Assalamualaikum Wr. Wb.
kekasih, sungguh tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu. Sudah seminggu ini, aku telah halal menjadi suamimu. Seluruh tanggung jawab dari bapak-ibumu, telah beralih menjadi tanggungjawabku sebagai suamimu seutuhnya.
Aku teringat sebuah kenangan, saat dadaku di penuhi rasa gugup. Betapa aku merasakan bibirku gemetar. Di hadapan segenap keluarga besar yang menjadi saksi pernikahan sakral kita berdua, bibirku mengucapkan lafadz akad dengan lantangnya. Meskipun, aku sendiri telah berusaha sekuat tenaga, agar menyimpan dengan baik, rasa gugupku itu. Entahlah, sesuatu apa yang telah membuatku merasakan gugup yang sangat luar biasa. Tetapi, beruntung, aku bisa melalui itu dengan baik.
Pernikahan ini, mengantarku untuk mengingat kembali kenangan yang terjadi beberapa tahun silam. Ya, beberapa tahun lalu itu, ketika kaum milenial dijangkiti penyakit ambyar dan galau, aku adalah salah satu anak muda yang juga merasakan penyakit kekinian ala anak muda saat itu. Menikah muda. Meskipun, aku mengakui, tekadku menikah muda bukan karena mengikuti arus pergaulan anak muda saat itu.
Menurutku, menikah diusia muda, merupakan usaha terbaik agar kelak usiaku tidak terlampau jauh dengan usia anak-anakku.Puji syukur, karena Allah SWT telah mengabulkan do’aku dan menikahkan diriku pada usia yang sangat aku harapkan.Segala yang telah terjadi, masih menyisakan ingatan kuat dikepalaku. Bagaimana Allah SWT merencanakan ini semua. Sebelum pernikahan ini dilaksanakan, Allah SWT menyuruhku untuk menjalani peran sebagai seorang anak muda yang harus menikmati pahitnya kehidupan.
Ekonomi keluarga kami jatuh. Kami harus kembali kepada suatu keadaan – atas permintaan Allah SWT yang menguasai kerajaan langit dan bumi – untuk menjalani hidup penuh dengan ikhtiar dan juga tirakat. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, setelah badai kehidupan memporak-porandakan ekonomi keluarga dengan begitu dahsyatnya. Satu hal yang begitu nyata aku rasakan, Allah SWT ada di setiap peristiwa hidup yang aku lalui.
Semenjak saat itu, aku benar-benar menyaksikan “Tiada Tuhan Selain Allah.” Aku merasakan, betapa aku sangat dekat denganNya. Kemudian, Rahman dan RahimNya, memelukku dengan hangat, sembari menenangkan badai yang mengamuk didalam jiwaku. Hidupku tertolong olehNya.
Atas kehendak Allah SWT yang telah menyuruhku berperan menjadi anak muda yang kehidupannya telah jatuh. Menjalani hidup penuh dengan kesulitan. Lalu, Allah SWT memintaku kembali untuk menjalankan peran berikutnya. Menjadi seorang anak muda yang penuh tekad untuk mempersunting calon istrinya.
Seorang anak muda yang kehidupan ekonominya jatuh. Anak muda yang belum menemukan jalan rezekinya. Hidupnya penuh dengan kesulitan.
Tetapi, anak muda itu tetap penuh dengan tekad, untuk mempersunting calon istrinya tersebut. Tidak ada yang mampu menjawab misteri hidup anak muda tersebut. Karena anak muda itu, tetap melangsungkan pernikahan. Meskipun hidupnya saat ini masih penuh dengan kesulitan. Karena jawabannya hanya milik Allah SWT. Nasib seluruh manusia ada pada kehendakNya.
Puji syukur, karena aku berkesempatan telah melewati serentetan peristiwa hidup yang penuh makna. Bahkan, dihari yang berbahagia ini, aku dapat mensyukuri nikmat dan memaknai hidup dengan setinggi-tingginya iman.
Atas segenap pertolongan Allah SWT, akhirnya, aku bisa mempersuntingmu untuk menjadi istriku. Kesulitan hidup yang aku hadapi, dan pertolongan Allah SWT untuk mempersuntingmu, adalah apa yang telah difirmankan oleh Allah SWT didalam kalamNya. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Demikianlah pada hakikatnya, kita dapat memaknai tentang jodoh. Bahwa Allah SWT merahasiakan dengan sebaik-baiknya hakikat tentang jodoh itu sendiri. Kesulitan dan kemudahan, adalah fitrahnya hakikat jodoh itu sendiri. Karena selamanya hidup tidak akan selalu sulit. Dan selamanya, hidup tidak akan selalu mudah. Wallahua’lam bisshowab.
RRI #RizkieMuxafier #bunglangit