Surat Ke Dua Puluh Delapan : “Do’a Paling Tulus & Amin Paling Serius”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bulan, Duhai kekasih hatiku. Bagaimana kabarmu, kekasih? Seperti biasa, aku selalu berdo’a untuk kesehatan dan keselamatanmu. Dimanapun engkau berada, semoga do’a yang selalu aku panjatkan, dapat mengetuk pintu langit dan memberikan kebaikan untuk hidupmu.

Bulan, apakah engkau sudah membaca semua surat-suratku, yang sudah aku tulis untukmu? Atau sampai saat ini, engkau belum juga menerima surat-surat cinta dariku?. Semoga saja, engkau telah menerima surat-suratku, namun, hanya saja, engkau tidak sempat untuk membacanya. Aku mencoba memahami dan mengerti kesibukanmu yang sangat luar biasa. Tapi, aku masih tetap berharap, nanti, setelah engkau selesai dengan urusan dan kesibukanmu, engkau berkenan membaca suratku. Pun aku berharap, engkau juga bersemangat membaca surat-suratku, sama halnya dengan diriku yang begitu semangat, ketika menulis surat-surat untukmu.

Bulan, sungguh aku tidak menyangka, aku menulis surat ini, ditengah malam yang sunyi. Apakah engkau tahu Bulan, surat ini aku tulis pada salah satu malam yang mulia, malam nisfu sya’ban. Ketika semua do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT, niscaya semua do’a-do’a itu akan dikabulkan oleh-Nya. Malam ini, begitu ramai dan banyak sekali, aku menemukan di status media sosial maupun konten orang-orang yang menyambut dengan gembira datangnya malam yang mulia ini. Ya, seperti halnya diriku, pada malam yang mulia ini, setiap orang sibuk dengan do’a yang mereka panjatkan masing-masing. Tetapi, Aku tidak ingin mencampuri urusan mereka. Biarkan mereka bermesra dengan Allah SWT melalui do’a yang mereka panjatkan.

Lalu, bagaimana dengan nasibku sendiri?. Ketika malam ini, semua orang sedang sibuk berdo’a, apakah do’aku juga akan di istijabah oleh-Nya?. Setelah semua yang telah aku jalani, semua do’a-do’a yang aku panjatkan kepada-Nya, alhamdulillah semua di istijabah oleh-Nya. Kalau ada do’aku yang tidak dikabulkan oleh-Nya, berarti sesuatu yang menjadi rencana di dalam do’aku adalah sesuatu yang tidak baik untuk diriku. Sebab, jika do’a kita tidak dikabulkan oleh-Nya, sesungguhnya, IA sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk hidup kita.

Bulan, aku menjalani hidup ini, hanya dengan Iman dan prasangka baik kepada-Nya. Aku juga masih berprasangka baik pada takdir-Nya. Kelak, suatu hari nanti, entah pada surat yang ke berapa, kita pasti akan bertemu. Kita berdua, akan hidup bersama. aku sangat meyakini itu. Sebab, ketika aku menulis surat ini, aku tidak hanya sekedar membayangkan, aku sedang berdo’a kepada-Nya. Berharap, kelak, agar kita berdua dapat hidup bersama. Tapi, ketika aku menulis surat ini, aku sangat yakin, Allah SWT sedang bersamaku di malam yang mulia ini. IA menemani dan menuntun hati kecilku, merangkai kata demi kata indah untuk aku sampaikan kepadamu melalui surat ini.  

Maka suatu saat nanti, ketika kita benar-benar ditakdirkan hidup bersama, aku berharap, semoga kita berdua senantiasa memanjatkan Do’a Paling Tulus dan Amin Paling Serius. Sebab, keadaan yang demikian itu, akan menunjukkan posisi kita sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya. Betapa kita tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengendalikan takdir kita. Oleh sebab itu, kita hanya bisa bergantung kepada-Nya. Semua urusan dan semua permasalahan, biarkan kekuasaan dan pertolongan-Nya yang akan menyelesaikan.

Namun, ternyata, jika kita tidak di takdir hidup bersama, aku akan tetap menjalani hari-hariku dengan memanjatkan Do’a Paling Tulus dan Amin Paling Serius. Aku berharap, engkau juga akan menjalani hal ini bersama dengan seseorang yang akan menghabiskan sisa umur bersamamu. Engkau bisa menganggap ini sebagai sebuah kenangan dariku, tapi, sesungguhnya, ini adalah cara IA memanggil agar kita senantiasa mendekat dan bergantung kepada-Nya. Wassalam.

#RizkieMuxafier #BungLangit #RRI #Surat #Cinta

Pileg 2024: “Kerja-kerja Gagasan Dan Pemikiran Kita Akan Melahirkan Suara Nurani Mereka”

Siapa yang bisa menyangka, tahun 2024, saya kembali mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPRD Kabupaten Probolinggo Daerah Pemilihan (Dapil) 1 yang meliputi : Kecamatan Kraksaan, Kecamatan Besuk, dan Kecamatan Gading. Hampir sama dengan Pemilihan Legislatif (Pileg) di tahun 2019, di tahun 2024 ini, saya tetap mencalonkan diri sebagai Caleg yang berangkat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau lebih akrab dikenal PDI Perjuangan. Namun, berbeda halnya dengan tahun 2024, di tahun 2019 yang lalu, saya mencalonkan diri sebagai Caleg di Dapil 2, meliputi : Kecamatan Paiton, Kecamatan Kotaanyar, dan Kecamatan Pakuniran.

Ada satu perbedaan dan juga nilai yang berharga dari proses Pileg 2024 yang telah saya lalui. Pileg 2024 kali ini, saya tidak mengeluarkan ongkos politik sama sekali. Sebab, sudah bukan rahasia umum lagi, jika seseorang mencalonkan diri dalam suatu pertarungan politik, maka ia harus membayar ongkos yang di perlukannya. Lalu, mengapa saya bisa untuk tidak mengeluarkan ongkos politik sama sekali? Atau biar tidak lebih naif, pertanyaannya di ganti menjadi, bagaimana caranya agar ongkos politik yang kita keluarkan dapat efisien atau terkendali?

Saya tidak mungkin dapat menjawab kedua pertanyaan itu. Sebab, kondisi setiap Caleg yang bertarung berbeda satu sama lain. Namun, saya sangat berharap, semoga tulisan ini dapat menginspirasi siapapun yang telah membacanya. terutama bagi mereka yang mencalonkan diri dalam pertarungan politik apapun. Bahkan, kepada pihak-pihak yang masih berharap dan mempunyai rasa optimis, suatu saat nanti, setiap proses pemilihan pemimpin yang kita lalui akan melahirkan sosok pemimpin yang dihasilkan oleh rasionalitas dan ketulusan hati para pemilihnya. Bukan lagi atas dorongan materi (dalam bentuk uang atau bantuan) yang diterima oleh pemilihnya.

Lalu, inspirasi apa yang ingin saya bagikan melalui tulisan ini?. Tentu, saya akan membagikan kisah-kisah heroik dari orang-orang yang memilih saya dengan ketulusan hati mereka tanpa adanya embel-embel apapun. Terlebih lagi, diantara kisah ini, ada sosok teman yang saya kenal di suatu acara, namun, kami berdua tidak pernah berkomunikasi secara intens. Tetapi, dia menjatuhkan pilihan politik dan menitipkan amanah itu kepada saya.

Sesungguhnya, Pileg 2024 ini, saya sama sekali tidak memiliki keinginan maupun hasrat kuat untuk bertarung dalam pertempuran politik tersebut. Keputusan saya untuk tidak ikut bertarung secara sungguh-sungguh di medan pertempuran 2024, disebabkan oleh banyak faktor. Sehingga, publik sama sekali tidak mengetahui bahwa saya mencalonkan diri sebagai Caleg PDI Perjuangan tahun 2024.

Semuanya berubah secara tiba-tiba. Menjelang 30 hari sebelum pemilihan akan di langsungkan, saya memperkenalkan diri ke publik melalui kampanye digital. Saya hanya bikin poster dan video kampanye di HP yang dibantu oleh teman baik saya. Saya sama sekali tidak mencetak banner maupun alat peraga kampanye lainnya. Sebab, penggunaan banner dan alat peraga kampanye (APK) lainnya di jaman yang sudah maju dan serba digital, semua sudah tidak efektif. Selain itu, ketika masa kampanye, lingkungan kita di penuhi oleh banner-banner Caleg yang di pampang di pinggir jalan dan merusak keindahan lingkungan yang ada di sekitar.

Oleh sebab keadaan demikian yang membuat resah hati saya. Kemudian, hal itu yang mendorong saya untuk memperkenalkan diri ke publik melalui kampanye digital yang lebih efisien dan efektif. Tujuannya, agar ke depan, para Caleg atau calon pemimpin ketika berkampanye akan lebih mengutamakan kampanye secara digital dibandingkan dengan berkampanye secara konvensional. Sebab, APK konvensional hanya berupa Gambar dan Nomor Urut Caleg, Gambar dan Nomor Urut Partai, Nomor Dapil, serta ditambahi slogan biar lebih menarik.

Apabila Caleg menggunakan kampanye digital, ia tidak hanya memampang Gambar dirinya dan lain-lainnya, seperti halnya yang ada di APK Konvensional, tetapi, dengan adanya teknologi, setiap Caleg dapat menyampaikan gagasan-gagasan dan isi kepalanya setiap saat, kapanpun dan dimanapun. Dengan cara yang demikian itu, kemudian, ada yang ingin menjatuhkan pilihan politiknya kepada saya.

Mereka memilih saya, bukan karena mengetahui saya sedang mencalonkan diri, tetapi, mereka memilih saya setelah membaca isi kepala dan gagasan politik yang saya tuangkan ke dalam poster. Kampanye yang saya lakukan hanyalah berupa kerja-kerja gagasan yang akan mengajak pemilih untuk mencoblos saya. Sebab, saya sama sekali tidak pernah mengajak mereka untuk memilih saya. Saya hanya ingin terlibat dalam proses memberikan pendidikan politik bagi siapa saja. sehingga, orang-orang yang akan memilih saya, disebabkan oleh gagasan dan pemikiran saya. Jadi, jika suatu hari nanti saya tidak mencalonkan lagi, saya telah meninggalkan suatu pemikiran maupun gagasan yang dapat menjadi pertimbangan bagi para pemilih, kepada siapa mereka akan menitipkan amanah itu.

Mereka juga tanpa canggung memberikan kritik dan masukan, seperti: perlindungan terhadap kaum perempuan dan anak-anak yang masih sangat rentan menjadi korban. Tentunya, mereka tidak lupa memberikan kritikan agar saya juga memperhatikan kepentingan anak muda. Saya menyampaikan rasa senang, setelah mendapat kritikan dan masukan dari mereka. Karena saya sangat terbantu dengan kritikan dan masukan dari mereka, yang mungkin saja, saya lalai untuk memperhatikannya.

Sosok yang saya ceritakan dalam tulisan ini, adalah dua orang perempuan muda, yang telah mengajak orang terdekatnya maupun yang tinggal serumah dengan mereka. Betapa saya sangat terharu, di tanggal 14 februari pagi, sekitar jam 8 pagi, sebuah pesan whatsapp masuk.

“Mas, saya sudah mencoblos samean dan saya juga mengajak keluarga kecil saya untuk mencoblos samean juga. Ya, meskipun, hanya keluarga kecil saya saja, semoga membantu ya mas,” katanya.

“Terimakasih banyak mbak. Samean sudah mencoblos saya dan mengajak keluarga kecil samean untuk mencoblos saya juga. Saya merasa terharu. Saya juga merasa bahwa kita masih punya harapan baik, untuk merawat demokrasi kita agar bergerak ke arah yang lebih baik,” jawabku melalui pesan suara.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak bagi pihak-pihak: keluarga, teman dekat, teman main, dan pihak-pihak lainnya yang telah mencoblos saya dengan hati yang tulus tanpa digerakkan oleh suatu iming-iming apapun. Saya tidak bisa membalas ketulusan dan kebaikan hati kalian semua satu per satu. Saya mohon maaf, jika perjuangan ini, masih gagal. Tetapi, kita tidak boleh menyerah. Semoga di lain waktu, kita bisa menyiapkan segala sesuatunya lebih baik lagi, dan kita akan memenangkan pertarungan ini untuk nasib rakyat banyak yang lebih baik pula.

#BungLangit #RizkieMuxafier #RRI