Assalamualaikum Wr. Wb.
Kekasih hatiku. Seseorang yang akhirnya dapat aku temui. Perempuan yang sangat cantik paras wajahnya. Teduh; sungging senyumannya. Lemah lembut perangainya.
Ia adalah sosok perempuan yang hadir membawa cinta untuk keselamatan hidupku, seorang laki-laki yang lemah tidak berdaya. Laki-laki yang sedang hidup diambang keputus-asaan. Kehidupannya terombang-ambing oleh badai yang mengamuk-amuk, memporak-porandakkan, seluruh bangunan megah keyakinan yang telah aku bangun berpuluh-puluh tahun. Bangunan keyakinan itu, runtuh dalam sekejap. Bersyukur, nasib hidupku masih tertolong.
Ya, nasib hidupku masih tertolong. Karena Tuhan yang maha esa – Allah SWT – masih mengasihi dan menyayangiku. Ia mengirimkan hambanya – perempuan yang hatinya sangat suci dan cintanya yang sangat tulus itu – menjadi dewi penolong yang telah menolongku, memunguti serpihan puing-puing bangunan keyakinan yang masih tersisa.
ia membantuku membangun kembali bangunan megah keyakinan didalam lubuk hatiku. Karena kewibawaan seseorang, ditentukan oleh seberapa kokoh ia membangun keyakinan didalam hati dan jiwanya.
Kekasih, hatimu sungguh sangat mulia. Mengapa engkau hadir dengan penuh cinta dan penuh ketulusan, bahkan menyelamatkan nasib hidupku?. Mengapa pula dengan penuh keyakinan, engkau menerima pinangan dari seorang laki-laki yang nasib hidupnya belum menemukan jalan rezekinya?. Apakah engkau tidak khawatir dengan masa depan dan nasib hidupmu?. Menjalani hidup sehari-hari, bersama seorang lelaki, yang perlu kamu bangun kembali jiwanya, dan bangun kembali badannya.
kekasih, sesungguhnya apa yang engkau harapkan dari laki-laki sepertiku?. Karena aku belum menemukan jalan rezekiku. Bagaimana kita akan hidup berdua, membangun keluarga nantinya?. Apakah engkau tidak takut, dunia modern akan menghujatmu?. Karena engkau telah menerima pinangan dari seorang laki-laki sepertiku.
Namun, engkau dengan hati yang murni dan sangat mulia, serta cinta yang tulus, telah membuat dunia kembali terhenyak. Dengan sangat penuh keyakinan, engkau menerima untuk aku persunting. Kita merencanakan akadnya dalam waktu dekat.
Kekasih, aku meminta maaf, jika bentuk Mahar yang pada umumnya akan aku serahkan padamu, adalah pemberian kedua orang tuaku. Aku belum mampu untuk membelinya sendiri. Maharnya juga mungkin tidak seberapa. Tetapi, percayalah, mahar itu memiliki cinta sepanjang hayat dari ibu-bapakku, teruntukmu kekasih.
Lalu, bagaimana dengan diriku?. Apakah aku tidak menyediakan mahar pula untukmu?.
ketahuilah, aku juga telah menyediakan mahar untukmu. Aku akan memberimu mahar ilmu dan amal. Ya, hanya sebuah mahar ilmu dan amal. Tetapi, aku berjanji kepadamu; dengan bermodalkan ilmu yang aku miliki, aku akan berjuang sekuat tenaga, untuk memberi kebahagiaan didalam hidupmu. Aku juga akan menjadi sosok lelaki – calon suami – yang akan mengamalkan ilmu untuk menjunjung tinggi kodratmu dan menyediakan tempat tertinggi untuk memuliakan peranan dan kodratmu sebagai seorang perempuan dan istriku.
kekasih, diakhir tulisan, aku akan mengutip nasehat dari saudaraku yang telah lebih dulu mempersunting perempuan, dambaan hatinya. Ia pernah memberiku nasehat, “jadilah suami yang mampu memberikan seluruh kebahagiaan untuk istrinya, dan berjanjilah untuk selamanya hidup bersama istrimu. Demikianlah suami yang bertanggungjawab untuk istrinya.”
Semoga, Tuhan merestui dan menuntun setiap langkah kita. Amin.
Wassalam.
#RRI # RizkieMuxafier #BungLangit