Assalamualaikum Bulan, semoga kabarmu baik-baik saja. Semoga Tuhan, selalu menjaga dan melindungimu. Semoga semesta senantiasa mewujud menjadi diriku, tuk menghibur hatimu yang lara. Untuk menghapus segala duka, dan menjadi teman untuk mengusir kesepianmu.
Bulan, aku kembali merasakan kebahagiaan datang didalam hidupku. Setiap kali waktu itu tiba, seringkali aku tergesa-gesa ingin sesegera mungkin menjemputnya. Menjemput kebahagiaanku sendiri, seperti waktu-waktu yang lain, menulis surat kepadamu adalah perasaan yang sangat membahagiakan jiwaku. Pun membahagiakan hatiku. Dan terutama, sejak surat-suratku engkau baca, aku merasakan seolah-olah aku semakin hidup dan begitu bersemangat untuk menulis surat-surat kepadamu, lalu, mengirimkannya langsung kepadamu. Dan hal itu, akan membuatku semakin bahagia, sebab, surat-surat yang aku tulis, telah dibaca pertama kali oleh seseorang yang aku tuliskan didalam surat-suratku, yaitu tentangmu Bulan.
Bulan, untuk surat yang aku tulis saat ini, aku memberinya judul “ Kasih Sayang Semesta “. Sebab, hampir di setiap surat yang telah aku tulis, nama Tuhan dan semesta tidak pernah alpa untuk aku sebut dan tuliskan di dalam surat-suratku. Oleh sebab kuasa Tuhan, dan kehendak semesta, akhirnya kita di pertemukan.
Bulan, mengertikah engkau, perasaan hatiku sebelum kita di pertemukan?. Bagaimana pula keadaan hidupku?. Salah satu yang paling mengerti perasaan hatiku, rasa kesepianku, rasa kesendirianku, hanyalah satu-satunya semesta yang dapat mengerti tentang itu semua. Dan semesta pula, yang paling mengerti bagaimana keadaan hidupku yang berjalan melawan arus, bahwa hidup harus teguh dan tegar terhadap prinsip hidup yang kita pilih. Semesta berkehendak, ia menghapus kesepianku. Pun ia mengokohkan prinsip hidup yang semula dapat saja runtuh seketika.
Bulan, aku baru tahu, nyatanya semesta adalah kawan yang paling setia. Hingga akhirnya kita di pertemukan dan di persatukan, semesta masih saja mengambil peran. Masih melekat di dalam ingatanku, sebelum waktu memberi kesempatan untuk kita bertemu, dalam perjalanan yang aku tempuh menuju kediamanmu, bibirku tanpa henti bertasbih, menyebut nama Tuhan kita, aku berharap pertemuan kita berjalan lancar. Aku tak kuasa menahan kegugupanku sendiri, bahkan sampai detik itu pula, aku masih belum mampu percaya, bahwa jawaban Tuhan selama menyendiri dalam waktu 4 tahun adalah dirimu. Seorang perempuan yang tiada pernah terpikirkan selama ini, telah sanggup membuat aku jatuh hati kembali. Lalu, aku teringat perkataan seseorang, ia pernah berkata kepadaku, bahwa sepanjang perjalanan, alam (terutama pepohonan) memberikan salam kepada kita yang melintas di jalan tersebut. Pohon-pohon juga senantiasa atau kerapkali mengamini apa yang menjadi doa dari hati kita. Dan aku membuktikan itu, bila tanpa doa dari semesta, sepulang dari pertemuan kita, akankah aku mendengar kabar bahagia?. Mungkin aku tidak akan yakin, akhirnya kita akan menjadi satu. Namun, begitulah kasih sayang semesta, ia akan tetap menjadi kawan setia, sampai kita pulang, menikmati tidur panjang dalam dekapannya. Semesta akan berbagi kasih sayangnya, kepada setiap hati, yang juga menaruh kepercayaan akan kuasa semesta. Dan semoga semesta akan menjaga kita, hingga kelak, kita akan pulang bersama-sama, menikmati tidur panjang dalam dekapan hangat semesta. Semoga.
Bulan, untuk yang terakhir, aku akan tetap selalu percaya, bahwa Tuhan adalah yang berkuasa atas segala kehidupan kita. Dan aku percaya, bahwa pertemuan kita, juga di kehendaki oleh restu semesta, sebagai bentuk kasih sayangnya terhadap kita berdua. Aku sangat percaya itu. semoga pula engkau begitu.
#RizkieMuxafier #RRI