Surat Ke Empatbelas : “ Kasih Sayang Semesta “

Assalamualaikum Bulan, semoga kabarmu baik-baik saja. Semoga Tuhan, selalu menjaga dan melindungimu. Semoga semesta senantiasa mewujud menjadi diriku, tuk menghibur hatimu yang lara. Untuk menghapus segala duka, dan menjadi teman untuk mengusir kesepianmu.

Bulan, aku kembali merasakan kebahagiaan datang didalam hidupku. Setiap kali waktu itu tiba, seringkali aku tergesa-gesa ingin sesegera mungkin menjemputnya. Menjemput kebahagiaanku sendiri, seperti waktu-waktu yang lain, menulis surat kepadamu adalah perasaan yang sangat membahagiakan jiwaku. Pun membahagiakan hatiku. Dan terutama, sejak surat-suratku engkau baca, aku merasakan seolah-olah aku semakin hidup dan begitu bersemangat untuk menulis surat-surat kepadamu, lalu, mengirimkannya langsung kepadamu. Dan hal itu, akan membuatku semakin bahagia, sebab, surat-surat yang aku tulis, telah dibaca pertama kali oleh seseorang yang aku tuliskan didalam surat-suratku, yaitu tentangmu Bulan.

Bulan, untuk surat yang aku tulis saat ini, aku memberinya judul “ Kasih Sayang Semesta “. Sebab, hampir di setiap surat yang telah aku tulis, nama Tuhan dan semesta tidak pernah alpa untuk aku sebut dan tuliskan di dalam surat-suratku. Oleh sebab kuasa Tuhan, dan kehendak semesta, akhirnya kita di pertemukan.

Bulan, mengertikah engkau, perasaan hatiku sebelum kita di pertemukan?. Bagaimana pula keadaan hidupku?. Salah satu yang paling mengerti perasaan hatiku, rasa kesepianku, rasa kesendirianku, hanyalah satu-satunya semesta yang dapat mengerti tentang itu semua. Dan semesta pula, yang paling mengerti bagaimana keadaan hidupku yang berjalan melawan arus, bahwa hidup harus teguh dan tegar terhadap prinsip hidup yang kita pilih. Semesta berkehendak, ia menghapus kesepianku. Pun ia mengokohkan prinsip hidup yang semula dapat saja runtuh seketika.

Bulan, aku baru tahu, nyatanya semesta adalah kawan yang paling setia. Hingga akhirnya kita di pertemukan dan di persatukan, semesta masih saja mengambil peran. Masih melekat di dalam ingatanku, sebelum waktu memberi kesempatan untuk kita bertemu, dalam perjalanan yang aku tempuh menuju kediamanmu, bibirku tanpa henti bertasbih, menyebut nama Tuhan kita, aku berharap pertemuan kita berjalan lancar. Aku tak kuasa menahan kegugupanku sendiri, bahkan sampai detik itu pula, aku masih belum mampu percaya, bahwa jawaban Tuhan selama menyendiri dalam waktu 4 tahun adalah dirimu. Seorang perempuan yang tiada pernah terpikirkan selama ini, telah sanggup membuat aku jatuh hati kembali. Lalu, aku teringat perkataan seseorang, ia pernah berkata kepadaku, bahwa sepanjang perjalanan, alam (terutama pepohonan) memberikan salam kepada kita yang melintas di jalan tersebut. Pohon-pohon juga senantiasa atau kerapkali mengamini apa yang menjadi doa dari hati kita. Dan aku membuktikan itu, bila tanpa doa dari semesta, sepulang dari pertemuan kita, akankah aku mendengar kabar bahagia?. Mungkin aku tidak akan yakin, akhirnya kita akan menjadi satu. Namun, begitulah kasih sayang semesta, ia akan tetap menjadi kawan setia, sampai kita pulang, menikmati tidur panjang dalam dekapannya. Semesta akan berbagi kasih sayangnya, kepada setiap hati, yang juga menaruh kepercayaan akan kuasa semesta. Dan semoga semesta akan menjaga kita, hingga kelak, kita akan pulang bersama-sama, menikmati tidur panjang dalam dekapan hangat semesta. Semoga.

Bulan, untuk yang terakhir, aku akan tetap selalu percaya, bahwa Tuhan adalah yang berkuasa atas segala kehidupan kita. Dan aku percaya, bahwa pertemuan kita, juga di kehendaki oleh restu semesta, sebagai bentuk kasih sayangnya terhadap kita berdua. Aku sangat percaya itu. semoga pula engkau begitu.

#RizkieMuxafier #RRI

 

Musyawarah Mufakat Berkemajuan

Waktu telah bergerak mengantar kita menuju zaman yang begitu terang benderang. Ketika zaman gelap sempat datang dalam kurun waktu yang begitu lama, kita masih patut bersyukur, telah mendapat karunia dari Tuhan, berupa kenikmatan hidup di zaman reformasi. Sebuah zaman yang begitu menjunjung tinggi demokrasi. Seiring itu pula, bangsa ini telah melahirkan kaum-kaum terdidik yang kian makin tidak terhitung berapa jumlahnya. Lalu, bagaimana kehidupan kebangsaan kita setelah ini, tatkala banyak kaum terdidik yang begitu cerdik mengatasnamakan demokrasi menjadi pelopor hilangnya sebuah tradisi. Bagaimana nasib musyawarah mufakat kita yang telah menjadi ruh kebangsaan kita untuk menuntun segenap jiwa raga dalam menentukan arah kebijakan politik kenegaraan kita sendiri? Bukankah hal ini pula yang menjadi persoalan mendasar, mengapa negara yang sangat kita cintai, hanya tegak di tempat? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis akan berusaha menjawab persoalan ini dalam ruang lingkup yang lebih kecil.

Sebelumnya, penulis meminta maaf, bila tulisan ini menjadi sebuah cambuk yang memberikan pecutan keras kepada pembaca (terutama pihak terkait), dan maafkanlah bila tulisan ini hanya lahir dari seorang “aktifis kemarin sore”. Namun, tetaplah pembaca yakini, apa yang tertuang didalam tulisan ini adalah merupakan sehimpunan pemikiran-pemikiran yang lahir dari mereka, para aktifis yang telah lama malang-melintang di jagat organisasi yang berhaluan nasionalis. Akan tetapi, mereka-mereka yang memiliki pemikiran yang tingkat kecerdasannya sangat luar biasa tersebut, masih memiliki nyali yang ciut untuk menuangkan segala pemikiran mereka didalam sebuah tulisan. atau, mungkin karena bila pemikiran-pemikiran di tuliskan, mereka belum sanggup untuk di tuntun oleh pemikiran mereka sendiri yang telah tercatat didalam sebuah tulisan. kita tidak dapat memaksanya, sebab, itu adalah hak mereka.

Lalu, bagaimana menjawab pertanyaan yang sebelumnya?. Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama, kita akan melaksanakan rapat akbar (FORKORANCAB GmnI) wilayah Jawa Timur, yang akan mempertemukan beberapa perwakilan dari masing-masing Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (baca : DPC GmnI) di seluruh jawa timur guna menyusun, merumuskan langkah perjuangan kita untuk mewujudkan cita-cita organisasi, yaitu terwujudnya sosialisme indonesia. Sekaligus juga, FORKORANCAB adalah merupakan sarana untuk memusyawarahkan, memufakatkan sosok pemimpin GmnI Jawa Timur periode 2016-2018. Dalam kesempatan itu, kita akan benar-benar di uji untuk melaksanakan asas musyawarah mufakat didalam zaman yang dengan sangat terang menjunjung tinggi demokrasi. Kesempatan ini akan membuktikan siapa sosok kita yang sebenarnya? Sebab, hidup di sebuah zaman yang telah tercerdaskan seperti saat ini, masihkah ada yang tersisa dari hati yang sangat mulia untuk mempertaruhkan segenap hidupnya demi kepentingan seluruh rakyat?. Masihkah dapat kita temukan pula, di zaman yang seperti saat ini, hati yang tulus bekerja sanggup meninggalkan singgasana? Sampai hari ini pun, potret karya perjuangan kita untuk rakyat hanya di hiasi oleh perebutan-perebutan kursi kuasa. Mereka berebut kuasa, semata-mata hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan juga kepentingan kelompoknya. Oleh sebab itu, sebagai kader “ PEJUANG PEMIKIR – PEMIKIR PEJUANG “ seharusnya kita sanggup menjadi pelopor perubahan untuk kembali pada identitas bangsa kita sendiri, terutama didalam memusyawarahkan dan memufakatkan pemimpin-pemimpin masa depan kita. Dengan modal pengetahuan yang meluap-luap, sepatutnya pula kita mampu menerapkan asas musyawarah mufakat berkemajuan. Sebuah musyawarah mufakat yang mengutamakan lahirnya gagasan-gagasan besar untuk melangkah maju, dan mengenyampingkan persoalan kursi jabatan. Dengan demikian, pada saat FORKORANCAB TUBAN, kita akan mencatatkan sejarah sendiri, apakah sanggup untuk menerapkan asas musyawarah mufakat berkemajuan?. Semoga sanggup.

Untuk bagian penutup, menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi kader “ PEJUANG PEMIKIR –PEMIKIR PEJUANG “, terutama yang terkait status sebagai kader pemikir, sebagai seorang kader yang berpengetahuan dan tercerdaskan, akankah sanggup menerapkan asas musyawarah mufakat didalam perjalanan organisasi kita? Apakah dengan kemajuan berpikir, kita akan membuat asas musyawarah mufakat menjadi berakhir? Jika benar kemajuan sebuah bangsa di pengaruhi kuat oleh faktor kesanggupan mengawal identitas kebangsaanya, saat inilah waktu yang tepat, bagi kita mengawal identitas kebangsaan kita sendiri, guna mewujudkan cita-cita sosialisme indonesia.

#FORKORANCAB #GmnIJatim

#Merdeka #Jaya #Menang

#BungLangit

Surat Ke Tigabelas : “ Kepada Tuhan, Semoga Tidak Ada Kata Mantan “

Assalamualaikum bulan, semoga kabarmu baik-baik saja, dan selalu dalam penjagaan, perlindungan Tuhan kita. Amin.

Bulan, Aku menjadi bingung, untuk kembali menulis surat kepadamu di awal pembuka suratku. Tapi, aku mencoba memulainya dengan penuh kepercayaan, bahwa selama rangkaian kata belum menjadi deretan kalimat yang termuat dalam surat, selama masa tunggu hingga akhirnya surat ini aku tuliskan, aku percaya, Tuhan sedang berperan penuh menyusun skenario hidup kita berdua. Dan kisah baru telah di mulai, aku dan kamu telah menjadi kita. Sejak saat itu pula, aku merasa,  bahwa Tuhan benar-benar merencanakan ini dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana yang telah kita lakukan berdua, menghabiskan setiap detik waktu, dengan pilihan hidup masing-masing dan pada nafas prinsip hidup yang sama, meskipun kita belum pernah bertemu, kepada Tuhan kita telah bersepakat untuk memutuskan sementara hidup seorang diri dalam kurun waktu yang begitu lama, hingga akhirnya, Tuhan kembali menuntun hati kita, untuk bertemu. Sejak saat itu, teriring do’a Bapak Ibuku, dan kesaksian semesta, dalam hati yang sunyi, terdengar doa suara kita berdua, mengucap ikrar, semoga kamu adalah yang terakhir untukku, dan aku adalah yang terakhir untukmu. Amin.

Bulan, aku menjadi teringat sesuatu. Aku ingin menceritakannya kepadamu. Aku berharap engkau suka membacanya.

Bulan, aku masih ingat dengan jelas sebuah pengalaman berharga yang aku dapatkan, sebelum akhirnya kita bertemu. Suatu hari, ketika waktu bergerak menuju pertengahan malam, aku bersama salah seorang temanku – sebenarnya, umur dia dibawah umurku, maka aku memanggilnya adik – kami berdua mencari makan, karena beberapa waktu sebelumnya, kami baru saja menyelesaikan pekerjaan organisasi. Setelah kami memesan makan, sembari menunggu pesanan datang, entah siapa di antara kami yang memulai lebih dulu, akhirnya kami berdua berbicara, berdiskusi soal masa remaja kita. Terutama sekali, soal masa pacaran. Aku melihat wajahnya seolah penuh dengan kegundahan. Aku mencoba memahami keadaaannya. Ternyata dia sedang ada masalah dengan pacarnya. Meskipun belum kuat bukti, kami menduga, bahwa tampaknya pacarnya bukanlah tipe pacar yang setia. Aku mencoba menguatkan hatinya yang suci itu. aku mengajaknya melihat dunia dengan penuh rasional. Namun, ia menolak. Aku sangat terkejut. Adikku ini tetap pada pendiriannya. Hatinya yang suci dan polos, telah menggerakkan bibirnya, menyampaikan sebuah pesan bahwa segala sesuatu yang menyangkut persoalan cinta, tidaklah sesederhana seperti menyelesaikan tugas-tugas kerja lainnya. Menyelesaikan persoalan cinta, harus penuh dengan pertimbangan. Menjaga dan melindungi setiap hati agar tidak tersakiti. Sampai akhirnya, ia semakin menegaskan prinsip hidupnya, bahwa manusia harus bekerja keras untuk mempertahankan hubungannya, hingga diantara mereka tidak akan pernah menjadi mantan. Aku tertegun. Prinsip hidupnya sangat luar biasa. pun Aku begitu takjub dengannya. Ia masih mampu tetap teguh pada pendiriannya.

Bulan, untuk menutup suratku, akhirnya aku tersadar. Menjalani masa remaja adalah masa yang penuh dengan pilihan. Ada yang memilih hidup sendiri (jomblo), ada yang memilih hidup berpasangan dan berikhtiar agar tidak pernah ada kata mantan, dan ada yang memilih bergonta-ganti pasangan. Dan pilihanku saat ini adalah aku memilihmu. Aku sangat meyakini, bahwa kamu adalah jawaban dari segala risau hatiku. Oleh sebab itu bulan, Kepada Tuhan, sebaiknya, kita berdoa, menitipkan kisah kita berdua, semoga tidak pernah ada kata mantan. Semoga.

#RizkieMuxafier

Wisuda ; Belum Ada Judul?

Beberapa minggu ini, saya melewati sebuah masa yang amat memukul pikiran dan perasaanku. Bulan September, adalah bukan lagi sebuah bulan yang memberikan keceriaan. Bulan September yang datang bagai terjangan badai, telah mampu memporak-porandakan seluruh isi hati dan pikiran yang menetap didalam rumah jiwaku. Dengan menyaksikan secara langsung maupun tidak langsung para kerabat, teman terbaik, teman seangkatan, berbaris rapi dengan mengenakan sebuah toga yang berlindung di bawah atap dalam perayaan acara yang begitu sakral. Pada saat itu, mereka, oleh panitia di panggil maju ke muka, mendekat ke pimpinan tertinggi universitas, untuk mendapat kalung, sebuah simbol, pertanda mereka telah berhasil menyelesaikan masa studi strata satu, dan sangatlah pantas menyandang gelar sebagai seorang sarjana. Dan pada keadaan yang demikian itu, saat melihat beberapa teman dan kerabat telah berhasil menjadi seorang sarjana, akhirnya, sebagai seorang mahasiswa bodoh sepertiku ini, hanya mampu meratapi nasib dan rasa menyesal yang tiada berkesudahan, bahwa gelar sarjana belum juga mampu saya genggam.

Sesungguhnya, tulisan ini hanya merupakan catatan kecil dari seorang mahasiswa bodoh yang belum mampu menyelesaikan masa studinya. Jadi, para pembaca dapat membuangnya begitu saja, beranjak pada karangan yang lain, agar tidak terhasut dan menjadi sesat sehingga ragu untuk berbuat. Sebab, di negeri yang masih saja menjunjung tinggi keadaan kelas sosial, yang menganggap guru lebih pandai dari murid, menganggap sarjana lebih pandai dari mahasiswa, dan mereka-mereka pula yang sangat gemar menjunjung hasil daripada sebuah proses, (pertimbangan-pertimbangan yang matang), maka tulisan yang lahir dari seorang mahasiswa tua dan bodoh sepertiku, hanya akan menjadi sampah yang menumpuk didalam ruang kehidupan yang telah meninggalkan kejujuran dan kesucian. Dan kehidupan kelak, akan tetap seperti itu, penuh dengan ketidakjujuran dan hati yang tidak lagi suci.

Pada saat ini, tiba-tiba terbayang dengan sendirinya. Apakah saya telah menemukan judul untuk hidupku selanjutnya selepas wisuda?. Segala sesuatunya akan terjawab oleh takdir. Namun, masih ada beberapa kemungkinan yang menjadi pilihan bagi seorang sarjana muda. Pertama,adalah bekerja. Sebuah keputusan yang rasional dan masuk akal. Mengingat, bagaimana sistem pendidikan kita saat ini, hanyalah sebuah pabrik besar yang mencetak mahasiswa dengan keahlian yang seragam. Andai mereka mahasiswa hukum, bilamana sepanjang proses pembelajaran hanya menekankan pada kemampuan menyelesaikan kasus dalam jangka pendek, maka mereka, kesemua mahasiswa itu hanya akan menjadi sekelompok kecil mahasiswa yang tidak akan pernah memiliki lompatan-lompatan pemikiran jauh ke depan, untuk menciptakan terobosan-terobosan hukum baru agar kelak di kemudian hari, tidak akan terjadi kasus yang serupa. Dewasa ini, yang terjadi adalah bagaimana para praktisi hukum menikmati keuntungan untuk menyelesaikan kasus yang serupa, misal wanprestasi dan perbuatan melanggar hukum. Selain itu, bekerja yang dimaksudkan juga adalah melanjutkan usaha ataupun pekerjaan yang telah di kerjakan oleh orang tua kita. Tanpa memperdulikan lagi selembar ijazah, ketidakpercayaan diri terhadap bekal 4 tahun yang telah di pelajari, dapat juga mempengaruhi seseorang untuk memilih melanjutkan usaha atau pekerjaan orang tua, sebab, hal tersebut merupakan alasan yang lebih rasional di bandingkan menunggu pekerjaan yang terkadang penuh kepalsuan. Kedua, adalah melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Biasanya, orang-orang yang memilih ini adalah mereka yang sangat paham keadaan diri mereka sendiri, baik keadaan kecerdasan diri maupun keadaan finansial yang lebih dari cukup. Orang-orang cerdas tanpa kekuatan finansial yang cukup, akan berusaha lebih keras mencari beasiswa agar mendapat kuliah gratis. Meskipun hal tersebut adalah peluang yang sangat kecil. Sebab, subsidi negara untuk pendidikan teralokasi dalam nominal yang sangat rendah. Para orang-orang cerdas itu pun yang sangat percaya bahwa satu-satunya mencari ilmu hanya didalam kelas, akan berkompetisi ketat memperebutkan satu tempat untuk mengamankan beasiswa kuliah gratis. Sedangkan mereka, para orang-orang yang memiliki harta bertumpuk-tumpuk, dengan sangat leluasa untuk menentukan masa depan pendidikan mereka sendiri. Dan keputusan untuk tetap melanjutkan studi, penulis berpandangan bahwa mereka yang memutuskan pilihan ini, sangatlah kuat di pengaruhi oleh dogma-dogma yang meyakinkan tekad mereka bahwa menjadi lulusan sarjana strata 2 (S2), akan lebih dekat dengan pekerjaan tertentu. Sehingga, memutuskan untuk tetap lanjut studi, adalah keputusan yang rasional secara material. Namun, patut pula di curigai, keputusan yang dibuat untuk memilih tetap lanjut studi, bukankah sebuah keputusan untuk menghindar dari fase kehidupan selanjutnya, yaitu bermasyarakat dengan perantara bekerja?. Bukankah dengan melanjutkan studi, kita pula menunda diri untuk memasuki fase bermasyarakat tersebut. Silahkan pembaca menjawab sendiri. ketiga, adalah menikah. Untuk persoalan yang ini, penulis serahkan sepenuhnya kepada pembaca. Sebab, penulis tidak pernah tahu keadaan hati masing-masing pembaca. Apakah selepas wisuda akan langsung menikah atau memilih salah satu diantara dua pilihan sebelumnya, kuliah kembali atau bekerja. Tentu, suatu keadaan sangat mampu mempengaruhi untuk membuat keputusan menikah muda.

Pada bagian akhir tulisan ini, mengenali kemampuan diri adalah satu-satunya jalan yang terbaik untuk membuat sebuah judul, selepas wisuda, hendaknya, apa yang harus dilakukan?. Sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah untuk membuat sebuah keputusan, namun, adalah sebuah kerugian besar bagi mereka yang menghindar dari tantangan yang penuh resiko. Apakah kita tetap memutuskan untuk melanjutkan studi ataukah bekerja yang kita pilih, sesungguhnya, keduanya harus mampu memberikan dorongan yang sangat kuat, agar kita segera kembali bermasyarakat.

#BungLangit

Mahasiswa; Bukan Romantisme FTV

Saya akan mengawali tulisan ini dengan ucapan SELAMAT DATANG KEPADA SEGENAP MAHASISWA BARU DI SEBUAH TEMPAT LUAS NAN ROMANTIS YANG BERNAMA KAMPUS.

Untuk menulis tentang mahasiswa, pikiran saya kembali melahirkan memori lama. Kala itu, didalam pikiran saya, yang sangat penuh dengan keyakinan bahwa kelak saat saya menjadi seorang mahasiswa, kehidupan saya penuh dengan kegembiraan. Suasana belajar yang romantis, kehidupan belajar yang tidak begitu padat, berpakaian bebas rapi, menikmati banyak waktu luang dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman, dan kegembiraan-kegembiraan lain yang saya peroleh dari sebuah tontonan FTV. Segala kehidupan kampus, sebagaimana yang telah saya peroleh dari sebuah tayangan di FTV, membuat saya benar-benar yakin, bahwa menjadi seorang mahasiswa akan lebih sering menikmati kegembiraan-kegembiraan dibandingkan menjadi seorang murid SMA yang penuh dengan aturan dan pengawasan. Hidup harus diatur dan teratur. Oleh sebab tontonan-tontonan yang seringkali saya lihat di FTV, akhirnya membuat saya semakin mendamba menjadi mahasiswa.

Dan mimpi itu pun akan segera tercapai. Saya akan menjadi mahasiswa bilamana saya berhasil mendapatkan  beasiswa jerih payah kedua orang tua, untuk membiayai perkuliahan saya. Pun saya mendapatkan beasiswa itu. lalu, perasaan senang yang begitu luar biasa bersemayam didalam jiwa.

Kemudian saya mulai membayangkan saat pertama kali saya memulai kuliah, sebagaimana sebelumnya telah terinspirasi oleh tayangan FTV, hal pertama yang muncul dalam benak saya adalah KEPO, terutama soal lawan jenis yang memikat hati. Radar mulai terpasang, mata mulai meneropong, sampai saya temukan orangnya. Saya pula beranjak pada tahap selanjutnya, kali ini saya STALKING lawan jenis, usaha memahami segala sesuatu tentangnya. Setelah KEPO, STALKING telah selesai, saya memulai PDKT. Tanpa membutuhkan waktu yang lama,  sebab,  kita adalah mahasiswa baru yang belum sepenuhnya mampu melepaskan cara berPACARAN ala cinta monyet, akhirnya, kami berPACARAN. Kehidupan berPACARAN kami pun sangat dihiasi oleh kegembiraan dan keGALAUan. Mungkin juga bahkan sampai BAPER, sering keBAWA PERASAAN merespon perkembangan dan perubahan sikap pacar kita. Akhirnya, GALAU adalah puncak kesedihan yang menghancurkan perasaan dan menggoyahkan kemandirian saya sebagai mahasiswa.

Namun, itu hanya sepenggal imajinasi belaka. Saat saya benar-benar menjalani masa perkuliahan saya, hal-hal romantis seputar mahasiswa dan kampus yang di tayangkan di FTV, tidak pernah saya alami. Dalam kehidupan nyata sebagai mahasiswa, saya hanya bertemu dengan tugas yang menumpuk. Kehidupan kampus yang samasekali tidak romantis. Perawatan gedung, pemenuhan sarana prasarana, dan rendahnya professional tenaga pendidik, belum mampu memberikan kepuasan. Padahal segala biaya telah kita bayarkan. Segala fenomena itu, oleh kami, para mahasiswa lebih memilih mendiamkannya saja. Sehingga, sesuatu yang seharusnya menjadi hak mahasiswa, kami ikhlaskan begitu saja. kami berbaik hati kepada birokrasi kampus yang kami percayai, bahwa mereka adalah orang-orang suci yang sangat tidak mungkin mereka akan berbuat korupsi. Sebab, di dalam pikiran kami, telah tertanam sebuah keyakinan, bahwa korupsi hanya dilakukan oleh birokrasi-birokrasi pemerintah. Sedangkan, birokrasi yang ada didalam instansi pendidikan di penuhi oleh orang-orang yang teguh memegang prinsip kesucian. Dan sebuah ketidakmungkinan, bila para orang-orang suci tersebut akan berbuat korupsi.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan bila berhadapan dengan permasalahan itu? apakah akan tetap mendiamkannya, atau berbuat sesuatu untuk kebaikan bersama?

Penulis tidak akan mampu menjawab pertanyaan itu, sebab, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah mutlak dari pemikiran pembaca. Namun, perkenankan penulis untuk memberikan pisau analisis agar kita dapat mengetahui, apa peran kita sebagai mahasiswa? Masihkan kita merupakan sekelompok mahasiswa yang ditayangkan keromantisannya dalam kisah FTV itu?. Ya, mungkin sebagian peran kita sebagai mahasiswa telah di ceritakan didalam FTV tersebut. Kita tetaplah mahasiswa KEPO, namun, keKEPOan kita adalah untuk memperluas daya jangkau pikiran kita melintasi batas keilmuan kita sendiri. Kita pula adalah mahasiswa yang gemar STALKING, namun, STALKING yang kita lakukan adalah usaha untuk memahami permasalahan-permasalahan sosial di sekitar kita. Pun kita adalah mahasiswa yang masih sering PDKT, tetapi usahakan kali ini, kita lebih sering PDKT dengan masyarakat yang memiliki beban hidup bertumpuk. Mereka membutuhkan kekasih yang dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka. Utang yang menumpuk, Upah yang belum terbayar, Harga Sembako yang semakin naik, cicilan yang belum lunas, rumah yang tergusur, harga tanah yang dibeli dengan murah, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, kita harus menjadi kekasih masyarakat. Kita adalah mahasiwa yang harus berPACARAN dengan mereka, para masyarakat. kita harus mampu hadir mengusir rasa GALAU mereka, dan kita harus mampu untuk sesering mungkin BAPER terhadap penderitaan yang dialami masyarakat kita. Bila hal tersebut telah kita lakukan, maka kita akan benar-benar menikmati romantisnya menjadi mahasiswa melebihi romantisme mahasiswa yang ditayangkan di FTV.

#BungLangit #RRI

Menunggu kewibaan partai (Analisis Pilgub DKI)

 

Beberapa bulan ini adalah puncak bagi saya merasakan kemuakan terhadap perpolitikan tanah air. Awal mula, kemuakan itu lahir tatkala partai politik yang mempunyai kuasa penuh untuk mengatur dan memainkan orkestra perpolitikan kita, mereka dengan cepat bertindak memutuskan untuk merevisi undang-undang pemilihan kepala daerah (baca : pilkada) yang di latarbelakangi oleh salah satu tokoh yang mendapat dukungan publik untuk maju bertarung dalam kompetisi perebutan kursi gubernur DKI melalui jalur perseorangan. Oleh sebab itu, partai yang gagap memahami kemajuan berpikir masyarakat kita dalam mengikuti situasi politik terkini, kemudian mengambil langkah cepat dengan menghambat calon yang bakal maju melalui jalur perseorangan dengan merevisi undang-undang pilkada. Alhasil, langkah ini terbukti sedikit menciutkan nyali tokoh beserta relawannya untuk maju bertarung melalui jalur perseorangan.

Selanjutnya, rasa muak yang saya rasakan semakin menumpuk. Hal ini disebabkan, betapa langkah yang diambil oleh salah satu tokoh publik yang telah mendapat kepercayaan dan menaruh harapan besar terhadapnya untuk tetap tegak bertarung melalui jalur perseorangan secara mengejutkan memutar balikkan keputusan yang dibuatnya sendiri bersama teman-teman relawan yang semula tegak bertarung di pilkada dengan jalur perseorangan terpaksa harus berputar balik menggunakan partai sebagai kendaraan politiknya. Keputusan ini begitu sangat memukul publik. Kenyataan yang demikian ini semakin meyakinkan, bahwa didalam demokrasi kita hari ini, rakyat berkedudukan semata hanya menjadi obyek politik. Mereka, para rakyat yang miskin itu, tidak pernah mendapatkan kedaulatan politiknya sendiri. sehingga, dalam hal ini, rakyat tidak pernah tahu tentang kompromi-kompromi yang telah di buat oleh sekelompok elit politik, dengan di tambah kompromi-kompromi yang juga di nikmati oleh para barisan relawan palsu mereka.

Dan pada bagian akhir penulisan ini, sesuatu yang sangat ramai sedang menjadi pembahasan adalah pemberitaan tentang salah satu kepala daerah yang diyakini memiliki segudang prestasi (hanya prestasi menata kota) yang tengah membuat masyarakat kita terpecah. Salah satu pihak yang menjadi rakyat pemimpin tersebut meminta untuk ibu walikota tetap berada di Surabaya dan memimpin Surabaya sampai dengan selesai. Dilain pihak, rakyat meminta kepada ibu untuk memimpin ibukota. Permintaan mereka seolah sangat serius untuk meminang ibu arek-arek suroboyo tersebut, hal itu di buktikan dengan semakin banyak relawan yang bermunculan yang menyatakan siap mendukung ibu maju di pilkada ibukota. Bahkan, diantara para relawan yang tiada kejelasan darimana mereka berasal, bertindak nekat menjemput ibu ke rumah yang tengah ia pimpin. Kenekatan yang telah dilakukan mereka tersebut,  disebabkan karena mereka menganggap, dengan modal prestasi yang berhasil menata kota Surabaya, ibu dari arek-arek suroboyo di yakini bakal sanggup untuk menata dan membangun ibukota menjadi lebih baik lagi, tanpa harus memperhatikan untuk mendahulukan penyelesaian kemiskinan dan sederet kisah pengangguran yang melanda ibukota. Oleh semakin derasnya dukungan yang begitu massif, melebihi penolakan yang ada, ibu tengah dalam kebimbangan. Sebab, sebagai kader partai, ia tidak punya kuasa untuk membuat keputusan secara sepihak. Ia harus menunggu keputusan partai, terutama keputusan ibu ketua umum partai pengusungnya yang telah mengantarnya maju dalam pilkada (pilwali Surabaya). Dalam perkembangan yang di tunjukkan oleh publik hari ini, adanya dukungan dan penolakan, untuk mengusung ibu walikota dari kota pahlwan tersebut menjadi calon gubernur ibukota, sangat penting bagi partai untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang bijak, terutama mengutamakan kepentingan rakyat dari segala-galanya, hal ini menyangkut demi sehatnya roda demokrasi kita. Bila yang menjadi rumusan adalah perbandingan jumlah penduduk antara Surabaya dan Jakarta, sehingga mereka tetap bersikukuh memutuskan untuk tetap mengusung ibu walikota yang baru menjabat di periode keduanya tersebut, dengan pertimbangan mereka harus menyelamatkan prosentase penduduk yang lebih besar, hal tersebut adalah cara pandang yang salah. Sebab, bila partai membuat keputusan yang demikian, memaksa mengantar ibu walikota menuju ibukota, akan berdampak buruk terhadap demokrasi kita, terutama dalam perkembangan perpolitikan tanah air. Bilamana rakyat yang tumbuh massif tanpa memiliki kepercayaannya terhadap politik, kita akan menyaksikan berpuluh juta orang yang hidupya tidak akan terselamatkan, oleh sebab, mereka kehilangan kedaulatannya dalam politik. Untuk itu, satu-satunya yang dapat kami harapkan agar demokrasi tetap berjalan baik adalah keputusan-keputusan yang dibuat partai dengan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan lainnya. Partai yang mendapat keistimewan konstitusi sebagai bagian dari perangkat sistem demokrasi, agar mampu membuat sebuah keputusan yang berdampak baik dan mampu menyelamatkan demokrasi kita. Bila demokrasi terselamatkan, maka secara demokrasi pula akan kita wujudkan cita-cita kebangsaan. Dan semoga keputusan yang akan dibuat nantinya, dapat meredam kemuakan kami terhadap dunia politik tanah air. Semoga.

#BungLangit #RRI

Surat Ke Duabelas : “ Bangun Rumah, Bangun Tangga “

Assalamualaikum bulan?

Semoga engkau selalu berada dalam penjagaan kasih sayangNya dan berada dalam perlindunganNya. Sehingga, dalam jarak pandang yang begitu jauh, aku tidak akan pernah khawatir tentang keselamatan jiwa dan ragamu.

Melalui surat ini, semoga engkau selalu percaya, bahwa aku selalu menjaga utuh perasaan cintaku kepadamu. Selain itu, dengan tulisan suratku ini pula, semoga engkau tidak pernah meragukan kesetiaanku ini, untuk menunggu sampai tiba waktunya, aku masih tetap dengan kesendirianku sampai engkau datang membalas cinta suciku. Semoga.

Bulan, ternyata kali ini aku menghadapi masa-masa yang paling sulit. Bulan ini, adalah bulan yang sangat penuh dengan godaan. Bulan yang datang dengan sejuta godaan untuk menghancurkan prinsip hidup yang aku jalani selama ini. ya, sebuah prinsip hidup untuk teguh menjalani hidup seorang diri tanpa hiasan pesona cinta anak remaja yang sangat semu. Aku menjalani pilihan ini dengan sangat berat. Aku berjalan menerjang arus seorang diri, meskipun, aku juga tahu, bahwa banyak juga orang-orang di luar sana, dengan berani meneguhkan prinsip hidup sepertiku. Namun, mereka masih belum percaya diri, untuk menyuarakan isi hati mereka, mengkampanyekan bersama-sama bahwa tidak selamanya hidup harus di jalankan sebagaimana yang kita lihat, tetapi, kita harus menjalani hidup berdasarkan keyakinan dan akidah yang kita imani.

Bulan, maaf aku jadi lupa untuk menceritakan masa-masa tersulitku. Kemarin, selama menjalani masa liburan di rumah, beberapa undangan pernikahan bertumpuk di atas meja. Tetapi, undangan itu khusus untuk ayah dan ibuku. Hal itu belum menyakitkan hati dan menggoda prinsip hidupku. Namun, saat ibu mengajakku untuk datang ke beberapa undangan pernikahan itu mewakili bapakku, aku merasakan hal ini sangat sakit sekali. Dan hampir aku goyaah terhadap prinsipku sendiri. Ada juga undangan yang langsung aku terima sendiri. mereka secara langsung mengundangku untuk datang ke resepsi pernikahan mereka. ya, ada beberapa pihak dari keluargaku yang memintaku untuk membantu mensukseskan acara pernikahan mereka. aku datang dengan ketabahan, menguatkan diriku sendiri, agar prinsip hidup tetap kokoh berdiri, tidak hancur oleh godaan pernikahan malam itu. ada juga satu undangan yang tidak sanggup aku lukiskan tentang perasaanku sendiri. ya, undangan pernikahan mantan. Tentu, bukan perasaan tidak ikhlas, melihat mantan bersanding dengan yang lain, akan tetapi, perasaan lega, akhirnya benar-benar mampu melihat mantan secara langsung tersenyum bahagia di hari pernikahannya adalah kado yang sangat istimewa. Mungkin soal pernikahanlah yang menjadi godaan yang paling nyata untuk menghancurkan prinsip hidup yang aku jalani beberapa tahun ini. dan kali ini, semoga do’amu dapat mengokohkan dan meneguhkan kembali prinsip hidupku ini. amin.

Bulan, dalam suratku kali ini, aku sangat ingin sekali membahas soal rumah tangga yang menjadi impian kita berdua di masa mendatang. Tetapi, bulan maafkanlah, jika tulisanku masih sangat sederhana, sebab, aku tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang pernikahan itu sendiri. selama ini, aku hanya menjadi pengamat dari perjalanan pernikahan orang-orang. Dan aku tertarik untuk membahasnya sedikit saja. ya, tentang rumah, tentang tangga. Dalam rumah tangga, keduanya penuh filosofis yang harus di pahami dengan baik, sebelum benar-benar mendirikan rumah tangga itu sendiri.

Bulan, kiranya kamu dapatkah kau jelaskan mengapa rumah tangga sangat penuh filosofis?. Aku meminta ijin kepadamu untuk menjelaskannya. Tentang rumah, adalah sebuah gambar keadaan yang sangat nyaman bagi penghuninya. Keadaan nyaman itulah yang harus kita maknai sebagai sebuah keharmonisan didalam rumah tangga itu sendiri. dan tentang tangga, itu hanya menggambarkan tentang perjalanan mendaki untuk meraih mimpi-mimpi penghuni rumah itu sendiri. nah, untuk menaiki tangga yang hanya satu itulah, menjadi tantangan kepada para penghuninya. Aku sangat sering menjumpai, oleh sebab, berbeda mimpi, maka keduanya memilih tangga masing-masing untuk meraih mimpi mereka sendiri. pada akhirnya, rumah tangga berantakan dan hancur. Mereka yang tanpa sadar, hanya untuk mimpi masing-masing, mereka kalah dalam mempertahankan rumah tangga sendiri. sehingga, rumah tangga yang di pertaruhkan. Oleh sebab itu, demi mimpi bersama, mereka perlu kerjasama yang baik, dan keharmonisan untu dapat meraih satu persatu mimpi-mimpi mereka. serta di butuhkan kesabaran dan saling mengurangi ego di antara keduanya untuk mencapai mimpi-mimpi mereka.

Bulan, aku pikir udah cukup tulisanku ini. sampai ketemu dalam rumah tangga kita. Amin

#RizkieMuxafier #RRI

Politik (h)Arus Balik

Belum lama, bangsa indonesia yang mayoritas di huni oleh umat islam, telah merayakan moment pulang kampung secara serentak untuk merayakan hari raya lebaran di rumah masing-masing. Moment tersebut sesungguhnya telah memberikan kegembiraan yang luar biasa kepada  segenap pihak. Mereka , para perantau sudah tak sabar untuk pulang ke kampung halaman, dan segera bergegas pergi untuk menikmati masa libur lebaran yang sebentar, dengan bertemu sanak keluarga dan kemudian berlibur bersama. Bukan hanya itu, kegembiraan yang lainnya juga di nikmati oleh para penduduk asli yang menempati daerah yang di tempati oleh para perantau. Mereka dapat menikmati suasana jalan yang sangat sepi, sehingga, mereka dapat merasakan kembali sebagai pemilik sah jalanan daerah tersebut.

Namun, dalam pembahasan kali ini, penulis tidak akan membahas soal rutinitas tahunan yang di rayakan oleh salah satu umat beragama yang ada di negara ini. akan tetapi, penulis berusaha untuk membahas terkait fenomena belakangan ini yang muncul menghiasi dunia perpolitikan tanah air kita.

Kita akan bicara soal DKI 1, dan siapa yang pantas?

Sebagaimana kisah manis yang pernah di lalui oleh bapak presiden kita, bapak joko widodo, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, lalu, mendapat durian runtuh sukses mengikuti Pemilu presiden, dan menjadi pemenang, melahirkan sebuah keyakinan baru bagi setiap orang, apapun status sosialnya, menjadikan DKI 1 sebagai tangga awal bagi setiap orang untuk menuju RI 1. Dan belakangan ini, begitu banyak orang yang berbondong-bondong mendeklarasikan dirinya menjadi bakal calon Gubernur DKI untuk memperoleh tampuk kekuasaan, sebagai tangga awal untuk menuju ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kursi RI 1.

Bahwa bicara soal Jakarta, secara umum kita menyepakati kita telah bicara indonesia. Segala aktifitas ekonomi, politik dan sebagainya, Jakarta telah merepresentasikan indonesia dengan sangat kuat. Lalu, bagaimana soal dinamika politik di ibukota?. Menjadi sebuah bahasan menarik jika kita mampu mengikuti perkembangan politik dengan baik. Saat ini, sebuah fenomena yang saya amati soal politik ibukota (tanpa berkompromi dengan media), tengah mengantar sebuah pesan demokrasi yang buruk. Fenomena lahirnya kepercayaan publik (yang di buktikan dengan pengumpulan KTP) terhadap seseorang yang di anggap mampu menjadi pemimpin yang berangkat bertarung dengan modal kepercayaan publik tanpa berafiliasi dengan partai, secara mengejutkan, memberi kabar yang sangat menyakitkan. Tersiar kabar, pemimpin yang tengah mendapat kepercayaan publik yang begitu tinggi, telah bersedia untuk balik bertarung dengan menggunakan partai sebagai kendaraan politiknya. Menurut hemat saya, mengapa ia balik ke pangkuan partai adalah sebuah keputusan yang di buat dengan pertimbangan yang matang. Ia sangat sadar selama menjalani masa pulang kampungnya (keluar dari partai politik), menemukan hambatan yang luar biasa untuk menyelesaikan program-program kerjanya selama menjadi orang nomor 1 di DKI. Atas pertimbangan tersebut, ia dengan tegas memutar balik keputusan politiknya, dengan memilih jalur partai sebagai kendaraannya untuk melenggang menuju DKI 1. Namun, begitulah politik, selamanya tidak akan pernah abadi untuk menjadi kawan maupun lawan. Sehingga, dalam suatu waktu, merupakan suatu hal yang sangat wajar, bilamana politik dapat menciptakan arus balik bagi pelaku politik untuk menuju kesuksesannya.

Akan tetapi, sebuah catatan di akhir tulisan ini adalah harus dapat di pahami dengan baik oleh para politisi kita. Bilamana politik dapat menciptakan arus balik bagi pelaku politik untuk menuju kesuksesannya, mereka pula harus mengingat, untuk dapat memahami gejala partisipasi publik soal politik yang setiap tahun mengalami penurunan. Oleh sebab itu, hal yang patut di sadari oleh para poitisi kita untuk meningkatkan partisipasi publik dalam bidang politik adalah (h)arus balik menjadi politisi yang mengutamakan kepentingan rakyat. Dan (h)arus balik menjadikan politik sebagai medan pertukaran ide untuk membangun kemajuan bangsa, bukan ribut dan gaduh soal bagi-bagi kue kuasa.

#BungLangit #RRI

Surat ke sebelas : “ Pulanglah kepada hati yang tabah “

assalamualaikum, bulan

Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu diantara jarak yang memaksa kita hidup dalam ruang kasih sayang masing-masing. Dan semoga, kabarmu juga baik-baik saja. setidaknya, hal itu akan membuatku sedikit tenang, saat takdir telah mencatatkan bahwa penundaan pertemuan kita masih tertulis dalam jangka waktu yang lama. Maafkan aku bulan, aku tidak bermaksud berburuk sangka kepada Tuhan, namun, aku sangat mensyukuri atas takdir yang telah kita lalui sejauh ini, bahwa engkau bulan, akan melihatku sebagai calon lelakimu yang tabah, yang kelak semoga dapat menjagamu dan mampu untuk terus selalu berada disampingmu. Amin.

Bulan, tanpa terasa, berlembar-lembar surat yang telah aku tulis, satu pun belum ada yang pernah engkau balas. Apakah surat-suratku tidak pernah sampai kepadamu? Ataukah para pengantar surat menyimpannya sendiri, sebab, mereka menganggap bahwa surat yang aku tulis untukmu adalah yang mereka alami juga. Sehingga, hal itu membuatnya menunda mengantar surat-suratku sampai kepadamu, karena baginya, ia tidak ingin membiarkanku seorang diri menanggung kisah cinta yang begitu memilukan ini.

namun, bulan, aku berharap semoga saat ini adalah hari keberuntunganku. Saat surat ini selesai aku tulis, dan ada seseorang yang dengan baik hati akan mengantarkan suratku kepadamu, semoga suratku ini akan berjumpa denganmu di suatu tempat yang kita berdua sama sekali tidak tahu dimana tempatnya. Kita percayakan kepada takdir untuk mengaturnya. Ya, aku berharap saat ini takdir memihak kepada kita. Saat semua orang tidak sabar untuk sekedar berjumpa dengan kampung halamannya, saat itu pula, aku titipkan sebuah doa, semoga takdir juga segera mempertemukan kita, Aku dan kamu. Bilamana takdir akan menjawab lain, aku titipkan mimpiku yang lain, semoga suratku akan bertemu dengan seseorang yang merupakan calon yang akan mendampingiku menuliskan kisah hidup kita dalam berlembar-lembar surat yang ada. Dan aku memilihmu, bulan, untuk menjadi seseorang yang sejak kita berikrar untuk menjadi halal, engkau adalah teman hidup yang akan menuliskan kisah hidup seumur hidup bersama diriku. Semoga.

Bulan, beberapa hari belakangan ini, masyarakat kita tengah sibuk mempersiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Pun aku juga ingin menikmati itu. namun, hal itu aku urungkan, sebab, kedua orang tuaku adalah sepasang kekasih yang tinggal dalam satu daerah kabupaten. Jadi, selama bertahun-tahun, kami tidak pernah mudik, kecuali saat aku memasuki alam rantau sebagai pelajar. Dan itu pun, baru aku hitung hanya beberapa kali saja. sehingga, bagiku belum memberikan keistimewaan tersendiri saat menikmati masa mudik.

Bulan, betapa bahagianya mereka yang hendak pulang kampung dan kemudian bertemu dengan orang-orang yang mereka sayangi. Aku tidak bisa membayangkan, saat rindu yang tertanam dalam lubuk hati yang terdalam selama bertahun-tahun, mereka akan menuainya tatkala masa mudik itu telah tiba. Betapa sangat tersiksa batin mereka, selama setahun penuh, harus menunda pertemuan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Selama setahun penuh, mereka harus melakukan sesuatu yang dapat menjadikan mereka sebagai seseorang yang pantas untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Mungkin mereka menyiapkan kabar gembira bahwa usaha bisnisnya sangat lancar di tanah rantau. Dan proses panjang harus mereka lalui, sebelum akhirnya, sebuah kabar gembira tersebut dapat mereka ceritakan kepada orang-orang tersayang di kampung halaman.

Bulan, mengertikah engkau atas apa yang aku maksud?. Bahwa sebelum kita mudik ke kampung halaman, senyatanya kita harus mempersiapkan diri menuju kualitas diri yang hebat, sebagai sebuah sebab yang kelak akan berakibat pada suatu keadaan yang akan mengantar kita pada pertemuan yang pertama. Semoga usaha yang aku lakukan agar hati senantiasa hidup dalam ketabahan dalam menjalani takdir penundaan pertemuan kita akan berakhir dengan cerita yang menggembirakan. Bilaman engkau benar-benar yakin akan ketabahan hatiku menunggumu selama bertahun-tahun lamanya, dan apabila engkau juga yakin, hari ini adalah hari yang terbaik untukmu pulang ke kampung halamanmu, aku berharap agar engkau pulang kepada hati yang tabah. Hati yang selalu tabah menunggu, kapan mendapat tempat untuk berlabuh. Semoga ketabahan yang oleh hatiku tunjukkan adalah sebuah sebab yang aku kerjakan dengan sebaik-baiknya, dan semoga kepulanganmu kepada hatiku, adalah akibat dari sebuah sebab yang aku kerjakan dengan sebaik-baiknya pula.

Bulan, semoga suratku dapat menjadi teman yang mampu menghibur perjalananmu, pulang menuju hati yang tabah itu. semoga kita bertemu di lain waktu, dengan kisah hidup yang lebih menggembirakan daripada ini.

Bulan, aku akhiri suratku. LOVE YOU!!!!

#RRI #RizkieMuxafier

 

(masih) belum klimaks?

Sesuatu yang harus memuncaki isu perdebatan dalam kehidupan, terutama belakangan ini adalah persoalan politik yang kian sungguh jauh dari kata menarik. Ya, politik amat membosankan. Pun saya merasakan itu. segala perbuatan dan laku para politikus kita hanya tergambar jelas dalam suatu potret sebagai tikus yang rakus. Koruptor. Mereka senyatanya tidak pernah sanggup menjawab persoalan mendasar tentang hakikat politik itu sendiri. mereka hanya bisa merangkum dalam kalimat sederhana bahwa politik adalah cara mendapatkan sesuatu. Sebagaimana dalam keyakinan mereka, bahwa politik lahir secara alamiah didalam diri manusia. Kemudian, mereka akan memberikan contoh tentang anak kecil yang merengek dan menangis kepada orang tuanya, ia (anak kecil) meminta kepada orang tuanya untuk memberikan apa yang oleh anak kecil itu inginkan. Sebuah contoh yang selalu berulang-ulang oleh para politikus kita terangkan, bahwa memahami politik adalah sebuah cara memandang sesuatu untuk memperoleh sesuatu yang harus di perjuangkan dengan kecenderungan untuk kita miliki secara individu. Dalam hal ini, mereka menganggap bahwa politik, sekali lagi mereka tegaskan adalah untuk memperoleh sesuatu, dan hanya untuk kepentingan mereka sendiri. maka, dalam perjalanannya, sangat tidak mengherankan, jika politik yang mewarnai kehidupan kenegaraan kita hanya sebatas mampu melahirkan tikus-tikus baru yang rakus. Entah mereka lupa, khilaf atau mungkin sebuah kesengajaan yang mereka lakukan, bahwa mereka senyatanya melupakan hakikat politik yang sebenarnya. Hakikat politik yang secara sederhana dapat kita maknai sebagai sebuah cara yang dapat dilakukan guna melahirkan generasi yang tersadar (para pelaku politik maupun rakyat biasa) untuk memperjuangkan secara bersama-sama kedaulatan atas dirinya dan bangsanya. Dan hal ini merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan tentang mengapa politik menjadi instrumen utama yang berperan penting didalam kehidupan manusia, khususnya didalam kehidupan kenegaraan.

Dewasa ini, perjalanan politik kita mengalami sebuah penurunan kwalitas. Diskursus tentang politik hanya hidup di dalam ruang-ruang sempit yang begitu megah yang hanya di nikmati oleh segelintir kelompok saja. beberapa diantaranya, lahirnya partai-partai baru yang masih tetap di huni oleh penghuni yang lama. Sikap politik yang di tunjukkan oleh para politikus kita yang dengan mudah berpindah-pindah partai.  Bilamana dapat kita pahami, gejala tersebut sungguh sebuah ironi. Mereka dengan sangat jelas, menyampaikan sebuah pesan bahwa politik adalah soal makan siang yang hanya dapat di nikmati oleh sekelompok orang. Mereka, para pemangku kepentingan yang mewarnai politik negeri, dengan sepakat memprasyaratkan bahwa untuk dapat menikmati makan siang adalah dengan mendirikan rumah baru (partai) yang tetap di huni oleh penghuni lama. Sehingga, menikmati makan siang dapat dilakukan secara bergiliran di rumah masing-masing pendiri rumah.

Dalam tulisan kali ini, sesuatu yang menjadi fokus pembahasan adalah fenomena kader partai yang dengan mudah dapat berpindah-pindah partai. tujuannya adalah mereka hanya ingin melanggengkan kekuasaan. Setelah berhasil di dalam suatu kekuasaan (legislatif), ia akan melanjutkan ke kekuasaan lainnya (eksekutif). Bilamana di kekuasaan ekskutif ia meraih keberhasilan atas penguasaan politik, ia akan melanjutkan ke kekuasaan eksekutif pada jenjang yang lebih tinggi. Atau sebagaimana yang tertulis dalam sejarah kebangsaan kita, belum selesai masa jabatan di tingkatan provinsi, ia dengan cepat menjabat di kursi RI 1. Barangkali ia hanya menjadi salah satu contoh dari beratus-ratus politisi yang melakukan praktik yang sama. Berpindah-pindah partai, berikut juga berpindah-pindah kursi kekuasaan. Sedangkan publik sangat sadar, para politisi kutu loncat, selama kepemimpinannya jauh dari prestasi yang cukup mentereng dan membanggakan. Prestasi yang mampu mengantarkan daerah yang mereka pimpin menuju suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Fenomena ini, juga sangat didukung oleh sikap partai yang cenderung lembek untuk mengevaluasi kader partai mereka yang menjabat sebagai pejabat publik (legislatif dan eksekutif). Atau mungkin ini merupakan bagian kecil dari efek domino karena kegagalan partai dalam melahirkan kader-kader berkualitas untuk memimpin bangsa di masa mendatang. Bilamana hal ini oleh partai sengaja di biarkan, secara terus menerus, memberikan kemudahan bagi siapapun para politisi untuk berpindah-pindah partai, maka akan berakibat buruk terhadap menurunnya partisipasi publik dalam menggunakan hak politiknya dengan sebaik-baiknya. Hal ini di tunjukkan dengan perkembangan politik kenegaraan kita yang dewasa ini menunjukkan suatu kejengahan rakyat terhadap para politisi kita yang setiap hari menghiasi layar kaca dengan pemberitaan yang amat memprihatinkan. Para politisi berduyun-duyun secara bergiliran maupun secara bersama-sama memenuhi ruang sesak nan sempit milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ya, mereka menjadi tersangka korupsi. Status mereka berubah menjadi seorang koruptor. Jika dalam perjalanannya beberapa tahun mendatang, partai tetap bersikap yang sama terhadap kader mereka, dan tidak memberikan sanksi yang tegas agar kader partai dapat meningkatkan kualitasnya, maka rakyat di masa mendatang yang akan di huni oleh generasi Y dan generasi Z, yang memiliki jangkauan pengetahuan lebih luas,  akan menghukum mereka dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, sikap partai yang hanya berdiam diri dan tidak merespon dengan cepat gejala yang cukup mengkhawatirkan ini, dengan tetap memberikan jalan yang mudah bagi setiap politisi kutu loncat untuk berpindah-pindah partai, sikap partai yang mengesampingkan pentingnya evaluasi yang tegas terhadap kader kutu loncat, dan para kader yang menjabat sebagai pejabat publik tanpa prestasi mentereng dan membanggakan, seharusnya menjadi catatan penting bagi seorang pemilih sebagai bahan pertimbangan kelak di kemudian hari ketika mereka menggunakan hak pilih mereka masing-masing. Sebab, dalam hal kekuasaan, partai dan orang-orang yang hidup di dalamnya adalah mereka yang tidak pernah klimaks untuk mempertahankan kekuasan itu sendiri.

#RRI #BungLangit