Surat ketiga : Cinta Dalam Hati, Teruntuk Yang Masih Misteri?

Assalamualaikum, bulan?.

Bagaimana kabarmu selama 2 minggu ini? Aku berharap, semoga kabarmu baik-baik saja, selalu sehat, dan selalu dalam lindunganNya. Amin.

Sebagaimana janjiku terdahulu, setiap 2 minggu sekali, aku akan mengirimimu surat-surat yang berisikan beberapa kegiatan sehari-hariku selama 2 minggu penuh, beserta benih-benih rindu yang aku tanam di ladang asmara yang gersang.

Entah, mengapa perasaanku yang pertama kali muncul saat menuliskan ini adalah ketidaksanggupanku untuk menuliskan surat-surat kepadamu setiap 2 minggu sekali. Rasanya, waktu yang demikian itu, sangatlah lama. Padahal, saat ini, waktu begitu cepat berlalu tergilas oleh nafsu. Setiap kali kita ingin mengirimkan sesuatu, dengan cepat, sesuatu yang hendak kita antar, dengan lekas sampai pada tujuan. Namun, hal ini, sangat tidak berlaku di dalam prinsip hidupmu. Aku memahami itu. Menurutmu, segala sesuatu yang di kerjakan dengan tergesa-gesa, hasilnya juga terkesan jauh dari sempurna. Atas prinsip dasar itulah, aku akan berjalan beriringan disampingmu, bukan berada tepat di depanmu.

Bulan, maafkanlah, jika di dalam tulisan yang aku karang ini, aku sedikit mengeluhkan janjiku. Sebagai manusia biasa yang memiliki hati begitu kecil, amat sulit bagiku untuk menanggung rindu yang kian membesar itu. Berikanlah maaf untuk kekhilafanku itu.

Bulan, engkaulah seseorang yang sering aku sebut dalam setiap aku menunaikan ibadahku.

Meskipun nama itu hanya sekedar nama panggilan biasa saja. senyatanya, di dalam jiwaku, aku tidak pernah bisa menghentikan setiap langkahku untuk terus mencari keberadaanmu. Menghentikan otakku yang seringkali sibuk dengan kekhawatiran akan nasib yang engkau jalani di seberang sana. Apakah nasib yang kau jalani lebih menyakitkan daripada nasib yang aku jalani disini?. Aku mencemaskan itu. namun, aku selalu berdoa kepada tuhan, semoga nasib hidupmu baik-baik saja. amin.

Bulan, pernahkah engkau merasakan betapa hatiku hancur dengan sangat dahsyatnya? Pernahkah engkau tahu akan keberadaan jiwaku yang semakin hari semakin gila?. Pernahkah engkau melihat betapa tersiksanya diriku, tatkala harus menimbun rindu yang semakin memberat itu?. semua pertanyaan-pertanyaan konyol itu lahir, hanya karena cinta ini tumbuh di dalam hati yang gersang. Seseorang yang dapat merawat bunga hati itu, belum jelas terlihat wajahnya. Belum terdengar suara merdunya. Belum terdengar tingkah manjanya. Aku merindukannya. Pun aku menanya, Mengapa nasib berjalan sendiri, tanpa ada campur tangan dari diri sendiri?. Sudahlah, itu menjadi tanggung jawab tuhan, sebagai sang maha penulis kisah hidup masing-masing hambanya. Kita pasrahkan saja.

Bulan, dengarlah sejenak kerinduan yang aku antar kepadamu ini. Diamlah sejenak di hadapanku. Duduklah!!!. Aku akan menceritakan semuanya. Kisah tentang cinta dalam hatiku, kepada seseorang yang masih menjadi misteri, yaitu dirimu Bulan. Sampai saat ini, aku sering bertanya-tanya, mengapa aku mengalami nasib yang seperti ini. Menyimpan perasaan cinta di dalam hati dengan begitu besarnya, namun, mengapa dengan bodohnya, aku masih saja mampu menyimpan perasaan cinta itu, sedangkan, teruntuk siapa cinta itu aku pertahankan, aku belum pernah tahu, siapa perempuan itu?. sudahkah engkau mengerti apa yang aku maksudkan itu bulan?. Cinta dalam hati, teruntuk seseorang yang menjadi misteri, sesungguhnya memberikan rasa sakit yang berkepanjangan. Namun, atas nama cinta, aku mampu bertahan, sampai waktu menjemput aku pulang, dari penantian panjang yang telah menjadi medan perjuangan.

Sebelum aku akhiri tulisanku bulan, aku meminta maaf, jika suratku ini berisikan luapan emosi yang luar biasa. aku menuliskan ini, hanya semata-mata aku ingin lebih dekat denganmu. Lelakimu ini, setangguh apapun, ia juga akan mati, bila cintanya tidak pernah engkau balas.

Dan terakhir bulan, apakah engkau tahu, bahwa aku dan beberapa temanku menjalani pergantian malam kasih sayang, hanya dengan di temani dua gelas kopi yang sangat pahit. Kami bercerita, dan bercanda. Padahal, tanpa sadar, kami semua adalah sosok perkumpulan lelaki yang miskin kasih sayang perempuan alias jomblo. hehehe.

Akhirnya, aku akhiri tulisanku, seiring pula dengan aku antar kerinduanku kepadamu. Bolehlah tulisan berakhir sejenak, tapi, cinta haruslah selalu hidup dalam benak.

Wassalam

(dari calon lelakimu yang selalu menantikan balasan suratmu)

 

*Oleh : Rizkie Muxafier

Surat Rindu : Salam Bagi Sahabat

Halo teman-teman semua?. Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu dalam penjagaan kasih sayang Tuhan dan juga selalu sehat. Amin.

Aku gak tahu, mengapa tiba-tiba aku ingin menuliskan surat-surat ini. mungkin karena kerinduanku yang sudah teramat dalam, menuntun jari jemari tanganku untuk merangkai setiap kata untuk menjadi sebuah sapaan kerinduan kepada kalian semua. Tentu, kerinduan ini tumbuh, lantaran kita tidak pernah bertemu. Sedangkan, masih sangat melekat di pikiranku, setiap libur kuliah tiba, beberapa diantara kita saling berkunjung ke rumah masing-masing. Menghabiskan waktu siang dan malam, tenggelam dalam canda tawa bersama. Betapa hal-hal yang lalu, yang untuk kesekian kalinya, masa-masa putih abu-abu selalu saja menjadi topic yang paling membuat hati kita tertawa terbahak-bahak. Jikalau aku mengingat itu, betapa aku merasa terharu. Seolah aku ingin menyalahkan takdir, mengapa jarak dan waktu begitu kejam memisahkan kita.

Aku pikir tidak ada beruntungnya aku menyalahi takdir itu, teman. Aku pun yakin, betapa kalian sangat marah bila aku begitu lemah, dan kalah oleh takdir yang memisahkan kita. Aku kuat. Kamu harus yakin itu.

Teman, betapa waktu sangat terasa cepat, kita sudah memasuki usia, yang rasanya, semua harus kita lalui dengan keseriusan. Menimbang-nimbang sesuatu, sebelum, akhirnya dengan sikap tegas kita tentukan pilihan itu. Sudah waktunya, semua harus di kerjakan dengan sebuah perencanaan yang matang. Untuk itu, kepada kalian, yang lebih dulu daripada aku memasuki fase tersebut, hidup di dalam masyarakat seutuhnya, nasehatilah diriku yang begitu bodoh dan belum tahu tentang kehidupan nyata yang sebenarnya itu. Sebab, dengan bekal pengalaman yang kalian miliki adalah bekal yang belum kami miliki. Bukankah pula, ilmu yang paling tertinggi daripada ilmu yang lainnya adalah pengalaman. Aku yakin dengan perkataan itu.

Kepada teman-teman yang di masa sekarang nasibnya sama dengan diriku, satu hal yang cukup kita lakukan, saling menguatkan saat menjalani masa-masa terakhir dengan gelar sebagai mahasiswa. Menghabiskan waktu di kampus, bertemu dosen, hanya sekedar menyelesaikan tugas akhir. Skripsi. Mungkin kita berada di dalam ruang yang berbeda, namun, aku yakin, dimanapun berada, dorongan kekuatan yang luar biasa, senantiasa akan kalian kirim kepadaku, terimakasih teman.

Untuk yang terakhir, akhirnya aku ingat. Mengapa aku menulis surat ini. selain karena kerinduanku kepada kalian, puncaknya, aku buktikan semalam, saat aku memimpikan kita berkumpul bersama didalam sebuah reuni kecil-kecilan. Namun, aku meminta maaf, karena tidak adanya kejelasan, pada masa apa kita berkumpul. Apakah itu hanya nostalgia saja?. Atau sebuah gambaran kita dalam beberapa tahun ke depan. Tapi, yang jelas, di manapun kalian berada, pada ruang yang mana, sebarkanlah kekuatan satu sama lain. Aku menantikan itu, teman. Sekedar berbagi agar saling merindu satu sama lain, aku ingin kalian mendengarkan lagu ini. “salam bagi sahabat” dan “sahabat kecil”. Sebuah energy positif dari karya glenn fredly, dan juga lagu nostalgia masa kecil oleh ipang. Jikalau teman-teman merasa tidak suka dengan lagu-lagu itu, berpura-puralah suka. Agar hati tidak lara. Aku tunggu balasan surat kalian, teman.

 

Surat Kedua : awal perjanjian sederhanaku.

Assalamualaikum, bulan?. Kabarmu gimana?. Semoga masih sehat dan dalam lindunganNya. Amin.

Saat ini, aku kembali datang menyapamu dengan surat keduaku. Aku harap kamu masih senang untuk membacanya sampai akhir. Aku berharap agar kau tetap sudi menerima surat-suratku ini, dan selalu membacanya sampai akhir tulisanku ini.

Tanpa terasa, hari telah berganti, bulan pun telah berlalu. Kini, kita memasuki bulan februari. Kata orang-orang, bulan februari adalah bulan kasih sayang. Apakah kamu tahu itu?. Aku yakin, kamu juga tahu. Tapi, lebih daripada itu, aku yakin kalau kamu hanya sekedar tahu saja, tanpa pernah melakukannya. Kamu tahu dan mungkin juga selalu ingat mengenai kebiasaan orang-orang didunia, yang biasa mereka lakukan di bulan februari, saling bertukar coklat. Ya, mereka melakukan itu. Biasanya, mereka melakukan ritual ini tepat pada tanggal 14 bulan februari. Kata mereka, coklat menjadi symbol dari sebuah kasih sayang yang dimiliki seseorang kepada pasangannya. Tapi, aku tidak setuju dengan itu. Soalnya sedikit aneh juga, kenapa mereka merayakan hari kasih sayang, sebuah ritual yang istimewa itu dengan menjadikan coklat sebagai symbol kasih sayang? Padahal, aku pikir mereka masih bisa berpikir dengan lebih jernih, bahwa coklat adalah sejenis makanan dan tidak berumur panjang. Tapi, mengapa orang-orang masih melakukan itu? Apakah ini sebagian bukti daripada cinta gila yang begitu ramai orang-orang alami?. Sehingga, mereka lupa adanya rasionalitas untuk sebuah cinta?. Apakah kamu setuju dengan pendapatku bulan?. Maaf, aku khilaf. Pertanyaanku terlalu memaksa. Seharusnya, aku tidak melakukan itu. Aku memberimu kebebasan untuk menyatakan pendapat, dan setelah itu, kita berjalan beriringan dengan pendapat kita masing-masing. Maaf, bulan.

Tapi, sebaiknya kita lupakan saja masalah hari kasih sayang itu. Aku ingin lebih dekat denganmu. Tanpa ada satu pun yang mengganggu. Pertama-tama, apakah surat pertamaku sudah kamu terima?. Apakah kamu sudah membacanya?. Semua aku tulis di dalam surat. Tentang kehidupanku saat ini. tentang keyakinanku, bahwa kelak di kemudian hari, mimpi akan segera terwujud. Mimpi kita untuk menjadi satu.

Jadi, apakah kamu sudah menerima suratku dan membacanya?. Jikalau pun belum, aku tidak akan kecewa. Sebab, memang kita tidak akan pernah tahu, kapan takdir akan mengantar surat itu kepada penerima yang sebenarnya. Dan pada akhirnya, surat itu, pun akan sampai pada penerimanya, meskipun tanpa kita ketahui, pada surat ke berapa, dan butuh berapa lama, agar surat itu sampai ke tangan penerimanya. Apapun itu, tidak akan menyurutkan langkahku untuk terus mengirimimu surat-surat. Meskipun, aku tahu, bahwa kenyataan pahit juga harus aku terima. Mengirimu surat-surat, tanpa mendapat balasan. Tapi, tak usah kau mengkhawatirkanku. Didalam hati kita, hiduplah keyakinan yang kukuh. Sekalipun badai menghantam, rupanya bukan menjadi hambatan. Karena hati telah teguh.

Melalui surat kedua ini, aku ingin menyampaikan padamu tentang perjanjian sederhanaku. Kepadamu, Aku berjanji akan selalu mengirimimu surat-surat setiap dua minggu sekali. Aku akan melakukan itu tanpa hentinya. Aku tak peduli berapa surat yang akan aku tulis dan aku kirim kepadamu. Berapa lama waktu yang aku butuhkan, agar pada akhirnya, kau menerima surat-suratku. Dan kau membacanya. Lalu, kau memberi jawaban yang menguatkan hati satu sama lain. Bahwa kita adalah satu. Semoga. Amin.

Oleh : #RRI #RizkieMuxafier

Pemimpin itu, “Mencintai Rumahnya”

Suatu malam, seperti malam-malam yang lalu, kami kerap berkumpul bersama. Melakukan aktifitas yang pada umumnya, juga menjadi rutinitas mayoritas warga yang tinggal di Surabaya. Ngopi. Pada malam itu, seperti pada malam –malam yang lalu, sedikit banyak, bukanlah sekedar melakukan ngopi biasa, namun, kami juga mendiskusikan setiap apapun yang terjadi dan di alami oleh bangsa ini. tentu, isu politik, ekonomi, hukum dan semua hal yang berkaitan serta menjadi tali temali dari beberapa isu yang kami sebutkan tadi, adalah bahan pokok yang harus kita masak menjadi sebuah makanan yang dapat di nikmati oleh semua elemen kelompok. Namun, pada malam itu, pembahasan sedikit keluar dari jalur yang ada. Betapa kami membahas persoalan masa depan organisasi kami. Terutama, membahas soal siapa yang patut menjadi tuan rumah yang amat sangat mencintai rumahnya.

Lantas, salah seorang dari kami, berceletuk, dia berkata bahwa “siapapun dia, hal yang terpenting yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin adalah seberapa besar dia mencintai rumahnya.” Perkataan ini kemudian membuat saya berpikir lebih dalam, memahami pesan yang dimaksud oleh salah seorang teman kami. Akhirnya, saya belum menemukan jawaban dengan cepat, secepat saya menghabiskan waktu untuk meminum segelas kopi. Pada akhirnya, membutuhkan proses perenungan yang berkepanjangan, hanya untuk menemukan pesan yang ingin disampaikan oleh teman saya tersebut. Beberapa kali saya mencoba berpikir, berulang kali saya membongkar setiap pengalaman saya berorganisasi. Saya mengingat-ngingat pesannya, bahwa pesan pertama adalah soal cinta. Dan pesan kedua adalah rumah. Kemudian, pertama-tama saya mencoba memahami pesan cinta yang dimaksud. Dan selama berorganisasi, cinta adalah sesuatu yang mudah saya tebak, bahwa tanpa adanya cinta, seseorang tidak akan mampu menjalani kewajibannya sebagai sosok organisatoris (baca : aktifis). Selanjutnya, pada persoalan rumah, yang kembali menguras tenaga dan pikiran saya. Jikalau harus jujur, selama ini, sebelum saya bergabung di organisasi saya saat ini, saya belum menemukan rumah yang begitu memberikan kenyamanan untuk saya beristirahat, merebahkan badan sejenak, bahkan memberikan kesempatan untuk kami saling berdiskusi, bercanda, bahkan terkadang terbawa pada kondisi menyindir persoalan negeri. kesemua itu memberikan kenyamanan bagi setiap anggota rumah yang menempati rumah itu (Jl. Semolowaru Indah Blok I / 6-7 Surabaya).

Kembali pada persoalan rumah, beruntung, pada akhirnya saya dapat memahami pesan yang di maksudkan teman kami itu. Sampai pada akhirnya tulisan ini lahir, saya baru mengerti tentang rumah yang dimaksud. Setelah mengalami jatuh bangun, dan kerja keras memahami pesan tersebut, akhirnya, saya menemukan analogi yang tepat. Pemimpin, juga seperti halnya seorang kepala rumah tangga. Ia tidak hanya menyerahkan seluruh jiwa raganya dan mengorbankan dirinya untuk dirinya sendiri. Melainkan pula, seluruh jiwa raga, pikiran dan tenaga, sepenuhnya ia berikan kepada anggota yang juga menetap di dalam rumah itu. Sehingga, satu-satunya jalan terbaik bagi seorang calon pemimpin terbaik adalah mengerti persoalan rumah dan rumah yang akan dijaganya. Jikalau hal ini kita kaitkan dengan pemimpin kita saat ini (presiden, gubernur, walikota/bupati), mereka harus tahu dan mengerti persoalan rumah mereka. Dan tidak ada harapan lain, selain berharap penuh, didalam masa mengasah diri, didalam setiap kesempatan emas ini, kami berkesempatan memahami dengan sebaik-baiknya setiap peristiwa yang kemudian menguatkan hati kami, bahwa jalan terbaik menjadi pemimpin, adalah mengerti persoalan rumah kita sendiri. *Oleh : RRI

Surat pertama : jikalau kita kekasih sejati, aku ikuti perintah tuhan kita.

Aku bingung bagaimana cara menyapamu. Apakah aku harus katakan selamat pagi, selamat sore, atau selamat malam?.  Sebab, aku pun belum tahu, kini, dimanakah dirimu berada?. Bahkan, sejak pertama kali aku melihat duniaku, pun sedikit aku tidak pernah tahu dimanakah dirimu. Namun, sebagai orang yang hidup beragama, ijinkan aku menyapamu dengan bahasa agama yang menghendakiku. “Assalamualaikum”. Semoga senantiasa keselamatan menyertaimu. Bolehkah aku menanyakan kabarmu saat ini?. Sudah hampir 21 tahun lebih, aku belum menyapamu. Menanyakan kabarmu. Menanyakan segala sesuatu yang ada didalam catatan kegiatan harianmu itu. Maafkan, betapa aku baru menyadari hal itu sekarang.  Aku menyadari ini adalah sebuah keterlambatan. Sekali lagi aku minta maaf.

Bagaimana aku menyebut namamu dalam tulisanku ini? Sedang aku pun belum tahu, tentang namamu, tentang rupamu, tentang sepenuhnya yang ada padamu. Jikalau engkau tidak berkeberatan, bolehkah aku memanggil namamu bulan. Setidaknya, engkau akan lebih dekat dengan keluargaku. Nama yang aku sebutkan tadi, adalah nama salah seorang yang mengasuh, mendidik dan membesarkanku. Aku yakin kamu tidak berkeberatan, sebagaimana kamu juga akan memanggilku dengan salah sebutan nama orang yang kau kasihi. Ayahmu.

Bulan, bagaimana kabarmu hari ini? Jika kau berkenan, bolehkah aku mendengar ceritamu hari ini. jika memang engkau berkeberatan untuk bercerita pada media public dan bingung menyampaikannnya, kirimilah surat-surat, yang jelas hanya aku dan kamu yang tahu. Janji? Aku yakin engkau pasti telah berjanji untukku. Kini, giliranku bercerita.

Pertama-tama, apakah kamu sudah tahu, bagaimana kisah cinta yang aku jalani selama ini?. kurang lebih beberapa tahun yang lalu, aku telah meninggalkan sebuah kisah kasih di sekolah. Kisah-kisah yang aku tinggalkan, kesemuanya telah memberikan pengalaman yang mengajarkan kepadaku untuk menjadi seseorang yang lebih bijaksana. Bahwa setiap hati yang ada, bukan tercipta untuk menanggung luka. Untuk itu, pada akhirnya aku sadar, jika hal ini secara terus menerus aku lakukan, menjadi kekasih seseorang, kemudian meninggalkannya, berganti kepada pasangan yang lain. Bukankah hal itu sebuah kenyataan bahwa aku telah melakukan sebuah kejahatan yang melebihi kejahatan yang di lakukan pada umumnya?.

Dengan begitu, beberapa tahun yang lalu, aku mencoba menguatkan keputusanku. Meyakinkan untuk biasa hidup sendiri. Kadang merasa sedih juga, tatkala sebuah lagu karya kunto aji, “terlalu lama sendiri” begitu berdengung merdu diantara setiap playlist yang ada. Ah, lagu itu, begitu memukul hatiku. Tapi, aku penjantan tangguh, aku merasa malu, jika air mata mengucur dari kedua mataku. Dan aku tahu, bulan pasti menertawakan diriku. Laki-laki yang akan menggenapi tulang rusuknya, ternyata juga bisa menangis. Aku harus tangguh. Aku tidak mau kalah sama lagu itu, bertahun-tahun untuk hidup sendiri aku pun mampu, lantas, hanya karena lagu, hatiku terpukul jatuh. Sedih.

Selanjutnya, akan aku ceritakan kebiasaanku. Akhir-akhir ini, aku sering merenungkan, kapan kita akan bertemu?. Tempat manakah yang akan menjadi saksi pertemuan kita?. Namun, semua lekas kembali seperti biasa. Aku menjalani kehidupan nyata. Dan sementara membuang jauh tentang kamu. Bukan karena didalam diriku tidak ada kesetiaan kepadamu, namun, sebuah realita memukulku. Betapa akhir-akhir ini, seringkali aku melihat begitu banyaknya laki-laki yang menghijrahkan dirinya pada sesuatu yang lebih baik. Para laki-laki yang menjadikan dirinya cerdas, menjadikannya lebih alim, dan lain sebagainya. Pun aku mengusahakan itu. Bekerja dengan lebih keras untuk menjadi laki-laki yang pantas untukmu. Karena aku yakin, penyebab aku berubah, bukan karena laki-laki yang menghijrahkan dirinya menjadi lebih baik, namun, yang dapat memotivasiku untuk berubah menjadi lebih baik pula hanyalah kamu, bulan. Aku yakin, di ruang dimensi yang berbeda, kamu juga menjalani takdir yang hampir mirip denganku. Betapa engkau meninggalkan zona nyaman, demi masa depan yang lebih baik. Dan saat ini, secara perlahan, aku juga ingin membuktikan, bahwa kesetiaan bukanlah yang Nampak oleh mata. Namun, kesetiaan juga berbentuk yang tak Nampak oleh mata. Aku berusaha berjalan beriringan dengan langkahmu. Meninggalkan zona nyaman kita, untuk masa depan yang lebih cerah. Jika kita yakin, kita adalah kekasih sejati, maka aku ikuti perintah tuhan kita, jikalau orang baik, hanyalah berpasangan dengan yang baik pula. Dan begitu pula sebaliknya. Semoga kita adalah pasangan yang disatukan atas perilaku kebaikan kita. amin.

Divestasi Freeport : membudak atau menjadi tuan?

Betapa hati sangat merasa kecewa, saat seringkali yang kita dengar hanyalah kabar buruk dan ancaman bagi kemajuan bangsa kita. Kabar terakhir, soal divestasi freepport sebesar 10% dengan harga sekitar 23 triliun rupiah. Ah, amat besar sekali nilai itu. Bagaimana mungkin Negara Indonesia mampu memenuhi permintaan si tuan yang begitu besar. Sedangkan kami juga perlu membangun yang lainnya. Cobalah sedikit tuan turunkan harga nilai tawarnya?. Saya yakin, tuan pula tidak akan berkenan. Hal ini hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia saja. Lagipula, jika itu pun terjadi, kami tawar menawar dengan rajinnya, Negara ini tentu sudah kehilangan martabatnya. Betapa kami masih selalu ingat akan pesan dari bapak proklamator kami, soekarno, yang pernah berkata demikian, “Kami menggoyakan langit, menggempakan darat, menggelorakan samudera, agar tidak menjadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari, Bangsa yg kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli, Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.” Betapa perkataan yang demikian ini, sangat memecut hati kami yang selalu ciut jika di hadapan tuan-tuan. Tapi, untuk saat ini dan selanjutnya, adalah waktu bagi tuan-tuan merasa ciut saat kami mencapai cita-cita kami. Sosialisme Indonesia.

Tuan, bolehkah saya bertanya soal kepatuhan tuan terhadap undang-undang?. Sudahkah tuan menjalankan amanat undang-undang yang ada di Negara kami. Saya pikir, tuan sudah mampu melaksanakan itu. Sebab, seringkali kami mendengar, betapa Negara-negara tuan mendapat pujian-pujian yang luar biasa dari para ahli hukum kami, bahwa Negara-negara tuan sangat menjunjung konstitusi. Jadi, sudahkah tuan menjalankan amanat itu?. Jika tuan tidak berkenan menjawab, perkenankan saya menjawabnya. Untuk kedua kalinya, betapa kami sangat kecewa. Kami mendapatkan informasi yang berkebalikan dengan apa yang seringkali disampaikan oleh para ahli hukum kami. Bahwa tuan sampai saat ini, belum juga melaksanakan apa yang tengah di perintahkan oleh undang-undang kami bahkan juga telah melewati bertahun-tahun, apakah tuan dengan sengaja melalaikan amanat itu?.  Pertama, sejak undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang minerba di undangkan, yang mengamanatkan semua perusahaan diwajibkan membangun pabrik pengolahan murni (smelter), betapa hanya perusahaan tuan dan satu perusahaan besar lagi yang dengan tegas menolak pembangunan itu. Sehingga, tuan-tuan mendapatkan keringanan waktu untuk membangun smelter. Padahal, hal demikian senyata-nyatanya amanat konstitusi. Tapi, untuk tuan pun, rasanya konstitusi bukan harga mati. Bahkan pula, dengan sangat baik hati, pejabat kami mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2014 yang menyatakan adanya pengecualian terhadap perusahan tuan-tuan untuk melakukan ekspor barang setengah jadi. Betapa kami sangat mengagungkan kalian tuan-tuan. Entah mungkin karena tuan adalah anak emas kami, atau mungkin kami yang menjadi budak tuan?.

Kedua, bahwa tuan-tuan telah membuat sebuah opini public yang berkebalikan. Seolah-olah kami yang sangat mengemis-ngemis agar pengelolaan surga papua, segera di kembalikan kepada kami. Padahal, saya yakin tuan pun pernah membaca sebuah peraturan pemerintah nomor 77 tahun 2014 yang menjelaskan bahwa peraturan ini memberikan perintah agar tuanlah yang mendivestasikan saham kepada kami. Namun, mengapa publik di arahkan untuk mendapatkan informasi yang seolah-olah kami harus membayar sejumlah uang dengan nilai yang begitu fantastis. Bukankah sudah kami jelaskan, harga yang begitu tinggi, kami tidak sanggup membeli. Lagipula ini tanah kami, mengapa di tanah sendiri, semua di paksa  harus beli?. Jikalau tuan-tuan sudah merasa nyaman di sebagian kecil surga kami, silahkan tuan mengikuti semua peraturan yang ada. Kami tidak mengusir tuan. Kami senang tuan disini. Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Namun, tidak berarti tuan menjadi tuan di rumah kami. Kami adalah tuan, dan andalah sebagai tamu pendatang. Jikalau sepakat dengan aturan kami, silahkan tinggal disini. Tapi, jikalau berkeberatan, semua pilihan ada di tangan tuan. Pada saatnya nanti, Kami tunggu keputusannya.

Dan kepada pemerintah, selaku wakil kami, sudah hampir setengah abad, kita salah jalan. Berpuluh-puluh tahun, kita berjalan di atas jalan “sama ratap sama tangis.” Bukankah hal ini sebuah kenyataan pahit yang harus kita jalani. Perkataan soekarno pun masih membayang, “selepas kemerdekaan ini yang merupakan jembatan emas, kita akan di hadapkan pada 2 cabang jalan. Pertama, jalan yang sama rasa sama rata. Kedua, jalan yang sama ratap sama tangis.”. untuk itu, perjalanan ini sudah cukup jauh mengantar kita pada posisi saat ini. Dapatkah kita menciptakan jalan baru tanpa harus berputar kembali ke jalan yang lalu?. Soekarno hanya manusia biasa, perkataannya pun bisa keliru. Sudah waktunya kita bisa menciptakan jalan itu. Kita pula harus mampu melebihi kecerdasan sang presiden ketiga, BJ. Habibie, yang mampu menciptakan pesawat, dan itu memang bukan soal biasa. Itu adalah karya yang luar biasa. Namun, mampu membuat rute yang luar biasa bukan pekerjaan yang biasa pula. Dan pilihan yang paling terdekat adalah membudak atau menjadi tuan?. (Sampai berjumpa pada pembahasan saham di 2019. Semoga).

*Oleh : RRI

 

Insiden Sarinah: mengguncang mimpi kedigdayaan ekonomi indonesia?

Awalnya, saya tidak begitu mengerti tentang Sarinah. Apapun yang berkaitan dengan kata tersebut, saya benar-benar tidak pernah tahu bahkan tidak pernah sekalipun menjumpai sebuah literatur yang berkaitan dengan kata itu. Namun, seiring waktu berjalan, di dalam sebuah kesempatan yang baik, di dalam kebulatan tekad, saya memantapkan keberanian untuk bergabung ke dalam sebuah organisasi pergerakan mahasiswa, sebuah gerakan yang bersandarkan pada paham nasionalisme. Dari sanalah, awal saya mengetahui tentang Sarinah. Singkatnya, Sarinah adalah nama seorang wanita yang telah mengasuh bapak proklamator, Bung Karno. Menurut penuturan Bung Karno, “seorang Bung Karno tidak akan pernah memiliki rasa kepedulian kepada rakyat kecil yang begitu menancap kuat di dalam hatinya, jikalau tuhan tidak pernah mentakdirkan dirinya bertemu dengan Sarinah, dan kemudian memilih Sarinah untuk menjadi pengasuhnya.” Oleh sebab itu, sangatlah wajar, bilamana soekarno mampu melahirkan sebuah pemikiran tentang penindasan system kemiskinan yang begitu dahsyat kepada kaum pribumi. Marhaenisme, adalah bukti nyata dari pemikiran soekarno, yang lahir dari sebuah dialektika dengan rakyat pribumi. Dan kemudian, berdasarkan pengalaman emas yang dialaminya tersebut, Bung Karno kemudian mengabadikan nama Sarinah, sebagai salah seorang wanita yang berjasa di dalam proses kehidupannya hingga ia menjadi pemimpin Negara.

Dalam beberapa hari yang lalu (14 januari 2016), seluruh masyarakat indonesia di kejutkan dengan pemberitaan yang mengabarkan bahwa telah terjadi insiden pengeboman di salah satu lokasi strategis yang ada di ibukota Jakarta. Tepatnya, insiden pengeboman tersebut telah terjadi di salah satu pusat perbelanjaan yang bernama Sarinah. Jika sejenak kembali mengenang sejarah, ada sebuah peristiwa penting, cikal bakal lahirnya pusat perbelanjaan yang ada di Indonesia, khususnya di Jakarta. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh, Sarinah merupakan salah satu pusat perbelanjaan pertama yang ada di Indonesia yang menjual seluruh produksi, karya asli kaum pribumi. Pada saat itu, makro perekonomian Indonesia pada kisaran tahun 1962 mengalami guncangan yang maha dahsyat. Dengan memahami kondisi yang demikian itu, kemudian Bung Karno sebagai pemimpin Negara, mengambil langkah taktis untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia. Ia membangun pusat perbelanjaan pertama (dibaca : Sarinah) yang memperdagangkan hasil produksi kaum pribumi dengan kemasan modern. Di dalam proses pembangunan dan transaksi jual beli, Bung Karno tidak pernah menggantungkan pada kekuatan investasi modal asing, namun, semua bentuk proses dari awal pembangunan sampai transaksi jual beli, sepenuhnya di kerjakan dengan menggunakan kekuatan sendiri. Hal ini merupakan bukti nyata yang di lakukan Bung Karno untuk mewujudkan salah satu trisaktinya, yaitu : berdikari secara ekonomi. Sehingga, sangatlah penting untuk memaknai insiden pengeboman di Sarinah dengan cerdas. Untuk itu, sebaiknya, lebih dahulu kita kembali kepada perjalanan sejarah bangsa sebagai pondasi dasar untuk merangkai kepingan puzzle peristiwa ini. Agar dalam penyusunan strategi untuk mencapai kemajuan bangsa, kita dapat menyusunnya lebih sempurna demi membuat hati lawan yakin bahwa kita adalah bangsa yang gagah.

KETAKUTAN BANGSA ASING

Adakah dari diri kita yang mengikuti pemberitaan ini secara intens, mengenai peristiwa pemboman yang telah terjadi beberapa hari yang lalu?. Beberapa pemberitaan yang tersiar di media, tersuguhkan dengan berbagai macam varian rasa. Ada yang mengaitkan peristiwa ini sebagai pengalihan isu untuk nasib perpanjangan kontrak PT. Freeport Indonesia dengan pemerintah Indonesia. Ada yang memberitakan kisah heroic aparat dalam melumpuhkan sang teroris. Ada pula yang menceritakan kegagahan seorang pedagang kaki lima (misal, tukang sate) yang tetap berjualan di sekitar lokasi kejadian, tanpa merasa takut menjadikan nyawanya sebagai taruhan. Bahkan ada beberapa pemberitaan yang menggelitik. Namun, sebaiknya, agar kita lebih focus dalam menyusun kepingan puzzle ini.

Menurut hemat penulis, salah satu motif utama terjadinya insiden Sarinah tidak lain adalah soal nasib perpanjangan kontrak PT. Freeport dengan pemerintah Indonesia. Hal yang menjadi dasar keyakinan hati saya adalah bangsa asing tidak pernah ingin berbagi kue emas ini dengan rakyat Indonesia, khususnya rakyat papua yang terpaksa harus memakan singkong setiap hari. Jikalau mengenang sejarah, pada saat gedung sarinah tersebut sudah beroperasional (pada tahun 1962), membuat pihak asing kalang kabut. Pasalnya, bangsa asing dapat menilai kemampuan bung karno yang begitu berpengaruh kepada tatanan dunia baru. Sehingga, setiap ide dan gagasan yang di ciptakan oleh bung karno, seiring itu pula banyak konspirasi yang di lakukan oleh pihak asing dengan sangat gencar. Tujuannya hanyalah satu, ialah untuk menghalangi setiap gerakan yang dilakukan oleh bung karno yang sangat berambisi menciptakan tatanan dunia baru. Bahkan, bangsa asing harus berpikir keras setiap bung karno mengerjakan ide-idenya tersebut. Salah satunya, ialah dengan membangun pusat perbelanjaan di Indonesia (dibaca : sarinah). Barangkali, sejak dahulu, sebelum gedung sarinah dibangun, bangsa asing telah mengincar pasar kita. Namun, bangsa asing selalu menemukan jalan terjal untuk menanam modal di indonesia, mengingat saat itu, bung karno masih kuat memimpin roda kekuasaan. Apalagi, pada saat itu, bung karno telah membangun pusat perbelanjaan, hal ini sangat menjadi alasan yang sangat kuat oleh bung karno untuk menolak setiap penanaman modal yang ada di Indonesia. Sehingga, bangsa asing pun menemukan cara yang paling tepat untuk menanamkan modalnya di Indonesia, yaitu dengan melengserkan soekarno lebih dahulu. Dan awal pergantian pemimpin pun, rupanya memberi angin segar kepada bangsa asing, dengan beramai-ramai begitu banyak investor datang ke Indonesia untuk menanamkan modalnya. Dan inilah awal mula, perusahaan Negara kita (dibaca : sarinah) menemukan lawannya. Perusahaan-perusahaan asing berdiri gagah di bumi pertiwi, dan penjajahan atas perekonomian kembali terjadi.

Kini, hal yang demikian itu pun kembali terjadi. Bangsa Indonesia kembali mendapat terror didalam menyusun kekuatannya sebagai Negara yang sangat digdaya dalam ekonomi. Betapa hal ini tidak dapat di sangkal lagi, di zaman perdagangan bebas, ketika sebuah Negara tanpa batasan wilayah, Indonesia kembali menjadi pasar yang menjanjikan. Sehingga, apapun akan di lakukan oleh sebuah Negara yang berkepentingan dengan pasar tersebut, dan salah satunya dengan teror yang berkedok sebuah agama tertentu. Bilamana kita susun peristiwa yang terjadi pada saat yang sama, dapat kita benarkan, bahwa upaya teror tersebut semata-mata mengalihkan isu penandatangan kontrak PT. Freeport saja. Sebab, pemerintah melakukan upaya penuntutan saham kepada PT. Freeport agar 10% saham yang dimiliki di kelola oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan desakan ini, PT. Freeport geram dan menyusun konspirasi guna mengalihkan perhatian masyarakat agar tidak focus pada pembahasan kontrak PT. Freeport. Sebab, bilamana perhatian masyarakat tidak di alihkan, dan kemudian terjadi desakan besar-besaran oleh rakyat, artinya bukan hanya desakan pemerintah saja, akan memuluskan jalan pemerintah Indonesia mendapatkan minimal jatah 10% sahamnya tersebut. Sehingga, Indonesia akan mendapatkan penambahan pendapatan yang akan memudahkan bangsa ini dalam mewujudkan pembangunannya, serta memuluskan jalannya menuju Negara adidaya. Bilamana hal itu terjadi, bangsa asing akan kehilangan pasar mereka. Dan itulah salah satu bukti ketakutan bangsa asing yang paling besar, seandainya Indonesia dapat mewujudkan diri sebagai bangsa adidaya. Dengan demikian, salah satu jalan adalah merapatkan barisan. Untuk menguatkan rasa persaudaraan. Sebab, dalam segala bentuk teror apapun #kamitidaktakut.

DAGELAN HUKUM

Lucu!!!. Begitulah ungkapan yang menggambarkan perasaan hati saya tatkala selesai membaca putusan Nomor 24/Pdt.G/2015/PN.Plg. Sebab, sebagaimana sebelumnya yang terjadi, publik telah di buat ramai dengan meme seorang hakim ketua yang memeriksa dan mengadili putusan ini. Publik sangat mengecam cara berlogika seorang hakim tersebut. publik menganggap bahwa logika hakim tersebut sangatlah konyol dan tidak masuk akal. Namun, kali ini, penulis tidak akan membahas persoalan yang demikian itu. saat ini, penulis akan menguraikan pendapat dan memberikan pilihan jalan baru untuk berpikir yang baik dan masuk akal. jika tidak setuju, setidaknya anda membaca tulisan saya lebih dulu, daripada berkomentar yang tidak jelas, karena hal tersebut tidak akan membedakan dengan sang hakim tersebut.

jadi begini ceritanya,awalnya, secara gentleman, saya harus mengakui, saya turut berduka atas di putuskannya oleh majelis hakim pengadilan negeri (disebut PN) Palembang perkara perdata antara MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN INDONESIA dengan PT. BUMI MEKAR HIJAU  yang telah memenangkan pihak tergugat. secara emosional saya juga terjebak dengan cara pandang publik. pasalnya, peristiwa kebakaran hutan yang kerap melanda daerah sumatera, begitu juga Kalimantan, sangat sering terjadi. Bahkan, mungkin saja, ini telah terjadi sejak beberapa tahun silam. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh, awal kebakaran hutan terjadi pada kisaran tahun 1997. Betapa hati merasa tidak teiris, setiap tahun selalu mendapatkan berita buruk, kabar dari saudara-saudara kami nun jauh di sana (sumatera dan Kalimantan) yang harus kuat dan tegar menghirup udara yang tidak lagi murni. Udara-udara yang bertebaran di langit, telah bercampur asap pekat yang sangat menyesakkan. Dan akibat ini, para saudara kami yang harus menanggungnya. Data yang tercatat, sejak hutan terbakar (polusi udara) sampai kebakaran hutan padam, para masyarakat yang menjadi korban asap terserang berbagai macam penyakit. Ispa adalah salah satu penyakit yang banyak di derita oleh masyarakat korban asap. Mulai dari usia balita sampai manula, mereka menjadi korban penyakit Ispa yang disebabkan adanya bencana asap ini. Bahkan, dengan sangat ganas, penyakit ini dapat menewaskan siapapun yang telah terserang (mengidap) penyakit ini. Sehingga, dalam membuat tulisan ini, penulis merasa bahwa harus sangat berhati-hati, agar tidak ada pihak yang disakiti. Namun, sebagai seorang yang mengemban tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat ilmiah, penulis hanya berusaha untuk menyampaikan sesuatu yang berdasarkan disiplin keilmuan sebagaimana penulis telah pelajari di bangku kuliah.

Peran Pemerintah Daerah?

Didalam membaca putusan dari PN Palembang atas perkara perdata ini, penulis menemukan beberapa informasi yang sangat mengejutkan. Bahwa didalam jawaban yang di kemukakan oleh kuasa hukum PT. BMH, di dalam pasal 90 ayat (1) undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, menentukan (menggunakan penafsiran penulis) bahwa “didalam menangani kasus kebakaran hutan, selain melibatkan pemerintah pusat (dibaca : pempus), undang-undang juga mengamanatkan adanya keterlibatan dari pememerintah daerah (dibaca : pemda)”. Oleh karena itu, pemda juga memiliki kewajiban untuk melakukan hal yang serupa. Bilamana pemda juga menemukan indikasi sebuah perusahaan telah melakukan suatu pelanggaran hukum. Sehingga, gugatan yang di ajukan oleh pemerintah (baik pusat dan daerah) dapat menambah kekuatan kedudukan hukum. Namun, pada kenyataannya, apa yang kita lihat?. Di dalam kasus ini, hanyalah pempus saja yang paling lantang menyuarakan bahwa banyak perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industry tanaman yang diduga telah melakukan perbuatan melanggar hukum. Oleh sebab itu, mereka melayangkan gugatan ke PN Palembang. Namun, hal yang paling menyedihkan, didalam gugatan yang di ajukan, adalah tidak adanya keterlibatan pemda yang terkait. Sehingga, muncul sebuah tanda Tanya, mengapa pemda bersikap demikian?. Dengan adanya peristiwa ini, masyarakat juga harus memperhatikan kinerja pemda setempat?. Apa yang menyebabkan mereka memilih tidak mengajukan gugatan bersama-sama pempus? Apakah sebenarnya pemda memiliki pandangan tersendiri bahwa PT. BMH memiliki catatan baik di dalam setiap evaluasi yang di lakukan oleh pemda?. Atau, apakah ada yang menghalangi gerak dari pemda untuk mengajukan gugatan ke PN Palembang?. Semua pertanyaan hanya dapat di jawab oleh pemda itu sendiri. Dan masyarakat berhak untuk menuntut pemda untuk memberikan keterangan, mengapa pemda tidak bersama-sama dengan pempus mengajukan gugatan?.

Pemerintah pusat seharusnya tidak main-main?

Pada saat saya membaca putusan perkara ini, saya akan berkata jujur, bahwa saya lebih yakin terhadap jawaban-jawaban yang dibuat oleh kuasa hukum PT. BMH (dibaca : tergugat). Saya melihat di dalam kasus ini, dengan membaca isi gugatan pempus yang di wakili kuasa hukumnya, pempus (dibaca : penggugat) sama sekali tidak menunjukkan keseriusan di dalam mengajukan gugatan ini dan terkesan, sebagaimana juga yang di kemukakan pihak tergugat, gugatan yang diajukan penggugat setidaknya menggambarkan tiga hal: pertama, gugatan premature. Kedua, gugatan tidak jelas (Obscure libel). Ketiga, gugatan tidak lengkap. Dalam hal gugatan premature, di dalam pasal 84 ayat (3) undang-undang nomor 32 tahun 2009, salah satu keterangan yang menguatkan bahwa gugatan ini premature adalah bahwa sebelum mengajukan gugatan ke pengadilan, penyelesaian sengketa harus di selesaikan di luar pengadilan. Dalam hal ini, salah satu upaya yang dapat di tempuh adalah mediasi. Namun, berdasarkan jawaban yang di tulis oleh kuasa hukum tergugat, upaya mediasi sama sekali tidak di tempuh oleh penggugat (pemerintah). Padahal, pihak tergugat juga menjelaskan di dalam jawabannya, bahwa pihak tergugat juga sedang melaporkan ke polisi terkait bencana ini. Pihak tergugat menduga bahwa kebakaran hutan yang terjadi di sebabkan ada oknum yang sengaja membakar dan tidak bertanggung jawab.  Sehingga, sangat menarik untuk dibahas, mengapa pemerintah dengan begitu cepat mengajukan gugatan di pengadilan sedangkan pihak tergugat juga melaporkan ke pengadilan dalam hal ini perkara pidana. Apakah mungkin hal ini di sebabkan oleh keberhasilan media dalam menggiring publik yang secara intens mengikuti perkembangan pemberitaan di media (baik elektronik atau cetak), sehingga dengan sangat percaya diri dan tanpa memperhatikan kekuatan fakta-fakta yang di peroleh, pemerintah kemudian mengajukan gugatan dan tidak lagi mengharapkan gugatan ini akan menang?benarkah?. Tampaknya, hal ini dapat di benarkan, bahwa tatkala membaca putusan yang di putus oleh PN Palembang, seluruh gugatan yang di ajukan oleh pemerintah di tolak. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah terkesan sekedar mencari perhatian saja. Namun, tidak memiliki keseriusan untuk benar-benar menangani bencana ini. Untuk masalah gugatan tidak jelas, dapat kita baca sendiri di putusannya (Nomor 24/Pdt.G/2015/PN.Plg). sebab, menurut hemat penulis, jawaban yang di sampaikan oleh tergugat, tidak begitu penting untuk membahas. Hal ini hanya menyangkut proses terjadinya kebakaran dan kerusakan yang di maksudkan oleh penggugat. Sedangkan, mengenai gugatan tidak lengkap, sudah penulis terangkan pada pembahasan sebelumnya. Yang membahas ketidakterlibatannya pemda di dalam pengajuan gugatan ini.

Selain  ketiga point yang telah penulis uraikan di atas, penulis juga akan menjelaskan beberapa point lagi, di antaranya: bentuk pengawasan yang di lakukan oleh pemerintah, sangat patut di pertanyakan. Sehingga, dapat memberikan laporan (evaluasi) kepada perusahaan yang berrapor merah. Artinya, setiap perusahaan yang mendapat rapor merah tersebut mendapat teguran dan pada sampai pencabutan izin. Setelah itu di ikuti dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Selanjutnya adalah soal dugaan yang di sampaikan oleh pejabat terkait (menteri lingkungan dan kehutanan) di dalam sebuah stasiun tv, bahwa begitu banyak perusahaan yang di duga juga telah melakukan perbuatan melawan hukum yang serupa. Pertanyaannya, bagaimana kabar tersebut? Benarkah masih ada perusahaan yang melakukan perbuatan melawan hukum?. Atau jangan-jangan ini sekedar permainan belaka?. Sepenuhnya, penulis persilahkan pemerintah untuk memberikan komentarnya. Dan yang paling terakhir adalah di dalam gugatannya, pihak penggugat sama sekali tidak menyinggung kerugian yang dialami masyarakat sekitar. Misal, kesehatan yang terganggu, begitu juga dengan system  perdagangan yang macet. Jadi, penulis menganggap bahwa apa yang telah di lakukan oleh pemerintah hanyalah sebuah permainan belaka. Silahkan pembaca yang budiman menentukan sendiri posisinya di dalam permainan ini. Sebagai penutup, penulis menghimbau sebaiknya menjadi manusia yang cerdas dan jernih dalam berpikir. Jangan mudah terjebak di dalam permainan yang tidak menyelamatkan anda. Jika tulisan ini tidak sesuai dengan nurani anda, sebab, anda akan berpikir bahwa saya bukanlah sosok manusia yang memihak pada yang tertindas. Sebagaimana seorang professor di dalam suatu pembelajaran pernah menyampaikan kepada mahasiswanya, bahwa ketidakadilan akan muncul saat keluar dari ruang pengadilan. “Setidaknya, saya berusaha menciptakan keadilan sejak di pikiran saya,” ujar Tan Malaka.

 

*Oleh : RRI

2016, babak baru uji nasionalisme!

Tahun 2016, telah di mulai. Seperti pada pergantian tahun-tahun sebelumnya, pada perayaan pergantian tahun kali ini, nampaknya hampir tidak ada sedikit pun yang berbeda. Menggelar konser-konser music di beberapa stasiun tv, menggelar do’a bersama di beberapa masjid akbar, dengan di akhiri menyalakan kembang api yang tampak sangat indah, melukis kanvas langit malam. Namun, ada satu hal yang tidak dapat kita lupakan begitu saja, pada tahun 2016 ini, adalah awal bergulirnya sebuah konsensus bersama tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN atau istilah yang paling populer adalah biasa disebut dengan istilah MEA.

Sebelum penulis membahas pada persoalan yang telah mampu membuat hati seorang penulis resah, ijinkanlah penulis untuk menjelaskan sedikit tentang MEA?. Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari internet (seputarpengertian.blogspot.co.id), penulis dapat menerangkan bahwa MEA adalah merupakan suatu bentuk integrasi ekonomi ASEAN, yang bercirikan adanya system perdagangan bebas antara Negara-negara ASEAN. Dalam hal ini, perdagangan bebas yang di maksud meliputi perdagangan bebas barang dan jasa. Namun, ada pula tambahan lain mengenai suatu kebebasan yang dapat di berlakukan di daerah ASEAN, diantaranya: investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.

Dengan demikian , kita telah mendapat penerangan ilmu yang telah di paparkan di atas mengenai MEA. Akhirnya, kita juga sedikit memahami dan mengerti, arah dan tujuan adanya MEA itu sendiri. Sehingga, hal ini mampu membuka pintu pengetahuan kita yang tertutup selama ini. Apakah sebelumnya kita telah mengetahui tentang adanya pergaulan hidup yang baru di kawasan ASEAN? Apakah secara tidak langsung kita telah menyepakati pula pembentukan Negara baru yang besar bernama ASEAN?. Mengingat, setelah di berlakukannya MEA, batas-batas wilayah suatu Negara sudah tidak berfungsi lagi. Apakah jika hal itu benar (adanya Negara baru), kita harus mengusung kembali atau menggodog ulang dan menetapkan sebuah ideologi baru yang harus disepakati bersama untuk menjadi dasar Negara (ASEAN)?. Mengingat, kita sebagai bangsa Indonesia belum mampu sepenuhnya mengamalkan Pancasila dengan sebaik-baiknya. Bahkan hal yang lebih miris adalah tatkala kita semua melihat kenyataan yang ada, mengenai sangat sedikitnya lapisan masyarakat, khususnya kalangan terdidik (masyarakata ilmiah) duduk bersama, lalu mendiskusikan perihal ideologi yang dapat mengubah tatanan dunia baru, sebagai jawaban atas permasalahan kehidupan yang ada, yang belum terselesaikan sampai saat ini. Mengenai jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, sepenuhnya, penulis serahkan kepada masing-masing pembaca.

Saatnya kita kembali ke permasalahan yang membuat resah penulis, Nasionalisme?. Ada satu hal yang kemudian menggugah hati, permasalahan mengenai nasionalisme yang seolah perlu kita tegaskan kembali kepada seluruh lapisan masyarakat kita. Mengingat, seiring perkembangan zaman, banyak diantara kita yang telah menciptakan pendapat-pendapat pribadi tentang nasionalisme yang diartikan dalam pengertian sempit (cukup pada pengetahuan pribadi saja) dan sangat sering memperdebatkan persoalan nasionalisme masing-masing tanpa memberikan dampak perubahan nyata kepada kehidupan nasional. Ijinkan penulis berpendapat sedikit mengenai nasionalisme. Sekilas, nasionalisme adalah perasaan senasib sebagai sebuah bangsa. Artinya, diantara masing-masing individu didalam suatu bangsa merasakan nasib yang sama. Nasib yang dimaksud adalah perasaan terjajah (zaman penjajahan). Nasionalisme pun tidak hanya cukup mengajarkan tentang suatu perasaan senasib saja, namun, di dalam perkembangan zaman, nasionalisme juga dapat menjadi obat untuk kita atas sifat ketergantungan kita selama ini terhadap produk-produk luar negeri. Saya akan memberikan contoh yang sangat mengancam kehidupan kita masing-masing. Misalnya : kebiasaan bagi orang kaya Indonesia yang sering berobat ke luar negeri. Alasannya, alat-alat kesehatan yang ada di rumah sakit Indonesia belum memadai. Sehingga, mereka harus terbang ke luar negeri untuk berobat. Saya berkeyakinan bahwa alasan-alasan bagi orang kaya yang berobat ke luar negeri bukan semata-mata karena di rumah sakit Indonesia kekurangan alat-alat kesehatan saja, melainkan pula, orang-orang kaya tersebut lebih mempercayai tenaga medis yang ada disana daripada tenaga medis yang ada di Indonesia. Berdasarkan contoh tersebut, nampaknya, kita dapat memahami bahwa masih ada kalangan-kalangan tertentu dari masyarakat kita yang kurang mampu untuk memercayai kualitas produk-produk negeri sendiri. Kenyataan ini tidak hanya kita jumpai pada bidang kesehatan saja, melainkan, hampir di semua lini kehidupan, kita tidak mampu mempercayai setiap produk-produk dari dalam negeri. Misalnya saja, pada industri otomotif, baik dari kalangan marhaen (jelata) bahkan sampai pula kalangan ningrat, harus kita akui bahwa ketergantungan kita terhadap produk luar negeri sangat tinggi. Bukan hanya itu saja, di kalangan artis kita, pun juga melakukan hal yang serupa. Produk-produk branded dari luar negeri, menjadi penghias disetiap bagian tubuh mereka. Sehingga, sifat ketergantungan-ketergantungan tersebut menjadi kekhawatiran bagi kita semua, bilamana semangat nasionalisme di dalam masing-masing hati perorangan semakin redup. Nasionalisme kita tidak dapat berkobar, mengirimkan api kehidupan ke masing-masing kalangan demi menjaga utuh mata rantai kehidupan nasional kita. Bilamana sebagai konsumen, kita bergantung kepada produk luar negeri, lalu, industri kita akan tutup, atau kita membuka pintu lebar-lebar bagi pelamar kerja asing (sesuai profesi yang ditetapkan dalam konsensus), akan berdampak pada kenaikan tingkat pengangguran. Kemudian, mengakibatkan Negara tidak mendapat pemasukan, dan cita-cita membangun ekonomi yang berdikari hanya hidup dalam angan.

Di zaman sekarang ini, sifat ketergantungan saling berkaitan dengan nasionalisme dan juga perdagangan bebas (sementara ini MEA). Apakah sifat ketergantungan tersebut, menjadi lawan yang paling membahayakan dan mengancam nasionalisme kita? Ataukah justru sifat tersebut menjadi kawan yang menguntungkan bagi sistem perdagangan bebas?. Bilamana kita terlambat mengantisipasi keadaan ini, maka sangat tidak mustahil, kita tidak mampu mengantarkan bangsa ini menuju puncak kedudukannya, sebagai Negara yang berdaulat, adil, dan makmur. Sebagaimana kita ketahui, mengantarkan bangsa ke puncak kedudukannya adalah salah satu wujud nasionalisme kita yang paling tertinggi. Dan melihat pada kenyataan yang ada, setidaknya kita sudah berjalan dengan perlahan namun pasti, meninggalkan nasionalisme kita sendiri. Padahal, sejarah selalu mencatat, kebangkitan sebuah bangsa tidak terlepas dari semangat nasionalisme yang tinggi. Sehingga, saat ini, di dalam menghadapi perdagangan bebas sebagai bentuk globalisasi, kita harus kembali ke rumah nasionalisme kita sendiri. Untuk belajar memahami kembali makna tentang nasionalisme, dan sangat penting pula, agar sesegera mungkin kita dapat menciptakan paradigma baru tentang nasionalisme itu sendiri. Selain nasionalisme hanya memiliki makna perasaan senasib, nasionalisme juga harus mampu untuk saling memberikan penghidupan. Sebab, nasionalisme juga merupakan mata rantai yang memberikan kehidupan bagi semua. Jika nasionalisme dalam satu golongan saja sudah hilang, akan berdampak buruk bagi golongan yang lain pula. Untuk itu, jalan satu-satunya yang tercepat adalah cintailah produk-produk Indonesia (baik barang maupun jasa).

 

*Oleh : RRI

Hadiah untuk Ibu (Pertiwi)

saya tidak dapat menulis dengan sempurna tentang kisah antara saya (sebagai anak) dengan ibu (pertiwi) kami tercinta yang penuh dengan romantika. Tepat, pada hari ini (22 desember 2015), saya memperingati hari ibu yang ke 21 tahun, sesuai dengan usia saya sendiri. Tidak ada sesuatu yang sangat istimewa yang saya alami selama 21 tahun tersebut, kecuali sebuah jalan panjang yang harus saya lewati seorang diri demi menuju surga yang berada di bawah telapak kaki ibu kami. Di usia anak-anak, saya menjelma bagai seorang kekasih, yang sangat haus akan cinta dan kasih. Maka, suatu hal yang wajar, bilamana kadangkala saya kerapkali meminta perlakuan manja kepada ibu agar segala sesuatu yang saya tuntut untuk segera di penuhi. Beranjak pada usia remaja, tanpa sadar, saya mulai menunjukkan kepada ibu, bahwa saya adalah seseorang yang mampu menjalani kehidupan saya sendiri tanpa merujuk pada aturan dan nasihatnya. Dan pada penghujung usia remaja, pada masa-masa saya harus mengakhiri sebuah perjalanan panjang di dalam mengarungi luasnya samudera keilmuan (masa-masa kritis meraih gelar sarjana), saya kembali ke pangkuan hangat dari seorang ibu, saya kembali menjatuhkan diri dalam dekap pelukannya yang hangat itu, saya kembali memasuki rumah pikirannya (ibu) untuk kembali menemukan mutiara-mutiara yang selama ini saya acuhkan. Kemudian, dengan mesra, ibu membukakan pintu dengan selebar-lebarnya kepada saya agar menetap di rumah dalam beberapa waktu saja, sampai pada waktu yang tepat, saat saya menemukan mutiara-mutiara itu, saya harus kembali pergi meninggalkan rumah, sebab, sebuah goresan takdir yang sudah tertulis itu, saya harus menjalani sebuah kehidupan baru, yang sedikit tanpa adanya campurtangan dari ibu dan ayahku. Kehidupan baru inilah yang kemudian akan menjadi penguji bagi setiap orang (khususnya para remaja yang akan memasuki usia dewasa), apakah orang tersebut, dapat mampu bertahan menghadapi gempuran-gempuran yang terjadi di masyarakat? Apakah seseorang tersebut, mampu menjadi seseorang yang berguna di masyarakat dengan modal keilmuannya yang dimiliki selama ini?. Untuk menjawab itu, semua bergantung pada proses yang di alami oleh masing-masing individu, namun, apa yang di alami oleh penulis sendiri ialah tatkala menemukan mutiara, sebuah pitutur yang sedari kecil telah tertanam di dalam diri penulis. “semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa, agama, dan Negara,” begitulah pituturnya.

Menurut hemat penulis, pitutur emas tersebut, sejatinya tidak memaksa anak-anaknya agar bermanfaat kepada ibunya. Dengan demikian, Ibu kembali menunjukkan sebuah tauladan, bahwa menjalani hidup tidak hanya untuk mementingkan diri sendiri, melainkan juga untuk mementingkan orang lain (bermanfaat). Selain itu, ibu pun lebih tahu dan mengerti tentang surga yang di janjikan kepadanya, kelak akan ia dapatkan (surga) bilamana dapat mendidik seorang anak agar bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Sehingga, kecemasan tingkat tinggi seorang ibu ialah pada saat ia gagal mendidik anaknnya agar bermanfaat bagi orang lain.

Sebagaimana pitutur yang di sebutkan di atas, menurut hemat penulis, hal tersebut adalah sebuah pedoman hidup yang masuk akal. Jika kita maknai dengan seksama dan singkat, ada 2 (dua) pesan yang secara tersirat ingin di sampaikan oleh para moyang kita, pertama bahwa bagi setiap orang yang akan kembali ke masyarakat (setelah proses mencari ilmu selesai), baginya berlaku sebuah keharusan untuk memperdalam sebuah keilmuan tentang dinamika masyarakat dan merangsang kepekaannya sendiri, agar lekas insyaf dan sadar dimana ia hidup dan menjalani kehidupan. Sebab, dengan cara demikian, ia akan sadar, bahwa dirinya sedang hidup di dalam sebuah Negara yang di penuhi oleh berbagai macam masyarakat dari suku bangsa yang berbeda-beda. Kedua bahwa dengan modal keilmuan yang dimilikinya, sepatutnya agar di gunakan demi kemanfaatan bersama. Seorang teknologiwan yang dapat menciptakan teknologi-teknologi baru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Seorang ekonom, yang dapat membuat kebijakan ekonomi yang bermanfaat bagi rakyat. Seorang ahli hukum yang dapat menciptakan aturan yang menjaga hak-hak rakyat. Dan seorang ahli politik, yang dapat menunjukkan sikap politiknya dengan tidak menggusur rakyat dari posisi kekuasaan yang paling tertinggi. Di samping itu, juga terdapat bermacam-macam keilmuan yang tidak dapat penulis uraikan satu persatu, namun, tetap dengan tegas, penulis menghimbau semua keilmuan agar bermuara pada kemanfaatan bersama.

Ketika saya mulai mempelajari dan akhirnya mengerti tentang sebuah pesan mutiara yang di titipkan oleh ibu, di dalam hati saya masih menyala-nyala sebuah kecemasan, dapatkah saya mewujudkan pesan itu? Sedang di dalam diri saya sendiri, selama mengarungi waktu menuntut ilmu, saya masih merasa belum cukup waktu untuk mempelajari semua pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan erat dengan dinamika kemasyarakatan, yang dapat merangsang hati nurani agar mampu menggerakkan diri menjadi pejuang sejati. Tapi, bukankah ini juga menjadi suatu hal yang buruk, bila kita berlama-lama hidup dengan status yang tidak jelas ini, menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa prestasi yang membuat bangga (gelar sarjana). Saya pun teringat sebuah kisah cinta antara inggit dan soekarno. Inggit yang merupakan istri soekarno, dan sekaligus juga sebagai ibu (begitulah sosok soekarno menganggap inggit. Pada waktu itu, soekarno sedang berkobar-kobar untuk terjun ke dalam politik sebagai upaya untuk mengusir penjajah (belanda) dari bumi nusantara. Semangat yang berkobar tersebut, tidak terlepas dari pengalamannya berguru kepada H.O.S Cokroaminoto sebagai ketua serikat islam yang menjadi pemimpin politik pada waktu itu untuk mengusir penjajah. Semangat ini pun terus berkobar di dalam dadanya, bahkan tatkala soekarno pindah ke bandung untuk melanjutkan masa belajarnya (kuliah), di dalam dada soekarno masih terus berkobar semangat mengusir penjajah, akibatnya, ia pun sedikit lengah di dalam menunaikan kewajibannya yang lain. Yaitu, menyelesaikan masa studinya (meraih gelar sarjana), namun, berkat bujukan inggit, akhirnya, soekarno pun dapat menyelesaikan masa studinya. Dan dengan segera soekarno kembali ke panggung politik, berbekal kecerdasan dan kemampuannya menjadi orator ulung, soekarno tampil sebagai bima yang gagah perkasa di hadapan lawan politiknya itu (belanda).

Selain itu, adapun satu riwayat baik yang dapat kita tauladani dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Kisah dari seorang panglima besar, jenderal soedirman. Kala itu, saat agresi belanda kembali memporak porandakan bumi nusantara, soedirman yang saat itu menderita sakit dengan hanya sebelah paru-paru, melakukan gerilya sampai jarak yang cukup jauh melewati batas provinsi (sampai jawa timur). Dengan tegas soedirman menolak tawaran soekarno agar tetap tinggal di istana Negara dan ia pun berkata kepada soekarno, “seorang panglima besar tidak pernah sakit, yang sakit itu hanyalah soedirman saja”. Pun proses gerilya berhasil di jalani oleh Soedirman dan pasukannya. Selain itu, dengan bangga soedirman memberikan hadiah kepada ibu pertiwi berupa kegagalan belanda dalam upaya merebut kembali bangsa Indonesia. Sehingga, kemerdekaan bangsa ini utuh untuk selama-lamanya.

Berdasarkan 2 (dua) riwayat tersebut, kita dapat membuat suatu kesimpulan yang berkaitan juga dengan pitutur emas sang ibu, “ bahwa sebagai manusia, hal yang paling utama untuk di lakukan adalah bermanfaat bagi orang lain. Dengan modal kecerdasan (keilmuan masing-masing) dan kemampuan bekerja keras, setiap orang akan mampu memberikan hadiah terbaik bagi orang-orang yang di cintainya, utamanya anak kepada ibunya. Sekalipun seseorang itu sakit, bilamana di dalam diri seseorang telah di penuhi oleh rasa cinta, dengan sekuat tenaga, orang itu akan berjuang memberikan hadiah terbaik untuk orang yang di cintainya.”

Dari kedua kisah tersebut, kita mendapatkan sebuah pelajaran penting, bahwa sebagai manusia (anak-anak) sepatutnya kita memberikan hadiah terbaik kepada seseorang yang kita cintai, yaitu ibu (pertiwi). Soekarno yang berhasil menjadi insyiur mempersembahkan hadiahnya kepada ibu tercinta, sedangkan keberhasilannya menjadi pemimpin negeri untuk mengusir penjajah membuktikan bahwa ia mampu memberikan hadiah yang lebih besar kepada ibunya dan ibu pertiwi. Begitu juga dengan sosok panglima besar, jenderal Soedirman, rasa cintanya yang begitu besar kepada ibu pertiwi, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap bergerilya, demi mempertahankan ibu pertiwi agar tidak kembali jatuh ke pangkuan belanda. Dengan menahan rasa sakitnya (hidup dengan sisa satu paru-paru), sang jenderal membuktikan kepada dunia, bahwa untuk ibu pertiwi yang di cintainya, ia telah memberikan hadiah berupa kemerdekaan bagi bangsa Indonesia selama-lamanya.

(Selamat memperingati Hari ibu dan Hari Bela Negara yang ke 67 tahun).

 

*Oleh : RRI