*Oleh: Rizqy Ridho Ilahi, S.H., M.H.

Banyak sekali hal, tentang harapan-harapan baru yang dilangitkan melalui doa di penghujung tahun lalu. Salah satu diantaranya, harapan besar itu juga menjadi harapan dari banyak orang yang sangat gandrung, jatuh hati dengan sejatuh-jatuhnya terhadap dunia olahraga sepakbola, agar kompetisi sepakbola profesional ditanah air dapat bergulir kembali.
Seiring dengan banyaknya kompetisi sepakbola kelas dunia yang terhenti sejenak, yang disebabkan oleh semakin merebaknya wabah penyakit Covid-19 ke seantero dunia pada tahun lalu, akhirnya, memaksa negara indonesia melakukan hal yang sama, menghentikan kegiatan kompetisi sepakbola indonesia sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. Namun, bagi klub-klub sepakbola profesional dunia, keadaan kompetisi yang dihentikan tersebut hanya berlaku sementara saja. Banyak liga-liga profesional papan atas dunia bergulir kembali, setelah beberapa bulan sebelumnya sempat terhenti, untuk mencegah penyebaran virus terhadap manusia.
Asosiasi-asosiasi sepakbola dibenua biru langsung tancap gas menggulirkan liga-liga sepakbola profesional negara mereka masing-masing. Sejumlah aturan-aturan dibedah, disesuaikan dengan keadaan darurat sekarang ini. Semula pergantian pemain masing-masing klub yang sedang bertanding hanya dibatasi 3 orang. Namun, demi kepentingan kesehatan dan keselamatan pemain, sementara waktu, pergantian pemain dapat dilakukan maksimal 5 kali. Para pemain juga tidak boleh bersalaman maupun berpelukan saat merayakan golnya.
Peraturan paling penting dalam dunia sepakbola yang bergulir selama terjadi wabah penyakit (pandemi), adalah pertandingan yang wajib diselenggarakan tanpa penonton. Setelah, seluruh peraturan pertandingan dibedah dan disesuaikan dengan kebutuhan (keadaan) saat ini, kemudian, liga digulirkan kembali. Akhirnya, para penggemar sepakbola diseluruh dunia dapat menyaksikan klub-klub kebanggaan mereka bertanding kembali, serta mereka dapat menyaksikan para pemain bintang kebanggaannya menampilkan kemampuan terbaiknya diatas lapangan.
Pada awal tahun 2021, seluruh liga-liga profesional didunia – khususnya liga-liga top eropa – telah bergulir selama separuh musim. Pun jendela transfer pemain mulai dibuka. Awal tahun ini, untuk sementara waktu, para penggemar sepakbola dapat menyaksikan para klub-klub yang memuncaki klasemen sementara. Banyak sekali kejutan yang terjadi. Misalnya, klub bersejarah seperti AC Milan yang beberapa tahun terakhir sulit menembus 5 besar, kini, klub tersebut memuncaki klasemen sementara Serie-A.
Keadaan yang demikian itu, liga-liga profesional dunia yang telah berhasil bergulir kembali, justru berbanding terbalik dengan yang terjadi di negara kita tercinta. Sedari tahun yang lalu, hingga akhirnya berganti tahun, liga belum kunjung berjalan. Pihak Asosiasi – dalam hal ini PSSI – selalu menyampaikan alasan yang sama ketika berhadapan dengan kamera. Mereka berdalih bahwa pihak kepolisian belum menerbitkan ijin.
Terhitung, hampir memasuki 1 tahun, semenjak wabah penyakit ini merajalela, pihak PSSI hanya sibuk menunggu izin yang akan diterbitkan oleh pihak kepolisian. Padahal nahkoda PSSI merupakan orang yang pernah duduk dan menjabat di instansi kepolisian. Sungguh hal yang wajar, apabila pengurusan terkait izin dari pihak kepolisian untuk penyelenggaraan kompetisi dapat ditangani dengan cepat. Sebab, Nahkoda PSSI merupakan orang yang sangat memahami setiap medan maupun keadaan-keadaan yang memungkinkan diterbitkannya ijin kegiatan dari pihak kepolisian.
Seandainya hal tersebut telah dicapai oleh pihak PSSI, diterbitkannya ijin kegiatan kompetisi sepakbola indonesia, membuat PSSI mempunyai lebih banyak waktu untuk memikirkan secara serius nasib dan masa depan sepakbola indonesia. Utamanya, nasib para pemain dan para calon pemain profesional yang akan merumput dilapangan hijau. Namun, rupanya mental PSSI hanya mampu untuk menunggu saja. Mereka tidak mempunyai tekad besar dan berani menanggung resiko, agar kompetisi tetap dapat berjalan sebagaimanamestinya. Karena hanya orang-orang yang jiwanya menyatu dan mencintai sepakbola yang akan melakukan apapun demia sepakbola itu sendiri.
Sikap yang ditunjukkan PSSI dengan hanya menunggu saja tanpa berbuat apa-apa, telah membuat 2 klub liga1 – madura united dan persipura jayapura – membubarkan diri. Penyebabnya adalah belum adanya kejelasan tentang kapan kompetisi akan bergulir kembali. Selain itu, banyak juga klub yang terhimpit secara finansial. Keadaan tersebut, pada akhirnya, akan disusul oleh banyak klub –klub sepakbola yang lain juga akan membubarkan diri, menyusul langkah yang dipilih madura united dan persipura.
Peristiwa tersebut seharusnya disikapi dengan serius oleh PSSI. Mengingat, jika banyak klub yang membubarkan diri, hal tersebut dapat menjadi sebuah kerugian besar bagi perkembangan sepakbola negara kita. Kelak, banyak dari kalangan orang tua yang semakin pesimis untuk menerjunkan anak-anak berbakatnya di dunia sepakbola. Karena para orang tua semakin mengerti tentang betapa suramnya masa depan pemain sepakbola di indonesia.
PSSI masih memiliki banyak waktu untuk melakukan upaya-upaya yang dapat meyakinkan pihak kepolisian agar menerbitkan izin kegiatan kompetisi. PSSI dapat menginventarisir bermacam-macam inovasi maupun langkah-langkah yang harus diputuskan di saat pandemi sekarang ini. Saat ini, inovasi atau terobosan tersebut sangat diperlukan agar kompetisi sepakbola di tanah air tetap dapat berjalan.
Bidang industri yang lainnya, seperti halnya industri musik, telah banyak melakukan inovasi di saat pandemi. Pelaku industri musik tetap menyelenggarakan konser dengan sistem baru. Konser musik drive-in. Sebuah konsep konser musik yang diselenggarakan dengan cara: para penonton yang hadir dapat menikmati konser dari dalam mobil mereka sendiri yang sedang parkir di halaman depan panggung konser. Inovasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk tetap menjaga ekosistem industri musik agar tetap berjalan.
Inovasi di industri musik tersebut, seharusnya dapat menjadi pembakar semangat bagi para pemangku kepentingan didunia sepakbola, agar tetap memikirkan secara serius keberlangsungan kompetisi di saat pandemi seperti saat ini. Ini merupakan tantangan besar yang hanya membutuhkan dana kecil bagi PSSI untuk tetap menyelenggarakan kompetisi di saat pandemi. PSSI hanya memerlukan inovasi peraturan-peraturan darurat yang digunakan saat pertandingan selama pandemi berlangsung.
Untuk saat ini, para pecinta sepakbola tanah air hanya menuntut hal sederhana. Para pecinta sepakbola hanya menginginkan rasa rindu mereka terhadap aksi-aksi menawan klub sepakbola kebanggaannya dapat terbayar lunas. Sekalipun hal tersebut hanya dapat disaksikan dari layar kaca televisi. Bagi kami, jika kompetisi tetap dapat berjalan di saat pandemi, itu prestasi luar biasa bagi PSSI. Apalagi PSSI dapat berbuat lebih daripada itu, misalnya mengadakan teknologi garis gawang, teknologi VAR, dan lain sebagainya. Meskipun, didalam keyakinan kami, hal tersebut sungguh tidak akan mungkin terwujud. Mengingat, kami masih meragukan rasa cinta dan jiwa sepakbola para pihak yang duduk di kursi empuk PSSI. #AyoMainLagi


