Sebuah diskursus yang sangat hangat dan intim malam itu, didalam suasana sunyi warung kopi, pembahasan tentang perempuan memberikan suntikan tenaga lebih terhadap kaum laki-laki. Ya, kami yang berkumpul malam itu, seluruhnya adalah laki-laki. Diskursus soal perempuan dalam lingkar imajinasi laki-laki adalah sesuatu yang wajar. Begitu juga sebaliknya, didalam imajinasi kaum perempuan sendiri, laki-laki adalah diskursus yang terutama untuk dibahas tatkala para perempuan-perempuan sedang berkumpul bersama. Bagi mereka (perempuan), mungkin saja laki-laki adalah seperti halnya gadget yang berada dalam genggaman tangan mereka, dalam keadaan apapun, setiap waktunya, laki-laki maupun gadget adalah satu kesatuan yang harus tinggal dalam ingatan dan genggaman. Dan jika hal itu pun benar adanya, kaum laki-laki tentu berharap kepada mereka, agar senantiasa setia kepada satu gadget saja, mengingat, dalam perjalanan waktu, gadget selalu berubah-ubah penuh gemerlap nan mempesona.
Dalam tulisan ini, tentu, pembahasan tidak tertuju pada suatu diskusi perihal kisah cinta laki-laki dan perempuan, melainkan, pembahasan dalam tulisan kali ini adalah persoalan menyelami lebih dalam makna tentang perempuan secara kekhasan ketimuran.
Bagi kaum laki-laki, menulis tentang seorang perempuan adalah menulis keresahan. Sebagai keturunan dari bangsa timur, yang sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan, maka kami selalu berkeyakinan, tempat yang paling mulia bagi seorang perempuan adalah di rumah. Keresahan-keresahan yang kian memuncak, tatkala melihat banyak sekali fenomena yang memotret kehidupan perempuan meninggalkan rumahnya (kodratnya). Banyak dari kaum perempuan yang menjadi buruh, disebabkan oleh tidak tercukupinya kebutuhan rumah. Para kaum laki-laki yang tidak bertanggung jawab, yang menyebabkan, akhirnya, kaum perempuan ambil bagian (bekerja).
Memasuki era industri yang mengantar kita (seluruhnya) pada keadaan ekonomi yang tidak menentu, dan menjalani hidup yang penuh kecemasan, membuat para orang tua, baik orang miskin maupun orang kaya, berlomba-lomba menyekolahkan para anak-anak mereka sampai tingkat yang setinggi-tingginya. Para anak perempuan juga mendapatkan kesempatan itu (bersekolah). Tujuan orang tua jelas, dengan modal membaca dan memahami kebutuhan industri, anak-anak mereka harus bersekolah dengan minimal capain menjadi seorang sarjana. Jika anak mereka belum sarjana, orang tua sadar, bahwa kelak anak kita hanya bekerja di tingkat yang paling rendah (buruh). Dan itu, tentu, bukan harapan mereka. nasib yang telah mereka alami sebagai orang tua, semoga dijauhkan kepada anak-anak mereka. Artinya, perempuan (Ibu) hari ini, berperan mengantar anak-anak mereka (laki-laki maupun perempuan) pada batas ruang kesempatan untuk bekerja. Agar nasib yang orang tua mereka alami, juga tidak dialami oleh anak-anaknya.
Ada sebuah fakta yang menarik (cerita dari seorang teman), ia menceritakan sebuah pengakuan dari salah seorang perempuan sarjana yang memilih menjadi ibu rumah tangga berdasarkan permintaan suaminya. Kemudian, pilihan itu mendapat gunjingan luar biasa dari para tetangganya. Perkataannya seperti ini, “ sarjana kok pengangguran”. Ibu tersebut tidak menghiraukan gunjingan dari para tetangganya. Ia tetap hidup dengan prinsip dan menjaga amanah suaminya. Tidak tergoda untuk kembali bekerja. Suatu waktu, ia menceritakan alasannya, mengapa ia tidak menanggapi gunjingan dari para tetangganya. Pesannya sederhana, “ mereka hanya melihat suatu kondisi hanya dengan mata, sedangkan suamiku melihat kondisi ini dengan hatinya. Mereka tidak pernah tahu isi hati suamiku, mengapa melarangku untuk bekerja, sedangkan aku sangat memahami isi hati suamiku. Dan semoga aku teguh dengan pilihan yang di ajukan suamiku itu.”
Perempuan sarjana tersebut yang tetap memilih menjadi ibu, adalah pilihan yang menegaskan suatu kenyataan bahwa ia dengan penuh keyakinan, meyakini bahwa hanya dari rahim ibu yang cerdas, dan melalui bimbingan ibu yang cerdas pula, kita akan melahirkan generasi-generasi yang cerdas. Sebagaimana yang pernah penulis baca dari perkataan salah seorang mahasiswa perempuan yang giat dalam pekerjaan sosial berkata, “ Tidak pernah terbayang, jika satu ibu yang cerdas, dapat membesarkan dan membimbing 2 (dua) anak menjadi generasi cerdas. Maka, saat ini, kita cukup menghitung berapa juta ibu yang ada di negeri ini, dan kita gandakan 2 kali lipat, maka berjuta-juta generasi emas yang cerdas, akan lahir dari rahim dan bimbingan ibu yang cerdas. Dan pada saat itulah, para perempuan, benar-benar berperan untuk kemajuan bangsanya.”
Dan terakhir untuk memahami judul diatas, per(empu)an, setidaknya ada 2 (dua) kata yang terpisah, yaitu kata dasar empu dan kata imbuhan per-an. Bilamana kita maknai dengan baik, sejatinya, memahami kata perempuan adalah cara kita memahami ulang peran empu itu sendiri. jadi peran perempuan secara kodrat adalah orang yang ahli dalam mendidik generasi-generasi emas negeri.
Oleh : #RRI #BungLangit