Surat ke-Delapan belas :  “ Rumah Segenap Hati ”

Assalamualaikum bulan?

Semoga Rahman dan RahimNya, memberikan sebaik-baiknya perlindungan untuk hidupmu. Memberikan penjagaan yang sebaik-baiknya kepadamu. Karena perempuan bagi Tuhan, adalah makhluk yang mulia. Sehingga, Tuhan pun turut serta menjaga ciptaanya yang paling sempurna tersebut. Semoga kau dalam penjagaan dan perlindunganNya. Amin.

Bulan, seperti kebiasaanku sebelumnya, diawal surat, selain menyapamu dengan doa, aku turut sertakan permintaan maafku. Jika sampai hari ini, aku belum mampu menjadi sebaik-baiknya kekasih idamanmu. Sebab seorang kekasih yang terbaik, tidak akan pernah meninggalkan orang yang dicintainya tanpa kabar. Aku minta maaf bulan atas sikapku tersebut. Hanya dapat mengabarimu melalui surat-suratku, tanpa sanggup membawa kemesraan dan kehangatan, melainkan hanya membawa kesedihan yang mendalam. Maafkan bulan.

Bulan, semoga di lain ruang, engkau baik-baik saja. Kabarkan padaku, dan sebaiknya tidak engkau simpan sendiri, bila di dalam hari-harimu, kau menemui permasalahan yang sulit untuk dihadapi, beri aku kesempatan untuk menjadi pendampingmu untuk mengatasi seluruh masalah-masalahmu. Agar kelak seluruh keluargamu, mempercayai aku untuk menerimanya sebagai bagian dari keluarga besarmu.

Bulan, aku meminta ijin kepadamu. Untuk aku jelaskan tentang kabarku. Sebentar lagi, aku akan melepas statusku sebagai seorang mahasiswa. Ya, dalam waktu dekat aku akan wisuda dan menjadi seorang sarjana. Lalu, setelah ini kemana? Mungkinkah kiranya, kau akan menanyakanku seperti itu?. aku sedikit sudah menjelaskan kepadamu bulan, di surat yang aku tulis sebelumnya. Pilihannya hanya ada 3, pertama melanjutkan kuliah. Kedua, bekerja. Dan terakhir adalah menikah. Di surat ini, aku tidak akan akan menjelaskan tentang poin pertama dan kedua. Sebab, logika yang dipakai adalah bermuara pada pencapaian karir dan materi. Aku lebih semangat jika kita bicara soal menikah. Meskipun, rejeki, ajal dan jodoh atau pun pernikahan masih selalu menjadi misteri. Setidaknya, kita telah berusaha, agar senantiasa menggunakan iman daripada logika. Dan sebaik-baiknya iman, adalah menturut sertakan Tuhan didalam segala kehidupan kita. Sehingga, dalam persoalan pernikahan, aku lebih menggunakan keimananku,  daripada sebuah logika. Aku akan menerangkannya kepadamu. Semoga kau juga bergembira, ketika membaca suratku.

Bulan, sesungguhnya, membuka jalan untuk melanjutkan kuliah atau bekerja adalah suatu urusan yang mudah. Karena Tuhan adalah Dzat yang maha pengasih. Kepada siapapun, Tuhan akan membuka jalan bagi mereka yang senantiasa berusaha dan bekerja keras. Dan setiap manusia, adalah wajib hukumnya untuk bekerja keras. Jadi, kita sama sekali tidak pernah bermasalah soal kuliah lagi atau harus bekerja.

Namun, kita akan menghadapi satu masalah yang sulit oleh akal dan logika kita untuk diselesaikan. Apakah masalah yang aku maksudkan itu?. jawabannya adalah Menikah. Apakah kau pernah menemukan didunia ini mengenai pernikahan, bahwa banyak orang-orang yang telah mencapai kesempurnaannya menjalani pernikahan? Atau apakah mereka sudah melangkah memasuki dunia itu?. Di zaman yang sangat maju dan modern, kita akan sangat kesulitan untuk menemukan orang-orang yang telah berhasil menjalani pernikahan dengan sempurna, atau seseorang yang saling mencintai sampai kepada pernikahan?. Karena arus kehidupan modern menyeret setiap orang yang mengutamakan logika mereka. Dan soal pernikahan yang aku maksudkan, aku memiliki hati yang oleh kuasa tuhan semoga tetap dalam lindungannya. Bahwa semoga dengan keimananku, aku memilihmu adalah sebuah keputusan yang mendapat restu dari Tuhan. Semoga.

Sebab, bagiku, aku memilihmu adalah dengan perantaraan semesta yang dalam kepercayaanku, itu semua tergerak atas kuasa tuhan. Aku mencoba mengumpulkan keyakinan agar dalam sekejap saja, aku tidak luput untuk memikirkan tentang pernikahan. Dan salah satu unsur yang hidup didalam sebuah pernikahan adalah sebenarnya persoalan kerelaan berbagi rumah satu sama lain. Rumah yang aku maksudkan adalah bukan bangunan gedung mewah. Namun, sebuah rumah yang menjadi tempat berlindung paling menenangkan dan menentramkan. Tentang rumah yang pernah aku tulis di surat sebelumnya (https://rizqyridhoilahi.wordpress.com/2016/05/04/surat-ke-delapan-membangun-rumah-rindu/), setiap seseorang yang benar-benar jatuh cinta, didalam hati dan pikirannya, hanya memimpikan rumah yang dapat ditempati dengan nyaman, tenang, dan tentram. Sebuah rumah yang penuh dengan keharmonisan. Rumah yang akan selalu menyambut penghuninya dengan riang. Rumah yang menyediakan tempat yang seluas-luasnya untuk mencurahkan segala keluh kesah kehidupan. Rumah yang menyediakan waktunya dari pagi hingga malam. Rumah yang akan menjadi tempat berseminya segala suka dan duka. Dan sebaik-baiknya rumah yang aku maksudkan adalah hati kita masing-masing. Sesungguhnya, aku memberanikan diri mengatakan bahwa aku tidak pernah lepas memikirkan soal pernikahan, karena aku meyakini bahwa kamu adalah rumah untuk segenap hati. Ya, segenap hatiku yang akan menetap dihatimu. Segenap hatiku yang penuh dengan rasa ingin manja, penakut, kurang percaya diri dan lain sebagainya. Dan memutuskan untuk menetap dirumah hatimu, adalah sebuah keputusan yang juga aku turut sertakan peran Tuhan untuk mengatur perjalanan kita selanjutnya.

Dan diakhir tulisanku, aku memohon kepadamu, persembahkanlah rumah hatimu, untuk segenap hatiku. Semoga tuhan mengabulkan ini. amin.

wassalam

#RizkieMuxafier #RRI

 

SEKAPUR SIRIH RUMAH SASTRA GANDES

backdrop-gandes

Rumah Sastra Gandes (Guyub Among Ndeso) adalah merupakan rumah besar bagi seluruh penggiat-penggiat Sastra. Namun, bukan hanya itu saja, sebagai Rumah Besar, Rumah Sastra Gandes juga membuka pintu selebar-lebarnya kepada setiap orang yang ingin menetap dan tinggal. Kepada siapapun mereka yang dengan kesadaran dan keinsyafannya hatinya, hendak memperjuangkan dirinya agar senantiasa menjalani hidup dengan nilai-nilai kemanusian yang hidup menjadi ruh didalam jiwa manusia. Dengan kenyataan tersebut, kami berharap Rumah Sastra Gandes dapat bertransformasi menjadi Rumah Budaya bagi siapapun mereka. Sehingga, Rumah Sastra Gandes juga memberikan andil didalam melahirkan peradaban sosial yang lebih kemanusiaan dimasa mendatang.

Rumah Sastra Gandes, pertama kali lahir di desa Bago, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sebuah desa yang berada di pelosok nun jauh dari hiruk pikuk keramaian, desas-desus saling tikam, hingga  perdebatan-perdebatan mencari dan mempertahankan kekuasaan. Oleh sebab keadaan yang demikian itu, Rumah Sastra Gandes kami bangun dengan semangat kebersamaan. Didalam kenangan sejarah, kebersamaan yang dimaksudkan adalah gotong-royong. Satu-satunya warisan luhur dari para moyang, yang berusaha kami jaga dan rawat agar tidak binasa.

Bilamana pada umumnya, sebuah komunitas seringkali menunjukkan identitas kedaerahannya, Rumah Sastra Gandes dibangun bukan dengan pengharapan untuk perubahan satu daerah saja, melainkan untuk perubahan bagi seluruh daerah yang ada. Namun, hal ini tidak akan mungkin pernah terjadi, bilamana diantara kami masih memelihara dan senantiasa merawat egoisme didalam pribadi masing-masing. Ego yang senantiasa memberi pengaruh untuk mementingkan diri sendiri dan juga mendahulukan kepentingan daerah mereka sendiri. Pun ego akan tetap menjadi panglima bagi siapa saja yang tidak pernah merasakan nikmatnya bergaul dengan ragam kelas kemasyarakatan yang ada. Dan puji syukur, mereka-mereka yang hidup dan tinggal di Rumah Sastra Gandes memiliki hati yang lapang, kepribadian yang tulus, jiwa yang bernafaskan gotong-royong, untuk menjadikan Rumah Sastra Gandes sebagai kepunyaan semua orang, dan juga semua daerah yang memiliki kegembiraan luar biasa terhadap Rumah Sastra Gandes ketika sedang mengadakan kerjasama. Sehingga, Rumah Sastra Gandes lahir untuk “ guyub among ndeso “ atau “ Bergotong-royong bangun desa “.

Rumah Sastra Gandes kami dirikan dengan semangat untuk menanamkan rasa kemanusiaan didalam pribadi perseorangan. Dan mungkin juga untuk merangsang rasa kemanusiaan yang telah pudar didalam jiwa seseorang. Hal ini kami lakukan bukan tanpa alasan. Perkembangan zaman yang bergerak cepat, pembangunan yang marak, gedung-gedung yang dibangun menjulang tinggi, memberikan kekhawatiran yang terdalam bagi peradaban sosial yang akan lahir tanpa nilai-nilai sosial. Sikap saling bantu, tolong menolong, saling peduli dan lain-lain, hanya akan menjadi teori-teori yang diajarkan di ruang-ruang belajar tanpa mampu kita praktikkan dengan sempurna nilai-nilai tersebut di kehidupan yang nyata. Kenyataan yang demikian ini telah diawali dengan menimpa kitab-kitab suci Tuhan. Betapa nilai-nilai yang terkandung didalam ayat suciNya sangatlah sempurna, namun, didalam pengamalannya, umat Tuhan senantiasa gagal. Betapa sangat kecil yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, orang akan membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Hal tersebut menjadi pengingat agar kita lebih berhati-hati didalam menyambut kemajuan zaman. Nilai-nilai kemanusiaan adalah nilai yang orisinil dimiliki oleh manusia. Oleh sebab itu, mereka, para manusia-manusia itu haruslah tetap menjaga dan merawatnya dengan baik.

Bahwa tidak dapat di pungkiri, tingginya rasa yang dimiliki oleh pribadi sastrawan, seniman, musisi dan lain-lain, didalam kenyataannya, menjadi sebab terutama mereka melahirkan dan menciptakan karya. Untuk itu, kami berharap kepada mereka yang hidup dan tinggal di Rumah Sastra Gandes, agar senantiasa meningkatkan rasa, terutama rasa yang dipenuhi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang ada didalam jiwa mereka masing-masing. Hal tersebut akan memberikan pengaruh yang baik didalam kehidupan kita kelak. Rasa yang kita jaga dan pelihara dengan baik, akan mengantar kita pada pencapaian lahirnya sebuah karya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Sebab, Rumah Sastra Gandes kami dirikan dengan fungsi agar para anggota yang tinggal dapat meningkatkan dirinya dengan perantaraan Rumah Sastra Gandes. Kelak, dikemudian hari, didalam perencanaan kami, Rumah Sastra Gandes diharapkan dapat memberikan pengembangan pengetahuan dan keahlian bagi masing-masing orang yang bersandar pada rasa yang memanusiakan.

Dengan mengilhami pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia – Ki Hajar Dewantara – yang mengatakan bahwa “ setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah “, mengantar Rumah Sastra Gandes menuju satu tujuan yang menghendaki agar Rumah Sastra Gandes menjadi sebuah rumah bagi siapapun yang dengan bekal pengetahuannya berlimpah, suci hatinya, yang dengan ketulusan hatinya pula, dengan perasaan gembira akan membagikan ilmu dan pengetahuannya kepada semua orang. Karena mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah tugas terutama bagi mereka yang menyebut dirinya manusia indonesia.

Selain itu, Rumah Sastra Gandes kami fungsikan sebagai perantara antara kaum intelektual yang bergelar dengan masyarakatnya. Hal ini kami sadari dari sebuah kenyataan yang ada, bahwa setiap orang yang beranjak pergi dari kampung halamannya untuk menuntut ilmu, lalu, tatkala mereka pulang ke kampung halamannya kembali, mereka merasa sepi dan merasa menjadi asing bagi kehidupan sekitarnya. Kenyataan yang demikian ini, pernah dijelaskan oleh WS Rendra didalam salah satu puisinya yang berjudul “ Sajak Seonggok Jagung “. Betapa pemikiran Rendra didalam puisinya tersebut dapat menggambarkan keadaan dimasa sekarang. Bahwa para intelektual yang bergelar sarjana, seringkali menemukan kebuntuan ketika mereka hendak pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Oleh sebab itu, Rumah Sastra Gandes menyulap dirinya untuk berfungsi sebagai perantara bagi para calon sarjana maupun sarjana yang hendak pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Didalam bagian akhir tulisan ini, kami hanya akan menjelaskan cita-cita besar Rumah Sastra Gandes. Bahwa kami mencita-citakan kelak Rumah Sastra Gandes dapat menemukan puncak pengabdiannya dengan memetamorfosi diri menjadi sebuah kelembagaan yang bergerak untuk kebaikan hidup masyarakat. Dalam hal yang terutama, kami berharap Rumah Sastra Gandes akan berubah menjadi sebuah institusi pendidikan, yang segala hal macamnya, menggunakan standart operasional prosedur dan kurikulum kami sendiri. Agar kelak para lulusan dapat melanjutkan cita-cita dari Rumah Sastra Gandes, yaitu, melahirkan dan menjaga rasa kemanusiaan.

 

Among Rumah Sastra Gandes

 

Rizqy Ridho Ilahi

Surat ke-Tujuh Belas : Usia Muda, menihkahlah dengan ku !!!

Assalamualaikum bulan, bagaimana kabarmu?

Apakah telah kau terima segala rinduku yang aku kirimkan beserta suratku ini? kerinduan yang seluruhnya hidup dari ruh-ruh yang meresahkan keberadaanmu. Semoga engkau tetap dalam lindungan dan penjagaanNya. Amin.

Bulan, tanpa terasa waktu berlalu cepat. Di sela-sela waktu yang tiada kabar darimu, akhirnya, sebagian kewajiban telah aku tunaikan. Ini sebuah bentuk sikap dewasa yang kau tunjukkan kepadaku. Kau memberikan kepercayaan kepadaku sepenuhnya, untuk menyelesaikan ini semua. Meski terkadang, tidak dapat aku tolak rasa rindu yang dipenuhi keresahan-keresahan semakin kuat menghujam keyakinanku. Tapi, keadaan-keadaan yang sulit yang telah membesarkan kita, menjadikan kita tangguh dalam hal apapun. Sehingga kita percaya, kita dapat melalui ini semuanya dengan baik. Amin.

Bulan, maaf, aku lupa memberimu kabar, namamu selalu menjadi pembicaraan hangat di keluarga kami. Ibuku, ayahku, adikku, paman dan bibiku, bahkan juga nenekku, kerap kali menanyakan kabar tentangmu. Kadang aku bingung untuk menjawabnya, namun aku berusaha menjawab dengan sebenar-benarnya. Aku sampaikan kepada mereka, bahwa kabarmu baik-baik saja. Dan diantara keluargaku, sosok ibu yang paling sering menanyakan kabar tentangmu. Aku mencoba memahami perasaan ibuku. Aku mengetahui ibuku sudah tidak sabar ingin bertemu dan mengenal dirimu. Semoga takdir menyediakan waktu untuk kita bertemu. Amin.

Bulan, selanjutnya, aku tidak mengerti apa yang harus aku tulis. Namun, cukup engkau tahu, sebentar lagi, aku akan memasuki dunia yang baru. sebuah dunia yang dipenuhi dengan sifat memaksa agar segala sesuatunya mengutamakan rasionalitas dan realistis. Segala sesuatunya harus bertumpu kepada kedua hal tersebut. Dan menjadi sebab, manusia menghilangkan rasa didalam dirinya sendiri untuk menikmati keindahan-keindahan hidup yang sudah ada. Ini suatu akibat dari sifat dunia yang memaksa manusia untuk mengutamakan rasionalitas dan realistis, sehingga segala sesuatunya harus di kerjakan dengan terencana. Tapi, sikap yang demikian itu, segala sesuatunya yang harus selalu terencana, akan mengurangi keimanan kita terhadap kuasa Tuhan. Kita akan lebih percaya terhadap apa yang sudah kita rencanakan, dan akan meninggalkan tuhan yang memiliki kuasa atas apa yang akan ia putuskan untuk hidup kita. Bagiku, bila kita terlalu berlebihan didalam membuat perencanaan hidup, sejatinya, sebagian telah kita hilangkan wujud rasa syukur kita terhadap keindahan yang telah Tuhan tunjukkan melalui kuasanya.

Namun, bulan, selama aku hidup, aku juga memiliki rencana. Yaitu, semoga aku menikah denganmu diusia muda. Aku mohon kamu tidak terkejut dan takut dengan keputusanku. Karena aku memiliki alasan atas keputusanku itu. Bagiku tidak ada rencana yang paling baik, selain kita dapat menikah secepatnya dalam usia muda. Sebab, masihkah mungkin dapat kita syukuri segala sesuatunya jika telah kita rencanakan dengan sebaik-baiknya, dan hal itu juga telah diwujudkan oleh tuhan?. Aku tidak ingin hari-hari kita, hanya dihiasi oleh kehidupan yang membuat kita lupa akan peranNya didalam mewarnai kehidupan singkat kita ini.

Bulan, aku akhiri suratku, seiring harapan yang aku selalu panjatkan kepada tuhan. Agar lekas kita dipertemukan. Dan aku tunggu kehadiranmu, disalah satu hari bahagiaku. Wisuda. Amin

Wassalam

Dari langitmu yang resah akan kegelapan dunianya

#RizkieMuxafier #RRI

Surat Ke-Enam belas : Rindu Adalah Keresahan

Assalamualaikum Bulan?

Bagaimana kabarmu? Semoga segala kebaikan dan keselamatan selalu tertuju kepadamu. Amin.

Bulan, maafkanlah diriku, atas ketidaksanggupanku menjaga janjiku sendiri. untuk yang kesekian kalinya, aku mengingkari janji yang aku buat sendiri. aku berjanji untuk mengirimimu surat-surat setiap 2 (dua) minggu sekali, namun, dengan mudahnya, aku mengingkari itu. semoga kau tidak resah dengan itu semua. Sebab, meskipun tidak seperti biasanya, aku mengirimimu surat-surat tentang keadaaanku, aku sampaikan, bahwa kabarku selama ini baik-baik saja. kabarku, kabar cintaku masih hidup abadi dirumah hati kecilmu itu.

Bulan, ada sesuatu yang begitu mengganggu hati dan pikiranku. Didalam perbedaan aktifitas yang kita jalani saat ini, dalam rentang jarak berpuluh kilometer nun jauh yang memisahkan pertemuan kita, membuat kita saling berjauhan dan seringkali menunda waktu untuk berjumpa dalam suatu pertemuan. Aku merasa ini sangat berat sekali untuk kita jalani. Bukankah didalam kebiasaannya, kita harus menjaga hubungan dan merawatnya dengan pertemuan-pertemuan untuk memupuk rasa cinta didalam diri kita masing-masing. Tetapi, inilah ketulusan yang kita coba tunjukkan, mengapa akhirnya kita jatuh cinta satu sama lain? Meskipun kita tahu, kita harus menyiapkan hati yang lapang, sebab, kita harus berkorban besar untuk penundaan-penundaan pertemuan kita. Pertemuan-pertemuan yang biasa dilakukan didalam menjalin hubungan, menurut banyak orang adalah salah satu tonggak terutama untuk menjaga keharmonisan hubungan. Apakah cinta hanya mengisahkan soal itu saja?. kita menjawabnya dengan pilihan yang kita jalani saat ini, yaitu menunda sementara untuk selalu bersama. Sebab, hubungan yang kita jalani saat ini adalah merupakan bagian kecil dari keseriusan kita untuk membina hubungan yang lebih serius lagi. Oleh sebab itu, sebelum hubungan yang serius didalam ikatan yang sah itu, kita memiliki keterikatan pada kewajiban dan tanggung jawab yang kita pikul dipundak kita. Dan kita, sadar akan kewajiban itu. Lagipula, menjalani hubungan dengan kerapkali bertemu, tidakkah sedikit menghilangkan warna yang indah didalam suatu hubungan?. Ya, kita akan mengorbankan satu warna hilang didalam suatu hubungan, bila seringkali kita bertemu setiap waktu. lalu, apakah yang aku maksud dengan warna yang indah itu yang seringkali dilupakan oleh banyak pasangan?. Rindu. Ya, hanya rindulah yang lahir bilamana kita seringkali tidak menunda waktu bertemu. Pun kita sangat tegar memeluk rindu itu, dalam dekap jarak dan waktu yang memisahkan.

Tapi, bulan, meski kita jarang berjumpa didalam pertemuan, bagiku bukanlah sebuah masalah. Kita sudah terbiasa memupuk rindu ini didalam diri masing-masing. Akan tetapi, kali ini rindu yang aku rasakan adalah keresahan-keresahan yang hidup didalam hati dan pikiranku sendiri. aku tiada mengerti mengapa kali ini rindu menjelma menjadi keresahan-keresahan?. Aku begitu resah dan khawatir dengan keadaanmu. Apakah engkau disana baik-baik saja? atau sedang dalam keadaan seorang diri menyelesaikan masalah-masalahmu? Bila itu benar-benar terjadi, engkau seorang diri menyelesaikan masalah-masalahmu, aku merasa bahwa aku bukanlah lelaki yang tepat yang harus engkau pilih menjadi teman hidupmu. Oleh sebab itu, tuntunlah aku menjadi lelaki yang tepat untuk engkau pillih menjadi teman hidupmu. Segera beri aku kabar, bila engkau seorang diri dalam menyelesaikan masalah-masalahmu. Aku tidak berharap rinduku benar-benar menjelma menjadi keresahan-keresahan dan kekhawatiran. Panggilah diriku, panggilah segenap jiwaku untuk pulang melunasi rinduku. Aku ingin lebih dekat denganmu, menemanimu dalam waktu yang sebentar itu, agar tiada masalah yang menjadi beban dipundakm. Berbagilah denganku. Semoga kau tahu bulan, semoga rindu benar-benar bukanlah soal keresahan-keresahan yang aku rasakan. Sebab, rindu yang hidup karena ruh-ruh keresahan itu, dapat membunuh jiwaku kapan saja.

Bulan, aku akhiri suratku dengan harapan agar engkau segera memberiku kabar, dan baik-baiklah disana.

Wassalam,

dari langitmu yang resah akan kegelapan dunianya

#RizkieMuxafier #RRI

Surat Perjuangan : Kebenaran dan Kejujuran

Saya hampir tidak menyangka, mengapa saya begitu berani menulis surat ini. Hal ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, sebab, didalam saya punya jiwa, bersemayam sebuah keyakinan yang tertanam begitu kuat, bahwa menjadi seorang anggota didalam rumah yang disesaki pemikiran bung karno, terutama tentang pemikirannya yang sangat tegas membahas soal segala usaha untuk membangun atau berkarya tentang apapun, yang terutama harus berlandaskan semangat kerjasama yang kokoh, menjadikan gotong-royong sebagai ruh yang senantiasa menghidupkan dan mengobarkan semangat didalam diri kita agar tiada pernah menghentikan langkah untuk berhenti berjuang mewujudkan cita-cita kita bersama, sosialisme indonesia.

Namun, sebagian dari kita, mungkin juga termasuk saya pribadi, belum mampu mengamalkan dengan baik gotong-royong tersebut. Ruh yang hidup dalam nafas perjuangan kita, tidak pernah kita amalkan dengan baik. Gotong-royong hanya menjadi teori yang menguap didalam otak kita masing-masing. Dan tiada pernah menjelma didalam karya hidup kita sehari-hari.

Saat ini, saya berada di depan pintu keputusasaan. Saat saya berjumpa dengan sebuah keadaan, seluruh orang-orang yang memiliki peranan penting didalam rumah kami, mereka telah pergi tanpa kabar. Didalam hari-hari yang harus saya jalankan, saya hanya ditemani oleh salah seorang pemimpin kami. Terkadang, ada juga salah seorang kawan membantu, mengusahakan agar segeranya dapat kembali membaik. Ia memiliki status yang sama dengan saya, menjabat sebagai pembantu. Namun, kabarnya lagi tidak terdengar, saya menghadapi masa-masa yang sangat sulit kembali. Berjuang hanya berdua dengan salah seorang pemimpin yang didalam jiwanya tiada memiliki keberanian. Saya semakin dalam keadaaan sulit. Bagaimana mungkin saya sanggup memutuskan sesuatu, sedangkan pemimpin saya tiada memiliki keberanian untuk bertanggung jawab seutuhnya?. Saya memahami mengapa ia memiliki ketakutan seperti itu. Sejak ditinggalkan oleh rekannya, yang memiliki jabatan yang hampir sama dengannya tersebut, pemimpin yang biasa saya temani dalam kesehariannya ini semakin merasa takut untuk memutuskan sesuatu. Wajar saja, bahwa salah satu tonggak yang hidup didalam rumah kita, adalah mengharuskan segala sesuatunya harus diputuskan berdasarkan hasil musyawarah mufakat bersama. Dan inilah yang menjadi penyebab, ia semakin takut untuk memutuskan itu.

Saya merasa semakin dekat dengan pintu keputusasaan. saya yang tiada memiliki peran yang sangat kuat untuk memutuskan sesuatu, mengantar diri saya menuju suatu keadaan yang sangat membingungkan. Bagaimana saya harus menyelesaikan segala masalah jika keadaaanya demikian?. Ruh Gotong-royong telah mati. Tidak ada kawan yang tersisa untuk diajak bergotong-royong dengan urun pikiran. Tidak ada kawan yang tersisa untuk diajak bergotong-royong dengan segenap tenaga. Saya tidak tahu, sampai kapan waktu akan menjamin kepercayaan diri pemimpin yang biasa saya temani itu menguat kembali. Pun saya tidak tahu, sampai kapan pemimpin kami yang lain, akan datang dan pulang ke rumah dengan kabar yang membahagiakan, bahwa ia tidak akan pergi sekehendak hatinya saja, sebab, menurut saya, seorang pemimpin adalah lambang dari sebuah rumah yang kita tinggali bersama. Sedangkan, jabatan seorang pembantu, sangat memiliki keterbatasan untuk memutuskan sesuatu yang sangat penting. Ini menjadi tanggung jawab 2 (dua) pemimpin kami sebagai lambang dari rumah yang telah kita tempati bersama.

Terkadang, saya juga heran dengan seluruh anggota yang menetap didalam rumah besar ideologi marhaenisme. Mengapa kita tidak resah dengan keadaan ini?. Menjalani kehidupan sehari-hari tanpa adanya pemimpin. Saya tidak mengerti, mengapa pula keadaan ini kita diamkan dan kita terima begitu saja. Rumah yang ditinggalkan oleh pemimpinnya, samasekali bukanlah sebuah masalah. Kita berusaha dengan cara yang lain, berharap rumah yang telah berpuluh tahun tegak berdiri, senantiasa tanpa lelah kita perjuangkan agar tetap kokoh berdiri. Meskipun, pilihan ini, menurut saya adalah sebuah keputusan yang kurang sempurna. Sebab, kita masih mendiamkan seseorang yang diamanahi tanggung jawab, sekaligus juga merupakan seorang pemimpin tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Bukankah dahulu pernah kita pelajari, bahwa siapapun yang memiliki tanggung jawab namun tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan tanpa adanya kejelasan kabar, sudah seharusnya mendapatkan kritikan dari siapapun atas kinerjanya selama ini. lalu, mengapa hal ini kita diamkan dan seolah-olah memberikan perlindungan kepada seseorang yang tidak amanah tersebut?. Apakah pelajaran-pelajaran yang selama ini kita terima dari kerasnya jalanan saat berdemonstrasi belum memberikan pengsadaran dan pencerahan?. Bukankah hal tersebut, dipicu oleh ketidaksepakatan kita atas kinerja pemimpin-pemimpin kita selama ini?. sehingga, mengharuskan kita turun jalan dan mengkritik mereka, hingga berani mengancam jabatannya bila tidak sanggup menjalankan tugas dengan baik?.

Saya tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa-masa mendatang, bilamana kita tidak pernah sanggup bertindak atas kebenaran dan menyuarakan kejujuran yang kita yakini selama ini. sebab, didalam perjuangan, kita memerlukan keduanya, kebenaran dan kejujuran. Bila kedua hal tersebut telah terpenuhi, didalam waktu yang tidak begitu lama, kita secara bersama-sama dapat mewujudkan cita-cita.

#BungLangit #RRI

PEMUDA : PELOPOR GOTONG ROYONG

Malam itu, saya menjadi saksi bisu kerja keras dari kawan-kawan kami dalam menyiapkan sebuah acara pagelaran budaya yang telah berhasil kami selenggarakan pada bulan lalu. Semilir angin yang berhembus menusuk tubuh, tidak mampu menghentikan laju darah perjuangan yang mengalir deras menemani perjalanan kami mencapai cita-cita, Festival Kampung Bago Pertama. Beberapa orang berkumpul di lokasi yang kami pilih untuk terselenggaranya acara. Setiap orang memiliki tugasnya masing-masing. Saat itu, setelah beberapa kelengkapan acara telah dipersiapkan sebelumnya, malam itu, kami bersiap-siap mendekorasi panggung dengan seadanya. Bambu-bambu hasil dari sumbangan rekan yang memiliki pepohanan bambu telah disiapkan. Kawat untuk menjadi pengikat, telah tersedia. Serta beberapa kebutuhan juga telah dipersiapkan dengan baik. Semua telah bersiap, kami memulai mengerjakan dekorasi panggung. Alhasil, sebuah backdrop alami yang sangat besar terpampang. Seluruh panitia yang hadir saat itu, dapat menyaksikan langsung sebuah karya megah backdrop berbahan alam, hasil dari gotong-royong bersama.

Kisah tersebut hanyalah bagian dari seluruh cerita yang tidak sanggup penulis tuliskan secara utuh. Banyak keseruan, banyak kesedihan, banyak kenangan yang oleh kawan-kawan panitia alami selama proses persiapan berlangsungnya acara hingga selesai acara. Berbagai macam proses negosiasi kami lalui. Bernegosiasi dengan pemerintah desa agar berkenan membantu dalam menutupi kekurangan dana. Bernegosiasi dengan instansi pendidikan, dan masyarakat, agar berkenan untuk menyumbangkan kekretifitasannya pada acara festival kampung tersebut. Dan bernegosiasi dengan segenap tamu undangan yang secara sukarela didalam kesehariannya mengabdikan hidupnya untuk tetap melestarikan budaya moyang. Setiap proses yang kami lalui, memberikan pelajaran yang sangat berarti.

Ada sebuah fakta yang menarik yang kami dengar sebelumnya. Bahwa ide yang serupa dengan kegiatan kami, telah bergulir sejak lama. Para kelompok orang tua, juga memiliki keinginan yang sama terhadap berkembangnya desa yang kami cintai bersama ini dengan ragam aktifitas yang memberikan perubahan yang lebih baik kepada masyarakat. Salah satunya dengan membuat sebuah acara yang berkaitan erat dengan pembahasan sejarah yang ada didesa Bago, termasuk beberapa arca yang ditemukan disalah satu dusun yang ada didesa Bago. Tujuan dilaksanakannya acara tersebut oleh kelompok orang tua adalah semata-mata untuk memberikan pelajaran kepada generasi muda, salah satu kehebatan desanya adalah pewarisan salah satu peninggalan dari kerajaan besar di nusantara.

Namun, ide tersebut hanya hidup didalam angan-angan saja. ide yang didambakan tidak dapat menjelma berwujud menjadi sebuah kenyataan. Kelompok tua menerima kegagalannya, sebab, ide tersebut tidak pernah terwujud. Mungkin saja, hal tersebut dipengaruhi oleh perilaku yang ditunjukkan oleh kelompok tua yang selama ini cenderung sangat senang berkonflik. Sehingga, mereka selalu gagal untuk memberikan yang terbaik bagi Desa yang mereka tinggali tersebut.

Akan tetapi, sungguh beruntung Desa kami. Para pemuda yang tinggal di Desa Bago bahkan ada beberapa orang pemuda diluar dari desa kami telah membantu mewujudkan ide dari kelompok tua tersebut yang merupakan bagian dari ide besar dari kelompok pemuda. Meskipun sedikit mengalami kebingungan bagaimana harus mewujudkan ide tersebut. Dengan sedikit mendapat arahan dari orang-orang yang berpengalaman, akhirnya darah muda mengalir ke sekujur tubuh dengan membawa segenap optimisme serta keyakinan diri yang sangat luar biasa, bahwa kami kelompok muda dapat menyelesaikan segenap hambatan ini dengan baik. Lalu, mensukseskan acara festival kampung Bago dengan sebaik-baiknya. Optimisme yang hidup didalm diri pemuda, selalu melahirkan jalan-jalan baru yang lebih memudahkan pemuda mewujudkan cita-citanya. Akhirnya, jalan itu terbuka. Pemuda dengan penuh keyakinan mengambil langkah, untuk kembali bergotong-royong. Dengan dana yang terbatas, perlengkapan yang belum terpenuhi, pemuda mensiasatinya dengan mewajibkan bagi siapa saja yang hendak menyumbangkan kepunyaannya. Secara satu persatu, panitia menyampaikan kesanggupan untuk menyumbangkan kepunyaannya. Atau, bilamana tidak ada yang disumbangkan, panitia tersebut menyumbangkan tenaga dan pikirannya. Alhasil, seluruh perlengkapan telah tersedia. Para pengisi tamu telah siap menghibur. Akhirnya, untuk pertama kali, di tahun 2016, Desa Bago dapat menyenggarakan Festival Kampung Bago pertama yang dipelopori oleh semangat kegotongroyongan yang ditunjukkan oleh kelompok muda. Semangat gotong royong tersebut tetap membara sampai menjelang akhir tahun, sebab, dimalam pergantian tahun, anak-anak muda gila tersebut, yang dengan sedikit modal akan mempertunjukkan kegilaannya kembali, dengan mengadakan acara sik-musikan. Sebuah usaha untuk mengubah kebiasaan perayaan malam pergantian tahun di kota, kini, harus berpindah tempat, menikmati perayaan malam pergantian tahun di rumah sendiri, di desa tercinta, Desa Bago.

#BungLangit #RRI

Nabi Muhammad SAW di gubuk miskin

Didalam beberapa tahun ini, sesaat usia menjemput masa tua, segenap manusia yang ada dimuka bumi juga sedang menjemput kehancurannya. Atas nama kekuasaan dan keserakahan, segala macam cara akan dilakukan guna mencapai kekuasaan dan memenuhi nafsu serakah yang berserakan. Salah satu hal yang paling sering dilakukan adalah bertindak dengan mengatasnamakan agama. Betapa sangat memukul hati nurani, didalam bulan yang senyatanya sangat kita muliakan, kita menyaksikan beberapa perilaku yang mengatasnamakan islam, namun, tidak memberikan keselamatan bagi segenap penghuni dimuka bumi.

Lalu, apakah yang saya maksud dengan bulan yang begitu mulia tersebut?

Barangkali sebagian diantara muslim belum memahami, bahwa di bulan desember ini (tahun masehi), bertepatan juga dengan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah SWT sebagai satu-satunya makhluk yang mendapat kepercayaan langsung dari Tuhan untuk menyiarkan islam sebagai agama yang memberikan keselamatan dan merupakan rahmat bagi semesta alam. Apakah kalian masih meragukan bahwa bulan ini adalah bulan yang mulia?.Bukankah nikmat saat ini, ketika kita sampai di zaman yang terang benderang adalah karena Nabi Muhammad SAW. Sehingga, adalah sebuah kewajaran bilamana orang islam, setidaknya bersandar pada 2 (dua) prinsip dasar, yaitu Al-qur’an dan Hadist. Segala hal yang menyangkut perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW adalah disebut dengan hadist.

Namun, dalam hal ini, sebelum memasuki pergantian tahun, penulis hendak menuliskan sebuah pemikiran yang menjadi refleksi bersama atas beberapa peristiwa yang terjadi dalam setahun terakhir ini, topik-topik tentang agama islam yang seringkali tidak pernah surut menghiasi layar kaca dan media sosial adalah daya tarik tersendiri bagi umat muslim untuk secara berkelanjutan agar tetap istiqomah didalam usaha-usaha memperbaiki diri menuju insan yang bertaqwa. Hal ini disebabkan, penulis menganggap bahwa ini bagian dari tanggung jawab sebagai seorang muslim untuk mensyiarkan agama islam yang memberikan keselamatan dan rahmat bagi semesta alam. Dan mohon maaf bagi pembaca, bahwa didalam tulisan ini, para pembaca yang budiman tidak akan pernah menemukan kutipan Al-qur’an dan Hadist, sebab, penulis tidak punya kompetensi untuk membahas soal itu.

Beberapa peristiwa yang terjadi didunia seperti pembungihangusan kota Aleppo yang menewaskan seluruhnya umat islam, berjihad atas nama islam dengan membom beberapa pusat-pusat keramaian, hingga sebuah aksi yang terjadi ditanah air, dengan mengatasnamakan islam, sekelompok orang melakukan aksi sweeping di beberapa pusat perbelanjaan untuk melarang pegawai muslim memakai atibut yang biasa digunakan oleh pemeluk agama non islam menjelang perayaan hari keagamaan mereka. Aksi ini dilakukan disebabkan oleh fatwa yang diputuskan oleh MUI terkait pelarangan pegawai muslim untuk mengenakan atribut-atribut yang biasa dikenakan oleh pemeluk non islam.

Atas beberapa peristiwa tersebut, senyatanya merupakan kabar yang sangat menyedihkan. Jihad yang sedang mereka lakukan, sebagaimana beberapa contoh peristiwa diatas adalah merupakan sebuah perbuatan yang tidak mencerminkan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang penulis kemukakan diawal tadi, bahwa salah satu penyebab mengapa agama islam yang melalui perantara Nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Lalu, bagaimana memahami rahmat yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW dan dikehendaki oleh Allah SWT?. Untuk menjawab itu, semoga cerita yang penulis sampaikan dapat memberikan hikmah bagi para pembaca.

Di bulan yang sangat kita muliakan ini, penulis memiliki sebuah cerita yang penulis dengar langsung dari narasumber. Seorang ibu itu berkata, “ Nak, semalam ibu datang ke sebuah acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh warga. Sesuatu yang membuat ibu bersedih hati adalah peringatan maulid Nabi itu diselenggarakan secara bersama-sama oleh mereka yang serba kekurangan. Diantara para penyelenggara itu, ibu berkunjung ke salah satu rumah diantara mereka. Betapa hati ibu semakin bersedih, ketika melihat rumah yang mereka tempati, sangatlah tidak layak untuk ditempati. Akan tetapi, ibu sangat memuji dengan luar biasa, untuk memberikan penghormatan dan berharap syafaat baginda Nabi Muhammad SAW, para penyelenggara maulid Nabi meskipun dalam keadaan serba kekurangan, mereka masih tetap mampu mengadakan kegiatan maulid Nabi.”

Didalam kisahnya itu, sebagaimana yang pernah saya dengar dari pendapat alim ulama, bahwa ketika memperingati maulid Nabi, Baginda Agung juga hadir didalam acara tersebut. Nabi Muhammad SAW tetap hadir berkunjung ke gubuk miskin. Sebagaimana hal ini juga seringkali beliau lakukan semasa hidupnya. Hal tersebut dapat kita temukan didalam beberapa hadistnya, bahwa Nabi Muhammad SAW selalu berbicara lantang untuk memperjuangkan nasib kaum miskin. Beliau berada digaris terdepan untuk memperjuangkan hal tersebut.

Oleh sebab itu, sebelum berganti tahun, dibulan yang sangat mulia ini, sepatutnya kita merefleksikan kembali dengan sebaik-baiknya, untuk meneladani salah satu sikap Nabi Muhammad SAW yang memperjuangkan nasib kaum miskin. Dengan salah satu caranya adalah kita berada ditengah-tengah mereka, hidup dibarisan mereka, agar para kaum miskin mendapatkan hak-haknya, serta mendapatkan perlakuan yang memanusiakan dari aturan yang dibuat sewenang-wenang oleh para pemilik modal. Bukankah hal tersebut merupakan jihad yang sebenar-benarnya diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada generasi selanjutnya? Masihkah jihad yang kita lakukan hanyalah sebatas pada permukaannya saja? Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan islam dengan memboikot agar tidak membeli salah satu produk perusahan atau melarang pegawai muslim memakai atribut yang biasa dikenakan oleh pegawai non islam? Apakah hal yang demikian yang disebut islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam?. Untuk meyakini islam sebagai rahmat bagi semesta alam, ialah pembuktiannya ketika seluruh makhluk dimuka bumi, terutama makhluk yang bernama manusia mendapatkan kebaikan dan keuntungan dari jihad yang kita lakukan. Sebagaimana jihad yang secara berkelanjutan oleh Nabi Muhammad SAW wariskan kepada kita. Yaitu, memperjuangkan nasib kaum miskin yang sampai saat ini masih menetap didalam gubuknya yang reyot itu. Atau para pekerja yang belum mendapatkan perlakuan yang adil.

#BungLangit #RRI

(andai) Bergotong-royong?

Dewasa ini, kita akan mengalami peperangan yang begitu dahsyat. Sebuah perang mahadashyat yang sejak beberapa puluh tahun lalu, telah tersusun dan tersistem dengan sangat baik. Sehingga, didalam waktu dekat, kita akan menjumpai perang itu pada titik puncak, yang akan menghancurlemburkan kita punya kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan kepribadian budaya. Atau jalan panjang kita menuju masyarakat adil dan makmur yang sering kita sebut Trisakti itu, hanya akan tercatat sebagai bagian dari kebesaran sejarah sebuah bangsa yang pernah melahirkan sosok pemikir, seperti soekarno. Oleh sebab itu, perang ini lebih sangat menyeramkan, daripada sebuah perang antar bangsa yang didalam sejarahnya itu, tercatat telah berhasil memporak-porandakan dunia beserta isinya. Apakah perang yang saya maksudkan itu?. apakah saudara dapat memahami perkataan saya tersebut?. Jikalau saudara belum memahaminya, maka sudilah kiranya, saudara membaca karangan ini sampai selesai. Dan sebaiknya, tinggalkan segala egoism yang hidup di dalam jiwa saudara, agar saudara punya jiwa tidak mudah berpenyakit sehingga didalam mehamami tulisan ini, saudara dengan keleluasan hati dapat insyaf dan sadar agar sesegera mungkin saudara tergerak untuk mengamalkannya.

* * * * *

Sebelum saya memberikan jawaban atas pertanyaan saya yang di awal tadi, mari kita kembali sejenak ke suatu masa, awal mula seluruh sistem mulai tersusun dengan baik dan sanggup bertahan hingga saat ini. beberapa puluh tahun lalu, saat bangsa ini memulai menggencarkan pembangunan, seluruh masyarakat bersorak sorai, mereka punya jiwa bergembira. Mereka mulai meyakini, bahwa tidak lama lagi, masa depan bangsa akan lebih cerah. Bagaimana mungkin mereka tidak mempercayai dashyatnya mantra sakti yang bernama pembangunan itu? sedangkan dihadapan mereka, banyak gedung-gedung megah mulai dibangun. Pabrik-pabrik mulai dibangun. Masyarakat mendapatkan sumber penghasilan baru dengan memilih bekerja di pabrik-pabrik. masyarakat mulai bergerak, beralih dari bertani menjadi buruh pabrik. Dengan adanya sebuah kepastian pendapatan yang di terima setiap bulannya, menyebabkan banyak masyarakat yang semakin yakin untuk beralih menjadi seorang buruh pabrik daripada menjadi petani. Hal ini menjadi penyebab terutama meningkatnya permintaan kerja, namun, penawaran kerja tetap pada angka yang sangat rendah. Dengan demikian, karena tidak sanggupnya sebuah perusahaan menangani permasalahan yang sangatlah rumit ini, kemudian, perusahaan-perusahaan yang ada memberlakukan sebuah aturan baru bagi setiap pelamar kerja dengan mensyaratkan adanya bukti otentik ijazah sebagai bukti kelulusan seorang pelamar kerja dari sebuah jenjang pendidikan. Dan oleh sebab keadaan demikian ini, lembaga pendidikan menjadi ramai peminat. Tentu, tujuan terutama dari mereka adalah untuk mengejar selembar kertas yang bertuliskan ijazah. Agar kelak ketika mereka lulus dari sebuah jenjang pendidikan, sebuah pekerjaan baru juga telah menunggunya.

Pada saat keadaan yang demikian itu, wajah dan sistem pendidikan kita merubah haluannya. Pendidikan yang terdahulu diadakan sebagai alat perjuangan untuk memerdekakan setiap manusia dari segala bentuk penjajahan, kini, ia hanya menjadi sebuah alat untuk mencetak pekerja-pekerja baru dengan standart yang sama. Bahkan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada itu adalah aturan sistem pendidikan kita yang mengharuskan masing-masing individu berkompetisi antara yang satu dengan yang lainnya. Sebuah sistem yang sangatlah menjunjung tinggi kepentingan individu, daripada kepentingan sosial. Menempatkan hak individu diatas segalanya, dan mengesampingkan rasa kepemilikan sosial. Pada akhirnya, sistem ini berdampak pada penciptaan kelas-kelas sosial yang baru, yang mengakibatkan adanya jarak diantara masyarakat kita sendiri. Hal ini menjadi sebuah ancaman besar bagi nilai-nilai kehidupan yang kita pegang teguh selama ini. Nilai kegotong-royongan, nilai bahu-membahu yang kelak di kemudian hari akan menghadapi kehancurannya. Nilai gotong-royong yang dihidupi oleh nafas kesadaran bersama, diatas segalanya adalah rasa kepemilikan sosial, dalam waktu yang tidak begitu lama akan menemui kehancurannya. Disamping itu, nilai gotong-royong yang sangat menjunjung tinggi nafas kebersamaan, tidak pernah memberikan jarak dan ruang diantara masyarakat itu sendiri. sehingga, sangatlah nyata, gotong-royong begitu menjunjung tinggi untuk kerja bersama tanpa memberikan jarak diantara mereka yang memegang teguh gotong-royong sebagai prinsip hidup.

Betapa kenyataan itu harus kita terima dengan pahit, bahwa bangsa kita sejak berpuluh tahun lalu telah merawat sebuah sistem pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal bangsa kita berhadapan dengan kehancurannya sendiri. Sebab, sistem pendidikan kita yang telah berjalan berpuluh tahun lalu itu, sangat memberikan ruang yang luas bagi perorangan untuk menjunjung tinggi kepentingan-kepentingannya daripada menjunjung tinggi rasa kepemilikan sosial. Sehingga, dapatlah kita maklumi, bila sekarang ini, bangsa kita hanya melahirkan orang-orang cerdas namun begitu jauh dengan kehidupan sosialnya. Pada kenyataan ini, senyatanya saudara dapat memahami apakah perang yang saya maksud dimuka tadi?. ya, sebuah perang yang mahadahsyat akan menimpa bangsa ini. ketika orang-orang yang cerdas itu yang tiada memiliki kebaikan hati, hanya akan menjadi sekelompok orang yang merampas dan menjadi penjajah yang lebih kejam daripada bangsa penjajah itu sendiri. mereka yang dengan kecerdasannya itu, akan memperalat orang-orang yang tiada memiliki pencerahan pengetahuan dengan pembodohan dan penipuan.

Lalu, mengapa saya menyebutnya ini sebagai sebuah perang yang amat dahsyat? Kita harus mengakui ini secara insyaf dan sadar, bahwa banyak diantara saudara kita sendiri yang mencari keuntungan di tanah surga yang menjadi rahmat bagi seluruh bangsa yang hidup di indonesia. Perang yang amat dahsyat itu, adalah perang saudara. Sebuah perang yang mempertemukan kehendak untuk membela kehendak akal dan membela kehendak hati masing-masing. Suatu kelompok akan membela sampai mati sumber penghasilannya itu untuk dinikmatinya sendiri atau bersama koleganya itu. sedangkan, suatu kelompok yang lain, atas nama bangsa dan kemanusiaan, akan berjuang melawan para kelompok yang mementingkan kepentingannya sendiri. pun perang yang amat dahsyat ini tidak akan pernah sanggup kita bendung. Suatu waktu, ia akan meluap bagai lahar panas yang akan menghancurkan segala sesuatunya. Oleh sebab apakah perang ini akan terjadi? Hal ini disebabkan rasa kepemilikan kita bersama atas suatu bangsa telah memudar. Prinsip gotong-royong yang kita pegang teguh, hanya bersisa sebagai karya agung pemikir besar bangsa ini. prinsip-prinsip hidup nan mulia itu, tidak pernah kita amalkan, karena kehidupan kita yang semakin berjarak diantara ruang yang satu dengan yang lainnya.

Oleh sebab itu, sebaiknya, kita sebagai bangsa harus berjuang lebih kuat dan bertenaga. Kita tidak boleh berputus asa untuk secara terus-menerus memberikan pengsadaran bagi mereka yang jiwanya sedang berpenyakit itu. agar dapat kita amalkan dengan baik, prinsip hidup yang amat mulia itu. nilai gotong-royong sepatutnya pula kita kerjakan sendiri dan memberikan tauladan kepada yang lain. Dengan cara memerangi segala sistem yang menjadi musuh nyata bagi keberlangsungan hidup prinsip mulia yang kita pegang teguh itu. lalu, tetap dengan tegak, kita bergerak mengamalkannya. Sebab, hanya dengan cara demikian itu, kita dapat memberikan pengsadaran yang sedalam-dalamnya kepada masyakarat kita. Karena gotong-royong bukanlah sebuah ilusi maupun imajinasi yang penuh pengandaian. Tetapi, gotong-royong adalah bukti nyata laku keindonesiaan. Ia adalah amalan-amalan sehari-hari yang dengan senantiasa kita kerjakan demi menjunjung rasa kebersamaan. Untuk menghidupkan rasa kepemilikan sosial, sebuah rasa yang menjunjung harkat martabat kemanusiaan. Agar hidup tidaklah hina, agar keadilan sosial tetaplah untuk seluruh rakyat indonesia.

#BungLangit #RRI #RizkieMuxafier

Surat Ke-Lima Belas : “ Kesaksian Bulan Purnama “

Assalamualaikum bulan, bagaimana kabarmu?. Semoga kabarmu baik-baik saja, dan senantiasa dalam rengkuhan doa-doaku. Amin.

Bulan, maafkanlah aku, karena aku telah membuatmu menunggu cukup lama untuk kembali membaca surat-suratku. Membaca setiap rinduku yang berbaris memanjang menjadi kalimat-kalimat indah untuk menyatu menjadi senyawa didalam kamu punya jiwa. Bahwa rindu yang aku hantar, adalah partikel-partikel kecil yang kemudian menghidupkan kembali cinta yang aku punya didalam jiwa. Dan manusia harus membuktikan kemanusiaannya dengan menunjukkan rasa cinta kasihnya. Aku membuktikan itu, bulan.

Bulan, sepertinya, bulan November adalah menjadi bulan kebahagiaan semua orang. Hampir seluruhnya, merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Itu sangat jelas sekali, ketika dunia ini ramai dengan pemberitaan yang mewartakan sebuah fenomena alam Supermoon. Atau fenomena bulan purnama terbesar sepanjang sejarah dunia. Semua orang, hampir tanpa jeda, mengabadikan moment langka tersebut didalam dunia maya mereka masing-masing.

Namun, berbeda halnya dengan diriku. Bagiku, menyaksikan supermoon adalah sebagian daripada kebahagiaan kecilku. Sedangkan, kebahagiaan terbesar didalam hidupku ini, telah aku rasakan beberapa bulan yang lalu, saat Tuhan dan semesta memberi restu untuk perjuanganku melabuhkan kapal besarku yang seluruhnya memuat keyakinanku untuk memilihmu menjadi pelabuhan hatiku. Ya, tepat 2 bulan yang lalu, aku merasakan kembali kebahagiaan yang selama ini terkubur sendiri. aku masih sangat hafal setiap bagian dari kisah romantik yang aku lalui waktu itu. bahkan bukan hanya sekedar hafal, pun aku mengingatnya dengan utuh.

Ketika itu, aku tidak pernah menduga, bahwa niat baikku, oleh Tuhan dan semesta disambut dengan sangat baik. Bermula dari restu orang tua, yang mengijinkanku untuk menemuimu. Aku berangkat berjuang memperjuangkan apa yang sepenuhnya menjadi keyakinanku yang selama ini hidup didalam aku punya jiwa. Aku sempat grogi, maklum saja, bertahun-tahun aku hidup sendiri, memberikan dampak luar biasa bagi psikologisku. Aku tumbuh menjadi sedikit pemalu. Sesuatu yang tidak pernah aku duga, setiap doa yang aku panjatkan, mengantarkan segenap cinta kasihku kepada keyakinan untuk memilihmu, seseorang yang senyatanya selama ini tidak pernah aku sebut-sebut namanya. Sebab, mana mungkin aku berani menyebutkan namamu, paras wajahmu yang begitu cantik, persis seperti bulan purnama, dambaan semua lelaki, membuat aku sadar diri, memutuskan untuk menjauhimu saat itu, adalah keputusan yang terbaik. Dan, Tuhan senantiasa kembali memberikan kejutannya. Ia mengantarkan keyakinanku untuk memilihmu.

Lalu, setelah mendapat restu orang tuaku, aku berangkat menuju kotamu. Seperti yang aku ceritakan sebelumya, untuk memerangi rasa gugupku sendiri, sepanjang perjalanan, aku tidak pernah berhenti berpikir sembari melafalkan doa. Aku melakukannya, semata-mata untuk menyiapkan mentalku yang rasanya mudah gugur begitu saja. pun aku tidak melupakan, untuk menyapa pohon-pohon yang berbaris rapi di sepanjang perjalanan dari kotaku menuju kotamu. Sebab, pohon-pohon itulah yang menjadi saksi nyata perjuanganku. Ia yang akan menemani keberangkatanku, dan juga kepulanganku.

Tiba saat bertemu denganmu, sesuatu yang menjadi kekhawatiranku, benar-benar terjadi. Aku gugup. Tidak berkata-kata. Dalam pertemuan kita, aku hanya sanggup menjadi pendengar yang baik dan menjadi satu-satunya pengagum paras wajahmu dan tingkah manismu. Lalu, aku mencoba memberanikan diri, setelah berjam-jam kita menghabiskan waktu berdua, aku sampaikan maksud baikku menemuimu. Meski harus aku akui, aku sedikit gugup dan terbata-bata, aku ungkapkan juga perasaanku padamu. Saat itu, aku memahami keadaaanmu. Ketika engkau tidak memberikan jawaban secara langsung, terima atau menolak. Aku masih ingat, kala engkau memberikan sebuah syarat dan membutuhkan waktu beberapa jam untuk memberikan jawaban. Aku mencoba menunggu, dan kemudian engkau memberikan jawaban saat hari dan tanggal telah berganti. Aku sangat bersyukur dengan jawaban yang engkau katakan, sangat menggembirakan aku punya hati. Saat itu, tepat saat bulan purnama yang menjadi saksi, engkau yang menjadi bulanku, mempercayakan seluruh cintamu kepada langitmu, yaitu diriku.

Dan kesemua keajaiban itu, adalah yang aku yakini atas peran Tuhan dan restu semesta.

Untuk mengakhiri suratku, Terimakasih bulan, karena telah menjadi inspirasiku.

#RizkieMuxafier #RRI

Kampung Bago : Rumah cita-cita

img-20161105-wa0034

Tepat beberapa ratus tahun yang lalu, sebuah peradaban baru lahir di sebuah desa kecil yang bernama BAGO. Seperti halnya desa-desa yang lain, suasana dan aroma khas pedesaan masih melekat kuat. Setiap siapapun mereka yang menetap atau mereka yang pernah berkunjung ke desa BAGO, akan sangat mudah untuk mengingat kembali setiap kenangan yang berlalu, seperti suara kicau burung yang merdu kala pagi hari, semilir angin yang berhembus penuh malu, pemandangan pelataran sawah yang hijau, lalu lalang dokar atau delman yang masih terlihat sibuk mengantar para pedagang dan pembeli ke pasar. Dan tentu, setiap orang tidak akan pernah lupa, bahwa di desa BAGO, kita akan melihat persembahan terindah dari karya pelukis Agung, sebuah lukisan Gunung yang bernama Argopuro akan membuat setiap orang yang melihat akan takjub dan terkesima. Sebab, berbeda halnya dengan gunung yang lain, Gunung Argopuro hanya dapat di lihat kala pagi menjelang, sesaat setelah hujan, dan sebelum malam datang.

Setelah melalui berlembar-lembar peradabannya, dimulai dari zaman kerajaan yang ditandai dengan peninggalan arca, zaman kolonial yang di tandai dengan dibangunnya pabrik gula yang saat ini hanya tersisa tungkunya saja, dan saat ini, memasuki zaman millennium, Desa Bago akan menulis kembali peradabannya yang baru. sebuah usaha untuk menghidupkan kembali aroma pedesaan yang sangat kental akan sifat-sifat kegotong-royongan. Salah satu nilai keindonesiaan yang saat ini, di setiap sudut ruang indonesia, semakin memudar saja. oleh sebab itu, kami, para pemuda yang tercerahkan oleh segenap kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok pegiat kampung yang terhimpun dalam JARINGAN KAMPUNG, akan menyelenggarakan sebuah pagelaran Seni Budaya yang tersaji didalam sebuah FESTIVAL KAMPUNG BAGO #1, yang sebelumnya, kegiatan semacam ini telah diselenggarakan juga oleh kampung-kampung yang bekerjasama dengan Jaringan Kampung. Kegiatan ini sangat diharapkan dapat menjadi magnet bagi masyarakat Bago untuk kembali menjadi satu kesatuan sebagai desa Bago yang mengupayakan kebaikan dan kesejahteraan hidup bagi sesama. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memancarkan semangat yang sama, kepada setiap kampung-kampung sekitar untuk kembali menghidupkan dan meneguhkan nilai-nilai kegotong-royongan guna menjaga kebaikan dan memperjuangkan kesejahteraan hidup sesama.

Untuk itu, satu hal yang menjadi kekuatan kami menyelenggarakan ini semua, FESTIVAL KAMPUNG BAGO, adalah sebab hidup di desa Bago yang berada di dataran tinggi, memberikan pula suatu kepercayaan yang sangat tinggi kepada kami. sebab, kami meyakini, Desa BAGO adalah sebuah rumah bersama yang sangat dekat dengan cita-cita. Mengapa demikian?. Letak desa bago yang berada di dataran tinggi, yang tampak pula dapat kita lihat pegunungan yang berbaris rapi, serta kokohnya Gunung Argopuro, menjadi sebuah pesan tersendiri yang dapat kita pahami sebagai bentuk keterkaitan antara DESA BAGO dengan cita-cita. Hal itu sangat tampak jelas, sebagaimana yang kita pahami, cita-cita selalu berada pada puncak-puncak tertinggi. Sehingga, didalam masing-masing diri kami memikul beban moral yang sama, yaitu mewarisi cita-cita. Oleh sebab itu,  segala hal yang bersangkut paut dengan cita-cita, harus di ikuti pula dengan upaya serta kerja keras untuk mewujudkannya. Dan satu-satunya yang kami yakini, untuk mewujudkan sebuah cita-cita adalah dengan bermodalkan pikiran, keberanian, kenekatan dan pengorbanan yang sebesar-besarnya. Dan sebuah keniscayaan bagi kami untuk mewujudkan itu semua, bilamana dapat kita pahami dengan baik sebuah filosofi gunung yang begitu kokoh berdiri, mengantarkan sebuah kepercayaan kepada kita untuk menjadi sosok manusia yang tangguh dan kuat didalam memperjuangkan segala cita-cita. Bahwa sekalipun badai datang menerjang dengan sangat kuat, sehingga menghambat perjalanan kita mencapai cita-cita, kita harus tetap ingat dan meneguhkan diri untuk tetap menjadi sebuah gunung yang kokoh berdiri, sampai pada suatu waktu, cita-cita kita terwujud.

Dan segala sesuatu yang telah kita perjuangkan hari ini, semoga menjadi cahaya yang terang bagi anak cucu kita kelak. Menjadikan mereka sadar, bahwa sejak dari lahir, masing-masing kita telah mewarisi cita-cita. Salah satunya adalah sebuah cita-cita luhur untuk tetap menjaga indonesia kita, dengan cara menjaga desa kita agar mampu merawat nilai-nilai keindonesiaan dan semangat kegotong-royongannya. Semoga pula, usaha ini dapat mengantar mereka memahami dan akan terus mereka ingat, bahwa lahir dan tumbuh besar di DESA BAGO, adalah sebuah kebanggaan yang harus tetap dipelihara, sebab DESA BAGO adalah Rumah cita-cita bersama, bagi mereka masyarakat Bago dan kepada seluruh masyarakat yang berada disekitar DESA BAGO. FESTIVAL KAMPUNG BAGO #1.

#KARGO(KomunitasArekBago)/(KomunitasRakyatGotongroyong)

#RumahSastraGandes (Guyub Among Ndeso)