampaikan oleh habib bagaikan air yang menyiram seluruhnya; taman hati yang kering dan tandus yang dimiliki oleh penulis.

Di dalam ceramahnya, Habib tersebut, menyampaikan sebuah kalimat yang saat ini telah menjadi penghuni baru didalam pikiran, hati dan jiwa penulis. Habib tersebut berpesan, berikut juga dengan menyertakan dasar hukumnya. Bahwa semasa hidupnya; nabi Muhammad SAW seringkali menghadiri undangan yang datang dari orang-orang miskin dibandingkan dengan undangan yang datang dari orang-orang kaya. Sebab, menurut nabi, orang-orang miskin lebih mudah untuk merasa rendah diri. Sehingga, mereka dengan mudahnya merasa kufur nikmat.

Berdasarkan hal tersebut, sesungguhnya kita telah mendapatkan sebuah cakrawala pengetahuan. Pengetahuan tersebut yang telah mengantar kita pada sebuah kesadaran; bahwa untuk mencapai puncak keimanan yang tertinggi, selain menjalankan ibadah sebagaimana yang termaktub didalam Al-qu’ran, seorang hamba harus mampu meneladani segala laku agung yang ditunjukkan oleh baginda agung nabi Muhammad SAW. Utamanya, seluruh perilaku yang telah diajarkan oleh baginda nabi Muhammad SAW, yang sangat mencintai dan mengutamakan orang-orang miskin sepanjang hidupnya.

Sebagaimana perilaku yang telah diwariskan oleh baginda nabi didalam riwayat yang ada, tentang kecintaan baginda nabi Muhammad SAW kepada orang-orang miskin, penulis meyakini bahwa sesungguhnya baginda nabi Muhammad SAW, menetap dan hidup di dalam hati orang-orang miskin. Sehingga, bagi umat muslim – untuk menyempurnakan keislamannya – mereka senantiasa harus mencintai dan mengutamakan orang-orang miskin.

Hal tersebut juga telah selaras dengan riwayat yang telah ditulis dalam karangan ini, bahwa baginda nabi telah mewariskan teladan untuk mengutamakan menghadiri undangan dari orang-orang miskin. Sebab, di rumah orang-orang miskin, menjadi tempat tinggal baginda agung nabi Muhammad SAW.

RIZQY RIDHO ILAHI

Bung Langit #RRI