Assalamualaikum Wr. Wb.
Bulan, Duhai kekasih hatiku. Bagaimana kabarmu, kekasih? Seperti biasa, aku selalu berdo’a untuk kesehatan dan keselamatanmu. Dimanapun engkau berada, semoga do’a yang selalu aku panjatkan, dapat mengetuk pintu langit dan memberikan kebaikan untuk hidupmu.
Bulan, apakah engkau sudah membaca semua surat-suratku, yang sudah aku tulis untukmu? Atau sampai saat ini, engkau belum juga menerima surat-surat cinta dariku?. Semoga saja, engkau telah menerima surat-suratku, namun, hanya saja, engkau tidak sempat untuk membacanya. Aku mencoba memahami dan mengerti kesibukanmu yang sangat luar biasa. Tapi, aku masih tetap berharap, nanti, setelah engkau selesai dengan urusan dan kesibukanmu, engkau berkenan membaca suratku. Pun aku berharap, engkau juga bersemangat membaca surat-suratku, sama halnya dengan diriku yang begitu semangat, ketika menulis surat-surat untukmu.
Bulan, sungguh aku tidak menyangka, aku menulis surat ini, ditengah malam yang sunyi. Apakah engkau tahu Bulan, surat ini aku tulis pada salah satu malam yang mulia, malam nisfu sya’ban. Ketika semua do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT, niscaya semua do’a-do’a itu akan dikabulkan oleh-Nya. Malam ini, begitu ramai dan banyak sekali, aku menemukan di status media sosial maupun konten orang-orang yang menyambut dengan gembira datangnya malam yang mulia ini. Ya, seperti halnya diriku, pada malam yang mulia ini, setiap orang sibuk dengan do’a yang mereka panjatkan masing-masing. Tetapi, Aku tidak ingin mencampuri urusan mereka. Biarkan mereka bermesra dengan Allah SWT melalui do’a yang mereka panjatkan.
Lalu, bagaimana dengan nasibku sendiri?. Ketika malam ini, semua orang sedang sibuk berdo’a, apakah do’aku juga akan di istijabah oleh-Nya?. Setelah semua yang telah aku jalani, semua do’a-do’a yang aku panjatkan kepada-Nya, alhamdulillah semua di istijabah oleh-Nya. Kalau ada do’aku yang tidak dikabulkan oleh-Nya, berarti sesuatu yang menjadi rencana di dalam do’aku adalah sesuatu yang tidak baik untuk diriku. Sebab, jika do’a kita tidak dikabulkan oleh-Nya, sesungguhnya, IA sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk hidup kita.
Bulan, aku menjalani hidup ini, hanya dengan Iman dan prasangka baik kepada-Nya. Aku juga masih berprasangka baik pada takdir-Nya. Kelak, suatu hari nanti, entah pada surat yang ke berapa, kita pasti akan bertemu. Kita berdua, akan hidup bersama. aku sangat meyakini itu. Sebab, ketika aku menulis surat ini, aku tidak hanya sekedar membayangkan, aku sedang berdo’a kepada-Nya. Berharap, kelak, agar kita berdua dapat hidup bersama. Tapi, ketika aku menulis surat ini, aku sangat yakin, Allah SWT sedang bersamaku di malam yang mulia ini. IA menemani dan menuntun hati kecilku, merangkai kata demi kata indah untuk aku sampaikan kepadamu melalui surat ini.
Maka suatu saat nanti, ketika kita benar-benar ditakdirkan hidup bersama, aku berharap, semoga kita berdua senantiasa memanjatkan Do’a Paling Tulus dan Amin Paling Serius. Sebab, keadaan yang demikian itu, akan menunjukkan posisi kita sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya. Betapa kita tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengendalikan takdir kita. Oleh sebab itu, kita hanya bisa bergantung kepada-Nya. Semua urusan dan semua permasalahan, biarkan kekuasaan dan pertolongan-Nya yang akan menyelesaikan.
Namun, ternyata, jika kita tidak di takdir hidup bersama, aku akan tetap menjalani hari-hariku dengan memanjatkan Do’a Paling Tulus dan Amin Paling Serius. Aku berharap, engkau juga akan menjalani hal ini bersama dengan seseorang yang akan menghabiskan sisa umur bersamamu. Engkau bisa menganggap ini sebagai sebuah kenangan dariku, tapi, sesungguhnya, ini adalah cara IA memanggil agar kita senantiasa mendekat dan bergantung kepada-Nya. Wassalam.
#RizkieMuxafier #BungLangit #RRI #Surat #Cinta

