Surat ke Dua Puluh Tiga : “ Rumus Tuhan ”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bulan, teriring salamku adalah doa untuk segala kebaikan untuk hidupmu. Semoga saja di dalam ketidakberdayaanku untuk menjaga dan melindungi dirimu saban waktu, do’a yang menjadi permohonanku kepada Tuhan adalah sebaik-baiknya perlindungan dan penjagaan yang aku persembahkan untukmu. Semoga saja.

Bulan, waktu yang telah berlalu tanpa mendengar kabar tentangmu, seolah menjelaskan tentang keadaan yang aku alami bagai selembar kertas putih yang samasekali tidak memiliki coretan apapun. Warna kertas tersebut samasekali tidak berubah. Ia tetap saja berwarna putih. Atau mungkin suatu saat, kertas tersebut akan berubah bentuknya, isi dan segala sesuatu yang melekat padanya.

Bagaimana jika kelak kertas tersebut dipenuhi coretan-coretan dari kisah orang lain?. Karena aku telah menghabiskan banyak waktu dengan seseorang yang seringkali berkunjung ke rumah pikiranku?. Ia adalah kenangan yang akan selalu aku ingat setiap harinya. Karena kami telah terbiasa menghabiskan waktu berdua.

Atau mungkin saja, kamu lebih dahulu mengalaminya. Menunggu kabar kedatanganku dalam kurun waktu yang tidak terhingga. Sebab, surat-surat yang aku tulis, tidak pernah sampai kepadamu. Sehingga, kau tidak pernah tahu, bagaimana aku juga tetap berjuang untuk menunggumu seorang diri. Tetapi, kamu telah membuat sebuah keputusan yang lain. Kamu telah lebih dulu mempersilahkan orang lain untuk memberikan coretan pada selembar kertas hidupmu.

Bulan, ketahuilah, jika salah satu diantara kita benar-benar mengalami hal tersebut, semoga saja kita tidak akan pernah merasa sakit hati. Dan jika hal itu harus terjadi, aku berdo’a, semoga saja hatiku yang mendapat ujian berat tersebut. Aku tidak ingin menambah beban hatimu. Aku berharap kamu tidak perlu khawatir, mengapa aku berdo’a demikian. Sebab, laki-laki harus mendapat porsi ujian hidup yang lebih banyak, sebelum ia menjadi nahkoda untuk biduk rumah tangganya, kelak.

Bulan, saat ini, aku ingin menulis suratku dengan judul “ Rumus Tuhan ”. apakah kira-kira kamu bisa menebak isi suratnya?. Aku berharap, kamu memahami isi suratnya. Tetapi, aku lebih berharap lagi, andai saja, judul dari surat ini dapat kita perdebatkan secara langsung. Secara tatap muka, sembari menikmati minuman kesukaan masing-masing, aku dan dirimu telah menyiapkan materi untuk memperkuat pendapat masing-masing. Dan dengan berdialog yang demikian itulah, kelak, aku berharap kita dapat bertukar pikiran untuk menemukan solusi atas permasalahan-permasalahan yang akan kita hadapi nantinya.

Bulan, sejujurnya maksud dari judul surat ini adalah semata-mata untuk saling memberi kekuatan pada diri kita masing-masing, agar senantiasa didalam melewati sebagian perjalanan hidup, sebelum akhirnya kita bertemu – menjadi sah – kita harus menanamkan keyakinan didalam diri masing-masing bahwa kita harus melewati seluruh kisah hidup ini dengan menggunakan rumus-rumus Tuhan. Sebagian dari rumusNya, dapat kita kenali melalui ajaran yang tertuang didalam kitab suciNya. Dan rumus yang sebagiannya lagi, hanyalah Tuhan yang mengetahuinya. Hal demikian, biasanya kita sebut sebagai sebuah misteri.

Bulan, perihal pertemuan yang akan mengesahkan kita berdua nantinya, sebaiknya, kita mengutamakan iman (kepercayaan) terhadap ketentuanNya. Andai proses yang kita jalani saat ini, telah memaksa salah satu diantara kita menuntut untuk menjalani sebuah hubungan yang samasekali tidak berdasarkan rumus Tuhan, sebaiknya kita saling tegur. Sebab, hal ini adalah prinsip dan bentuk keimanan.

Bagaimana mungkin kita menjalani hidup dengan bersandar pada rumus-rumus manusia?. Sedangkan, mereka juga menjalani yang dikehendaki olehNya.

Bulan, sebelum aku mengakhiri suratku, jika kelak kamu mendapati dan telah membaca surat ini, dan kamu menghadapi keragu-raguan bahkan ketakutan untuk menikmati proses ini bersamaku. Aku berharap, sejenak, kamu bisa mengesampingkan segala hal tentangku. Salah satunya yang bisa kamu lakukan adalah dengan mempelajari, memahami, memaknai, dan meyakini rumus-rumus Tuhan yang ada. Terutama, bila hal ini menyangkut persoalan jodoh, Tuhan telah membuat satu rumusan yang luar biasa.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (Qs : an-nur : 26).

Bulan, aku hanya mengkhawatirkan satu hal saja, aku khawatir bahwa aku masih menjadi laki-laki yang buruk yang tidak memiliki kepantasan untuk bersanding denganmu. Jadi, berilah kesempatan bagiku untuk memantaskan diri. Sebelum akhirnya, aku datang menemuimu dengan maksud ingin mempersuntingmu.

Wassalam.

 

RizkieMuxafier #RRI

 

Surat ke Dua Puluh Dua : “ Perempuan Soliha Sosialis ”

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bulan, kekasih yang memiliki jiwa dan ragaku seutuhnya, semoga kasih sayangNya senantiasa menjadi penuntun bagi langkah kita yang tengah menemui rasa putus asa. Semoga aku dan kamu, masih dalam satu hembusan nafas yang sama. Meski jiwa raga belum juga bertemu, aku tetap teguh dengan pendirianku, bahwa penderitaan-penderitaan panjang ini, telah menjadi suatu perantara bagi kita berdua untuk saling mencintai satu sama lain dalam keadaan paripurna

Bulan, tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja. Sungguh, aku belum juga mempercayai ini semua. Didalam hari-hariku, dari setiap detik yang bergerak menuju ke detik yang lain, ketika waktu akan menutup diri setiap harinya, aku hanya mampu membayangkanmu didalam pikiranku saja.

Padahal, setiap orang yang sedang dilanda asmara, biasanya, mereka akan berbuat sesuatu untuk seseorang yang sangat dicintainya. Namun, aku tidak melakukan itu. Misalnya, aku menulis surat-surat romantis yang seringkali aku persembahkan untukmu. Sebuah surat yang menceritakan tentang keadaanku, tentang rinduku yang menggunung, tentang impian besarku untuk menjalani sisa hidup denganmu, dan tentang segala hal yang kelak dapat terwujudkan ketika kita telah bersama. Oleh sebab itu, aku meminta maaf kepadamu. Aku mohon, maafkanlah aku.

Bulan, surat ke dua puluh dua yang aku tulis ini, adalah merupakan sebuah do’a atau sebuah harapan besar di masa mendatang. Semoga saja Tuhan berkehendak menjawab do’aku ini. Aku pasrahkan segalanya, hanya kepadaNya. Sebab, sebagai seorang hamba, kita hanya berkewajiban untuk berusaha dan berdo’a. Lalu, segala keputusan ada pada kehendakNya.

Pada suratku kali ini, didalam keadaan hati yang sedang berkecamuk, ia menuntun kedua tanganku untuk menulis tentang seorang istri soliha sosialis. Didalam usia yang telah memasuki masa-masa harus melepas masa lajang, pada akhirnya, aku harus memiliki pertimbangan mendasar, bagaimana aku harus mengantar hati kecilku untuk menemukan pelabuhan hatinya. Bagaimana sosok yang menjadi dambaan hati kecilku?.

Sebagaimana pada umumnya, para lelaki memiliki pandangan yang sama terhadap calon istrinya. Namun, apakah sebuah keniscayaan bagi seorang lelaki untuk menemukan sederet karakter perempuan didalam satu orang saja?. Bagiku, itu sebuah ketidakmungkinan. Oleh sebab itu, aku menyimpulkan, bahwa yang benar-benar menjadi dambaan hatiku ialah perempuan yang memiliki 2 (dua) identitas saja, yaitu perempuan soliha sosialis.

Lalu, bagaimana aku menggambarkan sosok perempuan soliha sosialis?.

Bagiku, seorang perempuan soliha sosialis ialah mereka yang taat terhadap kewajiban keagamaannya, serta ia juga memiliki kesadaran diri akan tanggung jawab sosialnya. Seorang perempuan soliha, ia tidak akan pernah melalaikan tugas kehambaannya kepada Tuhannya. Sedangkan, seorang perempuan sosialis, ia memiliki kesadaran utuh bahwa kehidupan adalah kebahagiaan untuk seluruh manusia. Sehingga, sepanjang kebahagiaan-kebahagiaan dasar belum juga dinikmati oleh manusia yang lain, perempuan sosialis akan bergerak dengan sendirinya untuk mewujudkan itu sesuai dengan batas kemampuannya.

Bulan, untuk mengakhiri suratku, bilamana saat ini, kita juga belum bertemu, maka tugas terutama kita adalah melatih diri untuk sampai pada suatu keadaan yang paling suci sebagai manusia yang sholih maupun sholiha secara agama, serta menjadi seorang sosialis untuk menyebar kebahagiaan-kebahagiaan didalam hidup orang lain. Semoga kelak kita dipertemukan didalam kedua medan perjuangan itu. Amin.

Wassalam.

RizkieMuxafier #RRI

SUMPAH (KAMI) PEMUDA

kepa

Pemuda; Berjuanglah

Bila mengingat-ngingat setiap peristiwa besar yang terjadi di republik ini, sungguh sebagai seorang anak muda, sudah sepatutnya bila kita membusungkan dada, menegapkan tubuh, mengepalkan tangan, serta lantang berteriak, “ kami dari barisan anak muda juga memegang kendali atas apa yang akan dihadapi bangsa ini.”

Gerakan pemuda indonesia awal mula mulai menunjukkan taring perjuangannya ketika deklarasi persatuan pemuda nusantara sebagai pemuda indonesia yang dilaksanakan pada tahun 1928 dengan ditandai pembacaan ikrar sumpah pemuda yang menggelora keseluruh pelosok bumi nusantara.

Sejak tahun 1928 sampai dengan masa reformasi, peran pemuda selalu diperhitungkan didalam menahkodai kapal besar indonesia. Beberapa peristiwa yang tercatat dalam sejarah indonesia, kerapkali juga menorehkan peranan pemuda, diantaranya ; pada tahun 1945, indonesia mendapatkan kemerdekaanya; pada tahun 1966, pemuda indonesia terlibat dalam penggulingan rezim orde lama yang ditengarai karena pernyataan presiden soekarno sebagai presiden seumur hidup; pada tahun 1978, pemuda terlibat dalam aksi besar-besaran yang menolak kedatangan perusahaan jepang untuk berinvestasi di indonesia; pada tahun 1998, dalam romantisme sejarah diagungkan sebagai prestasi besar pemuda indonesia dalam menggulingkan rezim orde baru yang di percayai sebagai pemerintahan yang kerapkali mengacungkan senjata untuk mengamankan pemerintahannya.

Dewasa ini, memasuki zaman reformasi, pemuda menghadapi tantangan besar didalam upaya mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan indonesia.Banyak faktor yang menjadi sebab, hingga, pada akhirnya menumpuk, lalu kian membesar. Sebut saja, bagaimana pancasila di era orde baru menjadi tafsir tunggal penguasa. Sehingga, dampak yang paling terasa saat ini, betapa pancasila diartikan secara sederhana dengan slogan “ saya indonesia, saya pancasila.” Hal ini tentu menjadi dilematis bagi pemuda masa kini. Sebab, didalam literatur-literatur yang ditulis soekarno, mengenai pancasila diuraikan dengan sangat jelas bahwa akhir daripada perjuangan pancasila adalah terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Lalu, dapatkah cita-cita luhur tersebut dapat diwujudkan oleh pemuda hari ini?. Didalam keyakinan jiwa muda, meskipun hal ini masih terbilang sangat sulit untuk diwujudkan, pemuda harus berpegang teguh kepada keyakinannya sendiri bahwa segala cita-cita harus dipertaruhkan, sehingga, dapat diketahui, apakah pertaruhan tersebut dapat dimenangkan?. Kalimat tersebut diilhami oleh perkataan syahrir, seorang sosialis muda indonesia pada zamannya.

Jawaban-jawabannya kelak akan dibuktikan dimasa mendatang dan ditulis dalam sejarah. Seluruhnya, sangat bergantung kepada kerja-kerja ideologi yang kita lakukan hari ini. Tentu, tetap dengan bersandar kepada idealisme anak muda. Propaganda-propanda penyadaran terhadap mental manusia indonesia yang hari ini masih terjajah harus semakin digencarkan. Bagaimana kondisi hari ini sangat terang benderang menjelaskan sikap ketertundukkan kita, sikap kita yang dengan besar hati rela menjadi budak. Padahal dunia ini berjalan oleh sebuah sistem yang dapat kita ubah seperti peristiwa-peristiwa mencekam sebelumnya. Dan perubahan tersebut dapat diwujudkan ketika barisan pemuda semakin kuat bersatu untuk menghancurkan sistem tersebut. Dengan mempersembahkan sepenuh jiwa raga, berperang dalam memenangkan kembali pancasila. Untuk kemenangan Pancasila, kami pemuda bersumpah.

BungLangit #RRI

Surat ke Dua Puluh Satu : “Akad ”

IMG_20170920_195128Assalamualaikum bulan, kekasih hatiku. Semoga senantiasa kau selalu dalam lindunganNya.

Bulan, ketika aku kembali membuka lembar demi lembar surat-suratku, betapa hatiku sangat terkejut. Aku belum mempercayai sebuah kenyataan bahwa selama kurun waktu 4 bulan lamanya, aku benar-benar kehilanganmu. Aku kehilangan imajinasiku untuk menulis surat kepadamu.  Aku kehilangan jiwaku yang bergembira luar biasa, ketika harus menemuimu didalam surat-surat yang aku tulis. Tetapi, 4 bulan yang lalu, selama kurun waktu itu, aku harus memikul beban yang sangat berat. Selain itu, aku harus mengobati hatiku dengan segera, agar aku segera tersadar bahwa engkau bukanlah yang direncanakan Tuhan kepadaku.

Ketika aku harus mengobati luka hatiku, saat itu pula, aku telah percaya bahwa sesuatu telah terjadi didalam hidupku, bahwa engkau telah benar-benar pergi. Dan aku telah kehilangan segalanya darimu.

Bulan, ketika takdir mempertemukan kita kembali didalam surat ini, betapa aku ingin sekali menuliskan seluruh isi surat tentang kabar kebahagiaan yang telah dialami oleh banyak orang. Ya, didalam bulan September ini, orang-orang telah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Sebulan yang lalu saja, pesta kemerdekaan digelar dimasing-masing kampung dengan sangat meriah. Ada jamaah haji yang berangkat ke tanah suci dengan sangat gembira nan bahagia.

Selain dua kebahagiaan yang telah aku jelaskan sebelumnya, betapa yang terakhir ini, juga memiliki kebahagiaan yang hampir mirip dengan dua kebahagiaan yang aku jelaskan sebelumnya. Akad. Adakah hati yang tidak merasakan bahagia jika telah tiba waktunya?. Ketika hati telah menemukan tempat bersandar, dan rumah untuk berlindung, lalu, mereka ikrarkan dalam peristiwa sakral yang sering kita sebut akad. Betapa beruntungnya mereka yang lebih dulu menerima kesempatan itu. Dua insan manusia yang saling mencintai, dan mengakhirinya dengan menjadi ikatan suami istri. Semoga aku dan kamu segera menyusul.

Bulan, adakah keinginanmu untuk menyanggah pendapatku?. Semoga saja kau sependapat dengan diriku. Karena ada bukti lain, bahwa akad adalah benar-benar menjadi bagian dari kebahagiaan besar yang dialami manusia, sekali dalam hidupnya. Bukti yang paling nyata adalah tatkala aku menemukan pesta pernikahan yang digelar setiap hari di kampung maupun di kota. Betapa itu menunjukkan sebuah kebahagiaan, karena baik keluarga yang mengadakan pesta maupun masyarakat sekitarnya telah kedatangan anggota baru didalam kehidupan mereka.

Oleh sebab itu bulan, bagiku, sesungguhnya akad adalah bukanlah semata-mata perbuatan untuk mengikatkan diri satu sama lain. Namun, akad yang sesungguhnya adalah sebuah sikap untuk merelakan segala sesuatunya yang menjadi milik kita, agar kemudian menjadi bagian daripada orang yang telah terikat dengan kita. Sebab, pesta pernikahan yang digelar, bukanlah semata-mata dengan maksud untuk memperkenalkan siapa yang tengah Berakad. Tetapi, tujuan di gelarnya pesta pernikahan setelah akad, sebagai bentuk tindak lanjut, bahwa mereka yang telah berakad akan kembali kepada kehidupan asalnya, yaitu kehidupan sosialnya. Sebuah kehidupan kedua setelah mereka melalui akad pertama dengan orang tua masing-masing. Dan demikianlah maksud digelarnya pesta pernikahan setelah berakad, sebagai jalan yang membukakan gerbang untuk mengembalikan mereka yang berakad kepada kehidupan sosialnya, setelah segala sesuatunya benar-benar telah disiapkan, seperti tanggung jawab sosial.

Bulan, untuk menutup suratku, aku ingin kita berdua berdoa bersama, semoga Tuhan mempertemukan aku dan kamu dalam waktu dekat. Ketika kita berdua telah menyelesaikan tugas sebagai insan yang bertanggung jawab. Dan pertemuan itu akan mengantar kita menuju kesiapan untuk “Berakad”.  Wassalam.

#RizkieMuxafier #RRI

Mahasiswa; “ di ruang pemikiranmu, di jalan perjuanganmu “

Musim kemarau telah tiba. Kedatangannya selalu menjadi pertanda bagi masing-masing kampus di seluruh penjuru nusantara bahwa mereka bakal kedatangan anggota baru sebagai warga masyarakat kampus. Mereka para anggota baru tersebut berpredikat sebagai mahasiswa baru. Seperti halnya kebiasaan-kebiasaan yang lalu yang berhasil di gelar setiap tahunnya, gerbang kampus selalu terbuka lebar bagi siapapun yang berkeinginan serta memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikannya menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi. Meskipun gerbang kampus selalu terbuka lebar bagi siapapun yang dengan bangga hendak menjadi bagian dari kampus tersebut, nampaknya, kenyataan tersebut tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki sumber penghasilan yang cukup atau dapat pula disebut sebagai kategori rakyat miskin. Biaya kuliah yang sangat tinggi, menjadi sebab yang paling utama bagi anak-anak dari para orang-orang miskin, dengan sangat terpaksa harus merelakan mimpi besarnya untuk menjadi mahasiswa yang merupakan bagian dari masyarakat kampus. Kenyataan pahit tersebut kemudian menjadi catatan buruk untuk para birokrat kampus – terutama pemerintah pusat maupun daerah – yang telah melakukan tindakan amoral dan sangat mengkhianati cita-cita mulia para pendiri bangsa yang tersurat didalam “ Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Seiring dengan bergulirnya waktu, kenyataan-kenyataan pahit lainnya juga akan dinikmati oleh para mahasiswa baru, tatkala mereka menghabiskan banyak waktu dikampus sebagai mahasiswa dan telah berhadapan secara langsung dengan kegiatan kampus, baik didalam kegiatan belajar mengajar (perkuliahan) maupun kegiatan administrasi lainnya yang bersentuhan langsung dengan para birokrat kampus. Kenyataan pahit tersebut, misalnya, para dosen yang korup terhadap waktu. Para mahasiswa yang sudah menunggu lama akan kedatangan dosen mereka, namun, secara tiba-tiba, datang sebuah kabar yang sangat menyakitkan dari pegawai kampus yang disuruh oleh dosen yang bersangkutan untuk menyampaikan perihal pergantian jadwal kuliah (terkadang tanpa alasan yang rasional). Tindakan dosen tersebut seringkali dilakukan secara sepihak tanpa didahului perundingan dengan para mahasiswa, minimal sehari sebelumnya. Sehingga, peristiwa tersebut menggambarkan suatu kenyataan pahit bahwa didalam kampus terdapat sebuah perilaku yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan hingga terbentuklah sebuah budaya yang sangat tidak menjunjung tinggi budaya musyawarah dan juga menjadi cikal bakal lahirnya para generasi korup dimasa mendatang yang disebabkan oleh para dosen yang sangat identik dengan perilaku semena-mena didalam mengganti jadwal perkuliahan yang tidak sesuai sebagaimana mestinya.

* * *

Bilamana musim kemarau seringkali menjadi suatu pertanda bagi masing-masing kampus menerima kehadiran penghuni baru sebagai masyarakat kampus, kita juga dapat menyaksikan kenyataan lain yang juga seringkali menjadi pemandangan yang sangat menarik, yaitu kehadiran para calon mahasiswa baru selalu bertepatan dengan bulan kemerdekaan atau bulan yang menjadi pertanda lahirnya bangsa indonesia. Dengan latar belakang penyambutan mahasiswa baru yang selalu bertepatan dengan bulan kemerdekan, maka seluruh kampus biasanya melaksanakan seluruh kegiatannya dengan diikuti sebuah seremonial yang secara umum bertemakan kebangsaan. Seolah-olah kegiatan tersebut menyampaikan sebuah pesan bahwa kampus juga merupakan tempat terbaik untuk mendidik seluruh mahasiswa agar memiliki kadar nasionalisme (mencintai tanah air mereka) yang sangat tinggi. Meskipun nasionalisme yang disampaikan pada kenyataannya oleh berbagai kampus hanyalah sebatas permukaannya saja dan cenderung memiliki penafsiran sepihak dari kampus. Hal tersebut seolah-olah diakui oleh kampus sebagai sebuah prestasi yang luar biasa sebagai bentuk tanggung jawab moral mereka terhadap bangsa indonesia. Sehingga, sangatlah wajar, bilamana kampus di kemudian hari hanyalah sebatas meluluskan para mahasiswanya dengan menyandang gelar sarjana yang memiliki bekal pengetahuan nasionalisme yang sangat sedikit, namun, telah bertindak – mengaku – sebagai seorang nasionalis, misalnya telah cakap berbahasa indonesia sehari-hari. Akan tetapi, para sarjana-sarjana tersebut dengan sangat tega melakukan eksploitasi sumber daya alam dengan begitu rakus untuk kepentingan sanak family, dan setelah itu, mereka meninggalkan kerusakan lingkungan serta tetap merawat kemiskinan yang diderita oleh saudara sebangsanya.

Dengan demikian, kenyataan-kenyataan tersebut telah memberi sebuah pesan kepada kaum terdidik – khusus mahasiswa – bahwa mereka telah memikul tanggung jawab yang sangat berat di pundak mereka masing-masing. Mereka memiliki sebuah kewajiban untuk melunasi janji-janji kemerdekaan yang telah terangkum dalam kalimat singkat “ mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur “. Sehingga hal tersebut secara langsung mewajibkan para mahasiswa agar mengerti terhadap status dan kedudukan mereka masing-masing. Oleh sebab itu, untuk melunasi janji-janji kemerdekaan tersebut, sekurang-kurangnya terdapat 2 (dua) hal yang dapat dilakukan mahasiswa semasa kuliahnya. Pertama, sebagai mahasiswa yang memiliki ruang pemikiran lebih luas dibandingkan dengan siswa-siswa yang masih sekolah, para mahasiswa memiliki kewajiban untuk menambah pengetahuan-pengetahuan lainnya yang berkaitan erat dengan pemahaman perihal kebangsaan yang hakiki, mereka juga dapat melakukan dialektika, tanpa melupakan kewajiban pokoknya sebagai seorang mahasiswa dari sebuah jurusan perkuliahan yang sedang ditempuhnya. Hal ini dimaksudkan agar kelak didalam proses menempuh kuliahnya, para mahasiswa memahami kedudukan mereka didalam masyarakat, serta ilmu-ilmu yang sedang ditempuh semasa kuliahnya, dapat berkolaborasi dengan kebutuhan masyarakat, sehingga, mampu memberikan nilai manfaat bagi masyarakat luas atau dapat menjadi jawaban atas seluruh permasalahan yang tengah dihadapi oleh masyarakat, seperti kemiskinan. Kedua, sebagai mahasiswa, selain mempelajari ilmu-ilmu yang bertebaran dimana-mana – baik didalam kampus maupun diluar kampus – para mahasiswa harus meyakinkan dirinya dan memiliki tekad yang sangat kuat untuk turut serta didalam medan perjuangan. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih jalan perjuangan yang mereka kehendaki. Memilih untuk berjuang dengan barisan organisasi yang telah ada maupun memutuskan untuk membuat jalan perjuangan yang baru, tentu bukanlah sebuah masalah. Sebab, mewujudkan sebuah cita-cita besar hanya dapat dilakukan dengan jumlah orang yang tidak sedikit, serta dengan perjuangan-perjuangan yang pantang surut. Semoga upaya-upaya tersebut seiring dengan terwujudnya cita-cita menuju masyarakat yang adil dan makmur.

#BungLangit

#RRI

KRAKSAAN; PERLAWANAN MENEGUHKAN IDENTITAS KITA!!!

Hati mana yang tidak akan merasa senang, bilamana mendengar sebuah wilayah yang konon hanya sebagai kota yang hidup di dalam angan saja, kini, hal tersebut tampak nyata dan bukan lagi angan belaka. Kraksaan adalah merupakan wilayah yang dahulu pernah hidup di dalam angan sebagai suatu wilayah yang menjadi dambaan semua warga (karesidenan kraksaan) agar segera bermetamorfosa menjadi tatanan sebuah kota. Dengan penuh rasa syukur, tanpa menunggu waktu yang begitu lama, akhirnya, kraksaan menjadi sebuah ibukota dari kabupaten probolinggo. Pun usia kota yang baru di tetapkan pada tahun 2010 lalu, kini telah berusia 5 tahun. Bilamana kita mengibaratkan usia manusia, 5 tahun adalah usia yang memosisikan manusia berada pada fase awal pertumbuhan. Pada usia tersebut, manusia mulai mengetahui dan mengenal benda. Bahkan, bukan hanya itu saja, seseorang dengan usia 5 tahun, atau dalam ilmu kesehatan, usia 5 tahun kerap di sebut dengan balita, para balita ini pun mulai belajar merangkak dan setelah itu di ikuti dengan belajar berjalan.

Sebagaimana perumpaan yang saya terangkan di atas, nampaknya, perlu kita tegaskan pula bahwa sejak kraksaan di tetapkan sebagai ibukota kabupaten probolinggo, dengan usia yang menjelang 6 tahun, telah banyak perkembangan yang dapat kita saksikan bersama. Mulai dari bidang pendidikan, upaya pemerintah melalui dinas pendidikan melakukan pengintegrasian (penyatuan) sekolah negeri dari jenjang sekolah paling dasar bahkan sampai jenjang paling atas. Hal itu dimaksudkan agar pendidikan dapat berjalan lebih baik. Pada bidang lain, misal, bidang kesehatan, pemerintah telah membangun rumah sakit daerah dengan fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya (meskipun hal ini masih perlu koreksi dan peningkatan mutu di berbagai fasilitas dan infrastruktur yang belum memadai). Pada bidang pariwisata juga sangat menarik untuk dibahas, beberapa wisata yang selama ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah, nampaknya telah berubah. Pemerintah telah melakukan upaya perbaikan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kabupaten probolinggo. Selain di bidang pendidikan, kesehatan, dan pariwisata, juga masih ada beberapa bidang lain yang harus saya terangkan, salah satunya adalah pada bidang ekonomi. Untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, pemerintah dengan sangat gencar mempromosikan diri kepada investor agar melirik kabupaten probolinggo sebagai lahan investasi yang baik. Sebagai daerah yang berkembang, tentu hal ini menjadi point plus bagi kabupaten probolinggo untuk mendapatkan investor sebanyak-banyaknya. Sehingga, proses pembangunan dapat segera tercapai, dan seiring itu pula, pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.

Berdasarkan beberapa pendapat yang saya kemukakan mengenai kemajuan pembangunan yang ada di kabupaten probolinggo, nampaknya, ada satu bidang yang belum saya uraikan dan ini menjadi topic pembahasan yang paling penting. Hal tersebut, berkaitan pada bidang social politik dan budaya atau saya menyebutnya dengan istilah sopo buya. Pada bidang ini, sebagai bagian dari warga masyarakat kabupaten probolinggo, agar secara teguh memberikan kritik yang tajam dan membangun. Sebagaimana sebuah kota-kota yang ada, di dalam melakukan pembangunan, tidak akan terlepas dari sebuah perubahan tatanan dan struktur social masyarakat yang berkaitan pula pada perubahan politik (cara pandang) dan budaya. Jika menelusuri asal usul tatanan social kehidupan kita, bahwa sejatinya, kita adalah keturunan dari bangsa timur yang beradab dan menjunjung tinggi tata krama. Sehingga, bagai mendapat hadiah bola salju yang menyejukkan itu (kita mendapat hadiah pembangunan kota yang begitu pesat), kita pula harus tetap sadar dan terjaga, bahwa sesungguhnya, bola salju yang sedemikian menyejukkan itu, dapat pula membesar dan menghancurkan kehidupan kita. Artinya, sebuah keniscayaan bagi sebuah kota mencapai sebuah pembangunan, namun, tetap masih menjadi sebuah pilihan bagi sebuah kota, apakah dapat bertahan dengan tatanan social yang ada atau tatanan social itu juga hancur seiring di bangunnya gedung-gedung baru?. Mengenai jawaban ini, hanya sejarah yang dapat membuktikan. Sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya, sejarah adalah mahkamah yang paling benar. Bukan hanya itu saja, pembangunan yang di lakukan tidak hanya mengancam pada tatanan social kehidupan kita, melainkan juga, akan menyentuh pada sector politik dan budaya. Pada sector politik, kita akan mempertaruhkan system perpolitikan yang liberal?. Sedangkan pada sector budaya, sebagai wilayah  yang lahir tanpa ke khasan budaya, tentu hal ini menjadi pintu terbuka bagi budaya dari bangsa barat untuk masuk ke wilayah kita dengan sangat leluasa. Hal itu pun dapat kita ketahui melalui kemasan globalisasi, budaya barat dengan cepat merasuk pada setiap lini kehidupan kita.

Dengan demikian, melihat ancaman-ancaman yang datang semakin nyata, seiring dengan usia kota kraksaan yang menjelang usia 6 tahun, kita masih punya banyak waktu yang tersedia, agar dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk mendampingi si kota mungil, kraksaan, ini menjadi sebuah kota dengan pembangunan yang pesat, namun, tetap kokoh mempertahankan kehidupan social, politik dan budaya. Tentu hal ini dapat kita capai dengan selekas-lekasnya, bilamana kita mampu menjunjung tinggi persatuan, bekerjasama dengan sebaik-baiknya, dengan mendasarkan pada prinsip gotong-royong. Kesemua itu dapat pula tercapai, bilamana kita semua sadar untuk duduk bersama, mendiskusikan perihal ini, memberi urun angan dan dengan segera untuk turun tangan.

#RRI
#BungLangit
#RizkieMuxafier

PENDIDIKAN; MASIHKAH MEMISKINKAN IMAJINASI?

Betapa menjadi sebuah kekhawatiran yang mendalam ketika kita mulai menapaki sebuah perjalanan hidup dengan level kehidupan yang lebih keras, tanpa memiliki bekal imajinasi yang sangat cukup?. Apakah mungkin manusia yang baru pertama kali lahir, kemudian ketika pertama kali mulai mengenal sesuatu, baik sebuah subjek maupun objek, manusia dapat menjadi akrab dengan hal tersebut. Misalnya: seorang balita ketika pertama kali diperkenalkan dengan dunia pendidikan, apakah dengan secara tiba-tiba balita tersebut jatuh hati dengan dunia pendidikan?. Menurut hemat saya, jawaban yang sangat mungkin dapat kita ketahui adalah kata TIDAK. Sebab, seorang balita akan mulai jatuh hati dengan dunia pendidikan ketika balita mendapatkan pinjaman imajinasi dari kedua orang tuanya yang berlaku hanya sementara waktu. betapa masih membekas kuat kenangan di masa kecil, ketika kedua orang tua menceritakan imajinasinya bahwa kelak putra-putri kecilnya akan menjadi seorang dokter, polisi, tentara dan segala macamnya. Kemudian, sejak saat itu, ketika tawaran untuk mengenyam dunia pendidikan datang, dengan sangat penuh keyakinan, kita menerima tawaran untuk mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Lalu, secara tiba-tiba kita telah berubah menjadi layaknya seorang pemuda yang jatuh hati kepada kekasih, hanya karena disebabkan pikiran-pikiran kita telah menerima imajinasi yang begitu luar biasa yang telah di tawarkan oleh calon kekasih kita.

Bahwa didalam perjalanannya, kita harus menerima sebuah kenyataan pahit yang sangat memukul nurani dan perasaan. Imajinasi-imajinasi yang di pinjamkan oleh kedua orang tua, telah menghilang secara perlahan. bahkan orang tua kita menyerahkan sepenuhnya diri kita dan nasib kehidupan kita di masa mendatang kepada dunia pendidikan. Orang-orang tua kita juga secara sadar meyakini, bahwa yang menyelamatkan kehidupan seseorang di masa mendatang hanyalah dengan menjadi seseorang yang berpendidikan. Meskipun didalam kenyataannya, dunia pendidikan kita hanya akan bertahan hidup dengan menerapkan sebuah sistem yang begitu menyeramkan. Ya, sebuah sistem yang memaksakan seluruh anak-anak didik mengetahui dan memahami sebuah keilmuan yang di ajarkan. Seluruh anak didik mendapatkan pola dan sistem kurikulum yang sama. Bukankah manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing?. Apakah hal yang demikian tersebut belum mampu menjelaskan bahwa dunia pendidikan kita begitu menyeramkan?.

Lalu, bagaimana jika sistem pendidikan kita tetap seperti itu?. sesuatu yang sangat mungkin akan terjadi adalah kita akan kehilangan daya kritis sebagai manusia terdidik. Pola dan sistem yang di terapkan didalam sebuah kurikulum baku yang berlaku hingga saat ini, hanya akan mengantar anak didik pada pencapaian kelulusannya. Seorang anak didik hanya akan menyelesaikan kewajibannya secara formal. Sedangkan, prestasi yang sesungguhnya menjadi seorang insan terdidik yang merdeka dengan pikirannya tidak akan pernah tercapai. Semenjak anak-anak didik tersebut telah terikat dengan sebuah sistem pendidikan dan tidak adanya upaya perlawanan yang dilakukan oleh anak-anak didik, resiko yang harus di bayar mahal oleh mereka adalah kehilangan sebuah imajinasi yang sesungguhnya menjadi penyelamat bagi kehidupannya. Betapa pernyataan ini harus dijawab dengan seberapa banyak lulusan sekolah yang dimiliki indonesia yang menjadikan mereka sebagai subjek yang membuka peluang pekerjaan? Maka kenyataan yang ada hanyalah, sekolah-sekolah kita seolah menjadi sebuah pabrik besar yang mencetak sejumlah lulusan dengan standart yang sama untuk menekuni bidang pekerjaan yang sama, yaitu menjadi seorang buruh. Sistem pendidikan yang demikian itu telah di singgung oleh Paulo ferreire yang mengatakan bahwa sistem pendidikan yang ada dewasa ini, tidak ubahnya seperti pendidikan gaya bank. Sebuah model pendidikan yang menempatkan tenaga pendidik sebagai seseorang yang mahatahu, sedangkan anak didik sebagai subjek yang memiliki ketidaktahuan dan mendapatkan larangan untuk membantah segala hal yang diajarkan oleh tenaga pendidik.

Lalu, bagaimana menyimpulkan betapa pentingnya sebuah imajinasi didalam dunia pendidikan?. Bahwa ketika pendidikan memberikan ruang imajinasi yang sangat luas kepada anak-anak didik, niscaya kita tidak akan menemukan anak didik yang melanjutkan masa studinya ke jenjang perguruan tinggi yang merasa kebingungan dan dengan gegabah untuk kuliah di sebuah jurusan yang begitu asing dengan kehidupannya. Sebuah keniscayaan pula ketika sarjana-sarjana indonesia memiliki modal imajinasi yang begitu kuat, mereka tidak akan menekuni dan menikmati pekerjaan yang samasekali bukanlah menjadi disiplin keilmuannya. Dan imajinasi seorang anak didik akan tetap hidup dan tumbuh, tatkala ia hidup di dalam sebuah sistem yang mengantarnya menuju kepada keberanian berimajinasi, dengan pula di kuatkan dengan adanya tenaga pendidik yang mampu mengantar anak-anak didik mereka menuju kepada tahap yang mengantar para anak didik berani berimajinasi. Tidak dapat kita sangkal, bahwa imajinasi adalah bagian dari kodrat yang dimiliki oleh anak-anak didik. Untuk itu, mengutip pemikiran ki hajar dewantara, ia pernah berkata bahwa “anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

#RRI
#BungLangit
#RizkieMuxafier

Surat ke Dua Puluh : Cita-cita, Kita, dan Cinta

Assalamualaikum bulan, semoga senantiasa kau selalu dalam lindunganNya.

Aku minta maaf, karena aku baru bisa mengirimimu surat. tolong maafkan kesalahanku ini.

Bulan, betapa aku merindukan keadaan yang seperti ini. keadaan ketika aku merindukanmu tanpa batas. Bahkan aku sampai lupa, bahwa mencintai adalah soal perjumpaan dua hati yang terikat kekal oleh janji. Sehingga, aku tidak pernah menyadari, bahwa merindukan adalah sesuatu yang paling menyiksa bagi mereka yang telah jatuh cinta. Jangan kau tanyakan kepada siapa aku jatuh cinta, sebab, masih adakah bulan yang lain, yang selalu aku sebut-sebut namanya dalam harapanku dimasa mendatang?. Dan cinta itu hanyalah untukmu. Satu-satunya seseorang yang hingga hari ini, belum juga oleh Tuhan di pertemukan kepada hati yang begitu tulus mencintainya.

Bulan, sejujurnya, aku sangat merindukanmu. Penundaan perjumpaan kita yang telah menjadi garis takdir Tuhan, adalah kembali menjadi rintang bagi cinta kita untuk bertemu. Tetapi, aku meyakini, kau juga bersabar dengan keadaan ini, sehingga juga menuntun diriku untuk bersabar dengan ini.

Bulan, kita harus mengakui, ketika saat-saat seperti ini, adalah tantangan terberat bagi mereka yang bertekad dengan penuh ketulusan hendak membangun hubungan yang begitu hangat didalam ruang yang bernama rumah tangga. Sebab, di usia-usia yang seperti ini, yang terutama pada pokoknya adalah menyelesaikan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita. Ya, tanggung jawab yang aku maksudkan itu adalah cita-cita dari masing-masing diri kita. Aku memiliki cita-cita, dan begitu juga denganmu. Untuk itu, mungkin inilah sebagian yang menjadi rencana Tuhan, menunda pertemuan kita berdua. Aku harus menunaikan lebih dulu, sesuatu yang menjadi cita-citaku. Dan hal itu juga berlaku untukmu, seluruh cita-citamu harus engkau tunaikan lebih dahulu. Namun, hal tersebut juga tidak serta merta menjadi alasan bagi kita untuk menunda langkah kita berdua. Sesaat, kesemuanya telah kita tunaikan. Cita-citaku terwujud, begitu pula dengan cita-citamu yang telah terwujud, maka hendaknya kita menyusun cita-cita bersama. Oleh sebab itu, pada surat ini, aku beri judul cita-cita, kita dan cinta. Aku menempatkan keadaan diriku dengan dirimu di antara cita-cita dan cinta. Kita berada tepat di tengah-tengah, dengan maksud agar kita senantiasa mengingat, ada sesuatu yang abstrak yang senantiasa memberi warna di kehidupan kita. Sesuatu yang asbtrak itu adalah cita-cita dan cinta.

Bulan, semuanya bermula dari cita-cita maupun cinta. Sebelum aku dan kamu menjadi kita, maka perjalanan akan di mulai dari cita-cita masing-masing yang harus di tunaikan, kemudian bertemu, dan menjadi kita, untuk berjalan berdua menuju tujuan akhir yaitu cinta. Atau sebaliknya, masing-masing diri kita telah menemukan cinta, hingga pada akhirnya, aku dan kamu menjadi kita, lalu, berjalan beriringan menuju cita-cita. Sebab, untuk menjadi kita, aku dan kamu harus sanggup menyeimbangkan kekuatan antara cita-cita dan cita. Keduanya harus tetap hidup didalam diri kita. Agar tujuan dapat kita tercapai. Hidup bersamamu, hingga akhir hayatku, adalah cita-cita terbesarku, semoga itu pula adalah cita-cita besarmu. Wassalam

#RizkieMuxafier #RRI

Surat Berduka Dari Seberang Istana

Ibu, betapa aku merasa sangat terkejut ketika aku mendengar kabar tentangmu. Sebuah kabar yang berbeda dari kabar-kabar sebelumnya, kini kabar tentangmu, sangat mengalir deras, beredar diseluruh media sosial milikku. Betapa aku merasakan yang pertama kali, saat itu, aku begitu terpukul. Mengapa begitu cepat, Tuhan selalu memanggil pulang orang-orang yang dicintaiNya. Padahal, kami belum mengenalmu lebih jauh, bercengkerama, mungkin juga sekaligus menyaksikan setiap tetes keringatmu yang mengalir dan jatuh di jalan yang beraspal, diseberang istana yang menjadi saksi bisu perjuanganmu. Dan dengan sangat tiba-tiba, Tuhan memintamu untuk pulang, kembali dekat denganNya, untuk menyaksikan perlawanan kami dibumi untuk meneruskan cita-cita engkau yang begitu mulia. Warisan perjuangan demi kedaulatan hidup anak cucu kita.

Ibu, kami benar-benar meminta maaf. Bila selama ini, hingga ibu dipanggil pulang, kami belum sempat menjenguk. Datang dan melihat langsung keadaan ibu dan kawan-kawan ibu lainnya, untuk memastikan bahwa keadaan ibu dan yang lain-lain baik-baik saja. Sebuah harapan yang selalu kami selipkan dikala kami berdo’a dari ruang yang jauh, adalah semoga ibu beserta kawan ibu yang lain selalu sehat wal afiat. Dan kami masih berhutang kepada mimpi-mimpi kecil kami untuk datang menemuimu. Hidup bersamamu, dekat disampingmu, lalu, menjadi pendengar setia, segala curahan hatimu. Agar kami kelak tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepekaan rasa terhadap sesama juga terhadap semesta. Sebagai manusia yang kelak harus bertanggung jawab atas keselamatan hidup generasi selanjutnya. Karena kami belajar dari engkau ibu, bahwa kehidupan hari ini, adalah kehidupan yang kita pinjam dari generasi yang akan datang. Jadi, kami harus menyadari tanggung jawab besar itu, memberikan jaminan hidup terhadap anak cucu. Kami juga akan menjadi saksi mata, menyaksikan segala sesuatunya secara langsung, perjuang-perjuangan berat yang telah ibu lakukan bersama kawan-kawan lainnya. Mendirikan tenda perjuangan yang sangat dekat dengan tindakan aparat yang kerapkali diwarnai kekerasan. Mungkin akan memberikan pengsadaran kepada kami, bahwa sebuah perjuangan kerapkali berbanding lurus dengan penderitaan.

Ibu, doakan kami semua, semoga di zaman milenial, kepekaan sosial tetap akan tinggal. Semoga dari lubuk hati yang terdalam, dari para anak muda serta para kaum intelektual yang bernama mahasiswa, akan segera insyaf dan sadar, untuk tetap tegak berdiri memperjuangan tanah leluhurnya, sebagai sebuah warisan bagi kehidupan anak cucu mereka.

Ibu, bagaimana perasaan ibu saat ini?. Ketika Tuhan berkehendak untuk memanggilmu pulang lebih cepat. Semoga ibu merasa bahagia di surga sana. Bertemu dengan pejuang-pejuang lain, menikmati hidup bersama mereka. lalu, ibu mengirimkan doa dari surga, semoga para pejabat kita, juga akan segera insyaf dan sadar. Doa yang ibu tujukan Kepada bapak gubernur, kepada menteri, bahkan kepada bapak presiden kita, semoga mampu menyadarkan mereka betapa pentingnya sebuah keharusan bagi kita untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan kita. Semoga doa ibu dikabulkan, agar besok, mungkin lusa, atau sebentar lagi, mereka tidak akan lagi tuli dan buta, mengetahui segala putusan pengadilan yang telah memenangkan perjuangan kita. Karena seharusnya mereka sadar, peran penegak keadilan adalah wakil Tuhan dimuka bumi. Masihkah pejabat kita berani mengingkari itu semua?. Semoga mereka takut melakukan itu, lalu, menerima putusan pengadilan dan memenangkan perjuangan kita. Agar kehidupan kita selamat dari bencana.

Ibu, jaga diri dan baik-baik disana. Semoga dari seberang istana, di kemudian hari, tidak akan lagi datang sebuah kabar duka. Semoga presiden selamanya akan baik hati dan memihak kepada rakyat kecil ya, bu. Mewujudkan seluruh  permohonan yang diajukan oleh setiap pejuang yang datang mendekat ke istana. Karena istana yang dibangun megah, menjadi cermin untuk menghapus duka para kaum yang susah. Para petani, para buruh, para nelayan, serta kaum-kaum marhaen lainnya, tidak sampai mengalami hal yang ibu alami. Seperti halnya, ibu harus duduk berbaris dengan rapi bersama pejuang kendeng yang lain, sembari mencor kaki dengan semen, sebagai bentuk pengaduan nyata kepada bapak presiden, karena gubernur yang telah dipercaya untuk memimpin pemerintahan di daerah ibu, telah melakukan tindakan yang telah mencederai putusan pengadilan. Semoga kisah perjuangan ibu yang telah bersejarah akan mengetuk hati presiden, agar dengan secepat mungkin mengabulkan permohonan warga kendeng untuk menolak pendirian pabrik semen. Semoga pula, kisah ibu akan mampu mengetuk hati presiden untuk selalu berpihak kepada rakyat. Agar bapak presiden dengan cepat mengabulkan permohonan pengaduan yang telah diajukan oleh sekelompok rakyat, para petani, para buruh, para nelayan serta kaum-kaum marhaen lainnya, untuk sebuah kehidupan mereka yang lebih baik.

Ibu, semoga perjuangan kita tidak akan mati, meski pemerannya harus berganti. Semoga perjuangan kita panjang umur, dan para pejuang tumbuh subur. Dan terimakasih bu, telah berjuang untuk kami, serta anak cucu kami. Al-fatihah.

#BungLangit #RRI

Surat ke Sembilan belas : (15 : 15) Cahaya Dalam Sekejap

Assalamualaikum, semoga rahmat allah dan keberkahannya terlimpahkan kepadamu.

Semoga salam yang senantiasa aku sampaikan, akan menjadi yang terutama untuk menjaga dirimu serta kehidupanmu seutuhnya. Maaf, bila suatu perlindungan yang aku berikan hanya sanggup aku lakukan melalui do’a, sebab, aku harus menyadari, semenjak kita menyepakati keputusan itu, aku telah kehilangan hakku untuk mencintaimu dengan seutuhnya. Aku telah kehilangan imajinasiku sebagai malaikat yang memberikan perlindungan kepada bidadari yang amat dicintainya. Bila aku tetap dengan keras memperjuangkan memberikan perlindungan itu kepadamu, tidakkah aku telah menyakiti hati seseorang yang mungkin saja kelak akan menjadi teman hidupmu selamanya. Aku tidak sanggup untuk menyakiti hati mereka, cukuplah aku saja yang menangung rasa sakit itu.

Bulan, tanpa terasa, aku telah menghabiskan waktu 45 hari lamanya tanpa memberimu kabar. Terhitung, sejak surat terakhir yang aku tuliskan kepadamu. Dan aku meyakini, kali ini adalah merupakan sebuah kesalahan besar yang aku lakukan padamu. Mengingkari janji yang aku buat sendiri, agar selalu tetap berada disampingmu. Aku benar-benar minta maaf bulan atas kesalahanku itu. semoga engkau senantiasa memberi maaf kepadaku. Seseorang yang telah kehilangan hak untuk mencintaimu seutuuhnya, apakah kau masih tega, menghukum seseorang yang telah kehilangan haknya untuk mencintaimu dengan seutuhnya dengan tidak memberiku maaf. Bulan, tolong terimalah permohonan maafku.

Bulan, aku  tidak mengerti apa yang harus aku tulis untuk judul suratku ini. aku hanya menuliskan 2 jumlah angka yang sama, yaitu sepasang angka 15. Mungkin hanya angka itu saja yang aku ingat, untuk aku tulis di suratku ini. aku tidak bermaksud untuk menghapus ingatan yang lain. Seluruhnya, aku masih mampu mengingat dengan baik, misalnya : perjuanganmu yang begitu berat untuk sekedar datang menemuiku. Meskipun, aku tidak dapat memungkiri, bahwa sesuatu yang tetap hidup dalam benak adalah persoalan angka yang tanpa disadari menuliskan kisah yang berbeda.  Angka 15 yang pertama, aku masih ingat dengan jelas, saat itu, sebuah harapan menyala dari ruang hati yang menahun redup. Bertahun-tahun hati yang aku miliki, hampir menuju ke masa kegelapan. Namun, seiring waktu yang berjalan, semesta mengatur perjumpaan kita. Pun semesta yang telah mengantarku bertemu denganmu. Kita berdua berjumpa. aku merasa sangat gembira saat itu. Ruang hatiku yang begitu gelap, kini akan menyala terang. Sebab, seorang bidadari akan datang menjadi tuan empunya hati itu. ia sangat sanggup untuk menjadi cahaya didalam kegelapan itu. Dan hal itu pun terbukti. Kau menjadi cahaya di ruang hatiku yang begitu gelap gulita.

Sedangkan, angka 15 yang kedua, menorehkan kisah yang berbeda. Hati yang telah terang oleh cahayamu, kini, telah kau tinggalkan. Dan hati yang semula telah kembali terang, saat ini, ia akan kembali menuju redup. Ruang hati yang telah benderang oleh kasih putihmu, kini, tidak dapat lagi aku kisahkan bagaimana keadaan hatiku setelah empunya yang menguasai cahaya itu meninggalkan ruang hidupnya. Aku tidak sanggup mengatakan yang lain, selain dua hal ini. pertama aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepadamu, karena meskipun dalam sekejap, kau telah menjadi cahaya bagi ruang hatiku yang gelap. Itu sebuah ketulusan yang sangat luar biasa. sebab, betapa berharganya api dari sebuah korek untuk menyalakan cahaya atau obor yang telah padam. Saat itu engkau menjadi seorang penyelamat bagi hatiku yang telah lama gelap agar tetap menyala dengan kehadiran cahaya tulusmu. Mungkin jika diwaktu lampau itu, engkau memberi keputusan yang lain, niscaya ruang hatiku tetap akan gelap. Tetapi, ketulusanmu menjadi cahaya meskipun dalam sekejap telah benar-benar memberikan keselamatan bagi hati yang menahun dipenuhi kegelapan itu. aku berterimakasih untuk itu semua. Kedua, aku minta maaf, bila selama ini hanya memintamu untuk menjadi cahaya dihatiku. Sedangkan, aku tidak sanggup untuk menjadi cahaya dihatimu. Tolong, terimalah permohonan maafku.

Bulan, untuk kalimat terakhir, mungkin selepas ini adalah waktu yang disediakan untukku belajar lebih baik lagi. Agar aku senantiasa meningkatkan iman dan keyakinakanku, bahwa segalanya adalah Kuasa Tuhan kita. Segalanya adalah sebuah misteri dan teka-teki. Termasuk, sepasang angka 15 yang tidak dapat kita pecahkan sendiri, melainkan menunggu kuasa Tuhan untuk mengerti apa yang telah direncanakan kepada kehidupan kita. Bulan, jaga dirimu dengan sebaik-baiknya.

Wassalam

#RizkieMuxafier #RRI