Assalamualaikum bulan?
Semoga Rahman dan RahimNya, memberikan sebaik-baiknya perlindungan untuk hidupmu. Memberikan penjagaan yang sebaik-baiknya kepadamu. Karena perempuan bagi Tuhan, adalah makhluk yang mulia. Sehingga, Tuhan pun turut serta menjaga ciptaanya yang paling sempurna tersebut. Semoga kau dalam penjagaan dan perlindunganNya. Amin.
Bulan, seperti kebiasaanku sebelumnya, diawal surat, selain menyapamu dengan doa, aku turut sertakan permintaan maafku. Jika sampai hari ini, aku belum mampu menjadi sebaik-baiknya kekasih idamanmu. Sebab seorang kekasih yang terbaik, tidak akan pernah meninggalkan orang yang dicintainya tanpa kabar. Aku minta maaf bulan atas sikapku tersebut. Hanya dapat mengabarimu melalui surat-suratku, tanpa sanggup membawa kemesraan dan kehangatan, melainkan hanya membawa kesedihan yang mendalam. Maafkan bulan.
Bulan, semoga di lain ruang, engkau baik-baik saja. Kabarkan padaku, dan sebaiknya tidak engkau simpan sendiri, bila di dalam hari-harimu, kau menemui permasalahan yang sulit untuk dihadapi, beri aku kesempatan untuk menjadi pendampingmu untuk mengatasi seluruh masalah-masalahmu. Agar kelak seluruh keluargamu, mempercayai aku untuk menerimanya sebagai bagian dari keluarga besarmu.
Bulan, aku meminta ijin kepadamu. Untuk aku jelaskan tentang kabarku. Sebentar lagi, aku akan melepas statusku sebagai seorang mahasiswa. Ya, dalam waktu dekat aku akan wisuda dan menjadi seorang sarjana. Lalu, setelah ini kemana? Mungkinkah kiranya, kau akan menanyakanku seperti itu?. aku sedikit sudah menjelaskan kepadamu bulan, di surat yang aku tulis sebelumnya. Pilihannya hanya ada 3, pertama melanjutkan kuliah. Kedua, bekerja. Dan terakhir adalah menikah. Di surat ini, aku tidak akan akan menjelaskan tentang poin pertama dan kedua. Sebab, logika yang dipakai adalah bermuara pada pencapaian karir dan materi. Aku lebih semangat jika kita bicara soal menikah. Meskipun, rejeki, ajal dan jodoh atau pun pernikahan masih selalu menjadi misteri. Setidaknya, kita telah berusaha, agar senantiasa menggunakan iman daripada logika. Dan sebaik-baiknya iman, adalah menturut sertakan Tuhan didalam segala kehidupan kita. Sehingga, dalam persoalan pernikahan, aku lebih menggunakan keimananku, daripada sebuah logika. Aku akan menerangkannya kepadamu. Semoga kau juga bergembira, ketika membaca suratku.
Bulan, sesungguhnya, membuka jalan untuk melanjutkan kuliah atau bekerja adalah suatu urusan yang mudah. Karena Tuhan adalah Dzat yang maha pengasih. Kepada siapapun, Tuhan akan membuka jalan bagi mereka yang senantiasa berusaha dan bekerja keras. Dan setiap manusia, adalah wajib hukumnya untuk bekerja keras. Jadi, kita sama sekali tidak pernah bermasalah soal kuliah lagi atau harus bekerja.
Namun, kita akan menghadapi satu masalah yang sulit oleh akal dan logika kita untuk diselesaikan. Apakah masalah yang aku maksudkan itu?. jawabannya adalah Menikah. Apakah kau pernah menemukan didunia ini mengenai pernikahan, bahwa banyak orang-orang yang telah mencapai kesempurnaannya menjalani pernikahan? Atau apakah mereka sudah melangkah memasuki dunia itu?. Di zaman yang sangat maju dan modern, kita akan sangat kesulitan untuk menemukan orang-orang yang telah berhasil menjalani pernikahan dengan sempurna, atau seseorang yang saling mencintai sampai kepada pernikahan?. Karena arus kehidupan modern menyeret setiap orang yang mengutamakan logika mereka. Dan soal pernikahan yang aku maksudkan, aku memiliki hati yang oleh kuasa tuhan semoga tetap dalam lindungannya. Bahwa semoga dengan keimananku, aku memilihmu adalah sebuah keputusan yang mendapat restu dari Tuhan. Semoga.
Sebab, bagiku, aku memilihmu adalah dengan perantaraan semesta yang dalam kepercayaanku, itu semua tergerak atas kuasa tuhan. Aku mencoba mengumpulkan keyakinan agar dalam sekejap saja, aku tidak luput untuk memikirkan tentang pernikahan. Dan salah satu unsur yang hidup didalam sebuah pernikahan adalah sebenarnya persoalan kerelaan berbagi rumah satu sama lain. Rumah yang aku maksudkan adalah bukan bangunan gedung mewah. Namun, sebuah rumah yang menjadi tempat berlindung paling menenangkan dan menentramkan. Tentang rumah yang pernah aku tulis di surat sebelumnya (https://rizqyridhoilahi.wordpress.com/2016/05/04/surat-ke-delapan-membangun-rumah-rindu/), setiap seseorang yang benar-benar jatuh cinta, didalam hati dan pikirannya, hanya memimpikan rumah yang dapat ditempati dengan nyaman, tenang, dan tentram. Sebuah rumah yang penuh dengan keharmonisan. Rumah yang akan selalu menyambut penghuninya dengan riang. Rumah yang menyediakan tempat yang seluas-luasnya untuk mencurahkan segala keluh kesah kehidupan. Rumah yang menyediakan waktunya dari pagi hingga malam. Rumah yang akan menjadi tempat berseminya segala suka dan duka. Dan sebaik-baiknya rumah yang aku maksudkan adalah hati kita masing-masing. Sesungguhnya, aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku tidak pernah lepas memikirkan soal pernikahan, karena aku meyakini bahwa kamu adalah rumah untuk segenap hati. Ya, segenap hatiku yang akan menetap dihatimu. Segenap hatiku yang penuh dengan rasa ingin manja, penakut, kurang percaya diri dan lain sebagainya. Dan memutuskan untuk menetap dirumah hatimu, adalah sebuah keputusan yang juga aku turut sertakan peran Tuhan untuk mengatur perjalanan kita selanjutnya.
Dan diakhir tulisanku, aku memohon kepadamu, persembahkanlah rumah hatimu, untuk segenap hatiku. Semoga tuhan mengabulkan ini. amin.
wassalam
#RizkieMuxafier #RRI

