Surat Ke Dua Puluh Lima : Mahar Ilmu dan Amal

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kekasih hatiku. Seseorang yang akhirnya dapat aku temui. Perempuan yang sangat cantik paras wajahnya. Teduh; sungging senyumannya. Lemah lembut perangainya.

Ia adalah sosok perempuan yang hadir membawa cinta untuk keselamatan hidupku, seorang laki-laki yang lemah tidak berdaya. Laki-laki yang sedang hidup diambang keputus-asaan. Kehidupannya terombang-ambing oleh badai yang mengamuk-amuk, memporak-porandakkan, seluruh bangunan megah keyakinan yang telah aku bangun berpuluh-puluh tahun. Bangunan keyakinan itu, runtuh dalam sekejap. Bersyukur, nasib hidupku masih tertolong.

Ya, nasib hidupku masih tertolong. Karena Tuhan yang maha esa – Allah SWT – masih mengasihi dan menyayangiku. Ia mengirimkan hambanya – perempuan yang hatinya sangat suci dan cintanya yang sangat tulus itu – menjadi dewi penolong yang telah menolongku, memunguti serpihan puing-puing bangunan keyakinan yang masih tersisa.

ia membantuku membangun kembali bangunan megah keyakinan didalam lubuk hatiku. Karena kewibawaan seseorang, ditentukan oleh seberapa kokoh ia membangun keyakinan didalam hati dan jiwanya.

Kekasih, hatimu sungguh sangat mulia. Mengapa engkau hadir dengan penuh cinta dan penuh ketulusan, bahkan menyelamatkan nasib hidupku?. Mengapa pula dengan penuh keyakinan, engkau menerima pinangan dari seorang laki-laki yang nasib hidupnya belum menemukan jalan rezekinya?. Apakah engkau tidak khawatir dengan masa depan dan nasib hidupmu?. Menjalani hidup sehari-hari, bersama seorang lelaki, yang perlu kamu bangun kembali jiwanya, dan bangun kembali badannya.

kekasih, sesungguhnya apa yang engkau harapkan dari laki-laki sepertiku?. Karena aku belum menemukan jalan rezekiku. Bagaimana kita akan hidup berdua, membangun keluarga nantinya?. Apakah engkau tidak takut, dunia modern akan menghujatmu?. Karena engkau telah menerima pinangan dari seorang laki-laki sepertiku.

Namun, engkau dengan hati yang murni dan sangat mulia, serta cinta yang tulus, telah membuat dunia kembali terhenyak. Dengan sangat penuh keyakinan, engkau menerima untuk aku persunting. Kita merencanakan akadnya dalam waktu dekat.

Kekasih, aku meminta maaf, jika bentuk Mahar yang pada umumnya akan aku serahkan padamu, adalah pemberian kedua orang tuaku. Aku belum mampu untuk membelinya sendiri. Maharnya juga mungkin tidak seberapa. Tetapi, percayalah, mahar itu memiliki cinta sepanjang hayat dari ibu-bapakku, teruntukmu kekasih.

Lalu, bagaimana dengan diriku?. Apakah aku tidak menyediakan mahar pula untukmu?.

ketahuilah, aku juga telah menyediakan mahar untukmu. Aku akan memberimu mahar ilmu dan amal. Ya, hanya sebuah mahar ilmu dan amal. Tetapi, aku berjanji kepadamu; dengan bermodalkan ilmu yang aku miliki, aku akan berjuang sekuat tenaga, untuk memberi kebahagiaan didalam hidupmu. Aku juga akan menjadi sosok lelaki – calon suami – yang akan mengamalkan ilmu untuk menjunjung tinggi kodratmu dan menyediakan tempat tertinggi untuk memuliakan peranan dan kodratmu sebagai seorang perempuan dan istriku.

kekasih, diakhir tulisan, aku akan mengutip nasehat dari saudaraku yang telah lebih dulu mempersunting perempuan, dambaan hatinya. Ia pernah memberiku nasehat, “jadilah suami yang mampu memberikan seluruh kebahagiaan untuk istrinya, dan berjanjilah untuk selamanya hidup bersama istrimu. Demikianlah suami yang bertanggungjawab untuk istrinya.”

Semoga, Tuhan merestui dan menuntun setiap langkah kita. Amin.

Wassalam.

 #RRI # RizkieMuxafier #BungLangit

Anak Kecil Yang Tabah Itu, Berpulang! ‘:(

Malam itu, langit sangat gelap, hitam dan sangat pekat. Seharian hujan dimana-mana. Di kota yang ramai, dekat dengan pantai, hingga, di atas gunung, tempat kehidupan bersemai. Suasana di kota, yang ramai dengan lalu lalang warga, malam itu, seketika berubah menjadi sepi. Hening, karena hujan masih menyelimuti seluruh langit daerah kami tinggal.

Berselang beberapa jam, kemudian suasana kembali berubah menjadi ramai. Kabar yang beredar, hujan di hulu, mengalirkan air yang sangat besar. Air meluap-luap, mengalir ke setiap sudut kota. Jalanan yang basah oleh air hujan, kini, juga basah karena luapan air sungai. Nahas, air yang mengalir deras, menyeret korban salah satu santri pondok pesantren yang pernah menerima kami (Rumah Sastra Gandes) untuk menyelenggarakan pagelaran di pondok pesantren tersebut.

Malam itu, pencarian korban dilakukan. Namun, belum membuahkan hasil. Proses pencarian kembali dilanjutkan kembali dipagi hari. Mayat korban ditemukan dihilir sungai, didekat pantai. Identifikasi terhadap korban dilakukan. Betapa kami sangat terkejut, dan sangat terpukul. Sosok korban yang meninggal terseret arus banjir malam itu, adalah sosok anak remaja laki-laki yang sangat kami cintai.

Kami semua sangat mencintainya. Karena anak laki-laki itu, pernah mengukir kenangan manis bersama kami. Terhitung, hampir setahun, sejak awal pertama kali kami bertemu dengannya.

Anak laki-laki itu, kami mengenalnya sebagai sosok anak yang hidup dengan semangat juang tinggi. Sejak didalam kandungan ibunya, ia hidup dipesantren. Lalu, ia terlahir ke dunia, dan diasuh oleh keluarga pesantren. Karena Ibunya meninggalkannya dipesantren sejak kecil. Ayahnya tidak ada kabar. Pun hingga usianya belasan tahun, anak kecil itu hidup dan tumbuh, bersama dengan cinta kasih dari keluarga pesantren.

Ia hidup dengan jiwa kesenian didalam tubuhnya. Suaranya yang sangat merdu, menunjukkan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi. Ia menunjukkan kepada dunia, suaranya yang merdu adalah hartanya yang sangat berharga.

Kami teringat sebuah kenangan manis yang telah kami ukir bersamanya. Dalam sebuah kesempatan, berdasarkan cerita teman-teman, beberapa hari sebelum pagelaran seni dan sastra pesantren dilaksanakan, Anak kecil yang sangat tabah itu, menghampiri rekan-rekan kami yang sedang latihan musik, yang akan ditampilkan pada saat pagelaran berlangsung. Ia sengaja dipanggil oleh Putra dari pengasuh pesantren yang menjadi tuan rumah pagelaran kami.

Anak kecil tersebut, juga berkat rekomendasi beliau – kami memanggilnya gus sajad – untuk ikutan menampilkan bakat menyanyinya pada acara pagelaran yang akan dilaksanakan tersebut. Anak kecil itu menerima tawarannya dengan senang hati. Ia ikut latihan bersama kami. Lagu Ayah, yang pernah dipopulerkan oleh peterpan, menjadi sebuah lagu yang dipilihnya. Lagu yang menceritakan kerinduan kepada sosok ayah, seolah juga menjadi pesan baginya, anak kecil yang sangat tabah itu, juga sangat merindukan kehadiran ayahnya.

Tiba di hari pagelaran, saatnya, anak kecil yang sangat tabah itu, menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Seluruh pemain musik bersiap dengan alat musiknya masing-masing. Pengunjung yang hadir masih tetep setia menonton pagelaran yang berlangsung. Karena di lokasi pagelaran, juga diadakan kegiatan melukis yang dihadiri teman-teman pelukis muda probolinggo.

Pemandu acara memanggil nama anak kecil itu ketengah-tengah panggung. Semua mata tertuju kepada anak kecil itu. Lalu, pemandu acara mempersilahkan anak kecil itu untuk menunjukkan suara merdunya. Saat ia mulai menyanyikan laguunya, kali ini, tidak hanya seluruh mata penonton yang tertuju kepadanya, tetapi, seluruh telinga kami tertuju kepada suara merdunya.

Hati kami seolah-olah tercabik-cabik. Karena ia menyanyikan lagunya dengan sangat merdu. Ia menyanyikan lagu ayah dengan penuh rindu. Semua yang menontonnya, seolah dijemput oleh perasaan pilu. Suasana seketika mengharu-biru. Anak kecil yang tabah itu, menyulap seluruh perasaan penonton yang hadir saat itu. Terbawa suasana, seolah-olah ingin menangis sejadi-jadinya.

Anak kecil yang tabah itu, kini, ia hanya akan membuat kami merindu. Sebab, kami dan dia, tidak akan mungkin dapat bertemu. Saat ini, Dia telah bersama Tuhannya, Allah SWT. Pun disisi Tuhannya, ia menyanyikan lagu dengan suara merdunya. Lagu yang dipersembahkan hanya kepada Tuhannya semata. Tuhan yang telah menganugerahkan suara merdu untuknya. Berbahagialah bersama Tuhanmu. Pintalah kepada Tuhanmu dari jarak yang dekat, agar engkau dapat menemukan ayah-ibumu.

 

Berikut video anak kecil yang tabah itu :

https://www.instagram.com/p/BxryDLjBye6/?igshid=1u03yp80fe0k0

 

#RRI #BungLangit #Rizkie Muxafier